Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 10 - FEELING


__ADS_3

"Apa sih lebihnya kamu? Beraninya dekat-dekat sama pak Zaki. Nggak sopan banget panggil Zak, Zak, Zak!" Kak Sari langsung marah-marah padaku begitu datang. Disampingnya, kak Febi terus menarik-narik tangan kak Sari.


Kak Febi terus mengingatkan kak Sari untuk pergi manjauh dariku karena kak Febi menyadari keberadaan hantu gadis yang berbeda tak jauh dari kami berdiri, Namun kak Sari tak menghiraukan.


Hantu gadis itu menatap bringas pada kedua teteh itu. Menyadari itu aku sedikit ingin bercanda dengan mereka.


"Dia sendiri yang nggak mau kupanggil pak. Maunya dipanggil Zaki aja." Kataku menahan tawa dengan melihat raut kak Febi yang sangat ketakutan namun kak Sari terus ngotot ingin menyerangku.


Memang benar Zaki menolak aku memanggilnya pak, bukan?


"Lancang! Punya mulut nggak pernah disekolahin, ya? Mulut nggak berpendidikan!" Kak Sari semakin geram. Dia masih ingin maju mencabik-cabik aku. Namun kak Febi menahannya.


"Udah, Sar, udah! Cukup! Kita pergi dari sini!" Teh Febi berkata penuh penekanan. Sorot matanya mengisyaratkan sesuatu, hingga kak Sari akhirnya menurut.


Aku tertawa merasa menang dalam hati. Aku tau caraku ini salah dan terdengar jahat. Tapi mendengar cerita-cerita dari Eva, Uci, dan Risa, juga bagaimana Kak Mutya dan kak Tata menyanggah mereka, sepertinya tak masalah jika aku sedikit mengerjainya.


Aku menatap hantu gadis itu. Aku tersenyum padanya dan berterima kasih dalam hati, berharap dia akan mendengar. Dan ajaibnya, dia benar-benar mendengarku.


"Aku tidak melakukan apapun. Tidak perlu berterimakasih." Gadis itu sama sekali tak menggerakkan bibirnya. Namun aku dapat mendengar kata-katanya yang terngiang dikepalaku.


Apakah ini yang dinamakan kontak batin? Aku tidak yakin. Mungkin ini hanya kebetulan.


*****


Malam ini Devi mengetuk pintu kamar kami, mengajakku duduk-duduk diteras sembari bernyanyi diiringi gitar.


"Aku selalu suka cewek yang bisa main gitar. Aku pingin bisa juga, tapi nggak pernah bisa walaupun berkali-kali mencoba. Mungkin aku nggak punya passion dalam bermusik." Tutur Risna, teman satu kamar Devi.


"Emang susah ya main gitar, tuh. Aku aja yang baru nyoba udah kapok." Sasi mengutarakn pendapatnya juga.


"Aku suka banget sama Maudy Ayunda. Dia cantik dan jago banget main gitar." Tambah Risna berpendapat.


"Dia salah satu alasan aku bermain gitar. Maudy Ayunda. Dia cantik, pintar, permainan gitarnya mempesona, dia luar biasa dimataku." Kini aku yang mengeluarkan pendapatku.


"Kamu juga ngefans sama dia? Emang bener kan dia luar biasa." Risna terlihat berbinar mendapatkan teman satu pendapat dan satu pemikiran.


"Aku juga suka Avril Lavigne." Kata Risna lagi.


"Iya. Aku juga suka." Kataku menimpali.


"Kalau aku sih lebih suka lagu-lagunya Bruno mars, atau Coldplay." Fara ikut angkat bicara.


"Aku sukanya yang oppa-oppa ganteng." Kata Devi. Dan setelahnya terjadi keheningan beberapa saat.


"Nggak ada salahnya suka sama siapa, itu sebuah kebebasan." Kataku. Aku paham mereka menahan tawa untuk pernyataan dari Devi. Aku sendiri memang tidak menyukainya, tapi bukan berarti orang lain tidak boleh menyukainya, bukan?

__ADS_1


Sasi dan Fara berdehem untuk mengembalikan suaranya. Sedangkan Risna sudah tertawa terpingkal dan dihadiahi pukulan kecil oleh Devi. Mereka memang sudah akrab karena selain mereka datang dari satu kampung, Risna dan Devi ternyata juga bersaudara.


"Kalau aku suka Moses bandwidth." Celetuk seseorang yang baru saja datang. Disampingnya ada mas Andi. Aku bisa tau kalau dia adalah teman mas Andi.


Aku tersenyum sopan. Meskipun aku tak kenal aku harus menghormati warga asli desa ini karena aku sedang menumpang di wilayah mereka.


"Aku tau band itu. Seorang yang aku kenal menyukai aliran itu. Dan aku sering mendengar temanku yang memutar lagu-lagu semacam itu." Kataku mengutarakan pengetahuanku.


"Serius? Wah keren. Dia cewek tapi kenal Moses, Ndi." Kata seorang tersebut sembari menepuk-nepuk bahu mas Andi.


"Maaf mengecewakanmu, tapi aku nggak cukup kenal. Hanya sekedar tau aja." Kataku meluruskan.


"Itu aja udah keren. Itu berarti kamu juga bisa nyanyiin beberapa lagu?" Tanyanya lagi.


"Cuma sedikit."


"Kalau gitu bisa kan mainin lagu itu. Pakai gitar itu juga." Seorang itu menunjuk gitar di pangkuanku.


"Maaf mas, kayaknya nggak cocok karena disini banyak yang nggak tau siapa Moses." Kataku mewakili pemikiran teman-temanku.


Aku bisa membaca pertanyaan mereka hanya dengan memperhatikan wajah mereka. Kentara sekali pertanyaan seperti 'siapa Moses bandwidth?' 'apa itu band atau apa?' atau yang parahnya 'apa itu makanan lezat?' dan pertanyaan semacamnya.


"Udah nggak usah maksa." Kini mas Andi yang berganti menepuk pundak orang itu, mendahului sebelum orang itu kembali berbicara.


"Maaf dia nggak punya tata krama. Belum memperkenalkan diri udah sok akrab." Mas Andi meminta maaf untuk seorang temannya itu.


"Baik, mas Andi."


"Siap, mas Andi."


"Kalian tenang aja. Tampangnya emang sangar kan, tuh, tatoan, badan gede, tapi hatinya pink. Lemah lembut dia." Kata mas Andi mendeskripsikan bang Kobar.


"Hello Kitty kali hatinya pink." Seru bang Kobar.


"Emang udah pernah liat hatinya hello Kitty bang?" Tanya Fara asal. Namun membuat bang Kobar membisu.


Kami tertawa saja menanggapinya.


Malam ini menjadi bagian seru untuk membicarakan tentang hobi. Dan pada akhirnya aku dan mas Andi bermain gitar bersama lagi. Beberapa anak dari kamar lain pun ikut bergabung.


Malam ini tidak bermain selarut saat malam perkenalkan malam itu. Belum sampai pukul sepuluh malam, kami menyudahinya. Sebagian ada yang pergi menonton film-film di televisi mas Andi, sebagian ada yang memilih untuk istirahat dikamarnya.


Sasi dan Fara ikut menonton. Sedangkan aku Masih duduk di teras ditemani mas Andi. Sepertinya ada yang ingin dia bicarakan atau dia tanyakan padaku. Kebetulan aku juga ada beberapa pertanyaan.


"Nggak istirahat?" Tanya mas Andi.

__ADS_1


"Sebentar lagi, mas. Kalau mas Andi mau istirahat silakan." Kataku.


"Masih pingin duduk disini." Kata mas Andi sembari menengadahkan kepalanya.


"Apa disini tempat favorit mas Andi? Apa mas Andi selalu duduk disini setiap malam?"


"Setelah kamu datang." Kata mas Andi yang kemudian menatapku.


Aku tersenyum canggung.


"Apa kalau aku nggak duduk disini mas Andi juga akan duduk disini kayak gini, sendirian?"


"Kadang. Tapi lebih sering iya." Katanya masih memandangiku.


Aku mengangguk dan aku kini menengadah menggantikan posisi mas Andi tadi.


Aku menghembuskan nafas panjang. "Bagaimana rupa kost ini sebelum direnovasi, mas?"


Mas Andi mengernyit. Ekspresinya seperti terkejut.


"Apa yang punya kost ini yang melarang mas Andi untuk menceritakan yang sebenarnya?" Kataku menebak.


Melihat keterdiaman mas Andi, aku semakin yakin bahwa tidak mungkin pemilik kost tidak mengetahui apa-apa. Pasti dia sengaja menutupinya.


"Dulu ini juga kost-kostan yang sangat laku. Nggak pernah ada kamar yang kosong." Mas Andi akhirnya bersedia berbicara. Aku sedikit merasa aku punya jalan.


"Dulu disini belum semaju ini. Dulu didepan adalah masih ladang. Dibelakang adalah rawa. Pemilik kost sebelumnya adalah adik pak haji, yang rumahnya bercat oranye menghadap barat disebelah pangkalan ojek sana."


"Tapi setelah pemilik kost ini meninggal, pak haji menjual pada pemilik yang sekarang."


"Apa prosesnya langsung begitu saja? Atau ada jeda beberapa tahun sebelum pak haji akhirnya menjualnya?"


Mas Andi menggeleng. "Rumah kost ini kosong selama hampir lima tahun. Karena tak ada yang mengelola jadi rumah ini terbengkalai."


Karena kosong selama lima tahun maka rumah ini dihuni bangsa lain.


"Apa nggak ada sanak saudara yang bisa menggantikan mengelolanya?" Tanyaku mulai mengikuti alur perbincangan.


"Aku pernah mendengar bahwa adik pak haji sudah berkeluarga, dia memiliki seorang anak perempuan. Tapi setelah dia meninggal, tak ada yang tau keberadaan istri dan putrinya itu, termasuk pak haji sendiri."


Deg!! Seketika terlintas dipikiranku kedua orang yang mengenakan pakaian yang sama yang mendatangiku semalam. Aku tidak tau apa-apa, tapi begitu mendengar cerita yang keluar dari mulut mas Andi, aku langsung terbayang mereka.


Tidak mungkin bahwa mereka adalah istri dan anak dari pemilik kost ini sebelumnya, kan?


*****

__ADS_1


Semakin nggak nyambung atau gimana sih menurut kalian? Atau cerianya kelihatan terburu-buru, atau gimana? Tolong kasih aku saran ya teman-teman, supaya aku bisa lebih maju. Silahkan tulis di kolom komentar, dan jangan lupa klik jempol. Terimakasih dan sampai jumpa dia part selanjutnya. Aku harap kalian tetap setia menunggu kelanjutannya. Love you all...


__ADS_2