
Aku tidak tahu apa rencananya kenapa Zaki mengajakku ke mall? Setahuku, seorang pria tidak suka jalan-jalan di tempat seperti mall, bukan?
Zaki sedang memesan es krim, dan aku menunggu di salah satu meja di toko itu.
Aku mengamati sekitar. Satu kata yang bisa aku ucapkan, ramai.
Jujur di kampung halamanku tidak ada mall sebesar ini. Jadi aku sedikit tidak biasa.
Dari kejauhan aku tersenyum pada Zaki yang tengah berjalan ke arah aku dengan dua es krim di tangannya.
"Ini." Zaki memberiku satu es krim dari tangannya.
"Terimakasih."
Zaki ikut duduk di salah satu kursi.
"Apa kamu biasa jalan-jalan di tempat ramai semacam ini?" Tanyaku pada Zaki yang tengah menyendok es krim dari tempatnya.
"Enggak."
"Lalu kenapa kita disini sekarang?"
"Aku pikir semua cewek suka ke mall?"
Aku tertawa kecil. "Kayanya nggak semua cewek. Karena aku sendiri kurang suka ditempat seperti ini. Kamu tahu? Disini nggak bisa konsentrasi baca buku. Terlalu bising."
Zaki tertawa mendengar pernyataanku. Aku ikut tertawa.
"Ngomong-ngomong teman-teman kamu ternyata lucu ya." Ucap Zaki.
"Lucu?"
"Iya. Apalagi yang namanya Sasi, kelihatannya dia seru."
"Ah, iya-iya seru." Kataku canggung. Apa Zaki akan mengolok-olok aku sekarang karena dia pikir aku bicara macam-macam pada mereka?
"Kalian teman satu kampung?"
"Bukan. Baru kenal waktu kami datang."
"Oh, baru kenal dong? Tapi udah kelihatan dekat banget loh kalian."
"Iya. Aku juga bersyukur untuk itu. Mereka memang baik seperti perkiraan ku."
Zaki mengangguk.
Terjadi keheningan untuk waktu berapa saat. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk meluruskan sesuatu.
"Zak." Panggil ku pelan. Namun terdengar olehnya.
"Hm?"
"Aku nggak pernah bicara omong kosong ke Sasi dan Fara. Mereka sendiri yang sering menggodaku. Maaf untuk tadi pagi."
"Kenapa harus minta maaf?" Zaki sudah menghabiskan es krimnya. Dia melipat kedua tangannya diatas meja.
"Ya takutnya kamu keberatan dibilang kamu milik siapa gitu." Kataku sambil tertunduk malu.
Zaki malah terkekeh. "Kalau dibandingkan dengan mereka, aku memang lebih bisa dibilang aku ini milik kamu, kan?" Kata Zaki sangat tenang.
Berbeda dengan Zaki, aku bergerak tak tenang dan hatiku pun ikut tak tenang. Aku salah tingkah dan tidak tau harus bagaimana sekarang.
"A-aku udah selesai." Kataku akhirnya. Aku beranjak dan meninggalkan tempat itu lebih dulu.
Namun seperti biasa, mudah bagi Zaki untuk menyamai langkahku dengan kakinya yang jenjang.
"Mau kemana?" Tanya Zaki yang sudah tepat di sampingku.
"Nggak tau."
"Kalau gitu ikut aku." Zaki menarik tanganku memasuki toko aksesoris.
Zaki baru melepaskan tanganku ketika dia akan mengambil salah satu jepit rambut dari tempatnya.
"Kayaknya ini bagus untuk kamu."
Zaki mengambil sebuah jepit rambut berwarna perak yang sederhana namun terlihat berkelas. Diatasnya dibubuhi manik-manik yang membuatnya semakin terlihat menawan.
"Apa kamu pikir aku akan menyukai benda itu?"
Tak menjawab, Zaki malah memasangkan jepit rambut itu di rambutku.
"Bagus kok. Coba lihat sendiri kalau nggak percaya." Zaki menunjuk sebuah cermin yang tak jauh dariku. Ragu-ragu aku bercermin disana dan menatap pantulan diriku.
Aneh. Itulah kata pertama yang terlintas di pikiranku. Aku sama sekali tidak pernah memakai aksesoris apapun di kepalaku kecuali ikat rambut.
"Mas-nya pintar milih aksesoris untuk pasangannya. Sangat cocok." Puji seorang pramuniaga yang sedang bertugas.
Zaki tersenyum. Terlihat sekali dia senang atas pujian itu. Sedangkan aku lebih memilih memaksakan senyum.
__ADS_1
"Saya beli ini mba." Kata Zaki.
"Baik. Silakan ikuti saya ke bagian kasir."
"Ininya mba." Aku nyentuh jepit rambut itu hendak melepasnya dari rambutku.
"Dipakai saja mba, nggak papa." Balasnya yang kemudian berjalan kearah kasir.
"Jangan dilepas. Aku ke kasir sebentar." Zaki ikut menyusul kearah kasir.
Tak butuh waktu lama Zaki sudah kembali.
"Yuk!" Zaki menggandengku keluar dari toko aksesoris.
"Aku nggak pede, Zak. Aku nggak pernah pakai beginian."
"Lama-lama akan terbiasa. Jangan dilepas."
Aku menggerutu namun Zaki tak menghiraukan. Zaki tetap ingin aku memakainya.
Baiklah. Untuk menghargainya aku akan tetap memakainya hari ini.
Zaki memasuki sebuah toko boneka masih dengan menggandeng tanganku.
"Kamu suka ini?" Tanya Zaki menunjuk boneka Barbie yang lengkap dengan rumah dan perlengkapannya.
"Aku bukan anak kecil." Ketusku. Zaki malah tertawa.
"Oke kalau gitu kamu sukanya apa?"
"Hmm.. aku nggak pernah kepikiran untuk beli boneka."
Zaki mengangguk "Tunggu disini sebentar. Jangan kemana-mana." Dan kemudian beralih meninggalkan ku.
Aku memilih berjalan melihat-lihat sementara menunggu Zaki kembali.
Tak lama kemudian Zaki kembali dengan sebuah boneka yang sangat besar. Boneka kucing dengan perpaduan warna putih, kuning, dan sedikit warna hitam di sebelah kepalanya dan satu telinganya. Itu lebih besar dari pada aku.
"Yuk!" Zaki menggandeng tanganku dan sebelah tangannya membawa boneka itu yang hampir menutupi jalannya.
"Itu buat apa dibawa-bawa?" Tanyaku tak mengerti.
"Buat kamu." Tukas Zaki.
"Buat aku?" Tanyaku terkejut.
"Iya. Sekarang ayo kita pulang. Ini lumayan berat untuk dibawa jalan-jalan." Kata Zaki humor.
"Kalau kita memberi hanya jika dimintai, maka kita tidak bisa mencintai sebelum kita dicintai."
*****
Zaki meletakkan boneka kucing itu di sofa, dan aku ikut duduk disana.
"Mau es coklat?" Tanya Zaki.
"Boleh, makasih."
"Aku bikinin dulu. Kamu mau mandi dulu?"
Aku menggeleng. "Enggak kayaknya. Aku nggak punya baju ganti."
"Ah iya benar." Kata Zaki.
"Kalau gitu cuci muka seperlunya aja dulu. Disana udah ada handuk kecil."
"Oke, makasih."
Zaki berjalan menuju dapur, dan aku pun berjalan menuju kamar mandi.
Sebenarnya ingin mandi, tapi aku tak bawa baju ganti. Cuci muka dulu mungkin bisa sedikit lebih segar.
Aku menyentuh jepit rambut yang tadi dibelikan sekaligus dipakaikan oleh Zaki. Tanpa kuduga aku malah tersenyum. Aku menggeleng berusaha menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak masuk akal bagiku.
Setelah cuci muka, tangan, kaki, dan seperlunya aku kembali ke ruang tamu.
Aku memandangi boneka yang sejak tadi dibawa Zaki.
"Ini boneka kenapa bisa lebih besar dari aku ya? Atau aku yang terlalu kecil?" Tanyaku seolah akan ada seorang yang menjawab, padahal disini tak ada yang bisa menjawab. Aku terkikik geli dengan tingkahku sendiri.
Ponselku berbunyi. Aku mengambilnya dari tas kecilku dan membuka sebuah notifikasi yang tertera.
Aku membuka pesan email yang baru saja aku dapat. Aku tersenyum dan dalam hati aku merasakan kelegaan.
"Ini minum dulu." Zaki memberiku satu gelas es coklat dan meletakkan satu toples kecil berisi biskuit.
Aku tersenyum menerimanya. "Makasih." Aku langsung meminumnya karena kebetulan aku juga sangat haus.
Zaki duduk tak jauh dariku.
__ADS_1
"Kok cuma satu gelas? Kamu nggak minum?" Tanyaku dan Zaki hanya menggelengkan kepalanya.
Aku lebih mendekat pada Zaki kemudian mendekatkan gelas itu pada bibir Zaki.
"Kalau gitu kita minum berdua." Aku menempelkan bibir gelas pada bibir Zaki dan membiarkan Zaki meminum isinya.
"Kita udah kayak orang pacaran ya, Ay."
"Ha?"
"Iya. Segala suap-suapan."
Seketika aku sedikit menjauhkan diriku dari Zaki. Zaki selalu saja bisa membuat aku salah tingkah. Menyebalkan!
"Emm, Zak. Kamu punya komputer atau laptop?"
"Ada."
"Boleh aku pinjam sebentar?"
"Boleh. Aku ambilkan sebentar."
Zaki berjalan menuju sebuah ruangan yang menurutku itu adalah kamarnya. Tak lama kemudian dia datang dengan sebuah tas laptop ditangannya.
"Ini."
"Iya makasih." Aku menerima laptop dari Zaki.
"Aku tinggal mandi sebentar, nggak papa?" Tanya Zaki.
"Ah, iya nggak papa."
"Atau aku panggil Zian buat temani kamu disini?"
"Nggak perlu Zak. Aku bisa sendiri. Cuma sebentar kan?"
Zaki mengangguk. "Oke aku mandi dulu." Zaki pun berlalu dan aku mulai membuka laptop milik Zaki.
Aku membuka web untuk melakukan log in dan kemudian aku memeriksa link yang aku terima dari email-ku.
Aku mengotak-atik laptop Zaki sambil sesekali meraih biskuit untuk ku makan.
Aku terlalu serius hingga tidak menyadari kedatangan Zian yang entah sejak kapan sudah ada di belakangku.
"Ngerjain apa?" Aku terpelonjat ketika mendapati suara yang begitu dekat denganku.
Aku mengelus dadaku yang naik turun hebat akibat terkejut.
"Ngerjain hobi, Zi." Jawabku pada Zian.
"Wah hobi kamu menghasilkan pendapatan, Ay. Hebat." Puji Zian antusias.
Aku tersenyum merasa bangga sekaligus malu. Sebelumnya tak ada yang tau aku memiliki pekerjaan sekaligus hobi ku ini.
"Masih dalam masa percobaan, Zi. Aku Mash belum sehebat itu."
"Hmm.. kamu suka menggambar kayak gini pasti awalnya kamu suka baca komik, benar?"
Aku mengangguk. "Aku suka komik, manga, novel juga. Pokoknya aku suka baca. Tapi aku nggak suka baca koran." Aku tertawa dan Zian iku tertawa.
"Kalau baca pikiran suka?"
"Aku nggak bisa baca pikiran, Zi."
Kami kembali tertawa.
Zian beralih memandang pada laptop didepan ku.
"Tadinya aku cuma jadi penerjemah bahasa asing ke bahasa Indonesia di beberapa judul komik. Lalu lama-lama aku coba ikut event menggambar visualisasi untuk sebuah novel. Jadi aku benar-benar harus paham siapa yang harus aku gambar. Salah sedikit saja itu akan berpengaruh pada kecocokan antara cerita asli dan visualisasi, kan?"
Ah aku sudah terlalu banyak bicara. Tanpa sadar aku menceritakaya pada Zian. Mungkin aku terlalu bersemangat.
"Benar banget. Tapi keren loh kamu bisa menggambarkan seseorang hanya dengan membaca data diri."
"Sekarang masih dalam event itu?" Zian kembali bertanya.
"Sekarang aku sedang masa training di salah satu perusahaan. Aku baru saja mendapat tugas baru, makanya aku pinjam laptop Zaki tadi."
"Ohh. Tapi bukannya kamu kerja juga? Giman kamu mengatur waktunya?"
"Ini sistemnya online. Jadi nggak terlalu repot. Dan yang paling penting perusahaan nggak akan kasih kerjaan terlalu mepet sama waktu yang ditentukan. Jadi aku masih bisa jalani keduanya."
"Ohh.. hebat-hebat." Zian bertepuk tangan.
"Zaki tau?"
Aku menggeleng.
Tiba-tiba ada suara lain menyambar. "Tau apa?"
__ADS_1
*****