
Sudah lama aku tak berjalan bersama temanku tanpa Damian, hari ini kami memutuskan untuk refresh otak hilangkan penat setelah sekolah full day.
Kami berjalan ke mall di kota kami hanya untuk ngadem , cukup kumpul, beli minuman dan cemilan selebihnya kami habiskan waktu untuk nongkrong gibahin orang 😂 wkwk.
Harusnya hari ini adalah hari penuh tawa tanpa beban pikiran apapun. Tetapi semua berubah seketika saat aku melihat sosok Diki dihadapan ku. Duniaku seperti berhenti berputar, aku tak mendengar temanku, aku tak melihat siapapun disini selain Diki, hatiku seperti disayat pisau, jantungku berdetak kencang, mata ku menolak mengalihkan pandangan, aku sangat marah, dendam ku sangat bergejolak, ingin rasanya ku bunuh Diki saat ini juga, ingin rasanya ku caci maki Diki disini dengan semua sumpah serapah ku.
"Raya" sapa Diki padaku dengan wajah sedikit terkejut.
Aku tak sedikitpun lengah menatapnya, aku sangat tersakiti oleh pertemuan ini. Bagaimana mungkin makhluk ini muncul dihadapan ku setelah sekian lama menghilang bak ditelan bumi.
Aku mengepalkan tangan ku, aku mencoba menahan emosiku sebisa mungkin.
__ADS_1
"Apa yang harus ku lakukan di depan manusia ini?" batinku kesal.
"Kenapa?" aku menjawabnya dengan ketus.
"Gak nyangka ya kita ketemu disini, kamu sudah berubah sekarang makin cantik" ujarnya tanpa ada rasa malu atau penyesalan sedikit pun. Sikapnya sungguh semakin membuatku geram .
Kini aku mengalihkan pandanganku kepada teman-temanku, ku lihat wajah mereka tegang. Aku mengajak mereka untuk segera pergi meninggalkan manusia tak tahu diri ini .
Aku berjalan cepat tanpa menjawab atau menatap Diki lagi, tubuhku sudah sangat panas menahan amarah. Semua memori ku tentangnya terputar kembali, aku sangat ingat cara kejamnya meninggalkan ku.
Aku mencoba menenangkan diriku, ku cuci muka ku di wastafel , lalu ku usap dengan tisu agar tak ada yang tahu aku tadi menangis.
__ADS_1
Aku keluar toilet dan Gita langsung memelukku.
"Ingat Damian, ingat Damian" bisik Gita lirih.
Usaha ku agar tak terlihat setelah menangis, kini percuma karena air mata pecah begitu saja.
"Damian sudah berusaha untuk bahagiakan kamu, belum tentu ada lelaki sebaik Damian yang bisa terima kamu apa adanya dan bisa kasih kepastian hubungan secepat ini. Please, kubur sedalam-dalamnya tentang Diki" tambah Gita, ucapannya semakin membuatku terpukul . Sesak di dadaku enggan menghilang. Mau bagaimanapun Diki lah cinta pertama ku, terlebih dia juga yang mengambil kesucian ku. Ya Tuhan, aku menyesal atas semua masa lalu ku .
Situasi sudah tak memungkinkan untuk melanjutkan bersenang-senang. Teman-temanku memutuskan untuk mengajakku pulang saja. Aku masih sangat murung, aku tak bisa mencerna semua kata-kata Gita. Ingin sekali rasanya ku balas semua perbuatan Diki, membuatnya jatuh cinta padaku hingga lupa daratan dan akan ku hempaskan dia begitu saja , sama seperti yang ia lakukan padaku dulu.
"Aku harus balas, aku harus balas, aku harus balaaaas" batinku berteriak.
__ADS_1
Tekat ku sudah bulat, aku harus bisa menyakiti Diki lebih sakit dari yang aku rasakan. Aku harus menghancurkan kehidupannya sama seperti yang ia lakukan pada ku dulu.
Bersambung...