
"Selamat malam, Ayri." Goda Sasi dan Fara pada saat aku masuk. Rupanya mereka mengawasi kami dari balik jendela. Sungguh aku merasa malu sekarang.
"Ciee...blushing." Sasi tak berhenti menggodaku.
"Apa sih!" Kataku membuang muka dari kedua temanku. Aku tak mau mereka terus menggodaku karena melihat pipiku yang sudah pasti merona. Pipiku terasa panas sekarang.
"Cie malu-malu nih." Tambah Fara tak gentar menggodaku.
Aku segera meletakkan boneka kucing super besar itu di pojok bawah kasur yang terdapat karpet sebagai alasnya. Bersama beberapa bantal yang memang diletakan di karpet.
Sasi dan Fara sudah cekikikan, mereka menertawakan aku.
"Kalian menyebalkan!" Kataku kesal sekaligus malu. Mengabaikan mereka, aku masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diriku.
Dari dalam kamar mandi aku masih mendengar mereka tertawa, namun aku mengabaikannya.
Sepertinya aku akan membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya di dalam kamar mandi sekarang. Selain membersihkan tubuhku, aku juga harus menenangkan diriku, mengontrol perasaanku yang sudah tak bisa ku jelaskan.
Aku memutar kran shower, membiarkan air hangat membasahi tubuhku, dari ujung rambut hingga telapak kaki.
Rasanya cukup nyaman setelah diguyur air hangat. Rasa lelahku lumayan berkurang. Mungkin setelah ini aku akan langsung tidur. Lagipula sudah tidak ada kegiatan lain yang bisa aku kerjakan.
*****
Ditengah gelapnya malam, ditengah-tengah pepohonan Pinus yang menjulang, aku berlari sekuat yang aku mampu. Meskipun nafasku hampir habis tapi aku tak bisa tidak berlari menjauh dari kejaran raksasa bermata merah dan membawa celurit besar ditangannya.
Aku merasa aku sudah cukup jauh dari raksasa itu. Aku berniat istirahat sebentar untuk sekedar menyetabilkan pernapasanku. Aku duduk bersandar pada pohon Pinus yang besarnya mungkin mencapai lima kali lipat dari tubuhku. Tentu pohon ini bisa menyembunyikan keberadaan ku dengan sempurna.
Namun sial, getaran tanah sangat dapat aku rasakan. Raksasa itu sudah kembali dekat denganku.
Ya Tuhan! Apakah aku akan tamat disini?
Aku membekap mulutku rapat-rapat. Sekuat mungkin aku meredam nafasku yang memburu. Aku tak boleh mengeluarkan suara sekecil apapun atau raksasa itu akan menemukanku.
Dan, ah! Raksasa itu berada tepat di depanku sekarang. Aku memejamkan mata kuat. Aku kembali terengah-engah hanya karena melihat raksasa itu. Hanya urusan waktu raksasa itu akan melihatku.
Dan, sial! Dia menemukan ku lebih cepat dari yang aku bayangkan.
Matanya menyala mengobarkan hawa membunuh. Dia mengangkat celuritnya tinggi-tinggi, dan mengarahkannya padaku.
"Aaahhhhhh!!!"
*****
"Aaahhhhhh!!!"
Aku terbangun dengan peluh memenuhi sekujur tubuhku. Aku terengah-engah, napasku memburu tak beraturan. Aku baru saja terbangun dari mimpi buruk. Terbangun dari mimpi yang mencekam.
"Ada apa, Ay?"
__ADS_1
"Ayri, ada apa?"
Sasi dan Fara panik karena suara teriakan ku yang kurasa sangat keras tadi. Mereka mengapitku dari kanan dan kiri.
Aku memejamkan mata dan menggelengkan kepalaku, berusaha membuang bayang-bayang menyeramkan tadi.
"Nggak papa, aku cuma mimpi buruk barusan." Kataku tak mau membuat mereka khawatir.
Mereka terdengar bernafas lega mendengar penuturan dariku.
"Syukurlah itu cuma mimpi." Balas Fara.
"Iya syukurlah itu cuma mimpi." Balasku berusaha yakin pada ucapanku sendiri. Namun nyatanya perasaanku tetap gusar.
"Tapi aku merasakan sakit di_"
"Ayri, pundak kamu berdarah!" Pekik Sasi yang ada di sebelah kananku. Ia berteriak histeris.
Aku menoleh untuk melihat pundakku. Dan benar kata Sasi, cukup banyak darah segar keluar dari sana.
Pikiranku kacau. Lagi-lagi mimpi yang aku alami bukan hanya sekedar mimpi. Celurit yang mengenaiku di dalam mimpi tadi, ternyata benar-benar melukai pundakku di alam nyata, sekarang.
Aku tak bisa mengendalikan perasaanku yang ketakutan. Bulu kudukku lagi berdiri. Pikiranku tak bisa kugunakan secara jernih. Aku ketakutan dan merasa terancam.
"Ayri, ada apa sama pundak kamu?" Tanya Fara panik.
Ah, aku lupa disini masih ada Fara dan Sasi. Aku tidak bisa membuat mereka ketakutan. Meskipun nyatanya aku sangat tak tenang tapi aku tak bisa membuat mereka mengetahui apa yang aku alami sebelumnya.
Aku harus berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat dalam waktu singkat.
"Ini luka lama. Mungkin lukanya kebuka karena aku terlalu berat menggerakkan belakangan ini." Balasku pada akhirnya.
"Aku panggilin mas Andi dan pinjam kotak P3K." Kata Fara namun aku segera menarik tangan Fara.
"Jangan panggil mas Andi." Pintaku penuh harap pada Fara.
Untungnya Fara paham tanpa harus banyak bertanya. Fara mengangguk, "Aku pinjam kotak P3K ke mas Andi."
"Jangan bilang keadaanku ke dia." Pintaku lagi.
Fara menghela nafas pasrah. "Iya. Tunggu sebentar, aku akan segera kembali."
"Aku bantu bersihkan darahnya ya, Ay." Kata Sasi setelah Fara menutup pintu dari luar.
"Iya, makasih, Sas." Kataku seadanya.
Sasi sudah berlalu untuk mengambil air dan handuk kecil untuk membersihkan darah yang belum terhenti sepenuhnya.
Aku meraih ponsel ku untuk melihat pukul berapa sekarang.
__ADS_1
Pukul dua belas malam!
Orang bilang jika mimpi kita terjadi pada pukul dua belas malam maka mimpi itu bisa jadi kenyataan. Ck, bukan hanya bisa, bahkan ini sudah menjadi kenyataan. Nyatanya aku benar-benar terluka di pundak kananku.
Aku turun dari kasur dan duduk di karpet yang terdapat di bawah kasur. Sasi membawa baskom berisi air kemudian membersihkan darah yang keluar dari lukaku itu dengan telaten tanpa merasa jijik sedikitpun.
"Kamu nggak mual lihat darah sebanyak ini, Sas?" Tanyaku merasa tak enak pada Sasi.
"Jangan khawatir, aku bisa mengatasinya. Nggak perlu sungkan."
Tak lama kemudian Fara kembali bersama kotak yang diharapkan.
Fara membuka kotak tersebut mencari-cari benda yang dia butuhkan.
Setelah Sasi selesai menyingkirkan darah yabg menempel, Fara cekatan merawat lukaku, ia memasang perban seadanya pada pundakku.
"Aku cuma melakukan pertolongan pertama. Besok kamu harus datang ke klinik untuk mengobati lukamu dengan benar. Jangan remehkan luka sekecil apapun, apalagi ini terlihat cukup mengerikan." Kata Fara peduli.
Ah, Fara sudah seperti kakakku atau mungkin ibuku disini. Dia sangat dewasa dan perhatian. Aku beruntung memiliki dia yang sangat bisa diandalkan.
"Aku paham. Terimakasih banyak, dan maaf bikin kalian bangun tengah malam begini."
"Jangan dipikirin. Kami tentu akan membatu teman yang sedang kesusahan." Timpal Sasi. Aku tersenyum sangat tersentuh.
"Mas Andi tanya apa waktu kamu pinjam kotak itu?" Tanyaku penasaran.
"Tanya buat apa."
"Terus kamu jawab apa?"
"Untuk mengobati luka lama yang belum sepenuhnya kering dan kini terbuka kembali." Kata Fara dibuat dramatis.
"Tanya buat siapa, nggak?"
"Iya. Tapi aku nggak jawab." Balas Fara sambil berdiri.
"Aku balikin kotak ini dulu." Kata Fara. Aku dan Sasi mengangguk kompak.
"Ay, kamu tidur di ujung kanan ya. Aku takut nggak sengaja mengenai luka kamu waktu tidur." Kata Sasi.
"Oke." Balasku tak banyak bicara.
Tak butuh waktu lama bagi Fara untuk mengembalikan kotak P3K tadi karena jarak kamar kami yang memang tak jauh dari pos penjagaan yang ditempati mas Andi.
Setelah kembali, Fara menyusul kami di tempat tidur, dan sepertinya mereka langsung kembali tertidur. Aku jadi merasa bersalah karena membangun mereka tengah malam begini.
Mereka sudah tertidur, terdengar dari suara napasnya yang teratur dan dengkuran lembut. Sedangkan aku masih terjaga karena lagi-lagi aku merasakan perasaan takut luar biasa. Takut untuk tidur. Takut jika mimpi itu kembali menyerangku. Jadi biarlah aku tetap terjaga sampai tanpa sadar aku tertidur dengan sendirinya.
*****
__ADS_1