
Puas sudah rasanya nafsu ini tersalurkan, kami pun kembali melanjutkan tidur. Pagi hari aku bangun lebih awal dari yang lain, aku merasa tubuhku pegal-pegal dan sakit. Aku segera membangunkan Damian, memintanya untuk bersiap pulang karena aku sudah tak enak badan.
"Kak, bangun .. Ayo siap- siap kita pulang sekarang yok" ujar ku seraya menggoyang tubuh Damian.
"Kenapa dek? temen yang lain juga belum pada bangun tu" jawab Damian sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Aku gak enak badan kak, mau istirahat dirumah aja ya" aku menjelaskan, memang wajahku sudah sedikit pucat.
"Ayo sudah kakak bereskan semua dulu, kamu ke depan ya, kalo bisa bangunkan temen yang lain" ujar Damian panik langsung bangun dan membereskan semua perlengkapan camping kami.
Aku ke luar tenda dan segera memanggil Gita.
"Git, Git bangun. Ayo kita pulang sekarang" ujar ku di depan tenda Gita masih tak ada jawaban.
"Git.. Giittt.. Gitaaaa" ku nyaring kan suaraku.
Beberapa saat aku memanggil Gita, malah Silvi yang keluar dari tendanya.
"Masih jam segini Ray, burung juga baru pada bangun kali. Kenapa mau pulang sekarang? " tanya Silvi dengan mata yang masih mengantuk.
"Aku mulai gak enak badan ni, badan ku sakit semua pegel , mulai pusing sama mual juga" jawabku .
"Bunting kali , goyang terus sama Damian" jawab Silvi menyindir.
__ADS_1
"Gak lah, kayaknya aku masuk angin ni, ayo pulang sekarang. Bangunin yang lain" pinta ku memelas.
Silvi pun langsung membangunkan teman-teman yang lain, mereka semua sepertinya masih sangat mengantuk. Aku sedikit merasa tak enak, tapi apa boleh buat.
Rencana akan ke air terjun dan memasak pagi ini pun gagal.
Setelah semua beres, aku dan teman-temanku mulai menuruni gunung ini.
Kami berjalan dengan santai dan sangat hati-hati.
Damian terus saja menanyakan keadaanku sepanjang jalan. Sebenarnya tubuh ku mulai lemas dan suhu tubuhku juga mulai meningkat, tetapi aku tetap memaksakan diriku untuk turun. Aku tak memberitahu Damian, sebisa mungkin aku harus menutupinya, aku tak ingin Damian tambah khawatir denganku.
"Akhirnya sampe jugaa" Ujar Acha karena kami semua sudah sampai di parkiran vila.
"Kalo ada warung buka, kita sarapan dulu kali yaa, perjalanan kita lumayan jauh" ujar pacar Gita.
"Di pertigaan depan sini biasa ada warung makan buka pagi" ujar Damian memberitahu.
Kami pun langsung berangkat dengan kendaraan masing-masing.
Di mobil aku hanya diam sambil memejamkan mata, mata ku terasa berat tetapi aku tak ingin tidur.
"Dek, abis makan kita singgah berobat dulu ya di rumah sakit dekat sekolah kita" ujar Damian.
__ADS_1
"Gak usah kak, kita langsung pulang aja ya. Aku mau istirahat aja kak dirumah" jawabku lirih.
"Enggak, pokoknya abis kita makan kakak bawa kamu ke sana. Kakak gak mau tiap kamu habis jalan sama kakak pasti langsung sakit" tegasnya .
"Iya udah kak, sembarang kakak aja" jawabku pasrah.
Kami pun sampai di rumah makan sederhana, menunya cukup banyak, ada nasi campur, nasi pecel, bakso, rawon, soto dan kawan-kawannya hehe.
Aku memilih untuk makan rawon pagi ini, karena perut ku sangat tidak nyaman jadi aku ingin makan yang hangat-hangat.
Setelah semua memesan makanan, kami pun duduk di meja panjang yang disediakan untuk menunggu.
"Kamu gak papa Ray? Kok makin pucet gitu? " tanya Vina seraya memegang tubuhku.
"Gak papa kok" jawabku lirih.
"Nanti kalian pulang duluan ya , aku mau bawa Vina ke rumah sakit dulu" ujar Damian seraya mengusap kepala ku.
"Astaga, panasnya dek. Kamu masih bilang gak papa" tambah Damian setelah menyadari bahwa aku demam.
"Gak papa kak, biasa aja ini" jawabku sambil menatap mata Damian meyakinkannya.
Teman-temanku mulai tak bersuara karena pesanan kami sudah datang. Kami segera makan bersama, setelah makan 1 persatu pasangan kami ke meja kasir untuk membayar dan kami segera keluar rumah makan tersebut untuk melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Bersambung...