Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 9 - WAKTU BERHENTI


__ADS_3

"Aku takut, Zaaakkk. Aku takuuut." Rengekku dalam dekapan Zaki.


"Sshhh..." Zaki menenangkanku seperti sedang menenangkan anak kecil. Mungkin keadaanku sekarang memang seperti anak kecil.


Bukannya lebih tenang, aku malah lebih sesenggukan hingga nafasku tersengal.


Zaki mendorong pundakku pelan, untuk melepas pelukannya. "Hey, hey, hey. Kamu tenang ya, sekarang aku ada disini." Kemudian Zaki mengusap air mataku.


Sungguh. Ada perasaan malu karena aku menangis didepan Zaki, seorang yang baru ku kenal dalam hitungan hari. Mukaku pasti sangat jelek sekarang. Namun perasaan malu itu kalah telak. Entah kalah dengan apa, tapi perasaanku mengatakan aku tak perlu segan pada Zaki. Sepeti yang pernah kubilang, aku merasa Zaki sangat dekat denganku.


"Ay, jangan nangis lagi ya. Hatiku sakit melihat kamu nangis kayak gini." Kata Zaki lagi. Dengan begitu tangisku yang hampir reda kini kembali tak terbendung.


"Aku nggak bisa berhenti nangis, Zak. Aku juga nggak pengin nangis lagi, tapi nggak bisa." Aku masih terus menangis.


"Ssshh... Iya iya aku ngerti." Zaki mengelus pipiku lembut. Seketika rasa hangat menjalar di seluruh aliran darahku.


"Apa yang pengin kamu ceritain ke aku?" Tanya Zaki tepat sasaran.


Aku memandang Zaki sebentar, kemudian mengontrol pernapasanku.


"Aku pikir itu cuma mimpi atau halusinasiku sendiri, tapi mereka benar-benar ada, Zak. Mereka ada didepan kamarku waktu aku buka pintu tadi pagi."


"Siapa mereka?" Tanya Zaki terdengar menunjukkan kepedulian.


"Seorang gadis kecil berpakaian batik berwarna pink. Ada seorang yang lebih besar dari dia yang juga memakai pakaian yang sama." Tuturku cepat. Aku ingin Zaki segera tau.


Perlahan Zaki menurunkan tangannya dari pundakku. Raut wajahnya berubah 180 derajat. Baru kali ini aku melihat raut Zaki yang tak biasa seperti ini. Mendadak aku cemas.


"Zak, ada apa?" Aku menepuk lengannya.


Seperti orang yang baru saja dibangunkan dari lamunannya, Zaki terkesiap. "Aku baik-baik aja."


"Teruskan ceritanya. Apa yang kamu tahu dari dua orang itu?" Tuntut Zaki.


"Nggak ada yang bisa kumenngerti. Mereka cuma nunjukin rumah kost yang aku tempati versi dulu."


"Jadi maksudnya rumah kost itu baru saja direnovasi?"


Aku mengangguk mengiyakan.


"Apa gadis itu bawa sebuah kaca besar?" Tanya Zaki yang setelahnya dia seperti merutuki pertanyaannya sendiri.


"Ada sesuatu yang kamu tahu tentang ini, benar?" Tanyaku mengintimidasi.


"Aku cuma menebak." Balas Zaki sambil mengalihkan pandangannya dariku.

__ADS_1


Benarkah Zaki hanya menebak? Huh, aku tidak percaya sama sekali. Jika benar dia hanya menebak, kemungkinannya hanya beberapa persen kecocokannya. Sedangkan tebakannya 99% adalah benar.


"Kasih tahu aku siapa sebenarnya mereka, Zak." Kataku mendesaknya agar berbicara terus terang.


"Aku nggak ngerti apa yang kamu tanyakan." Kata Zaki terlihat santai dan tetap tenang.


Aku kesal. Sangat kesal. Aku sangat yakin Zaki mengetahui sesuatu tentang kedua orang itu. Tapi kenapa Zaki tak mau angkat bicara? Mengapa harus dia sembunyikan dariku? Kenapa?


Aku memejamkan mata, membuang semua emosi dengan menghembuskan nafas kasar. Kemudian aku berbalik dan lebih baik untuk saat ini aku menjauh dari Zaki.


"Ay, tunggu." Kata Zaki tak semangat. Dia mencengkeram pergelangan tanganku, seperti ia sedang menyalurkan perasaan tak tenangnya padaku.


"Buat apa? Aku kesini pagi-pagi nyari kamu, cerita semuanya ke kamu, aku berharap kamu bisa bantu aku. Sampai sekarang aku masih belum tahu kenapa kita bisa sedekat ini. Aku nggak tahu kenapa kamu bisa selalu ada buat aku. Aku nggak tahu kenapa cuma kamu yang aku butuhkan, cuma kamu yang bisa aku andalkan. Tapi sekarang?" Aku mengusap wajahku dengan kasar.


Napasku kembali memburu karena emosi yang meledak-ledak.


Aku mengibaskan tangan Zaki yang masih terus mencengkeram pergelangan tanganku sejak tadi dan tak berniat melepaskan.


"Jelas-jelas kamu tahu sesuatu tapi kenapa kamu memilih bungkam? Kenapa kamu nggak bisa kasih tahu aku yang sebenarnya, Zak!" Kataku dengan nada tinggi. Tapi Zaki tetap tak bergeming dan tak bersuara. Apakah aku sedang berbicara pada patung?


"Apa kamu bisu?" Kataku akhirnya karena tak tahan lagi.


"Nanti kamu akan tahu dengan sendirinya, Ay."


"Selalu itu yang kamu katakan, Zak. Apa kamu nggak punya niatan untuk kasih tahu lebih awal supaya aku bisa berjaga-jaga?"


Sesuatu terbang entah darimana dan menghantam tumpukan asbes yang dipersiapkan untuk pembangunan. Hingga asbes-asbes itu pecah. Benda hebat apa itu tadi?


Aku terus mengamati pecahan-pecahan asbes itu. Dan tiba-tiba muncul sebuah kepala dengan rambut panjang tanpa badan. Apakah itu tadi yang terbang dan menghancurkan asbes-asbes?


Dadaku naik turun. Aku ketakutan. Dan sebelum pergerakanku terkunci seperti sebelum-sebelumnya, aku memilih berlari sekencang yang aku bisa. Aku tak peduli lagi pada Zaki yang terus meneriaki namaku.


Aku melihat jam di tanganku sekilas. Masih pukul 05.40. Apa-apaan ini? Setengah enam tadi aku berangkat kesini, kenapa ini masih pukul sekian? Apakah waktu berhenti berputar? Pantas saja pabrik ini masih gelap dan tak ada seorangpun yang datang.


Apakah tempat ini memang sedang disetting sebagai tempat pertunjukan antara aku dan Zaki, dan juga makhluk astral yang ada disini? Apakah bisa seperti itu? Yang benar saja!


Zaki berhasil menangkap lenganku. Tanpa aku duga, Zaki langsung membawaku dalam pelukannya, mengusap rambutku. Pergerakannya kentara ia sedang tidak tenang.


Aku dapat mendengar degup jantungnya yang begitu memburu. Bahkan lebih kencang dari yang ku kira. Apakah Zaki sedang ketakutan sepertiku? Atau karena alasan lain?


"Zaki." Aku berusaha mendongak, namun Zaki tak mengizinkan.


"Sebentar saja. Aku butuh memelukmu." Mendengar suara gemetar yang keluar dari mulut Zaki, lagi-lagi aku menyadari sisi manusiawinya.


Dia juga punya rasa takut. Dia juga punya perasaan tak tenang.

__ADS_1


Aku diam dan tak bersuara. Aku membiarkan Zaki melakukan apa yang dia inginkan.


Aku sendiripun mencoba menghirup aroma Zaki yang seperti aroma terapi yang menenangkan bagiku.


"Aku hanya mencemaskanmu." Kata Zaki tiba-tiba. Suaranya terdengar tegas, namun tersirat kekhawatiran yang kentara.


Aku meraih tangan Zaki yang sedang menangkup kedua pipiku.


Aku berusaha menatap mata Zaki dan... Zaki menangis?


Ya Tuhan! Hatiku teriris melihatnya menangis. Dia menunjukkan sisi lemahnya padaku. Dia lelaki. Tak banyak lelaki yang mampu menunjukkan sisi lemahnya pada orang yang baru saja ia kenal. Apakah dia menganggapku sepenting itu?


Ini kesalahanku yang tak memikirkan bagaimana perasaannya dan tak mau mendengarkan penjelasannya.


"Jangan nangis buat aku, Zak." Aku mengusap air matanya, seperti yang ia lakukan padaku tadi.


Zaki menggeleng. "Kamu pantas mendapatkannya, Ay. Karena kamu penting. Tapi tolong jangan mengolok-olokku setelah ini." Setelahnya Zaki tertawa hambar. Aku ikut tertawa bersamanya.


Siapa juga yang akan mengolok-olok seorang karena menangis. Aku pun sudah menangis dihadapannya.


"Jangan tanyakan soal ini lagi, ya. Aku akan ceritakan kalau waktunya tepat."


Aku mengangguk dan memaksakan senyuman.


"Aku nggak mau jadi bebanmu."


Zaki menggeleng lagi. "Kamu sama sekali bukan beban. Kamu adalah cahayaku."


Zaki tidak sedang membual, kan? Aku serasa ingin menangis lagi ketika mendengar kata-kata manisnya yang terdengar tulus.


Ah, jangan menangis lagi. Mataku akan bengkak kalau aku terus menangis.


Aku kembali menatap jam pada pergelangan tanganku. Pukul 06.17.  Waktu sudah normal. Pantas saja beberapa orang mulai memasuki area kantin untuk sarapan.


Baiklah, aku juga akan sarapan. Kita lihat makanan apa yang dibawa Zaki untuk sarapan pagi ini.


"Aku cuma sempet bikin roti selai tadi pagi. Karena aku kepikiran kamu dan benar ternyata kamu udah sampai disini."


Aku tak sabar untuk memberi makan cacing-cacing diperutku, namun Zaki malah tak bisa menemaniku memakan bekalnya.


"Maaf kamu harus sarapan sendiri hari ini. Aku harus mengarang cerita untuk asbes-asbes yang pecah tadi untuk membuat laporan. Karena aku saksinya." Kata Zaki sebelum berjalan membelakangiku.


Aku tertawa sendiri. Jika Zaki melaporkan bahwa asbes-asbes itu hancur gara-gara kepala yang terbang, maka perusahaan ini pasti akan geger.


Terimakasih, Zaki. Dan maaf untuk aku yang memberikan banyak beban untukmu. Aku berharap untuk selalu ada kamu di kehidupanku ini. Jangan pernah bosan dengan sikapku.

__ADS_1


*****


Ada yang bisa tebak gimana kelanjutannya? Atau ada yang bisa tebak gimana Zaki bisa tau tentang dua hantu yabg diceritakan Ayri? Yuk corat-coret di kolom komentar. Jangan lupa klik suka. Ditunggu yaa kelanjutannya. Terimakasih. See yaa...


__ADS_2