
Damian langsung mengemudikan mobilnya dengan laju. Dinda dan Acha ikut didalam mobil Damian, sedangkan 3 teman ku yang lain mengurus kepergian ku di sekolah.
"Hati-hati kak bawa mobilnya, laju banget ini" , ujar Dinda mempringati Damian.
"Kamu itu mau bawa Raya ke rumah sakit, atau mau bawa kita semua ke kamar mayat, kira-kira dong kalo panik!" Omelan Acha.
Damian tak memperdulikan apapun yang mereka katakan. Dia tetap fokus dengan kemudi nya.
***
Tiba lah kami di rumah sakit, Damian memberhentikan mobilnya tepat di pintu masuk UG. Aku mendengar suara gaduh orang asing. Entahlah siapa mereka, aku hanya pasrah apapun yang akan terjadi.
Dokter dan para perawat langsung sigap menangani ku, dipasangkan selang oksigen di hidung ku. Mereka memeriksa tubuhku keseluruhan, entah apa yang terjadi pada diriku mereka langsung memasangkan infus.
Setelah beberapa saat ditangani, aku merasa nafasku mulai sedikit nyaman. Aku mencoba membuka mataku perlahan, ku lihat di sekeliling ku nuansa ruangan berwarna putih dengan aroma obat yang begitu menyengat.
"Dek, kamu sudah sadar?" Damian menggenggam erat jemari ku , aku melihat wajahnya yang sangat khawatir.
"Ray, Raya. Udah baikan sekarang? kamu ngeyel sih tadi sudah ku bilang ke UKS aja tapi gak mau nurut! Begini sudah jadi nya" Ujar Acha memarahi ku karena khawatir juga tentunya.
__ADS_1
Aku tak dapat menjawab semua pertanyaan mereka, tubuhku masih terasa sangat lemah.
Tak lama datanglah 3 kawan ku yang lain bersama kedua orang tuaku.
Wajah mereka jelas sekali terlihat sangat khawatir. Ibu langsung memeluk ku
"Sakit apa nak kata dokter?" tanya ibu terisak melihat keadaan ku.
" Gak tau bu" jawabku lirih terbata-bata.
"Dokter bilang apa nak?" tanya ayah pada Damian.
Setelah di bawa ke UKS tubuhnya kejang dengan tarikan nafas tak beraturan. Segera kami membawanya ke rumah sakit ini" Damian menjelaskan.
Ayah pun mengangguk paham . Ku lihat sepertinya ayah mulai menyukai Damian, tatapannya sangat teduh, nada bicaranya pun lembut.
***
Aku diharuskan opname karena kondisi ku yang belum stabil. Damian dan 5 temanku pun berpamitan pulang dan berjanji akan menjengukku lagi esok.
__ADS_1
"Kakak pulang dulu ya dek, kamu harus cepet sembuh. Nanti malam kakak balik lagi kesini". Ujar Damian menyemangati ku.
"Cepat sembuh, cepet pulang, gak boleh lama lama disini" Ujar Gita.
"Beingat rumah Ray, jangan betah disini. Aku aja ngeri lama-lama disini, apalagi di lorong depan situ" Tambah Acha, dia ini pemberani sesama manusia, tapi takut hal yang berbau mistis wkwk..
tak kalah hebohnya teman ku yang lain mendoakan dan menyemangati ku.
"Makasih yaa nak sudah repot-repot bawa Raya kesini, untung masih ada kalian bisa di andalkan" ucap ibu berterimakasih dengan Damian dan 5 teman ku.
Mereka pun pergi setelah pamit dan bersalaman dengan orang tuaku.
Aku tak ingin banyak bicara, tubuh ku masih lemah sekali. Jangankan untuk bergerak, berbicara pun sulit rasanya.
Ayah dan ibu masih bersiaga menjaga ku.
Momen seperti ini sangat membuat hatiku terpukul , mengingat semua perilaku dan perlakuan ku terhadap ayah dan ibu.
Bersambung...
__ADS_1