
Andrian masih memegang erat tangan Aulia, meskipun kini ia berada di dalam lift sekali pun, entah kemana dirinya akan di bawa dan anehnya Aulia seperti kerbau yang di cocok hidungnya, mengikuti kemana pun pria tampan ini membawanya.
Saat di dalam lift, Andrian tidak mengeluarkan kata sedikit pun, matanya menatap lurus ke depan tanpa ingin berpaling melihat nya, sedangkan aulia sejak tadi mencuri pandang kepada pria di sampingnya ini,atau mungkin kini Aulia sedang menatap pria itu.
Kulit halus yang sangat terlihat terawat itu berbeda jauh bahkan dengan kulit tangan Aulia, Aulia menatap tangannya yang masih saja di genggaman pria itu, jantung nya seketika berdetak tak beraturan, pipinya mulai terasa panas,tanpa sadar Aulia tersenyum sendiri, sebelum suara berat itu mengagetkan nya.
" Kenapa begitu senang, melihat tanganmu di pegang lelaki?" Tanya pria itu tanpa menoleh.
Aulia seperti maling yang tertangkap basah saat sedang mencuri, ia ingin protes tapi mulutnya seakan terkunci,sedangkan matanya malah terus menatap pria itu meskipun senyum nya sudah pudar,ia ingin sekali melepaskan tangan nya dari genggaman pria itu,tapi sepertinya tangan dan otak nya mulai tidak sinkron.
" Le,, lepas kan tangan saya " rasanya ia sudah berteriak,tapi yang keluar malah seperti sebuah rengekan,ya tuhan ada apa dengan dirinya.
" Tunggu sampai kita sampai " Kata pria menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu.
" Sebenarnya saya mau di bawa kemana?" Tanyanya mulai kesal.
" Jangan banyak tanya,ini semua karena salahmu,dan kamu harus bertanggung jawab " jawab Andrian menahan kesal.
Tentu saja Aulia bingung, padahal ia baru kali ini berbicara dengan pria tampan ini,kenapa ia bisa punya salah?
" Memangnya saya ada salah apa?" Aulia pun mulai kesal karena di tuduh yang tidak tidak.
" Lepasin,," Aulia berusaha melepaskan tangannya sendiri dari genggaman pria itu, tapi tidak berpengaruh sedikitpun.
Aulia masih terus berusaha, tapi pria itu malah lebih kuat menggenggam tanganya, rasanya seperti tangan Aulia akan hancur sebentar lagi,ia hanya bisa meringis tapi lagi-lagi pria itu tidak memperdulikan nya,saat pintu lift terbuka, barulah pria itu sedikit merenggangkan genggaman nya.
Tapi ada hal yang membuat Aulia terkejut,kini di hadapannya sudah ada Om Rendi nya yang menatap Aulia dan Andrian berganti an, mungkin ia sangat terkejut melihat pemandangan di hadapannya.
" Aulia?,," Tanya Rendi bingung.
" Om,," baru Aulia akan mengadu, tapi pria yang masih menggenggam tangannya itu keburu bersuara.
" Om,,?jadi kamu suka bermain dengan pria dewasa ya?" Tanya Andrian merendahkan dengan tatapan nya.
Aulia merasa tatapan itu memiliki arti penghinaan jadi sangat marah,ia memanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan cengkraman pria itu,dan berhasil ia dengan cepat menggandeng tangan om Rendi nya mencari perlindungan.
" Aulia,siapa pria tidak sopan ini?jaga bicara anda tuan, Aulia keponakan saya,jangan merendahkan nya seperti tadi atau saya akan merobek mulut anda " kata om Rendi marah.
" Oh jadi anda om nya, baiklah mumpung anda ada di sini sekarang , seperti nya saya harus mengatakan sesuatu yang keponakan anda lakukan kepada kakak saya?" Jawab Andrian tegas.
Aulia seketika membesarkan matanya,kalau sampai om nya tau tentang hal itu, Aulia yakin ia akan di marahi abis abisan nanti, terlebih jika sampai ayahnya tau,itu akan memperparah keadaan, Ayahnya,,,ya tuhan Aulia baru mengingat ayahnya, kedatangan nya kesini untuk ayahnya kenapa ia malah mengikuti pria menyebalkanya itu.
" Om,,,ayah,, bagaimana keadaan ayah om,,,? " Aulia yang baru mengingat nya seketika menghentikan om nya yang akan bertanya kepada Andrian.
Dan om nya yang merasa memang ingin memberi tau Aulia pun segera menjawab.
" Ayah kamu sekarang belum sadar li? dokter bilang kaki ayah kamu harus di amputasi " jawab Rendi lemah.
Aulia seperti di sambar petir, seketika merasakan kesakitan ayahnya, bagaimana bisa seperti itu,tidak,,, tidak mungkin pasti semuanya salah.
" Ga mungkin om,,,ga mungkin,,, bagaimana bisa seperti itu,,,ayah ga boleh kehilangan kakinya om,,,"Aulia langsung menangis memeluk Rendi, tangisnya sangat pilu, membuat Andrian yang sedari tadi melihat percakapan orang di depannya merasa kasihan, ternyata anak itu sedang ada masalah yang sangat berat.
__ADS_1
Rendi ingin segera membawa Aulia menemui ayahnya,tapi sebelum nya ia berbicara kepada Andrian yang dari tadi hanya diam menatap mereka.
" Apapun yang keponakan saya lakukan, saya akan bertanggung jawab, catat nomor telepon saya, hubungi saya nanti setelah saya mengantar Aulia menemui ayahnya " kaya Rendi mulai menyebutkan nomor telponnya.
Dan seperti orang bodoh Andrian pun mencatat nomor itu, entah untuk apa,ia hanya sekedar mencatatnya saja.
Setelah kepergian Aulia dan Rendi, Andrian masih saja melamun,ia mengingat tangis anak itu,dan hatinya seperti tersentuh, tapi buru buru ia tepis,lalu melanjutkan perjalanan nya ke kamar Kakak iparnya yang sedang sakit itu.
Aulia menatap miris melihat ayahnya dengan bermacam alat menempel di tubuhnya,kepalanya di bungkus oleh perban yang hampir menutupi seluruh kepala nya,hati Aulia sakit melihat wajah ayahnya,wajah tampan dengan senyum indah itu kini terbaring pucat,ia mengusap tangan kekar yang telah memeluk nya sejak kecil, Aulia tidak bisa membayangkan jika ia harus kehilangan ayahnya,tidak,,, bahkan ia tidak ingin membayangkan nya.
" Om,,,kenapa bisa seperti ini " setelah mulai bisa mengontrol tangis nya, Aulia bertanya kepada Rendi.
" Papa kamu menghindari orang menyebrang,dan ia malah tertabrak mobil dari arah berlawanan,itu yang om dengar dari para saksi yang ada di tempat terjadi kecelakaan itu"
" Benturan keras di kepalanya membuatnya tak sadarkan diri,dan kaki nya remuk terlindas mobil yang juga melintas dari arah berlawanan, untungnya ayah kamu segera di bawa kesini, sehingga nyawanya masih bisa di selamatkan,tapi tadi dokter bilang,kaki ayah kamu harus segera di amputasi, karena sudah tidak bisa di pertahankan,atau akan sangat berbahaya untuk kesehatan ayah kamu li,tadi om hendak menelpon kamu untuk membicarakan nya, untung kamu sudah datang sekarang dan bagaimana keputusanya?" Tanya Rendi.
" Lakukan yang terbaik om,asal jangan sampai ayah ninggalin Aulia juga, karena aku ga akan sanggup bertahan jika itu terjadi " jawab Aulia, meskipun berat mengambil keputusan itu,tapi jika memang itu yang terbaik Aulia harus rela,asalkan ayahnya masih tetap bisa bersama nya.
" Baiklah om akan menandatangani surat pernyataan dahulu " jawab rendi sambil pergi keluar ruangan itu.
Aulia kembali menatap ayahnya, menggenggam tangan nya yang terasa sangat dingin itu, Aulia berdoa semoga tuhan tidak mengambil orang yang paling ia sayangi.
Sementara di ruangan berbeda,yang terlihat sangat bagus itu ,ada seorang wanita yang menatap kosong,kadang ia bergumam tidak jelas,dan kadang ia memanggil nama anak anaknya dengan tersenyum.
Andrian menatap miris kakak iparnya itu,ia adalah wanita baik yang harus menderita karena ulah seseorang yang merebut kebahagiaan nya,Maria yang paling dekat dengannya karena sejak kepulangan nya dari Amerika,Maria lah yang mengurus nya dengan sabar,saat Andrian kecanduan obat terlarang Maria juga yang membantu nya menyembuhkan nya.
Sudah seperti ibu kedua untuk nya, Andrian sangat menyayangi Wanita itu, beberapa bulan belakangan Maria sudah mulai membaik,tapi karena kehadiran gadis penyusup itu Maria jadi berhalusinasi lagi entah karena apa,yang jelas Aulia membangkitkan kenangan pahit yang membuat nya seperti itu, karena wajah Aulia yang mirip dengan wajah wanita yang merebut kebahagiaan nya,jadi mungkin itu yang memicu penyakit itu kembali.
" Kak,, bagaimana? apa gadis penyusup itu menerima tawaran mu?" Tanya Andrian kepada Mario melalui panggilan telepon.
Dan mendengarkan jawaban tidak memuaskan dari Mario membuat Andrian mengeraskan rahangnya.
Ia harus cari cara bagaimana agar gadis itu bisa terikat dengan nya,dan ia akan dengan mudah membalas perbuatan gadis penyusup itu.
Hal yang Aulia anggap sepele ternyata malah menimbulkan dampak yang besar dalam hidupnya kelak.
Aulia belum beranjak dari kursi di samping ayahnya meski hari sudah beranjak malam, tapi Aulia tidak berniat sedikitpun pergi dari sana.
Suara pintu di buka mengalihkan perhatian nya,ia melihat Rendi masuk ke dalam dengan senyum kecut di bibirnya, Aulia merasa ada yang tidak beres,ia pun bertanya.
" Apa ada masalah om?" Tanya Aulia penasaran.
" Besok pagi tindakan akan di lakukan, tapi,,," ada keraguan di wajah om nya itu.
" Sudah lah, Aulia kamu istirahat lah,biar om yang akan menjaga ayah kamu,kamu bisa beristirahat di luar kalau kamu mau " kata Rendi berusaha tersenyum.
" Om jangan menutupi masalah apapun tentang ayah kepada Aulia om?ada apa?" Aulia masih memaksa Rendi.
" Biaya oprasinya hanya di cover sebagian oleh jaminan kesehatan yang ayah kamu punya,sebagianya lagi kita yang harus melunasi nya "kata rendi lemah.
Aulia memejamkan matanya,air mata pun menetes di sudut matanya,apa yang harus ia lakukan untuk membantu pengobatan ayahnya ini, Aulia harus melakukan sesuatu, fikirnya.
__ADS_1
" Tapi kamu jangan khawatir,om akan meminta bantuan kepada teman teman om,tugas kamu cukup mendoakan kesembuhan ayah kamu ya sayang " jawab rendi berusaha meyakinkan Aulia ia mengelus kepala koponakan kesayangan nya itu.
Aulia hanya mengalihkan tatapannya ke arah ayahnya,ia selalu berdoa yang terbaik untuk ayahnya.
" Om Aulia keluar sebentar," pinta Aulia sambil berdiri dan melangkahkan kakinya keluar setelah mendapatkan anggukan dari omnya.
Di luar Aulia tidak bisa membendung tangis nya, cobaan ini datang bertubi-tubi, baru saja satu masalah nya selesai kini datang permasalahan baru,dan kali ini adalah yang terberat.
Aulia berjongkok di sudut lorong rumah sakit, sengaja mencari tempat sepi, berharap tidak ada yang mendengar tangis nya,tapi ternyata ada seorang pria yang menatapnya dengan seringai licik di bibirnya.
" Kelinci kecil itu sepertinya sedang bermasalah,ini waktunya menjebaknya masuk ke dalam jebakan " fikir Andrian.
Andrian berjalan mendekati Aulia dan menyodorkan sapu tangan ke hadapannya, Aulia yang bisa merasakan kehadiran seseorang pun, mengangkat wajahnya,dan ia menjadi semakin pusing melihat wajah sombong di hadapannya kini.
Aulia enggan mengambil sapu tangan itu,tapi karena merasa membutuhkan nya, akhirnya membuat Aulia mengambil nya.
"Apa ada masalah?" Tanya Andrian membuka obrolan, Aulia hanya menggeleng.
" Kenapa menangis pilu seperti tadi?" Tanya Andrian mencoba memancing.
Lagi lagi Aulia tidak menjawab pertanyaan Andrian.
" Jika soal materi mungkin aku bisa membantunya?"
Seperti mendapatkan angin segar Aulia pun langsung merespon,ia menengok menatap Andrian.
"Apa anda yakin,akan membantu saya?"tanyanya penuh harap.
Andrian hanya mengangguk sebagai jawaban, padahal hatinya sedang bahagia karena ia akan mendapatkan mangsanya dengan mudah.
Entah karena apa, Aulia menceritakan permasalahan nya hari ini,dan Andrian sangat menikmati cerita gadis kecil di hadapannya,berpura pura menjadi malaikat untuk Aulia yang polos yang mudah percaya dengan kebaikan orang lain.
Dengan perasaan senang Aulia masuk ke kamar rawat ayahnya,ia menghampiri om Rendi nya yang terlihat sangat fokus dengan ponsel.
" Om,,," panggil Aulia.
" Ya,,,ada apa sayang?" Jawab rendi berusaha tersenyum di tengah kegusaran nya mencari pinjaman.
" Boleh Aulia tau, berapa total biaya yang di butuhkan ayah?" Tanya Aulia ragu, takut om nya tidak ingin memberitaunya.
" Kenapa? sudahlah sayang tidak usah di fikirkan lagi,om bisa mengatasi nya" kata Rendi dengan masih mempertahankan senyuman nya.
Aulia bingung harus menjelaskan dari mana, tapi akhirnya Aulia menceritakan tentang bantuan yang di tawarkan Andrian,tapi dengan syarat kalau Aulia harus menerima tawaran pak Mario untuk bekerja paruh waktu di kantor nya,dan Andrian akan memberikan jumlah uang yang Aulia butuhkan dan Aulia harus membayar nya dengan cara bekerja di sana.
Rendi sempat bingung dan tidak percaya,ia akan menolak tawaran tidak masuk akal itu, tapi Aulia mencoba meyakinkan nya dengan berbagai cara bahkan ia akan meminta bu Dewi datang untuk bersaksi agar om Rendi nya percaya bahwa tawaran itu memang sudah pak Mario tawaran sebelum Aulia tau ayahnya kecelakaan.
" Om,,tolong biarin Aulia membantu ayah kali ini, Aulia hanya ingin menjadi anak yang berguna untuk ayah om "
" Aulia,om ga bisa,om ga mau sekolah kamu nantinya akan kacau karena kamu sambil bekerja,om ga mau nilai kamu nantinya malah turun,sudah biar semua ini om yg akan cari solusinya " jawab Rendi.
" Om Aulia mohon,lagi pula tempat Aulia bekerja itu adalah kantor pemilik sekolah,jadi Aulia pastiin ga akan mengacaukan sekolah om,tolong ngerti in aku " air mata Aulia sudah menetes dan Rendi sangat tidak bisa melihat keponakanya itu memohon seperti itu, akhirnya dengan berat hati Rendi pun menyetujuinya.
__ADS_1