Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 25 - HARUS YAKIN


__ADS_3

"Dia udah nggak ada, Ay."


Aku lemas. Peganganku pada gagang pintu melonggar dan akhirnya aku mendaratkan diriku pada tembok, berusaha mencari penopang.


Zian meraih tanganku, membantuku agar tidak ambruk.


"Ap-apa maksudnya, Zi? Zaki dimana?" Tanyaku sangat pelan. Tenagaku hilang seketika.


"Dia..."


"Apa Zi, apa? Bilang ke aku, bilang semuanya, Zi." Aku mengguncangkan pundak Zian.


"Tiga hari yang lalu dia bilang mau tidur di kamar Mama, tapi sampai sekarang dia...dia.."


"Ngomong yang jelas, Zian!" Bentakku tak sabar.


"Dia nggak bangun-bangun sejak malam itu, Ayri." Tiba-tiba Zian meletakkan keningnya di pundakku, tak lama kemudian sesuatu yang hangat mengalir di pundakku. Dia menangis.


Tiga hari tidak bangun, itu sama sepertiku. Tapi kini aku sudah kembali, bagaimana dengan Zaki? Apakah dia benar-benar..... Aku bahkan tak sanggup membayangkan, apalagi mengatakannya.


Aku membiarkan saja Zian meluapkan kesedihannya, jujur aku senang aku bisa menjadi pundak yang Zian gunakan sebagai sandaran saat ini.


"Dokter bilang jantungnya berhenti bekerja, tapi aku nggak percaya. Badannya tak sedingin mayat, aku yakin dia belum mati, kamu sependapat dengan aku kan, Ay?"


Aku meraih pundak Zian. Aku tahu diriku sendiri sangat tak tenang, tapi saat ini aku perlu membuat Zian sedikit tenang dan berhenti menangis.


"Apa itu artinya Zaki masih ada disini? Ada dirumah ini? Atau dia di rumah sakit?" Tanyaku berbondong.


Zian menggeleng. "Rumah sakit udah memvonis dia mati, mereka nggak menerima dia lagi. Terpaksa aku membawa Zaki pulang tapi..." Zian menggantungkan kalimatnya.


"Apa kamu pikir aku jahat, Ay? Apa kamu berpikir aku ini egois karena aku menahan jasadnya disini? Apa menurut kamu Zaki akan tersiksa dengan perlakuanku, Ay?"


Aku menggeleng. Aku tak tahu harus menjawab apa sekarang ini karena aku sendiri tak tahu persis bagaimana keadaannya.


"Aku udah bareng dia sejak dalam kandungan, aku tahu persis bagaimana dia. Dan aku yakin dia masih hidup, Ay. Tolong bantu aku bangunkan Zaki, Ayri."


"Karena kamu ngomong begini, aku semakin yakin Zaki nggak akan kenapa-napa. Bukankah Zaki selalu optimis?"


Zian menatapku dengan mata merahnya. Tatapannya sayu, aku merasa semakin sedih melihatnya.


"Bawa aku ke tempat Zaki, Zi."

__ADS_1


*****


Zian membuka pintu kamar yang dia bilang adalah kamar Mamanya. Lalu dia mempersilakan aku masuk lebih dulu, Zian menutup pintu kamar kembali sebelum menyusulku.


Aku langsung disuguhkan dengan Zaki yang terbaring. Wajah tampannya pucat dengan bibir memutih. Aku menarik sebuah kursi dan mendekatkan pada ranjang untuk aku duduki, kemudian aku meraih tangan Zaki.


Benar kata Zian, suhu tubuh Zaki masih terbilang hangat walau nafasnya tak terdeteksi. Aku memang tak bisa mengecek denyut nadi, tapi aku yakin Zaki masih bertahan. Entah itu untuk memenuhi permintaanku atau memang dia sendiri yang memperjuangkan hidupnya.


*Aku menyesal aku pulang lebih dulu, Zak. Aku menyesali diriku yang lemah, nggak bisa berbuat apa-apa untukmu.


Zak, kamu pasti bangun, kan? Aku udah ada disini, Zak. Aku udah datang menemuimu. Cepat bangun, Zak. Kamu pasti nggak mau bikin Zian sedih, kan*?


"Ada yang ingin aku ketahui, Ay." Kata Zian tiba-tiba.


Aku mendongak, ternyata Zian sedang menatapku dengan penuh kepedihan.


"Aku tahu kamu datang kesini sepagi buta ini pasti karena sesuatu, kan?"


Benar. Tebakan Zian tak meleset. Tapi aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya.


"Aku memang nggak tahu tentang makhluk ghaib, tapi apa keadaan Zaki ini ada hubungannya dengan makhluk-makhluk itu? Apa Zaki masih bisa diselamatkan, Ay?"


Glup!


"Apapun caranya, seberapa sulitnya usaha yang bisa aku lakukan, aku akan tetap bikin Zaki bangun, Ay. Katakan apa ada yang kamu tahu?" Tatapan Zian kian mengintimidasi. Tatapan itu tak bisa membuatku menolak.


"Aku..."


"Apa, Ayri? Katakan!" Zian berkata penuh nada menuntut.


"Sebenarnya aku juga baru bangun setelah pingsan selama tiga hari, Zi." Kataku tak bisa lagi menutup-nutupi.Biar bagaimanapun Zian perlu tahu kondisi saudara kembarnya. Aku tak mungkin menyembunyikannya dari Zian.


"Kalian... Kenapa kalian bisa_"


"Iya ini ada hubungannya dengan hal-hal yang kamu nggak bisa mengerti, Zi."


Zian membulatkan matanya, seakan tak percaya pada apa yang baru saja aku bicarakan.


"Ka-kalian apa sebenarnya kalian.." Zian begitu gelagapan. Aku tidak tega untuk menjelaskan lebih lanjut, tapi ini sudah terlanjur. Dan aku memang harus mengatakannya.


"Aku juga nggak tahu gimana caranya aku bisa sampai disana. Tiba-tiba aku berada di hutan belantara, nggak ada seorangpun disana, bahkan binatang buas pun nggak ada. Aku pikir aku cuma tersesat biasa, tapi ternyata itu sama sekali nggak biasa. Aku tersesat di dalam hutan ghaib." Aku mulai menjelaskan yang aku alami.

__ADS_1


"Apa Zaki juga ada disana?"


Aku menggeleng. "Aku juga nggak tahu kalau Zaki akan ada disana. Aku nggak tahu kapan Zaki datang. Yang aku tahu aku cuma sendiri. Selama aku menyusuri hutan itu aku sama sekali nggak melihat Zaki disana. Yang aku temui cuma makhluk-makhluk yang belakangan ini menggangguku, juga makhluk astral lainnya yang belum pernah aku lihat sebelumnya."


"Sampai akhirnya aku seperti dituntun untuk masuk ke dalam sebuah gua, disana aku baru ketemu sama Zaki. Itupun Zaki sudah dalam bahaya."


"Ba-bahaya?"


"Sebelumnya raksasa gorila kerap mengganggu malamku sampai aku nggak bisa tidur. Aku sempet bilang ke Zaki tapi Zaki bilang dia nggak tahu mengenai raksasa gorila itu."


Zian tak lagi menyela pembicaraanku. Mungkin dia terlalu syok mendengar ceritaku. Atau mungkin dia sibuk mengatur pernapasannya untuk percaya atau tidak dengan apa yang aku katakan. Setelahnya Zian hanya diam sebagai pendengar.


"Entah karena apa tapi di dalam gua itu si gorila itu membawa Zaki seperti sedang menenteng karung berisi beras. Ditempat itulah kami sama-sama tahu keberadaan satu sama lain."


"Gorila itu menghantamkan Zaki ke dinding beberapa kali. Bukannya berusaha membebaskan diri Zaki malah menyuruhku untuk kabur."


"Sungguh, aku sangat ingin membantu Zaki, tapi Zaki bersikeras menyuruhku lari. Akhirnya aku cuma bisa lari sejauh mungkin, tapi ternyata aku kalah telak. Aku tak bisa kemana-mana lagi setelah aku sampai di tepi jurang."


"Diujung perpisahan kami, gorila itu seakan sengaja membuat Zaki mengobrol denganku. Zaki terus menyuruhku menyelamatkan diri apapun yang terjadi. Tapi aku juga memaksa dia untuk bertahan. Bahkan aku sempat bernegosiasi dengan raksasa itu untuk menukar posisi kami, aku ingin membebaskan Zaki dengan mengajukan diriku sebagai sandera, namun raksasa itu tak bisa diajak bicara. Lalu Zaki... Zaki..."


"Apa, Ay? Zaki kenapa? Lalu Zaki apa?" Zian kembali panik.


"Raksasa itu melempar Zaki ke jurang itu dan setelah itu aku bangun."


"Ketika aku bangun aku berada di rumah sakit. Teman-temanku bilang aku tiba-tiba pingsan dan aku udah tiga hari nggak bangun. Setelah bangun tadi aku langsung kesini dari rumah sakit karena aku mengkhawatirkan Zaki."


"Zaki di lempar ke jurang? Apa itu artinya Zaki nggak bisa diselamatkan, Ay?" Tanya Zian parau. Aku yakin dia menahan tangisnya.


Jujur aku merasa semakin jatuh mendengar penuturan Zian yang terdengar putus asa. Aku sama putus asanya dengan Zian. Namun aku berusaha melawan keputus asaan itu.


"Jangan sembarang, Zi! Aku yakin Zaki akan menepati janjinya. Aku bilang aku akan terus mencarinya walau di kehidupan selanjutnya dan Zaki bilang aku pasti menemukannya. Itu artinya Zaki akan segera bangun setelah aku cari dia kesini, iya kan, Zi?"


Zian menggerakkan kepalanya gelisah, aku tahu dia ragu, sama seperti keraguanku. Ragu dengan ucapan yang aku lontarkan sendiri. Tapi aku tak bisa menyerah. Aku harus terus optimistis. Bagaimana Zaki akan kembali jika orang-orang disekitarnya menyerah?


Aku melihat Zian menyeka air matanya. Tak masalah seorang pria menangis, bukan karena dia lemah, tapi dia sedang menunjukkan sisi manusianya. Ia menangis itu berarti dia masih punya hati, tak seperti robot yang tak memiliki perasaan.


Kemudian Zian berdiri. "Aku ambil minum sebentar."


"Iya." Balasku singkat.


Zian menutup pintu perlahan-lahan, seolah tak mau mengganggu tidur Zaki yang sangat tenang.

__ADS_1


"Aku sangat yakin kamu akan bangun, Zak. Nggak lama lagi kamu pasti bangun untuk menepati janjimu, iya kan, Zak?"


*****


__ADS_2