Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 13 - SI KEMBAR YANG MANIS


__ADS_3

Aku dan Zaki sampai dimeja makan dan Zian sudah menyantap sepiring nasi goreng beserta telur ceplok bagiannya. Satu tangannya memegang handphone.


"Hape, tolong." Kata Zaki begitu duduk di salah satu kursi di meja makan.


"Ah, iya lupa." Jawab Zian cengengesan kemudian meletakkan ponselnya diatas meja.


"Emang siapa yang nyuruh situ makan?" Tanya Zaki.


Zian menelan kunyahannya terlebih dahulu sebelum menjawab "Kalau dihitung-hitung disini ada tiga piring. Nah orangnya juga ada tiga. Pas dong."


"Siapa bilang yang satu piring itu buat orang?"


"Lah? Emang?"


"Aku bikin itu buat kucing tetangga."


"Sial! Aku disamain sama kucing!"


Aku ketawa melihat tingkah mereka.


"Hahahaha..." Tawaku lepas.


"Kenapa ketawa?" Tanya Zaki dan Zian bersamaan. Nada bicaranya sama dan cara bicaranya pun sama. Aku mengulum senyum.


"Sehati banget." Kataku menggoda mereka.


"Iya nih sehati banget. Tapi kalau sehatinya sama kamu aku lebih senang." Kata Zian menimpali. Dan untuk kedua kalinya Zaki melempar sendok pada Zian.


"Ini dikira area latihan suriken apa? Main lempar-lempar mulu." Zian menggerutu.


"Iya memang ini lagi latihan menancapkan sendok pada jidat saudara kembar." Balas Zaki tak berbelas kasihan.


"Sakit hati ini kau dustai."


"Zian kamu lucu banget sih, hahaha..." Kataku dan aku kembali tertawa.


"Iya. Aku emang lucu kan? Nggak kayak si ono noh." Zian menunjuk Zaki dengan dagunya.


"Kamu suka nggak sama aku?" Tanya Zian padaku.


"Suka." Jawabku tanpa berpikir banyak.


"Tuh kan dia bilang suka sama aku, Zak. Kamu udah bilang suka ke dia belum?" Zian memajukan kepalanya, kemudian menaik-turunkan alisnya.


"Ah kicep, itu berarti sudah bisa dipastikan, kamu belum menyatakan perasaan." Lanjut Zian tanpa ragu.


Zaki diam dan aku ikut terdiam. Aku tidak tau sebenarnya Zian sedang menggoda Zaki, atau ada maksud lain?


Aku melirik pada Zaki dan Zaki ternyata sedang menatapku juga.


"Hubungan yang baik adalah hubungan yang mengalir mengikuti arus. Tidak terburu-buru, tidak memaksa." Jawab Zaki bijak.


Zian mengangguk. "Oke kalau begitu."


"Ay, dimakan nasi gorengnya sebelum dingin."


"Ah, iya Zak." Aku mulai menyuapkan sendok demi sendok nasi goreng yang dibuatkan oleh Zaki.


Aku pikir bekal yang biasa dia bawa ke pabrik adalah hasil buatan ibunya atau siapa yang jelas aku pikir itu bukan Zaki. Tapi pagi ini aku tau bahwa makanan-makanan itu adalah hasil kerja tangan terampil Zaki.


"Jadi ini alasan kamu nggak mau kita bergilir masak lagi? Itu karena kamu pengin buatin sesuatu buat dia dari tangan kamu sendiri, iya kan?" Celetuk Zian sambil melirikku. Alisnya naik-turun.


Oh! Jadi benar itu adalah masakan Zaki? Aku pikir hanya Zaki yang bisa memasak, ternyata Zian juga bisa. Namun semenjak itu Zaki tidak mau bergantian memasak lagi, apa itu benar karena aku seperti yang dikatakan Zian?


"Diam!" Kata Zaki memelototi Zian dan Zian malah tertawa.


"Oke-oke. Aku udah kenyang. Aku duluan." Pamit Zian sambil membawa gelas dan piring kotor bekas dia makan tadi. Mereka sangat disiplin.

__ADS_1


"Zak,"


"Makan dulu, Ay. Kita masih banyak waktu untuk bicara." Kata Zaki memotong ucapanku.


"O-oh, oke."


Setelahnya kami makan dalam diam.


Ada rasa perasaan canggung yang memenuhi hampir seluruh perasaanku. Namun ada rasa penasaran mengapa Zaki jadi pendiam dan tidak mengangkat kepala sama sekali sejak tadi? Apakah memang ini sikap mereka ketika makan? Namun melihat bagaimana Zian tadi, aku rasa bukan itu alasannya mengapa Zaki demikian.


Mau bertanya juga tidak akan ditanggapi. Jadi tunggu sampai kami selesai makan saja.


*****


Selesai makan aku mengajukan bantuan untuk mencuci piring-piring kotor dan peralatan lain yang digunakan untuk memasak tadi. Sedangkan Zaki mengelap meja makan dan mengelap kompor serta sudut lain yang sekiranya terkena kotoran saat memasak tadi. Sedangkan Zian aku sudah tidak tau kemana anak itu.


"Zak." Panggilku. Zaki membalasnya dengan gumaman.


"Kenapa kamu nggak pernah tanya langsung siapa namaku waktu itu? Kamu malah lebih memilih cari tahu namaku dengan cara lain. Bukannya lebih sopan kalau kita tahu nama seseorang dengan cara seseorang itu menyebutkannya sendiri?"


Zaki berhenti melakukan aktifitas mengelap meja dapur yang tadi sedang dia lakukan. Kemudian dia menoleh ke arahku.


"Iyakah aku nggak pernah nanya siapa namamu?" Tanya Zaki memincing.


"Ck. Siapa ya yang kemarin bilang 'nggak susah buat tahu siapa namamu?'." Tukasku sambil memutar bola mata.


Zaki tertawa sebentar. "Jadi kamu mau kita kenalan lagi? Aku tanya langsung siapa namamu?"


"Nggak perlu. Itu memang sudah menjadi kebiasaan kalian mungkin."


"Apa?"


"Iya kebiasaan nggak pengin tau siapa orang lain yang sedang diajak bicara, atau siapa orang yang sedang berhubungan."


"Kamu bukan orang lain, Ay."


"Ada apa sih sebenarnya? Apa tadi Zian ngomong yang nggak-nggak ke kamu?" Kata Zaki. Sia berjalan mendekatiku.


"Kayanya kamu dengar semua apa yang Zian omongin tadi, nggak perlu aku ngomong lagi." Kataku sambil meraih kain lap untuk mengeringkan tanganku. Aku sudah selesai mencuci. Zaki ikut meraih kain lap yang sama dengan yang aku pegang.


"Maaf." Kata Zaki sambil meraih tanganku.


Aku menggeleng. "Aku pikir itu kebiasaan kalian, karena Zian juga sama sekali nggak tanya siapa aku tadi."


"Aku sama Zian nggak pernah saling ingin tahu urusan masing-masing. Mungkin itu alasan dia kenapa nggak pengin tau siapa namamu. Masalah ini murni kesalahanku. Harusnya aku mencari tahu tentang kamu dari bibirmu sendiri."


Benarkah seperti itu?


"Meskipun Zian kental sama tingkahnya yang tengil, tapi dia juga tetap punya prinsip."


Aku diam. Mencerna kata-kata Zaki, apakah memang benar begitu?


"Aku udah selesai. Aku keluar dulu." Kataku.


"Iya duluan. Nanti aku nyusul."


"He'em."


Aku berjalan keluar, dan Zaki kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi.


*****


"Kalian dekat banget ya?" Tanyaku pada Zaki. Dia keluar membawa satu toples keripik kentang untuk cemilan sekitar sepuluh menit yang lalu.


"Siapa?"


"Kamu dan Zian."

__ADS_1


"Oh."


"Kok cuma oh?" Aku mengernyit menatap Zaki.


"Jangan lihat aku kayak gitu. Aku bisa jadi nggak terkontrol." Kata Zaki sambil menata rambutku yang menutupi sebagian wajahku, kemudian mengelus pipiku.


Spontan aku sedikit menjauh darinya. Apa yang salah dengan tatapanku? Bukannya memang selalu seperti ini? Aku menunduk kaku.


Kemudian aku meraih toples dan mengambil keripik kentang dari dalamnya untuk aku makan. Hitung-hitung untuk menghilangkan kecanggungan.


"Seperti yang aku bilang tadi, meskipun tengil tapi Zian tetap saudara kembarku. Kami sudah bersama sejak masih dalam kandungan. Dia kakakku, dan dia yang selalu bisa mengerti perasaanku."


Aku menatap Zaki lagi sambil tersenyum. Memang benar dugaanku. Mereka sangat manis.


"Zak. Ternyata benar kamu penyayang."


"Sebenernya aku nggak mau sih sayang sama pemain wanita yang berkedok pecinta wanita seperti dia, tapi karena harus, jadi yaaa aku sayang dia karena ikatan."


Aku terkekeh. "Kenapa omongan kalian sama? Pemain wanita yang berkedok pecinta wanita?"


"Iya memang sama."


"Kenapa gitu?"


"Nggak papa. Itu Zian yang ngajarin. Aku jadi ikut terkontaminasi."


"Hahaha..." Aku tertawa, Zaki pun ikut tertawa.


"Jangan diambil hati. Itu cuma kata-kata bercandaan aja."


"Iya aku paham, Zak." Aku masih tertawa, Zaki pun begitu.


Setelahnya ada keheningan beberapa saat.


"Ada yang pingin aku diskusiin sama kamu, Zak." Kataku memulai pembicaraan yang serius.


"Iya?"


"Tapi sebelumnya aku mau tanya sesuatu dulu."


"Apa?"


Mungkin Zaki paham apa yang ingin aku bicarakan. Air mukanya tiba-tiba berubah gelisah.


Aku meraih tangan Zaki dan meremasnya pelan.


"Zak, aku nggak maksa." Kataku mendongak, mencari sesuatu dari kornea Zaki.


Zaki menarikku tiba-tiba. Dia menyandarkan kepalaku pada dadanya yang besar dan kuat. Aku tak menolak melainkan aku tak mau bangun dari sana entah sampai kapan.


"Sudah waktunya. Aku akan kasih tau apa yang aku tau, Ayri."


Aku menengadah dan tersenyum kecil pada Zaki. Zaki membalas senyumanku namun tipis, hampir tak terlihat.


"Aku pernah didatangi mereka beberapa kali. Makanya aku kaget waktu kamu cerita tentang mereka." Zaki mulai bicara.


"Iya, gadis itu bawa kaca ukuran besar yang retak-retak. Feeling-ku itu kaca jendela lama, dan karena retak maka kaca itu diganti dengan yang baru dan kemungkinan gadis itu ngga terima kaca itu diganti dengan yang baru. Tapi aku nggak tau dimana kaca itu berada."


"Dari rumah kost-ku, Zak. Tepatnya kamar yang aku tempati."


Zaki melebarkan mata dan membulatkan mulutnya, ia terlihat begitu terkejut.


"Apa kamu yakin soal itu?"


"Aku udah memastikannya."


*****

__ADS_1


__ADS_2