Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 18 - GOOD NIGHT


__ADS_3

"Tahu apa?" Tanya Zaki yang tiba-tiba datang, mengagetkanku dan Zian yang lantas menoleh pada Zaki bersamaan.


"Tahu apa emang?" Tanya Zian baik, mencoba mengerjai Zaki.


"Itu tadi kamu tanya ke Ayri aku tahu apa enggak?" Zaki semakin penasaran.


"Tahu apa, Ay?" Tambah Zaki karena Zian tak kunjung menjawab.


"Apa sih? Kamu salah dengar kali." Aku ikut berakting sebagaimana yang Zian lakukan.


Perlahan aku menutup laptop Zaki, agar Zaki tak melihat isi di dalamnya.


"Nggak jelas ini anak." Cibir Zian pada Zaki.


"Ay, aku kembali ke kamar dulu." Kata Zian lagi.


"Oke. Terimakasih sudah menemaniku, Zian."


"Anytime." Balas Zian yang sudah berjalan menuju kamarnya.


"Aku memang selalu kalah sama Zian. Dia selalu lebih bisa cepat dekat dengan orang baru." Tutur Zaki terdengar rendah.


"Kalian pasti punya kelebihan masing-masing. jangan terlalu merendah." Balasku tulus.


Aku menepuk karpet disebelahku, meminta Zaki duduk disana.


"Temani aku disini." Pintaku. Zaki menurut.


Zaki duduk di sebelahku. Lutut kami hampir saling menempel. Aku sedikit merasa grogi.


Aku kembali membuka laptop Zaki, melanjutkan pekerjaanku yang kurang sedikit.


"Kamu....menggambar?" Tanya Zaki pelan. Aku mengangguk.


"Ini yang di bilang Zian tadi?" Tanya Zak lagi.


Aku mengangguk lagi. "Iya." Balasku.


"Udah lama mengerjakan pekerjaan ini?"


"Belum. Aku baru training."


Tanganku masih menari diatas keyboard, melanjutkan menggambar.


"Kamu bisa menggambarkan seseorang kalau aku sebutkan ciri-cirinya?" Tanya Zaki terus menerus. Zaki terlihat antusias.


Aku menoleh pada Zaki. "Akan aku usahakan." Balasku.


"Kalau begitu, lain waktu aku akan minta kamu menggambar untukku."


"Untuk sebuah komik? Atau kamu akan menyuruhku menggambar untuk cover sebuah buku?"


"Nanti kamu akan tahu." Balas Zaki santai.


Kata-kata itu lagi.


Aku menghela napas pelan.


Aku menyelesaikan satu halaman gambar lalu aku menutup laptop milik Zaki. Kemudian aku mendorong laptop itu ke arah Zaki.


"Terimakasih." Kataku tak lupa senyuman menghiasi bibirku.


"Anytime." Balas Zaki persis seperti yang Zian katakan tadi.


Aku terkekeh kecil. "Kayaknya selain mempelajari bahasa yang sama kalian juga mempelajari kosa kata yang sama." Kataku.


Zaki tertawa sebentar, paham dengan apa yang aku bicarakan. "Ya, kebiasaan mungkin."


Aku mengangguk menyetujui. Memang semua bisa saja tercipta karena kebiasaan.


Kruyukk.


Astaga! Perutku mengeluarkan suara. Itu membuatku sangat malu.


"Kamu lapar?" Tanya Zaki, aku tahu dia sedang menahan untuk tidak menertawakan aku.


"Kamu tahu!" Kataku kesal.

__ADS_1


Akhirnya Zaki tak bisa menahan tawanya. Ia tertawa namun tak cukup keras.


"Maaf aku membuatmu kelaparan di rumahku. Aku akan memasak sebentar." Kata Zaki.


Aku tak berani mengangkat kepalaku karena aku sangat malu sekarang. Aku hanya mengangguk kecil.


"Mau aku panggilkan Zian supaya menemanimu lagi?"


"Tidak perlu." Kataku cepat.


"Oke. Aku ke dapur dulu. Kalau bosan kamu bisa menyusul ku kesana."


"Iya."


*****


Tok tok tok.


Terdengar suara pintu diketuk dari luar. Aku menoleh kearah dimana pintu berada. Aku berdiri dan hendak melangkah untuk membukakan pintu itu. Namun baru satu langkah berjalan dan perasaanku tiba-tiba tidak enak. Aku gelisah. Tak mau menghiraukan perasaanku yang tiba-tiba aneh, aku kembali melangkah mendekat pada pintu. Namun saat jarak pintu itu hanya kisaran satu meter dari tempatku berdiri, aku merasa semakin tidak enak. Bulu kuduk berdiri seketika.


Aku menajamkan pandanganku merasa waspada. Lalu ketika aku beralih menatap jendela yang ada di samping pintu, aku melihat dua sosok yang menjadi bahan perbincangan ku dengan Zaki beberapa waktu lalu. Dua sosok itu adalah yang paling tidak ingin aku lihat sepanjang hidupku.


Refleks aku melangkah mundur, kemudian aku berlari sekencang yang aku bisa untuk menghampiri Zaki yang masih berada di dapur.


"Zakiii!" Teriakku kencang. Aku tak bisa menyembunyikan rasa takutku sedikitpun.


Aku berlindung di punggung Zaki seolah aku akan aman berada di belakang tubuh Zaki yang cukup besar untuk menutupi tubuhku.


"Ay, ada apa?" Tanya Zaki dari suaranya terdengar dia khawatir.


"Mereka datang, Zak. Mereka mengetuk pintu." Kataku cepat dalam satu tarikan napas.


"Si-siapa?" Zaki terdengar tak tenang, aku tahu ketika dia membalikkan badannya menghadap padaku.


"Ibu dan anak itu." Kataku dengan perasaan yang tak kunjung tenang.


Zaki menggerakkan matanya tak pasti. Aku tahu dia tahu apa yang aku bicarakan. Mungkin dia juga takut sama sepertiku.


Zaki meraih kedua lenganku, mencoba menenangkan ku padahal aku tahu dia juga tak begitu bisa tenang.


"Ada aku disini. Kamu tenang ya." Zaki berkata pelan.


"Tadi aku dengar Ayri teriak, aku langsung buru-buru kesini." Tambah Zian.


"Ini...tentang yang kamu nggak ngerti." Kata Zaki terdengar ragu.


"Kam-kamu sama seperti Zaki, Ay? Jadi disini cuma aku yang waras?" Tanya Zian sedikit terbata.


"Aku juga nggak mau kayak gini, Zi. Aku, aku nggak tahu kenapa tiba-tiba aku bisa lihat makhluk-makhluk itu."


Zaki mematikan kompor sebelum akhirnya beralih pada Zian.


"Tolong jaga Ayri sebentar." Pinta Zaki pada saudara kembarnya. Kemudian Zaki melangkah meninggalkan kami.


Aku sedikit tidak tenang karena Zaki pergi, tapi aku terpaksa melepaskan pegangan tanganku pada tangannya.


"Apa...aku boleh peluk kamu?" Tanya Zian ragu-ragu saat melangkah mendekat padaku. Namun akhirnya Zian sampai di dekatku persis. Aku sangat tahu bahwa Zian berniat membuatku lebih tenang.


Mendengar pertanyaan Zian malah membuatku ingin tertawa padahal jelas-jelas aku masih ketakutan.


"Pffttt..." Aku tak bisa menahan untuk tidak tertawa atas pertanyaan Zian.


"Ada apa? Ka-kamu-kamu kesurupan kah?" Zian terlihat kebingungan.


Aku tertawa sedikit lebih keras. "Mana ada seorang menenangkan orang yang sedang ketakutan dengan cara semacam itu?" Kataku masih dengan sedikit tawa.


"Bukan, bukan itu. Aku cuma nggak terbiasa menyentuh milik Zaki, kami tidak terbiasa menyentuh yang bukan milik kami." Aku tahu Zian serius berusaha menjelaskan namun aku masih saja merasa lucu.


"Kalau begitu kamu tidak boleh menyentuhku, bukan?" Kataku.


Zian terkekeh mendengar perkataan ku.


"Betul juga. Tak masalah. Yang penting sekarang kamu sudah sedikit lebih relaks." Tutur Zian.


"Kamu benar. Terimakasih." Balasku tersenyum.


"Kamu mau kesana?" Tanya Zian menunjuk pada arah kemana Zaki pergi.

__ADS_1


"Iya. Kita susul Zaki."


Kemudian kami berdua melangkah meninggalkan dapur dan menghampiri Zaki.


Aku melihat Zaki tengah menatap keluar dari balik jendela. Aku dan Zian segera menghampirinya.


Aku meraih lengan Zaki. "Zak," Panggilku pelan agar tidak mengagetkannya.


Zaki menatapku tajam dan lekat, memperhatikan aku cukup lama.


"Apa ada yang salah? Apa itu cuma halusinasi ku?" Tanyaku pada Zaki.


Tatapan Zaki melembut, kemudian tersenyum sangat tipis.


"Mereka takut sama aku. Waktu aku kesini mereka udah pergi." Kata Zaki.


"Kamu rajanya kali." Sindir Zian sinis.


Zaki menatap Zian tajam namun Zian seolah tak peduli.


"Aku pergi. Aku tidak dibutuhkan untuk membicarakan masalah hantu." Kata Zian masih terdengar sinis dan menekan pada beberapa kata.


"Ay, aku tinggal ya." Tambah Zian lagi.


"Iya, Zi. Sekali lagi terimakasih banyak."


*****


Zaki tak jadi melanjutkan memasak. Zaki mengajakku makan diluar sebelum mengantarku pulang. Karena Zian juga belum makan jadi Zian juga ikut bersama kami.


Karena malam sudah cukup larut, kami tidak banyak membuang waktu. Seperti pesan Fara yang mengingatkan aku agar tidak pulang terlalu larut, maka setelah makan aku segera diantar pulang.


Aku was-was jika tiba-tiba sosok ibu dan anak itu muncul di sampingku. Aku tahu aku terlalu parno. Tapi siapa yang tidak akan ketakutan jika terus diikuti makhluk astral seperti mereka?


Mobil Zaki sudah terparkir didepan gerbang kost yang aku tinggali.


Zaki turun lebih dulu kemudian membukakan pintu belakang untukku. Zaki duduk didepan bersebelahan dengan Zian sedangkan aku duduk di bangku belakang.


"Kamu mau ikut turun? Aku bisa memperkenalkan kamu pada teman-temanku." Tanyaku pada Zian.


"Pak sopir disini aja." Balas Zian humor.


Aku tertawa kecil pada Zian. "Kalau gitu terimakasih sudah mengantarku pak sopir. Sampai jumpa." Aku melambaikan tangan.


"Oke. Sampai jumpa." Balas Zian terdengar hangat.


Lalu aku menjauh dari mobil Zaki terparkir.


Setelah mengambil boneka kucing dari bagasi belakang, Zaki kemudian mengambil langkah di sebelahku, menyamai langkahnya dengan langkahku.


"Maaf. Tadinya aku pikir kita bisa lupakan masalah yang tak kasat mata untuk sehari ini. Tapi nyatanya mereka malah datangi kita."


"Ini diluar kemauan kita, Zak. Nggak ada yang perlu minta maaf."


Zaki memberikan boneka kucing yang sangat berat itu padaku. Aku cukup kesusahan untuk membawanya.


"Masuk." Pinta Zaki saat kami sudah berada di depan pintu.


"Terimakasih untuk hari ini, boneka, dan jepit rambutnya. Bilang pada Zian untuk hati-hati saat menyetir."


"Nanti aku sampaikan."


"Kalau gitu aku masuk dulu." Aku meraih gagang pintu. Saat akan menariknya, Zaki kembali memanggil namaku.


"Ayri." Panggil Zaki. Aku berbalik padanya tanpa mengeluarkan suara.


Aku menatap Zaki, menunggu Zaki bicara lagi, sampai akhirnya Zaki mengeluarkan senyuman yang sangat manis.


"Selamat malam, Ayri."


*****


**A.N


Hallo apa kabar teman-teman? Semoga selalu dalam keadaan sehat yaa. Aamiin.


Aku mau minta maaf karena udah lama banget aku nggak up kelanjutan cerita ini. Maaf yang sebesar-besarnya. Semoga kalian masih mau membaca, dan semoga kalian masih mau menunggu kelanjutan part berikutnya. Aku akan usahakan minimal satu minggu sekali aku up ya. Aku tahu aku menulis karena aku suka menulis. Tapi kalau ada like dan komentar dari kalian sudah pasti itu membuat aku jadi semakin semangat. Jadi silahkan tinggalkan komentar dan jangan lupa kasih jempol kalian yaa.

__ADS_1


Terimakasih dan sampai jumpa**.


__ADS_2