
"Aku berubah pikiran." Kataku pada Zaki.
Kami sedang berada didekat pos satpam seperti biasanya aku menunggu teman-temanku keluar. Kebetulan tempat kerjaku ada di gedung paling depan, jadi aku selalu keluar lebih dulu.
"Soal apa?" Tanya Zaki.
"Weekend besok aku mau pergi sama kamu."
"Beneran?" Kata Zaki mengamatiku serius.
"Iya. Aku bisa minta tolong Fara dan Sasi untuk mengurus barang-barangku. Lagian nggak terlalu banyak." Kataku memperjelas.
"Temen sekamar mu?"
"Iya."
"Oke." Kata Zaki tersenyum.
"Kapan kamu mau kita pergi?" Tanya Zaki.
"Weekend. Sabtu-Minggu."
"Dua hari? Aku nggak salah denger, kan?"
Aku menggeleng. "Aku serius. Ada banyak hal yang pengin aku bahas sama kamu. Aku menemukan sesuatu. Jadi tolong jangan kecewakan aku, ya, Zak."
Zaki menatapku lama dan tanpa kata. Aku tak tau apa yang sedang Zaki pikirkan.
"Jam enam pagi udah bisa pergi?"
Aku mengangguk sebagai jawaban.
"Oke aku akan jemput kesana besok sebelum jam enam."
"Jangan!" Tolakku cepat.
"Aku nggak mau mereka salah paham sama hubungan kita. Aku nggak mau mereka berpikir yang enggak-enggak."
"Apa ada yang salah dengan hubungan kita? Apa kamu sebegitu nggak maunya aku dikenal sebagai teman kamu oleh mereka?" Kata Zaki lebih tegas dari biasanya. Hatiku mencelos.
"Bukan itu yang aku maksudkan." Entah sejak kapan pipinku basah. Aku menangis.
Aku mendengar Zaki membuang nafasnya dengan kasar seraya menarik rambutnya ke belakang.
"Besok aku jemput kamu disini." Setelah mengucapkan kalimat itu, Zaki langsung pergi tanpa kata perpisahan, membuat hatiku terasa kosong.
Memang Zaki selalu pergi begitu saja, pergi meninggalkan aku lebih dulu di pertemuan-pertemuan sebelumnya. Tapi kini rasanya berbeda. Terasa hampa.
Mungkin ini memang kesalahanku. Mungkin aku telah menyakiti perasaan. Meskipun aku tidak tau pasti apa sebenarnya yang membuat Zaki marah, tapi aku akan tetap minta maaf padanya besok.
Ahh..andai saja aku punya nomor telepon Zaki, aku akan mengirim pesan permintaan maaf padanya sekarang juga. Tapi nyatanya Zaki lebih memilih menulis pesan diselembar kertas ketimbang mengirim pesan melalui media elektronik.
Sudahlah. Besok aku masih bisa bertemu dengannya.
*****
"Sas, Fa, besok aku ada perlu sama salah satu temanku. Aku minta tolong sama kalian untuk urus barangku kalau kamar ini sedang di-finishing. Aku nggak bisa nggak pergi karena urusan ini mendesak. Aku minta tolong banget yaa." Aku menangkupkan kedua telapak tanganku, memohon pada kedua teman sekamar.
"Apa sih pake memelas segala. Iya-iya. Nanti kita bantu urus. Nggak usah sedramatis itu." Kata Fara.
"Iya. Lagian paling cuma satu tas, kita nggak bakalan kerepotan. Barang-barang kami juga nggak begiu banyak." Sasi menimpali.
"Makasih ya. Kalian emang yang terbaik." Aku memeluk mereka berdua bersamaan.
"Iya-iya. Semoga urusan kamu cepet selesai ya." Kata Sasi lagi.
__ADS_1
"Iya, aamiin."
Untungnya mereka tidak se-kepo itu menanyai perihal urusanku. Jadi aku tidak perlu repot-repot mencari alasan yang pas.
"Apa urusan kali ini berhubungan sama urusan waktu pagi-pagi banget kamu udah berangkat ke pabrik?" Tanya Fara memincing.
"Iya." Jawabku singkat.
Mereka tak berkomentar lagi. Mereka juga punya privasi yang tidak ingin diusuk, maka mereka juga membebaskan privasiku.
Untungnya aku satu kamar dengan Fara dan Sasi yang selalu pengertian dan tidak rempong. Syukurlah.
*****
Malam ini raksasa hitam itu datang lagi. Namun aku berhasil membuka mata sebelum dia menerkamku lebih dulu.
Aku turun dari kasur dan perlahan menuju kamar mandi, tidak ingin membangunkan teman-temanku.
Aku terbayang ketika si hitam itu turun entah darimana, gerakannya sangat cepat. Bulu tebal hitamnya seperti gorila. Badannya memang menyerupai gorila. Tapi dia sangat besar sekali. Dan mata merah menyalanya sepeti mata iblis di film-film horor yang pernah ku tonton.
Aku berharap ini hanya halusinasku kerena aku yang sering menonton film horor. Ya aku harap memang begitu, hanya halusinasku.
Aku kembali berbaring tapi aku memaksa mataku agar tetap terjaga. Aku terlalu takut untuk tidur.
Hingga pukul satu dini hari aku masih terjaga. Daripada tak melakukan apapun, aku mengambil buku novel yang aku bawa dari rumah. Aku membelinya saat aku masih dikampung halamanku, tapi aku belum sempat membacanya, makanya aku membawanya kesini.
Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga. Aku menghabiskan waktu dua jam untuk menyelesaikan membaca satu buku novel tebal yang berjudul HUJAN yang ditulis oleh TERE LIYE. Mataku sangat perih. Aku sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi.
Maka, biarkan aku tidur sebentar saja.
*****
Aku sudah berada didepan gerbang perusahaan sejak hampir sepuluh menit yang lalu namun Zaki belum juga muncul. Jalanan sangat sepi karena ini merupakan kawasan industri.
Kakiku pegal karena berdiri, jadi aku meminjam sebuah kursi yang tidak digunakan pada satpam yang sedang berjaga.
"Iya neng boleh, duduk aja." Kata salah satu satpam dari dalam pos.
"Terimakasih, pak." Kataku menunduk sopan. Satpam itu mengangguk.
"Neng ini yang biasa berdiri disini juga kalau pulang kerja, kan?" Tanya salah satu satpam lain yang baru keluar dari pos.
Aku tersenyum malu. "Iya, bapak benar. Bapak pengamat yang handal." Pujiku.
Satpam itu tertawa sebentar. "Neng ini sedang memuji atau menguji?" Kata satpam itu dan melanjutkan tawanya. Aku ikut tertawa kecil.
"Neng siapa namanya?"
"Nama saya Ayri, pak."
"Kalau saya pak Pur." Kata satpam itu tanpa ditanya. Aku mengangguk dan tersenyum.
"Kalau dilihat-lihat, neng akrab sekali dengan pak Zaki."
"Masa sih, pak? Saya rasa biasa aja."
Pak Pur kembali tertawa. "Saya tahu neng disini nunggu pak Zaki, iya kan?"
Tepat sasaran. Aku terbungkam akibat pertanyaan pak Pur. Pak Pur ini sepertinya tau banyak.
"Nah, itu dia pak Zaki datang." Kata pak Pur setelah sebuah mobil Lamborghini berhenti didepan gerbang.
Diakah itu? Penampilan Zaki dalam sehari-hari terlihat sederhana. Atau sebenarnya dia hanya merendah?
Aku penasaran apakah itu benar-benar Zaki? Aku terus fokus mengamatinya. Bahkan tanpa sadar Zaki sudah berada di hadapanku sekarang.
__ADS_1
"Hei." Sapaan Zaki sedikit mengagetkanku.
"Waduh neng Ayri ini sepertinya sangat terpesona oleh pak Zaki." Pak Pur berseru menggoda.
Zaki tersenyum sumringah mendengar ujaran pak Pur, namun bertolak belakang denganku. Aku kini sibuk mengatur pernapasanku dan sibuk menyembuhkan rona merah di pipiku.
Hatiku berubah hangat.
"Mau berangkat sekarang?" Tanya Zaki lagi. Dan aku hanya sanggup mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
Zaki berjalan lebih dulu mendekati mobilnya.
"Pak, makasih banyak." Aku berterimakasih pada pak Pur, dan satu satpam lain yang belum aku ketahui namanya. Mereka mengangguk.
Aku berjalan menyusul Zaki dan Zaki membukakan pintu untukku.
"Makasih." Kataku dan selanjutnya masuk dalam mobilnya.
"Pak Pur, pak Aan, terimakasih sudah menjaga Ayri." Kata Zaki terdengar hormat.
"Sama-sama pak Zaki, hati-hati."
Detik berikutnya mobil sudah membelah jalanan pagi yang sepi. Zaki duduk tenang dibalik kemudi, sedangkan aku tidak tau harus memulai permintaan maafku dari mana.
*****
"Maaf." Kataku pada akhirnya, setelah beberapa saat perjalanan dengan hening.
Zaki menatapku sekilas, menyatukan alis.
"Aku pikir kamu marah kemarin." Lanjutku.
"Apa hakku untuk marah?" Kata Zaki tetap tenang.
Hatiku mencelos. Haaahhhh...aku menghembuskan nafas dalam diam. Jadi dia tidak punya hak apapun? Lalu kenapa dia terlihat tak bersahabat kemarin? Sebenarnya dia mengganggap aku ini apa?
"Maaf, aku terlalu memandang tinggi diriku sendiri." Setelahnya aku tertawa masam.
Zaki tak menanggapi.
Aku merasa bosan sekaligus canggung. Sebelumnya aku tak pernah dalam keadaan saling mendiamkan seperti ini jika sedang bersama Zaki, tapi sekarang?
Sudahlah. Lebih baik aku mencari kesibukanku sendiri.
Aku meraih handphone ku dari dalam tas kecil yang kubawa. Mengeluarkannya dan aku memilih bermain game candy crush yang ada didalam ponselku.
Aku sengaja mengaktfkan suara dalam game tersebut agar mengurangi kecanggungan.
Tak lebih dari lima menit, Zaki sudah mengeluarkan suara.
"Apa sopan main hape sendiri saat bersama orang lain?" Kata Zaki.
Kontan, aku memasukkan kembali ponselku dan membujuk hatiku untuk tenang, dan membujuk diriku agar tidak meninju wajah Zaki.
"Maaf." Kataku mengalah. Dan setelah itu aku lebih memilih memandang ke luar jendela tanpa sepatah katapun keluar dari mulutku lagi.
Tiba-tiba. Zaki meraih tanganku dan meremasnya lembut.
"Maaf." Katanya tersirat kepedihan.
Seketika aku menangis tanpa suara. Aku tetap menatap luar jendela dan juga membiarkan Zaki terus menggenggam tanganku.
*****
Nggak mau banyak ngomong. Cuma mau berterimakasih pada kalian yang masih setia mendengarkan cerita Ayri, mengikuti kisah Ayri. Semoga kita semua selalu sehat. Aamiin..
__ADS_1
See yaaa...