
Hari sudah berganti malam, Damian pun menepati janji nya.
"Assalamualaikum.." Damian mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam .. " jawab ibu bersamaan dengan ayah.
Tatapan ayah dan ibu sangat membuat ku bahagia, aku paham sekali bahwa mereka menyukai Damian.
"Tante , ini ada sedikit bingkisan" ujar Damian seraya memberikan 1paket buah, 2 kantong bungkusan nasi, dan 1 kantong kresek roti kering serta minuman.
"Ya Allah, gak usah repot-repot nak. Kalo mau jenguk Raya, tinggal kesini gak usah bawa apa-apa" ucap ibu merasa tidak enak.
"Gak papa tante, kalian juga pasti capek seharian di rumah sakit. Silahkan dinikmati om, tante" jawab Damian dengan lembut dan sopan.
Damian menghampiri ku, "Sudah enakan dek sekarang?" lirih suaranya bertanya padaku.
__ADS_1
"Iya kak, ini juga sudah agak mendingan kok. Sudah gak sakit lagi kepalanya" jawabku tersenyum.
"Cepat sembuh ya dek, setelah kamu sembuh dan keluar dari rumah sakit ini kakak janji akan berikan kejutan spesial " Ujarnya dengan semangat.
"Aamiin kak, makasih yaa buat kebaikan kakak" , jawab ku dengan tersenyum.
Tak terasa jam besuk telah berakhir, Damian pun berpamitan pulang.
Setelah Damian pulang aku langsung memejamkan mataku untuk beristirahat.
***
Matahari semakin naik, ku lihat sudah jam 9 pagi ini. "Sebentar lagi dokter akan datang", gumam ku dalam hati.
Tak menunggu lama, dokter pun datang bersama 1 perawat dan segera memeriksa keadaanku. Aku menjawab semua pertanyaan dokter itu dengan hati-hati, aku harus meyakinkannya bahwa aku sudah baik- baik saja. Aku ingin cepat pulang huhu.
__ADS_1
Semua berjalan sesuai rencana, dokter pun mengatakan bahwa keadaanku sudah sangat membaik dan aku boleh pulang. Yuhuuu, aku sangat senang sekali. Ayah ku mengurus semua berkas kepulangan ku dan membayar administrasi. Setelah semua selesai, perawat datang untuk melepas infus ku.
"Ya, bilangin teman- teman kamu. Kalo kita hari ini sudah boleh pulang" ucap ibu.
"Iyaa bu , ni aku kabarin mereka dulu" jawabku .
Aku langsung menghubungi 1 temanku dan menghubungi Damian.
Setelah memberitahu mereka, aku bersiap pulang dengan ayah dan ibu ku menggunakan taksi.
***
Setelah sampai di rumah aku langsung beristirahat di kamar. Ku lihat ayah dan ibu ku seperti lelah sekali. Hati ku semakin remuk melihat kasih sayang mereka yang begitu dalam padaku. "Kenapa gak dari dulu kalian bersikap seperti ini padaku" ucapku lirih seraya meneteskan air mata . Aku terbayang lubang hitam yang terlalu jauh ku jalani, "jika saja kalian tak egois, tak mungkin aku menjadi hancur dan brutal seperti ini" tangis ku pecah , aku tenggelamkan wajah ku di bantal. Kini nasi sudah menjadi bubur, apa yang telah hilang pada diriku tak akan pernah kembali lagi.
Setelah semua kejadian ini, aku mencoba memperbaiki diriku. Aku mencoba menjadi anak yang lebih baik lagi, ingin ku mengubur dalam bayangan masa lalu ku terutama dengan Diki.
__ADS_1
"Diki lah yang membuat ku hancur terlalu jauh, merenggut semua harapan ku. Dia lah orang pertama yang harus bertanggung jawab atas kehancuran kehidupan ku", Ucapku dengan penuh amarah dan dendam yang harus terbalas kan.
Bersambung...