Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 33 - ZAKI DATANG


__ADS_3

Papa dan Amanda sangat senang melihat aku sudah sadar. Apalagi aku langsung sehat seperti sedia kala. Aku bilang ingin pulang. Setelah aku menyakinkan keluargaku bahwa aku baik-baik saja akhirnya Papa mengurus kepulangan ku. Dan ya, sekarang aku sudah ada di rumahku, di kampung halaman ku.


"Temanmu, Fara, menelpon Mama waktu kamu udah koma selama tiga hari. Teman-teman kamu takut kamu kenapa-napa jadi mereka berinisiatif menghubungi Mama." Jelas Mama ketika aku tanya mengapa tiba-tiba aku bisa ada di kampung halamanku.


"Apa kamu nggak jaga kesehatan dengan baik selama disana? Pasti kamu nggak makan teratur, kan?"


"Makan teratur kok, Ma, cuma lagi apes aja."


"Apes gimana? Kata Fara kamu juga udah pernah dirawat diruma sakit selama tiga hari sebelumnya." Mama terus mendesakku. Aku tahu Mama pasti mencemaskan aku, apalagi aku jauh dari Mama.


"Ya, tapi sekarang Ayri baik-baik aja kok, Ma."


"Kamu nggak baik, sayang. Jelas-jelas kamu sakit."


"Ayri nggak sakit sama sekali, Ma."


"Lalu kenapa kamu tiba-tiba pingsan?"


"Pokoknya Ayri nggak sakit apapun, Ayri cuma_" Ah, aku hampir keceplosan mengatakan tentang dunia makhluk halus. Untung aku bisa mengerem tepat waktu.


"Cuma apa?" Kini Papa giliran menanyaiku.


"Mungkin Ayri cuma belum bisa beradaptasi dengan lingkungan disana, Ma, Pa."


"Benarkah?" Mama kembali mendesakku.


"Beneran, Ma. Kalian nggak perlu khawatir."


"Ya Mama percaya. Kalau gitu mama akan ke dapur masak untuk makan malam kita."


"Masak asem-asem ya, Ma. Ayri pengin."


Mama mengelus rambutku. "Iya Mama masakin."


"Papa akan telpon orang kantor dulu untuk minta ijin beberapa hari lagi."


"Iya, Pa."


Mama dan Papa pergi, sekarang hanya ada aku dan Amanda, adikku.


"Kak,"


"Ya?"


"Adakah yang Kakak sembunyikan dari Mama dan Papa?"


Aku terkejut mendengar pertanyaan adikku. Ah ya, aku hampir lupa bahwa aku dan adikku sangat dekat. Kami selalu berbagi apapun, bercerita soal apapun, tak ada yang kami tutupi. Amanda memang yang paling bisa tahu aku ketika sesuatu tak beres terjadi.


"Apa Kakak mau sembunyikan itu dariku juga?"


Aku menatap Amanda haru. Ah adikku tak pernah berubah.


Aku menghela napas. "Dek,"


"Iya, Kak?"


"Kamu pernah ingat aku bisa melihat makhluk halus, nggak?" Tanyaku mengarah pada inti yang akan aku bicarakan.


"Kakak bisa melihat makhluk halus? Aku nggak pernah tahu, Kak." Amanda terlihat begitu terkejut.


Ya, Amanda sepantasnya terkejut, karena memang sebelumnya aku tak pernah bisa melihat makhluk gaib.


"Aku bukan sakit. Tapi aku diganggu makhluk halus."


"Apa? Kakak diganggu makhluk halus?" Tanya Amanda dengan suara kencang.


"Sssttt.." Aku menutup mulutku dengan jari telunjukku, meminta Amanda untuk mengecilkan suaranya. Aku tahu Amanda pasti sangat terkejut tapi aku tak mau membuat orang tuaku cemas jika tahu yabg sebenarnya.


"Sejak kapan, Kak? Apa mereka menyakiti Kakak?" Kentara sekali Amanda amat cemas.


Aku mengangguk. "Jujur aku takut, Dek. Mereka terus mengejar aku dan Zaki."


"Zaki?" Amanda bermaksud menanyakan siapa Zaki.


"Dia temanku. Atasanku di tempat kerja."


Ah ya, Bagaiman keadaan Zaki sekarang? Apakah dia sudah bangun? Atau dia masih tertidur seperti sebelumnya ketika kami mengalami kejadian itu?


"Oke, jadi kenapa mereka mengejar kalian? Atau kalian berbuat kesalahan?"


"Aku nggak tau, Dek. Jujur aku juga nggak tahu kenapa selalu ada Zaki setiap hal-hal itu terjadi."


"Zaki juga bisa melihat makhluk halus?"


"Ya, dia bisa. Justru aku heran kenapa tiba-tiba aku bisa melihat makhluk-makhluk itu dan sejak kapan."

__ADS_1


"Aw.." Tiba-tiba perutku terasa nyeri.


"Ada apa, Kak? Kakak sakit?"


Aku mengangguk saja, sambil memegangi perutku.


"Ini aneh, kata dokter semuanya normal. Dokter itu nggak becus mengurus pasien." Tukas Amanda.


"Bukan! Tentu mereka nggak akan menemukan apa-apa. Ini bukan sakit yang bisa diketahui secara medis."


Ya, akhirnya aku tahu apa yang dimaksud Zaki sebelumnya, bahwa dokter tak akan menemukan penyakitnya.


"Ma-maksudnya, Kak?"


"Mereka menyiksa kami, Dek. Aku dan Zaki dicambuk, dihantam bola besi, dipukul, sampai mereka membakar kami."


Amanda membulatkan matanya dan menutup mulutnya sebagi bentuk ekspresi syok dari apa yang aku katakan. "Apa itu sangat menyakitkan, Kak? Apa kak Ayri begitu tersiksa?"


Aku menitikkan air mata. Ya, memang sangat menyakitkan dan menyiksa tapi aku tak bisa membuta Amanda lebih sedih lagi.


Aku berusaha menghalau rasa nyeri di perutku. Aku harus terlihat baik-baik saja untuk mendukung kalimat yang akan aku ucapkan.


"Sekarang semuanya baik-baik aja, Dek."


Mendengar itu Amanda langsung merangkulku dari samping.


"Kami nyaris terbakar. Untung saja seseorang datang menyelamatkan kami tepat waktu."


"Seseorang? Siapa itu, Kak?"


"Aku nggak tahu persis siapa dia, Dek. Yang aku tahu namanya Elsa. Dan dia hantu yang baik. Dia dan temannya menunjukkan kami jalan keluar."


"Am-Amanda masih syok Kakak bisa melihat hantu, dan sekarang Kakak bilang ada hantu yang baik? Amanda sulit mempercayainya."


"Aku aja sulit percaya apalagi kamu, Dek."


"Ayri, ada yang datang mencarimu." Seru Papa dari arah depan. Papa muncul bersama seorang dibelakangnya, dan itu adalah... Zaki?


Zaki kesini? Zaki sudah bangun? Syukurlah Zaki selamat.


Zaki berlari menghampiriku dan ia langsung memelukku. Aku begitu bahagia melihat Zaki baik-baik saja, akupun membalas pelukannya.


"Syukurlah kamu udah bangun." Lirihku.


"Ehem, siapa ini?" Suara Mama mengagetkanku, aku langsung mendorong Zaki sedikit menjauh.


"I-ini Zaki, Ma. Dia direktur di tempat Ayri bekerja." Jelasku.


"Hallo, Tante. Maaf saya lancang, saya hanya terlalu bahagia karena Ayri baik-baik saja." Kata Zaki sopan. Mama mengangguk sepertinya tak mempermasalahkannya.


"Silakan duduk." Kata Mama.


Zaki duduk disebelah Papa, dan aku kembali duduk di tempatku tadi.


Amanda menepuk pundakku pelan. "Dia Zaki yang kakak ceritakan barusan?" Tanya Amanda pelan. Aku mengangguk.


"Apa yang membawamu kemari, Nak Zaki?" Tanya Mama langsung pada intinya.


"Om, Tante, saya kesini bukan tanpa tujuan. Saya kesini karena ingin menjemput Ayri untuk kembali kesana."


"Masalah pekerjaan?" Tanya Mama lagi.


"Ya, salah satunya."


"Alasan yang lain?"


Zaki memandangku, dan untuk beberapa saat kami saling berpandangan.


"Ehm." Tegur Mama terang-terangan.


"Saya yakin Ayri belum menceritakan apapun pada kalian." Kata Zaki.


"Menceritakan apa?" Tanya Mama


"Apa terjadi sesuatu?" Tambah Papa.


"Kami diganggu makhluk halus." Jelas Zaki tanpa basa-basi.


Mama dan Papa tentu terkejut. Amanda melirikku karena dia sudah ku beri tahu lebih dulu tadi.


Awalnya aku ingin merahasiakan ini dari Mama dan Papa, tapi pada akhirnya Zaki datang dan mengatakannya secepat ini. Tapi aku yakin Zaki pasti punya alasan yang kuat untuk hal ini, sampai dia rela menyusulku hingga kesini.


"Kamu, apa maksud kamu?" Tanya Mama sedikit terbata.


"Tante, saya nggak bisa menceritakan seluruhnya secara terperinci. Saya hanya akan mengatakan garis besarnya saja."

__ADS_1


Zaki mengambil jeda untuk menarik napasnya yang terdengar berat.


"Di tempat tinggal Ayri, tepatnya kamar yang Ayri tempati, disana adalah gerbang utama kerajaan Gaib. Disanalah akses keluar masuk para makhluk halus." Jelas Zaki.


"Apa?" Aku terkejut karena aku memang tak tahu mengenai hal itu. Apakah benar yang dikatakan Zaki barusan?


"Apa? Jadi apakah Ayri dalam bahaya?" Tanya Papa mewakili Mama dan Amanda. Mereka terlihat lebih syok sekarang.


"Kami masih belum tahu mengapa kami yang menjadi target para makhluk halus itu, tapi saya akan terus mencari tahu, dan saya janji saya akan menjaga Ayri dengan baik."


Tiba-tiba Mama menangis, lalu mendekat padaku dan memelukku.


"Nggak! Ayri nggak boleh ke tempat itu lagi. Ayri nggak boleh kesana lagi."


"Maaf, Tante, tapi Ayri harus kesana."


"Mengapa harus? Saya nggak mau mengambil resiko kehilangan nyawa anak saya." Jerit Mama.


"Ma.." Aku ikut menangis, tak tega melihat Mama menangis seperti ini.


"Ayri baru saja kembali, saya nggak mau Ayri pergi lagi."


"Tante, Om, saya juga baru saja bangun. Saya juga mengalami apa yang Ayri alami. Dan saya janji saya akan selalu ada di samping Ayri dalam keadaaan apapun."


"Saya baru saja dapat petunjuk kalau yang bisa menutup gerbang gaib itu adalah saya dan Ayri. Kami harus bekerja sama."


Jadi ini mengapa Zaki selalu mengatakan bahwa kami memiliki ikatan. Bahwa kami terhubung. Bahwa kami akan selalu dekat.


"Berhenti! Jangan bicara lagi! Jangan lanjutkan omong kosong mu!"


"Mama!" Sentak Papa.


"Jaga sikapmu! Meskipun Papa nggak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi tapi Papa yakin Zaki ini punya alasan yang kuat."


"Apa? Papa mau kehilangan Ayri?"


"Papa nggak mau kehilangan siapapun!"


"Bagaimana kalau Ayri tiba-tiba pingsan lagi dan nggak akan bangun selamanya?"


"Jaga bicaramu! Kamu ini seorang ibu, katakanlah sesuatu yang baik untuk anak-anak kita."


"Ibu manapun nggak ada yang mau anaknya terluka, Mama hanya nggak mau kehilangan siapapun."


"Mama, Papa, berhenti bertengkar." Kataku menengahi.


"Tolong dengarkan Ayri sebentar." Aku mengelus pundak Mama yang bergetar karena gemetar. Mencoba membuat Mama lebih tenang.


"Ma, Pa, maaf. Ayri memang harus kembali kesana. Kalau Ayri nggak kembali Ayri takut mereka akan mengejar Ayri sampai kesini. Yang mereka incar adalah Ayri dan Zaki. Kemanapun Ayri pergi mereka pasti bisa menemukan Ayri, Ma."


"Kamu nggak boleh pergi, sayang. Mama takut."


"Ayri tahu Mama pasti khawatir sama Ayri. Tapi Zaki benar. Kami harus bekerja sama. Ayri nggak mau jadi orang egois. Ayri nggak mau kalau kalian sampai terluka karena Ayri."


"Berhenti bicara omong kosong, Ayri."


"Ma, please. Jangan keras kepala dalam situasi ini."


"Ayri_"


"Papa percaya dengan Ayri." Papa memotong Mama yang akan bicara lagi.


"Kamu bisa jamin Ayri aman selama disana?" Tanya Papa pada Zaki.


"Ketika Ayri terluka saya juga akan terluka. Apabila Ayri tak kembali maka saya juga tak akan pernah kembali. Itu adalah ikatan kami."


"Kalau gitu saya pegang ucapan kamu. Lelaki sejati adalah lelaki yang bisa memegang janjinya dan menepati ucapannya."


"Saya mengerti, Om.


"Ma,"


"Berat, sayang. Mama masih nggak rela."


"Ayri akan sering-sering telpon Mama supaya Mama selalu tahu keadaan Ayri, ya."


"Kamu yakin mau pergi, sayang?"


Aku mengangguk. Mama mengulurkan tangannya untuk memelukku lebih erat lagi. "Doa Mama menyertaimu, Nak."


"Kak Ayri." Amanda ikut menghambur memelukku. "Jaga diri baik-baik ya, kak. Jangan sampai kenapa-napa."


Mereka menangis sambil memelukku. Ya Tuhan. Rasanya berat untuk berpisah dengan mereka lagi, tapi aku harus pergi. Aku tak boleh egois. Aku harus mementingkan keselamatan banyak nyawa. Jadi aku harus segera kembali kesana sebelum semuanya lebih sulit.


*****

__ADS_1


__ADS_2