
Aku berada disebuah tempat asing. Hanya putih yang kulihat. Putih bersih tanpa sedikitpun noda. Aku seperti sedang berada di dunia kapas. Namun aku hanya sendirian. Disini sangat sunyi, bahkan suara napasku sendiripun tak bisa terdengar olehku.
Lalu tiba-tiba datang setitik hitam dari kejauhan. Dengan cepat titik hitam itu mendekat, semakin besar, lalu menelanku.
"Aaaaaaaa....!" Aku tertelan kegelapan. Dan kini aku berada di kegelapan itu. Namun anehnya aku dapat melihat dengan jelas walau segelap ini.
"Dimana lagi aku sekarang?"
Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah. Pada awalnya aku tak menemukan apapun. Namun perlahan muncul beberapa sosok yang pernah kulihat sebelumnya seperti makhluk berbentuk aneh yang ada di dalam gua, putri kerajaan Belanda yang cantik, danĀ masih banyak lagi. Yang paling jelas disana ada dua anak dan ibu berbaju sama itu.
Lalu perlahan para makhluk astral lainnya mulai menampakkan diri mereka saling menyusul, seolah sedang memamerkan eksistensinya di depanku. Dalam keadaan ini aku tak bisa bergerak. Seolah mereka sengaja datang bergiliran mendekat padaku dan tak membiarkan aku mengganggu mereka.
Lalu tiba-tiba mereka berjalan lebih cepat bergerak, seperti sebuah video yang diatur menjadi lebih cepat. Penampakan itu berhenti pada seorang yang sangat kukenal. Seorang yang selalu mengganggu pikiranku akhir-akhir ini dan rupanya telah berhasil mengisi kekosongan hatiku.
"Zakiiii!!!" Teriakku kencang. Aku berharap Zaki dapat mendengarku, tapi kelihatannya Zaki tak bisa mendengarku karena jarak kita yang jauh.
Aku ingin mendekati Zaki tapi aku tak bisa. Seolah aku ditugaskan hanya sebagai penonton. Penonton yang melihat pertunjukan mengerikan. Bagaimana tidak mengerikan, aku melihat Zaki di siksa oleh makhluk gaib disana.
"Berhenti! Tolong berhenti!" Kataku semakin histeris. Aku menangis sejadi-jadinya.
"Zaki! Jangan cuma diam! Menjauh dari sana!" Teriakku sekeras yang aku bisa, namun Zaki tetap tak mendengarku.
Aku melihat Zaki berlutut. Tenaganya terkuras habis setelah ia dicambuk, dipukul, ditendang, dan dihantam benda tumpul. Aku sangat tak tega melihatnya, sungguh. Rasanya aku ingin berada disana. Walaupun aku tak bisa berbuat apa-apa untuk Zaki tapi setidaknya aku ingin berada disisinya kala ia dalam kesulitan.
"Apa sebenarnya kesalahan yang Zaki perbuat? Kenapa kalian menyakiti Zaki seperti ini!" Tak henti-hentinya aku berteriak. Siapa tahu salah satu teriakan ku akan terdengar oleh mereka yang disana.
"Berhenti menyiksa Zaki." Kataku pedih. Pandanganku mulai kabur karena air mata yang terus mengalir.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk kamu, Zak. Aku nggak tahan lihat kamu seperti ini."
Kemudian mereka seakan bergerak mendekat pada posisiku yang tak bergeser sedikitpun. Mereka menjadi lebih dekat dari posisiku berdiri. Zaki lebih dekat denganku.
"Zakiii!" Teriakku lagi. Semoga kali ini Zaki dapat mendengarku.
Dan beruntung Zaki benar-benar mendengarku. Zaki sedikit mendongak. Apakah dia bisa melihatku.
"Ayri!" Teriak Zaki. Dari suaranya aku dapat mengetahui kalau dia sedang menahan sakit, sakit yang ia dapat di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Zaki, kenapa mereka menyiksamu? Apa salahmu?"
Zaki menggeleng samar. "Aku nggak melakukan apapun. Aku nggak tahu kenapa aku diseret ke tempat ini." Kata Zaki sangat pelan.
"Kamu pasti kesakitan kan, Zak? Biar aku juga ikut_"
"Jangan, Ay! Jangan gegabah! Aku masih bisa bertahan, kamu harus percaya aku. Lebih baik cepat cari jalan keluar."
Kemudian pukulan bertubi-tubi kembali Zaki terima. Ia terbatuk-batuk sampai memuntahkan darah segar. Lalu Zaki tertunduk dengan tangan yang diikat pada tiang.
"Zak, kamu nggak papa?" Tanyaku.
"Zaki, kamu dengar aku, kan?"
"Zaki kamu kenapa? Kamu..."
Zaki tetap tak bergerak. Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku lagi.
"Zakiiii!"
Sepeti baru saja ada yang membuka pergerakanku, kini aku dapat merasakan tubuhku bisa digerakkan. Aku langsung berlari mendekati Zaki. Namun belum sampai beberapa langkah, kedua tanganku di cekal oleh makhluk gaib lainnya. Dan juga banyak makhluk-makhluka lain di belakangku.
Aku terus berontak berusaha melepaskan cekalan tangan makhluk menjijikan itu namun aku kalah kuat. Apalagi mereka tak cuma satu.
Aku kalah. Aku tak bisa adu kekuatan. Aku tentu tak bisa mengalahkan kekuatan mereka. Aku harus pikirkan cara untuk melawan mereka.
Belum sempat aku terpikirkan apapun, lebih dulu mereka menyeretku agar menjauh dari Zaki.
"Lepaskan! Aku mau disini. Aku mau menemani Zaki!" Sekeras apapun aku berontak maka sebanyak itu pula kekuatanku terbuang sia-sia. Tapi aku benar-benar tak mau meninggalkan Zaki sendirian. Aku tidak mau meninggalkan Zaki lagi, aku harus belajar dari pengalaman.
"Zaki bangun! Cepat bangun, Zak! Aku butuh kamu!" Teriakku. Dan makhluk-makhluk itu semakin menarikku pula. Zaki juga tak ada tanda-tanda akan bergerak.
Pikiranku kacau. Aku sangat takut Zaki akan kenapa-napa. Aku berharap dia hanya pingsan karena kehabisan tenaga. Aku tak sanggup jika Zaki kehilangan nyawanya.
"Cepat buka matamu, Zaki! Kamu dengar aku, kan? Aku butuh kamu! Aku menunggumu!" Aku terus berteriak kalap. Dan aku tak akan berhenti berteriak sampai Zaki bisa mendengarku.
Namun sialnya makhluk-makhluk itu tak mau tinggal diam mereka dengan paksa menyeretku semakin menjauh.
__ADS_1
"Aku bersumpah aku tak akan melepaskan kalian jika sesuatu yang buruk terjadi pada Zaki!" Kataku tajam. Entah dapat keberanian darimana aku sampai mengeluarkan kalimat ancaman untuk para makhluk gaib disini.
Lebih kasar daripada sebelumnya, mereka melemparkan diriku pada dinding. Kemudian mereka mengikat kedua tanganku pada sebuah tiang yang cukup jauh dari Zaki.
"Sialan! Kalian beraninya main keroyokan!" Sarkasku seperti lupa dengan perasaan takut.
Beberapa makhluk lain datang menghampiri, salah satunya membawa cambuk. Tak segan ia melayangkan cambuk itu mengenai kakiku.
"Akh.." pekikku. Rasanya panas dan perih.
Ya benar. Jika Zaki menerima siksaan ini maka aku pun bersedia menerimanya. Aku tak bisa membiarkan Zaki menanggung rasa sakit seorang diri.
Lagi. Makhluk itu kembali mencambukku. Kali ini ia tak memberikan jeda, ia mencambukku terus-menerus.
"Sshhhh." Aku mendesis pelan. Aku tak mau terlihat lemah di depan makhluk kotor seperti mereka. Aku harus menahan tenggorokanku agar tak mengeluarkan suara kesakitan.
Tak hanya itu, satu makhluk lain mendekat dan menghantam kakiku dengan balok besar dengan sangat kuat. Seketika kakiku mati rasa. Apakah tulangku dibuat remuk olehnya?
Aku menatap nyalang pada makhluk-makhluk itu. "Kalian makhluk kotor, nggak akan bisa mengalahkan makhluk mulia seperti kami!"
Sepeti tak terima dengan ucapanku, salah satu diantara mereka maju dan menghantamkan bola besi besar tepat di wajahku. Saat itu pula hidungku mimisan. Tak cuma itu, darah segar juga keluar dari mulutku ketika bola besi itu dihantamkan pada perutku.
Aku lemas. Sama sekali tak berdaya. Kekuatanku terkuras habis. Aku tak memiliki tenaga walau hanya untuk sekedar mengangkat kepala. Akhirnya aku merasakan yang Zaki rasakan. Aku lega walaupun tak bisa membantu Zaki tapi setidaknya aku akan disini bersama Zaki. Aku sangat lelah, dan mataku memintaku untuk memejamkannya.
"Ayri!" Aku mendengar seorang memanggilku sesaat sebelum aku menutup mata.
"Ayri jangan tutup mata kamu!"
Dalam sekejap aku membuka mataku lebar-lebar. Lalu aku mengedarkan pandanganku untuk mencari sumber suara. Itu bukan suara Zaki karena Zaki masih tertidur. Terlebih itu suara seorang perempuan.
"Ayri, tolong bertahan."
Aku terus mencari sumber suara itu, dan akhirnya aku menemukannya dari arah atas.
"Elsa?"
*****
__ADS_1