
Zaki bilang dia tidak punya hak atas itu? Jadi apa maksud dia mengatakan bahwa aku penting ketika pagi itu?
Zaki menepikan mobilnya dan mematikan mesinnya.
"Tolong lihat aku, Ay." Pinta Zaki, namun aku tak bergeming.
"Ay..." Aku masih diam.
"Aku minta maaf, oke?" Zaki menangkup wajahku dan memutar kepalaku pelan agar aku menghadap padanya.
Aku menurunkan tangan Zaki.
"Kamu nggak salah. Aku yang seharusnya minta maaf." Kataku dengan membuang pandanganku kearah lain.
"Aku minta maaf karena aku udah banyak nyusahin kamu" kataku lagi.
Seketika Zaki menarikku dalam pelukannya.
"Ay, jangan begini. Aku sangat butuh kamu. Jangan abaikan aku."
"Siapa yang lebih dulu mengabaikan siapa?" Kataku sarkas. Aku memukul-mukul dadanya namun dia sama sekali tak berniat untuk melepaskan pelukannya.
"Maaf. Aku minta maaf." Katanya serak. Sepertinya dia menangis lagi.
Aku kesal. Sangat kesal. Tapi aku juga tidak bisa melihat Zaki menangis karenaku lagi.
Aku merasakan kehangatan dipucuk kepalaku. Dan hembusan nafas menyapa rambutku lembut. Apakah Zaki sedang mengecup kepalaku?
Aku mendongak meminta penjelasan. Namun seperti biasa Zaki tak mau angkat bicara.
"Aku bingung kenapa kamu tiba-tiba marah sama aku, tapi tiba-tiba juga kamu bersikap lembut. Aku nggak bisa ngerti kamu, Zak." Aku mendorong Zaki sedikit kuat untuk menjauhkan jarak.
"Karena aku pengin kamu menganggapku ada." Kata Zaki.
Aku terdiam.
"Ay, aku ingin kenal teman-temanmu, boleh?"
Aku memutar kepalaku menghadap Zaki lagi.
"Bukannya aku nggak ngebolehin, tapi aku baru seminggu loh disini. Aku takut teman-temanku akan bertingkah seperti kak Sari." Jelasku.
"Sama hantu nggak takut giliran sama omongan tetangga takut." Zaki tertawa mengejekku.
Aku mencubit perut Zaki dengan gemas.
"Jangan suka gemes-gemes, nanti cinta."
Aku mencubit perutnya sekuat tenaga mendengar perkataan Zaki yang nyeleneh. Zaki menjerit kesakitan.
"Penganiayaan!" Zaki memegangi perutnya.
"Biarin!" Kataku ketus.
Zaki mengacak-acak rambutku dan entah bagaimana aku bisa merasa senang dengan perlakuan Zaki padaku.
Jujur, aku tak pernah sedekat ini dengan teman lawan jenisku sebelumnya. Satu-satunya orang yang pernah dekat denganku adalah Rian, teman masa kecilku. Namun sekarang aku sedang berusaha menjauh darinya karena suatu hal.
Mungkin karena aku merindukan perasaan hangat yang pernah Rian berikan, dan kini aku mendapatkannya, makanya aku merasa senang. Atau karena alasan lain aku sendiri tidak yakin.
"Jadi kita mau kemana?" Tanya Zaki.
"Aku nggak punya tujuan. Kan kamu dulu yang ngajakin aku."
__ADS_1
"Iya-iya. Kita sarapan dulu kalau gitu." Kata Zaki penuh kesabaran.
Kemudian Zaki kembali melajukan mobilnya. Aku tak bertanya akan kemana, karena bersama Zaki aku selalu merasa aman dimanapun aku berada.
*****
Mobil Zaki masuk ke sebuah perumahan elit, dan berhenti di sebuah rumah bergaya modern bercat putih bersih. Kemudian Zaki membukakan aku pintu mobil dan mengajakku turun.
Zaki menuntunku memasuki rumah itu.
"Ini..rumah kamu?" Tanyaku hati-hati.
Zaki tak menjawab, melainkan hanya tersenyum.
"Ayo masuk."
Aku masuk mengekor. Zaki mempersilahkan aku untuk duduk.
"Kamu duduk disini dulu. Aku buatin minum sebentar." Kata Zaki. Maka aku mengambil duduk disalah satu sofa yang juga berwarna senada dengan cat rumah ini.
Aku meneliti setiap sudut. Rapih. Batinku memuji.
Apakah Zaki yang menata setiap ruangan disini? Apakah Zaki tinggal sendiri di rumah ini yang bahkan lebih besar dari rumahku di kampung halamanku.
"Coklat panasnya, nona. Silakan dinikmati." Kata Zaki khas pelayan restoran.
Aku tersenyum geli "Makasih."
"Kamu disini dulu sambil minum coklatnya. Aku buat sarapan dulu untuk kita." Kata Zaki lagi. Aku mengangguk.
"Disini nggak ada tulisan dilarang. Jadi kamu boleh melakukan apapun, kamu boleh lihat apapun. Kalau kamu bosan kamu boleh susul aku didapur. Dapurnya ada disana." Zaki menunjuk sebuah ruangan yang disebut dapur tadi.
"Iya." Kataku sambil mengangguk.
Aku masih terus tersenyum menatap punggung Zaki hingga hilang dari pandanganku.
Aku menghela nafasku pelan. Aku beruntung mengenal Zaki. Dia sangat lembut dan perhatian.
Siapa yang tidak akan terpesona pada Zaki yang lembut dan berkepribadian baik. Apalagi jika sudah melihat sikap manisnya. Semua gadis pasti akan meleleh. Namun aku berharap hanya aku yang bisa melihat sikap manis Zaki. Aku tidak peduli jika aku dianggap egois. Aku tidak peduli apapun jika itu tentang Zaki.
Aku berjalan mendekati sebuah etalase yang berisi piala-piala. Banyak sekali piala disini, dan dari bermacam bidang. Zaki memang hebat.
Aku pun mengamati dekorasi ruangan ini yang apik. Lalu berganti mendekati akuarium yang besar disatu sudut. Aku tersenyum melihat ikan-ikan disana, juga sejuk mendengar gemerciknya air.
Ah, sudah cukup lama dan Zaki masih belum siap, sebenarnya apa yang sedang ia masak? Lebih baik aku menyusulnya.
Namun sebelum aku melangkah, Zaki sudah muncul dan aku tersenyum lega. Zaki melangkah dan duduk di sofa dengan ponsel setia ditangannya.
Kenapa Zaki tak menghiraukan aku? Aku hampiri saja dia. Tapi, tunggu! Kapan Zaki berganti mengenakan pakaian formal seperti ini? Bukankah tadi Zaki hanya mengenakan kaus putih dan celana selutut?
Aku lebih mendekat untuk memastikan.
"Zak." Panggilku, dan Zaki terkejut. Apa aku membuatnya sekaget itu?
"Aih, ada tamu kenapa tuh bocah nggak bilang-bilang." Gerutu Zaki entah pada siapa.
Tunggu dulu! Setahuku Zaki tidak memiliki tahi lalat di dekat hidungnya? Meskipun aku tak pernah memperhatikannya tapi kami sering saling tatap. Jadi aku bisa tau Zaki tak memiliki tahi lalat yang hanya berupa titik kecil di dekat hidungnya.
"Eh sini-sini duduk. Nih minum dulu." Dia menepuk-nepuk sofa agar aku duduk, dan kemudian menyodorkan gelas berisi coklat yang diberikan Zaki tadi. Aku tau kalau orang itu sedang gugup.
"Maaf tadi aku nggak liat kamu, jadi langsung nyelonong aja." Katanya yang sudah mulai tenang.
"Nggak apa-apa." Jawabku.
__ADS_1
"Temannya Zaki ya?" Tanyanya.
Oh, benar! Ternyata dia memang bukan Zaki, melainkan dia pasti saudara kembar Zaki dilihat dari kemiripan keduanya. Meskipun keduanya terlihat sama tapi mereka tetap memiliki perbedaan.
"Iya. Aku pikir tadi kamu Zaki, makanya aku langsung nyamperin kesini. Maaf bikin kamu kaget tadi."
"Iya-iya nggak papa."
Selain wajahnya yang terlihat sama persis jika tak ada tahi lalat di wajah saudara kembar Zaki, cara bicara mereka juga sama. Mungkin mereka dibawah satu pendidik, yaitu ibu mereka. Makanya apa-apa dari mereka terlihat sama persis.
Hebatnya ibu Zaki yang dengan sempurna mendidik dua anak kembar ini. Tanpa sadar aku memuji ibu Zaki.
"Udah lama kenal Zaki?" Tanyanya.
Aku menggeleng. "Belum terlalu lama."
Tiba-tiba dia tertawa. Aku menjadi merasa serba tidak enak dan...aneh.
Dia sama seperti Zaki yang tidak menanyakan namaku. Tapi kalau Zaki bisa mengecek data diriku diperusahaan, sedangkan dia?
Apa memang mereka selalu tak ingin tau siapa lawan bicaranya?
"Hati-hati." Katanya setelah selesai tertawa.
"Dia berbahaya." Lanjutnya.
"Maksudnya?" Tanyaku waspada.
"Jadi kamu belum tahu? Dia itu pemain wanita yang berkedok pecinta wanita."
Duk!!
Sebuah sendok sayur melayang dan mengenai kepala dia yang tidak ku ketahui namanya.
"Itu mulut apa mercon?" Cemooh Zaki yang baru saja keluar dari arah dapur. Sedangkan saudara kembarnya sibuk mengusap keningnya sambil meringis kesakitan.
"Apa sih datang-datang langsung lempar sendok?" Tanyanya dengan wajah tanpa dosa.
"Apa sih datang-datang langsung memfitnah orang?" Kata Zaki membalikkan pertanyaan.
"Emang aku ngomong apaan?"
"Emang aku nggak bisa dengar kamu ngomong apaan?" Kata Zaki lagi-lagi membalikkan perkataan lawan bicaranya.
Ternyata mereka juga memiliki sifat yang sama. Benar-benar saudara kembar.
"Udah matang belum? Laper nih."
"Maaf, aku cuma masak untuk porsi dua orang." Kata Zaki sarkas.
"Saudara durjana. Sungguh teganya teganya teganya." Orang itu pergi sambil bernyanyi.
Mereka lucu. Meskipun cekcok begini, aku tau persis kalau sebenarnya mereka sangat dekat.
"Zian emang sedikit gila. Nggak tau kenapa aku bisa punya saudara kembar yang gila kayak dia." Celetuk Zaki memaki Zian.
Ohh. Jadi namanya adalah Zian.
"Ayo kita sarapan, sebelum makanan yang udah aku siapin dihabisin makhluk rakus satu itu."
*****
Ternyata Zaki punya saudara kembar. Kira-kira lebih mempesona Zaki atau Zian ya??
__ADS_1
Yuk silahkan corat-coret di kolom komentar. Jangan lupa klik suka. Terimakasih sebelumnya. See yaa..