
Aku tak tega melihat Elsa kehilangan satu tangannya. Aku ingin bertanya dengan leluasa tapi aku tak mungkin melakukannya disini. Aku ingin minta izin ke toilet tapi aku tidak enak hati karena kerajaanku masih menumpuk, harus mengejar yang lain. Aku tak mau gara-gara aku proses produksi terjadi delay.
Prok prok prok!
Tiba-tiba Pak Suparman datang seraya menepuk tangan keras.
"Kumpul-kumpul." Seru pak Suparman keras agar terdengar hingga berbagai sudut.
Kami segera meninggalkan pekerjaan masing-masing dan berkumpul seperti perintah leader kami.
Disana bukan hanya ada Pak Suparman, tetapi juga ada Pak Ramson, Formen kami. Formen adalah satu tingkat diatas leader.
"Material untuk proses produksi di bagian kita ada yang kehabisan stok, yaitu bagian Ipeh dan Japar. Pihak kita sudah order sejak dua hari lalu tapi ternyata ada kendala dalam pengiriman mengenai bea cukai, jadi sampai sekarang material itu belum datang." Jelas Pak Ramson.
"Nah, untuk mencegah adanya penumpukan di bagian lain sedangkan di bagian Ipeh dan Japar delay, jadi saat ini kita diminta stop produksi sementara, sampai material itu datang." Tambah Pak Ramson.
"Yeeey.."
"Horeee..."
Seru kami girang.
"Sssttt... Jangan berisik!" Seru pak Suparman. Kami kembali diam serempak.
"Agar tidak mengganggu kinerja Line lain, kalian di harapkan berkumpul di ruang Sugimoto. Siapa tahu disana ada seminar supaya kalian bisa menambah ilmu. Kalaupun tidak kalian bisa bersantai." Kata Pak Ramson lagi.
"Sudah jelas?"
"Sudah, Pak."
"Kalau gitu sebaiknya kalian segera ke ruang Sugimoto."
"Baik, Pak."
Kemudian Pak Ramson pergi, kami pun segera menuju ruang Sugimoto.
Tiba-tiba aku punya ide. Karena sedang stop produksi mungkin aku punya kesempatan untuk mengobrol dengan Elsa. Jadi aku meminta izin pada Pak Suparman untuk pergi ke toilet lebih dulu.
"Pak, maaf, boleh saya ijin ke kamar kecil sebentar?" Aku meminta izin.
"Boleh, silakan. Nanti kamu langsung ke ruang Sugimoto aja ya, yang diatas itu, yang di dekat office, tahu kan?"
"Iya, Pak, saya tahu. Kalau gitu terimakasih."
*****
Elsa seperti tahu aku sedang mencarinya. Dia ternyata sudah menungguku di toilet. Aku sempat kaget karena tadinya aku tak tahu ada seseorang di dalam.
"Elsa, tanganmu kenapa?" Tanyaku langsung tanpa basa-basi.
"Mereka ingin menghancurkan jiwaku agar aku tak bisa menyatu dengan ragaku lagi. Tapi beruntung hanya tanganku yang buntung." Jelas Elsa skiptis.
Meskipun Elsa hanya seorang arwah tapi aku tetap merasa kasihan melihat keadaannya. Aku membayangkan jika itu terjadi padaku, pasti aku sangat menderita.
"Apa mereka begitu jahat pada kalian?"
"Iblis memang sudah takdirnya menjadi jahat." Balas Elsa.
"Mereka... iblis?" Tanyaku terkejut.
"Ya. Mereka sengaja mengurung kami para arwah untuk dijadikan budak oleh mereka."
Aku melongo tak percaya. "Kalian diperlakukan seperti budak?"
"Nggak. Belum. Tapi suatu hari pasti iya. Hanya Maslah waktu."
__ADS_1
"Jadi, yang waktu itu kamu maksud menolong kalian, membebaskan dari iblis-iblis itu?"
"Ya, kamu benar." Balas Elsa cepat.
Aku mundur beberapa langkah hingga menabrak tembok. Benarkah aku harus menolong Elsa, membebaskan Elsa dan teman-temannya? Tapi bagaimana caranya? Aku sendiri saja selalu ketakutan setiap masuk dalan jebakan-jebakan mereka. Terakhir kali Elsa lah yang membantu aku dan Zaki pulang. Jadi bagaimana mungkin aku bisa membebaskan mereka dari jeratan para iblis itu?
"Ka-kamu yakin aku bisa membebaskan kalian? Ak-aku sendiri takut dan nggak mau berurusan sama mereka lagi, Elsa."
"Aku paham perasaan ketakutanmu, tapi kami semua berharap padamu dan Zaki. Kami semua yakin kalian lah yang bisa melakukannya."
"Keyakinan kalian tak berdasar. Memangnya apa yang bisa aku dan Zaki lakukan?"
"Kemarin setelah kalian pulang, para iblis itu tiba-tiba mengerang kesakitan. Mereka serempak memegangi kepala mereka dan berteriak kesakitan. Mungkin itu salah satu reaksi karena kalian kembali bangun."
"Benarkah begitu?" Tanyaku menautkan alis. Aku tak begitu yakin dengan apa yang Elsa katakan.
"Aku sangat yakin. Jadi kamu jangan sampai terpisah dengan Zaki, Ayri."
"Zaki juga sering bilang kalau aku dan Zaki saling terhubung, tapi aku nggak paham dengan itu. Dan Zaki sendiri nggak bisa jelasin."
"Aku akan bantu cari tahu soal itu." Kata Elsa.
"Tapi tolong kamu janji untuk bantu bebaskan kami ya, Ayri." Pinta Elsa. Tatapannya sendu. Aku tak tega melihatnya tapi aku tak boleh bertindak gegabah.
"Aku nggak bisa janji, tapi aku akan berusaha semampuku."
"Itu saja cukup, terimakasih." Kata Elsa. Aku mengangguk saja.
"Apa kalian berpacaran?" Tanya Elsa tiba-tiba.
"Ha?"
"Apa kalian berpacaran? Aku pikir lebih baik kalian berpacaran."
"Kenapa begitu?"
"Atau mungkin sebelumnya kalian belum berpacaran dan setelah kalian bangun kemarin kalian saling berpacaran makanya para iblis itu kesakitan karena hubungan kalian semakin erat." Tebakan Elsa memang benar, tapi haruskah aku menceritakannya?
"Atau mungkin kalian berciuman?"
"Uhuk-uhuk-uhuk." Tiba-tiba aku tersedak.
Elsa cekikikan. Aku tersedak mengapa dia tertawa? Betapa bahagianya dia melihatku menderita.
"Jadi benar ciuman kalian yang membuat para iblis itu kesakitan." Tiba-tiba Elsa menjelma jadi peramal.
"Jangan sembarang bicara!" Tukasku.
"Tidak-tidak. Aku akan melakukan investigasi lebih lanjut untuk penemuan ini. Bye."
Kemudian Elsa menghilang begitu saja.
Dasar hantu! Datang tak diundang pergi tak diantar.
Ngomong-ngomong aku jadi kepikiran ucapan Elsa barusan. Benarkah karena ciuman kami? Benarkah iblis-iblis itu kesakitan karena hal yang mendebarkan bagiku? Kalau memang begitu, apakah kami harus sering-sering berciuman?
Ah, sial! Hanya memikirkannya saja sudah membuatku blushing.
*****
Bruk!
Aku menabrak seorang yang tengah membawa tumpukan kertas ditangannya. Seorang laki-laki yang ku tabrak berseragam.... Direktur? Aku langsung ketakutan dan berdoa supaya aku tidak dipecat.
"Ma-maaf Pak, sa-saya tidak sengaja." Aku berjongkok untuk membantu lelaki itu membereskan kertas-kertas yang berserakan.
__ADS_1
"Kamu lagi ketakutan, ya? Nggak usah takut, saya udah jinak." Kata direktur itu lalu terkekeh.
Aku hanya tersenyum canggung untuk menanggapinya.
"Kenapa, Tom?" Seru seorang dari kejauhan namun sedang berjalan mendekat. Tunggu, aku familiar dengan suara ini.
"Nggak papa, cuma kecelakaan kayak di drama-drama, siapa tahu berawal dari tabrakan berubah jadi cinta." Kata direktur yang di panggil Tom itu dengan diiringi tawa.
"Ck, bisa banget itu trik." Balas orang yang memanggil Tom tadi. Semakin dekat aku semakin yakin siapa pemilik suara ini.
Aku mendongak untuk memastikan.
"Ay?" Dia lebih dulu menyebut namaku sebelum aku berhasil meloloskan kata-kata.
"Za, ah, Pak Zaki." Aku merutuki diriku. Karena kebiasaan panggil Zak, Zak, jadi nggak sadar diri. Didepan direktur Tom aku malah hampir memanggilnya Zaki tanpa kata sapaan.
Untuk beberapa saat direktur Tom memandang aku dan Zaki bergantian.
"Tunggu-tunggu, pinjam HP sebentar, tolong." Tom menyadongkan tangannya di depan Zaki.
Zaki mengernyit bingung, namun ia tetap menyerahkan ponselnya pada Tom. Tom segera menerimanya.
"Tuh kan benar, dia emang pacar kamu. Dia orang yang sama dengan yang di HP kamu." Celetuk Tom. Seketika aku menunduk karena sangat malu. Sedangkan Zaki malah tertawa kecil.
Zaki merebut ponsel miliknya lagi. "Udah tahu kan dia gadisku? Jangan coba-coba godain dia lagi." Kata Zaki terdengar bangga.
Gadisku? Ah aku semakin berdebar tak menentu.
Zaki mengambil kertas-kertas yang tadi aku bereskan, dan memberikannya pada Tom. "Ini, sana pergi." Usir Zaki.
"Ngusir aku nih? Kejam!" Kata Tom dengan wajah marah yang dibuat-buat, lalu pergi.
"Zak," panggil Tom tiba-tiba berhenti.
Zaki menoleh tanpa bersuara.
"Tunjukkan keprofesionalan kamu. Jangan pacaran di tempat umum apalagi membuat kaum jomblo iri." Kata Tom lalu pergi tanpa menunggu Zaki menjawab.
Zaki terkekeh sambil menggelengkan kepalanya kecil.
"Nggak perlu pedulikan Tommy. Dia emang gila, lebih gila dari Zian. Tapi dia teman terbaikku sejak kuliah." Jelas Zaki.
Oh jadi namanya Tommy. Dia teman Zaki dari kuliah? Jadi kemungkinan mereka lulus bareng dan melamar ke perusahaan ini bersama.
"Kok ada disini?" Tanya Zaki.
"Mau ke ruang Sugimoto. Line stop produksi karena kehabisan material." Jelasku.
"Ah iya, Fortuner kehabisan material. Ya udah sana, kamu bisa santai disana. Kalau bosan kamu boleh chat aku." Kata Zaki.
Ah aku hampir lupa kalau kami sudah bertukar nomor handphone kemarin.
"Oh ya, tadi aku udah ngobrol sama Elsa."
"Oh ya? Elsa bilang apa?"
"Aku nggak bisa ngomong disini."
"Kalau gitu aku akan cari waktu, nanti aku kabarin kamu lagi."
"Oke. Kalau gitu aku kesana dulu." Aku menunjuk ruangan yang menajdi tujuanku.
"Oke, bye."
"Bye."
__ADS_1
*****