
Weekend nanti ada waktu luang nggak? Aku ajakĀ jalan-jalan, mau?
Apaan sih pakai nulis dikertas segala. Bukannya tadi ngomong langsung juga bisa kan? aku terus menggerutu dalam hati.
Iseng, aku ikut membalas tulisannya.
Aku belum bisa pergi.
Tulisku dibawah tulisannya.
Ngomong-ngomong, rapi sekali tulisan dia. Cowok tapi tulisannya begitu bagus. Padahal kalau dilihat-lihat, penampilannya tidak klimis namun memiliki daya tarik tersendiri.
Aku tersenyum entah sejak kapan. Melipat kertasnya lagi kemudian memasukkannya dalam saku.
Aku mendongak dan mendapati sosok gadis tadi berdiri tidak jauh dari tempatku berada. Aku sempat mundur beberapa langkah, namun ketika melihat gadis itu tersenyum hatiku merasa ada yang aneh. Tidak merasa takut sama sekali.
Gadis itu tersenyum padaku kah? Apakah yang dikatakan Zaki tadi itu memang benar? Gadis itu tidak suka melihat aku di gosipkan? Mengapa? Apa ada hubungannya dengan gadis itu?
Entahlah. Aku akan tenyakan pada Zaki pada pertemuan berikutnya.
Setelah aku tersenyum pada gadis itu, detik berikutnya dia sudah menghilang tanpa jejak.
Secara naluriah aku bernapas lega. Entah bagaimana baiknya makhluk astral, aku tetap tidak ingin berteman dengan mereka. Mereka sering mengagetkanku, terlebih menakutiku.
*****
Aku sedang berdiri didekat gerbang disebelah pos satpam ketika Zaki datang menghampiriku.
"Nunggu siapa?" Tanya Zaki tanpa basa-basi.
"Nunggu teman-teman."
"Oh. Aku kira nungguin aku." Kata Zaki sambil tersenyum kecil.
"Kita nggak sedekat itu, pak." Balasku.
"Tolong jangan panggil aku seperti itu."
"Kenapa? Bukankah mereka semua juga panggil kamu pak Zaki?"
"Tentu saja kamu berbeda dengan mereka."
"Apa bedanya? Bahkan aku baru masuk kerja dua hari. Aku akan di cap orang tak tau aturan kalau aku bertindak lancang dan tidak sopan." Jawabku yang menurutku masuk akal.
"Meskipun kebanyakan usia mereka lebih tua dari aku, tapi diperusahaan ini mereka tetap bawahanku. Wajar kalau mereka panggil aku pak. Tapi kamu dan aku sejajar." Kata Zaki dengan sorot mata jernih.
"Apa sih maksudnya? Aku nggak ngerti." Aku memutar bola mata dan kemudian mengalihkan wajahku darinya.
"Nanti kamu akan tahu sendiri."
Aku memilih tak menjawab. Aku merogoh saku dan mengambil lipatan kertas yang tadi yang tercantum tulisanku juga, dan memberikannya pada Zaki. Tanpa ragu Zaki membukanya didepanku.
Zaki manggut-manggut seraya membaca.
__ADS_1
"Rumah kost yang kami tempati masih belum beres. Waktu kami datang kost itu masih dalam tahap pengerjaan. Sudah tinggal finishing, tapi belum. Rencananya akhir pekan nanti akan di-finishing. Jadi aku belum bisa pergi. Aku harus memindahkan barang-barangku dulu kan, saat kamar sedang digarap." Jelasku padanya. Agar Zaki tak salah paham.
Seharusnya bukan urusanku apakah Zaki salah paham atau tidak, toh kita tidak sedekat itu. Tapi perasaanku mengatakan bahwa aku harus menjelaskan.
Zaki mengangguk sambil tersenyum. Ah, aku suka senyumannya yang begitu hangat. Mata jernihnya membuatku tak mau mengalihkan pandanganku darinya walau sedetikpun. Bibir penuhnya selalu bisa membuatku merasa tenang melalui kata-kata yang diucapkannya. Siapa sebenarnya dia?
"Iya. Aku akan coba akhir pekan lain, pas kamu ada waktu." Katanya.
Entah kenapa hatiku berdesir mendengar kata-katanya. Kenapa dia harus bilang akan coba lain waktu? Apa itu artinya dia sedang mengejarku?
Stop Ayri. Sadarlah! Ingatlah siapa dirimu! Jangan besar kepala!
Namun seberapa besarnya aku berusaha menyangkal, nyatanya senyumanku terbit seiring pipiku yang merona. Ah, sial! Zaki pasti sedang mentertawakan ku sekarang.
"Hati-hati pulangnya. Aku masih ada urusan, harus pergi sekarang."
Lagi. Dia senang sekali meninggalkanku setelah berbicara. Tidakkah dia peduli pada apa yang ingin aku katakan? Bahkan aku belum sempat bertanya tentang gadis itu.
Aku menghela napas panjang.
Sasi menepuk pundakku. Aku tidak kaget karena aku sudah tau kedatangannya.
"Siapa tadi?" Tanya Fara.
"Teman"
"Oh. Kirain gebetan." Tambah Sasi dengan cekikikan.
"Udah ah ayo buruan. Nggak betah pingin mandi ini" kataku memutus pembicaraan. Maka tanpa menunggu lama kami pun pulang.
*****
Aku tak banyak bicara mengenai pengalamanku. Karena pengalamanku kebanyakan tentang hantu dan Zaki. Aku tidak mau membuat mereka berpikir macam-macam, apalagi sampai ketakutan.
"Kamu keberatan ya, Ay? Dikamarku sebelumnya sempit banget. Tidur aja ditindih mulu aku." Sasi mengerucutkan bibirnya.
"Apa sih. Siapa juga yang bilang keberatan. Aku malah senang bisa sekamar sama kalian."
"Yeay! Nanti ajarin aku main gitar ya, Ay. Udah janji loh." Sasi menagih janjiku untuk mengajari dia bermain gitar.
"Siapp!"
*****
Aku mengajarkan kunci dasar pada Sasi, dan Fara juga ikut memperhatikan. Ingin bisa juga katanya.
Aku bukan orang penyabar untuk hal mengajari. Aku geregetan karena jari-jari tangan Sasi yang tidak bisa mencakup padahal jemarinya cukup panjang. Pokoknya benar-benar menguras kesabaranku.
Tapi untungnya Fara peka, dan menyudahi acara belajar mengajar itu. Lalu tak lama kemudian kami sudah berbaring ditempat tidur.
Kami sempat berbincang ringan sebagai penghantar tidur, namu aku tak bisa fokus. Entahlah, fokusku malah pada hal-hal tentang Zaki.
Ah lama-lama aku akan gila.
__ADS_1
Sudahlah aku tidur saja. Besok masih hari kerja.
*****
Sudah sepuluh hingga lima belas menit lalu Sasi dan Fara terlelap. Namun aku masih saja terjaga. Aku masih takut untuk tidur. Aku takut raksasa hitam itu kembali menyerangku.
Namun aku paksakan untuk segera terlelap.
Betapa tak beruntungnya aku, bahkan sebelum aku kehilangan kesadaran atau bisa dikatakan tertidur, kakiku diseret begitu cepat. Aku membuka mata dengan gelagapan.
Aku tidak tau apakah ini mimpi atau nyata. Memeng itu seperti mimpi mengingat aku yang sudah diambang antara tidur dan tidak. Tapi kejadiannya adalah nyata.
Lihatlah! Aku kini berada di depan pintu, padahal aku tadi tidur bersama kedua temanku dikasur sana. Ya Tuhan. Apalagi yang sebenarnya terjadi?
Aku mencari-cari ponselku, melihat jam yang ternyata masih jam delapan. Belum terlalu larut untuk keluar sekedar mencari angin segar.
Aku meraih sweater yang tergantung kemudian mengenakannya.
Begitu aku membuka pintu, angin malam langsung menyapu wajahku. Rasanya segar. Dingin namun nyaman.
Aku duduk di teras sambil mengayunkan kaki pelan.
Tanpa sadar aku mengamati pohon mengkudu yang satu garis lurus dengan kamar kost ku. Pohon yang tidak goyah walau angin sekencang malam itu menerpa. Lama, aku terus menatap pada pohon itu tanpa mengalihkan perhatian. Aku terus mancari jawaban dari pertanyaanku sendiri, berharap aku bisa menemukan jawaban dengan hanya menatap.
Namun aku tetap tidak tau apa istimewanya pohon itu. Yang terpikirkan olehku kini malah menyangkut hal-hal mistis. Tiba-tiba pun aku merinding tanpa sebab. Aku mencoba membuat tenang diriku, menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Nggak bisa tidur?" Tanya mas Andi sambil berjalan mendekatiku dari arah pos penjagaan.
"Iya." Jawabku tak semangat.
"Ada yang ganggu pikiran kamu?" Tanya mas Andi terlihat tulus, bukan sekedar basa-basi.
"Banyak mas. Tapi aku lagi malas ngomong. Aku cuma pengen cari angin sebentar sebelum tidur."
Mas Andi mengangguk. "Temen-temen kamu udah pada tidur?"
"Udah."
Mas Andi mengambil tempat duduk tak jah dariku, namun tetap berjarak.
"Melihat gimana takutnya kamu pada mereka, sampai kamu pingsan malam itu. Apa kamu nggak bisa melihat bangsa mereka sebelumnya?" Tanya mas Andi yang sebelumnya menghela napas terlebih dahulu.
"Aku nggak pernah bisa melihat mereka. Dan aku sama sekali nggak pingin bisa melihat mereka." Jawabku tanpa ekspresi. Tatapanku lurus ke depan. Pikiranku kosong.
Mas Andi juga sama seperti Zaki. Sama-sama ada ketika aku ketakutan. Namun rasanya berbeda. Dengan adanya Zaki aku merasa terlindungi, sedangkan dengan mas Andi, aku merasa aku tak bisa mempercayainya.
"Apa ada yang berusaha membuka mata batin kamu sebelumnya?"
*****
Kira-kira gimana part ini menurut kalian? Nggak kerasa feel-nya ya? Atau gimana?
Tolong kasih saran ya teman-teman. Tulis di kolom komentar. Dan jangan lupa klik suka.
__ADS_1
Terimakasih banyak sebelumnya. See yaaa...