
Damian sepertinya menginginkannya lagi, aku hanya mengikuti permainannya. Dia terus saja menjelajahi tubuhku, mencumbu leherku berkali-kali. Seketika dia memberhentikan permainannya, "kenapa kak? " tanya ku.
"Ntar aja dek, tunggu temen yang lain masuk tenda semua " jawab Damian, karena ada beberapa teman yang masih asik bernyanyi di luar tenda.
Aku pun paham maksudnya, aku tidur dengan berbantal tangan Damian.
"Kak?" panggilku.
"Iya, kenapa? " jawab Damian
"Kakak beneran sayang sama aku kan? " tanya ku.
"Kenapa adek nanya gitu? kakak beneran lah sayang sama adek" tegasnya.
"Gak papa kak, jangan tinggalin aku ya " pintaku.
"Iya, kakak akan selalu jaga kamu, kakak terima semua kekurangan kamu, kakak gak akan tinggalin kamu, kecuali umur yang memisahkan kita. Insya Allah secepatnya kakak akan ikat kamu dengan hubungan pertunangan. Kalo cuman tunangan kan gak papa walaupun kita sekolah. Nanti pulang dari sini, kakak langsung bilang sama orang tua kakak" Jawab Damian meyakinkan ku seraya mencium keningku.
Aku sangat bahagia mendengarnya, semoga ini bukan omong kosong belaka.
Teman-teman sudah tak terdengar lagi suaranya, sepertinya mereka semua sudah masuk tenda dan beristirahat.
Damian yang sedari tadi menahannya, kini mulai melanjutkan aksinya. Malam ini benar-benar aku ditelanjangi Damian, tak ada sehelai benang pun ditubuh ku.
Dan kami pun melakukan kenikmatan lagi, tetapi malam ini sangat berbeda. Aku seperti tak ingin melepaskan Damian, mungkin karena aku habis mendapat kata-kata terindah yang aku inginkan hehe.
__ADS_1
Setelah beberapa lama Damian pun mengeluarkannya. Seperti biasa kami segera membersihkannya dengan tisu.
Setelah puas bermain, kami langsung tertidur tanpa menggunakan pakaian. Kami tidur bertelanjang didalam selimut.
***
Pagi
"Woy bangun woy" suara dari luar tenda membangunkan kami.
Aku terkejut karena kami masih bertelanjang, aku segera membangunkan Damian.
"Kak bangun, tu di depan temen- temen yang lain udah nunggu kita" ujar ku seraya menggoyangkan tubuh Damian.
Damian masih menggeliat, "aku membangunkan Damian tetapi malah juniornya duluan yang bangun " Gumam ku .
"Bangun kak, udah siang" ujar ku.
"Iyaa dek, ambilkan celana kakak tadi malam"
pinta Damian.
Aku segera mengambilkan dan memberikannya.
"Ini kak, aku keluar duluan yaa" ucapku seraya mencium pipinya.
__ADS_1
"Ngapain aja semalam jam segini baru bangun" tanya Gita.
"Sama kayak yang kamu lakukan " jawabku menyindir.
"Haha, sotoy ni. Mana Damian? " tanya Gita kembali.
"Bentar lagi keluar, eh ini hari terakhir kita yaa?" Ujar ku memastikan.
"Iya ae kayaknya, sudah jangan lama lama disini, pulang-pulang bunting nanti haha" Jawab Silvi.
Setelah semua berkumpul, kami pun segera ke air terjun seperti biasa.
Kali ini Damian membawa kamera nya, ia akan mengabadikan momen seharian ini untuk kenang-kenangan.
Sesampainya di air terjun, Damian langsung mengarahkan kamera nya ke pemandangan air terjun tersebut. Jelas saja dia mempotretnya.
"Dek, berdiri disitu ya. Ntar kakak foto kan" ujar Damian seraya menunjuk batu besar.
Tak tau berapa kali sudah memfoto ku, kali ini giliran aku dan teman-temanku. Sungguh maha benar setiap gaya dengan segala kehebohannya haha.
Sudah puas aku dan teman-temanku bergaya, kali ini Damian meminta aku memfoto dirinya.
Setelah beberapa kali , Damian memanggil para lelaki yang lain. Benar-benar tak kalah hebohnya. Yak, sesi foto telah selesai, sekarang waktunya mandi.
Kami sudah turun ke air, Damian masih saja asik dengan kameranya. Ku lihat sesekali ia mengarahkan kamera itu ke aku yang sedang asik mandi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Damian menyimpan kembali kameranya dan diletakkan di atas batu besar. Ia pun terjun langsung untuk mandi.
Bersambung...