Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 34 - PERNYATAAN CINTA


__ADS_3

Aku tak melewatkan makan malam. Apalagi mama memasak asem-asem sesuai permintaanku, aku memang merindukan masakan Mama yang satu ini.


Setelah makan malam aku dan Zaki segera berangkat, aku akan kembali ke Desa Angin.


Awalnya Mama melarang kami berangkat malam itu juga, Mama menyuruh kami menunggu hingga esok pagi, namun baik aku maupun Zaki bersikeras mengatakan bahwa lebih cepat lebih baik. Aku tak mau terlalu lama disini karena aku tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya.


Tentu ada sedikit drama kecil karena Mama ingin aku tinggal beberapa wakt lagi, namun sayangnya tak bisa. Mau bagaimanapun aku harus segera berangkat. Dan ya, Mama mengizinkan aku dengan disertai doa-doa kebaikan.


Dan sekarang aku dan Zaki sudah berada dalam perjalanan. Malam semakin larut, dan dingin semakin menusuk menembus hingga ke tulang. Untung saja aku memakai mantel tebal, jika tidak mungkin aku akan mati membeku.


"Masukkan tanganmu ke saku, mungkin akan sedikit lebih hangat." Kata Zaki. Aku menurutinya dan ini memang sedikit membantu.


"Mau minuman hangat?" Kata Zaki menawariku.


"Ya, boleh."


Aku melihat seorang penjual dengan gerobak bertuliskan wedang ronde tak jauh dari kami. Zaki berhenti disebelah gerobak itu dan kami turun dari mobil.


"Kamu mau minum apa?" Tanya Zaki lagi.


"Jahe susu aja."


"Oke."


"Pak, jahe susunya dua, ya." Pesan Zaki pada sang penjual.


"Dibungkus atau diminum disini?" Tanya penjual itu lagi.


"Diminum disini aja, pak."


"Siap mas, silakan duduk dulu."


"Iya, pak, makasih."


Zaki mengambil satu kursi plastik untukku lalu mengambil satu lagi untuk dirinya.


Aku merapatkan mantel yang ku gunakan. Begitu turun dari mobil hawa dingin semakin menusuk.


"Dingin banget?" Tanya Zaki.


"Iya, dingin banget."


Zaki menggosokkan kedua telapak tangannya untuk menghasilkan rasa hangat, lalu menempelkannya pada tanganku sebelum hangatnya hilang.


Aku menatap Zaki. "Terimakasih." Zaki tersenyum.


"Kamu juga sakit nggak? Perutku terasa nyeri karena pukulan bola besi itu." Kataku.

__ADS_1


Zaki mengangguk, mengerti arah pembicaraaku. "Iya aku juga. Nggak papa, sebentar lagi akan hilang dengan sendirinya."


Aku mengangguk saja, mungkin Zaki lebih tahu.


"Silahkan susu jahenya." Penjual itu meletakkan dua gelas minuman hangat itu pada meja kami.


"Terimakasih." Kataku sambil mengangguk sopan.


Penjual itu mengangguk lalu kembali untuk membuatkan pesanan pembeli lain. Di tempat yang cukup sepi ini ternyata banyak pengendara yang mampir untuk memesan segelas air hangat.


Aku menyesap susu jahe sedikit demi sedikit. Minuman ini masih sangat panas tapi aku tidak kepanasan ketika meminumnya karena hawa disini memang sangat dingin.


"Amanda nggak terlihat seperti adikmu." Kata Zaki memulai obrolan.


Aku tertawa kecil. "Ya, kami hanya selisih dua tahun dan dia memang lebih dewasa dariku dalam banyak hal. Dia lebih bisa dikatakan sebagai kakaknya dan aku adiknya."


"Kelihatannya juga gitu." Zaki ikut tertawa.


"Kalian sangat hangat. Aku jadi merindukan orang tuaku." Kata Zaki lagi.


"Kalau rindu kenapa nggak datang menemui mereka?"


Zaki tersenyum sangat tipis. "Iya, nanti temani aku menemui orang tuaku, ya."


"I-iya." Kataku tertunduk.


"Oke."


*****


Setelah perjalanan setengah jam kemudian, Zaki membelokkan mobilnya pada sebuah rest area yang tak begitu ramai. Zaki mengajakku melihat kelap-kelip lampu malam dari sebuah jembatan. Aku cukup terpana, lampu-lampu disana terlihat seperti kunang-kunang. Mereka terlihat kecil bercahaya.


Aku berdiri di pinggir jembatan dan berpegang pada besi pembatas. Zaki menyusul di sebelahku.


"Jadi dari mana kamu tahu gerbang kerajaan mereka ada di kamar kost ku? Dan apa benar kalau kita bisa menutup gerbang itu?"


"Setelah dari air terjun itu aku tiba di dunia serba putih. Dan disana berdengung suara-suara itu. Intinya suara itu menyuruhku untuk cepat bangun dan mencarimu. Suara itu bilang cuma kita yang bisa menghadapi mereka." Jelas Zaki. Aku mengangguk percaya dengan apa yang Zaki katakan.


Zaki meraih kedua tanganku, memaksaku untuk berbalik berhadap-hadapan dengannya.


"Ayri,"


"Ya."


"Aku mau menepati janjiku, membocorkan rahasia besarku." Kata Zaki.


Ia membelai pipiku, menelusupkan jemarinya dibelakang tengkuk dibalik rambutku. Rasa hangat datang dari tangan Zaki yang menempel pada tengkukku. Lalu sekujur tubuhku memanas. Aku semakin deg-degan.

__ADS_1


Dengan perasaan gugup aku berusaha menanyakan rahasia apa yang Zaki maksud.


"Rahasia apa?"


Cup!


Dengan sekali gerakan Zaki mendaratkan bibirnya untuk mencium bibirku. Zaki memaksaku membuka mulut, ia menggigit pelan bibir bawahku dan aku pun membuka mulutku. Dengan begitu Zaki meloloskan lidahnya masuk ke dalam mulutku dan mengabsen gigi-gigiku. Zaki terus memperdalam ciumannya. Tubuhku semakin memanas bersamaan dengan gelenyar aneh seperti sengatan listrik yang mengalir di seluruh darahku.


Untuk beberapa saat aku dibuatnya melayang dan lupa akan pijakan. Namun beberapa detik berikutnya aku tahu bahwa ini tidak benar. Maka sekuat tenaga aku mendorong mundur tubuh Zaki hingga terpaksa Zaki melepaskan pugatannya pada bibirku.


"Kamu anggap aku ini apa?" Tanyaku sarkas.


"Apa?" Zaki mengerutkan kening.


"Kamu menciumiku tiba-tiba tanpa alasan yang jelas."


"Apa ini kurang jelas?"


"Darimana datangnya kejelasan itu? Apa kamu udah mengatakannya?"


"Aku nggak mencium sembarang orang. Aku hanya mencium orang yang aku cintai. Apa sampai disini kamu belum jelas?"


Aku membuang pandangan. Aku malu bercampur kesal. Dia telah membuatku salah paham dan sekarang kembali membuatku melayang? Ck, apa kalimatnya tadi termasuk sebuah pengungkapan perasaan?


"Itulah yang ingin aku katakan. Maaf selama ini aku nggak jujur sama perasaanku sendiri. Aku malah terus mengelak dan menutupinya. Padahal sejak pertama kali kita ketemu aku udah jatuh hati, tapi aku nggak mau mengakui. Maaf karena aku sering membuatmu kesal selama ini."


Woow. Aku memuji Zaki dalam hati. Ini merupakan kalimat yang cukup panjang yang pernah aku dengar yang keluar dari mulut Zaki. Dan tunggu, apa ia sedang menyatakan cintanya?


"Selama ini aku telah meragukan sesuatu yang pasti, dan sekarang aku yakin kalau kepastiannya adalah aku mencintaimu, Ayri."


Deg deg deg.


Hatiku berdebar kencang. Ini pertama kalinya aku mendengar sebuah pernyataan cinta dari seseorang. Dan aku senang bahwa orang itu adalah Zaki.


Ya dia Zaki. Orang yang sering aku puji diam-diam. Orang yang bisa dengan mudahnya berubah sikap seperti membalikkan telapak tangan. Orang yang hanya bersikap manis pada orang-orang spesialnya. Jadi apakah aku merupakan salah satu orang spesial itu?


"Apakah yang kamu katakan itu benar? Kamu nggak lagi ngerjain aku kan?"


"Aku nggak pernah main-main dengan sesuatu yang sakral."


"Tapi beberapa hari lalu kamu masih mengelak."


"Ya, tapi sekarang aku udah sangat yakin."


"Apa itu benar-benar cinta? Bukan karena kita memiliki ikatan yang berhubungan dengan makhluk gaib itu?"


"Bertemu denganmu adalah takdir. Mencintaimu adalah anugrah. Sedangkan ikatan kita yang lain merupakan catatan semesta yang kita tak pernah tahu."

__ADS_1


*****


__ADS_2