Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 23 - LORONG BATU


__ADS_3

Aku berjalan pada jalan yang sangat gelap. Suasana ini sama sekali tak seperti biasanya.


Aku ingat bahwa aku baru pulang dari pabrik tempatku bekerja. Aku memang berjalan sendiri namun aku sadar aku tak mungkin salah jalan. Ibaratnya aku bisa berjalan dengan menutup mata karena aku sangat hafal dengan jalan yang selalu aku lewati. Namun jalan ini aku tak mengenalnya sama sekali.


Ada dimana aku sebenarnya?


Krak krak!


Bunyi itu terus terdengar karena aku rasa aku terus menginjak ranting kering yang berserakan dibawah. Aku tak bisa melihat dengan jelas karena disini sangat gelap. Aku juga tidak tahu aku sedang berada di tempat seperti apa sekarang.


Aku merogoh kantong, mengambil ponsel dari saku celana kemudian aku menyalakan tombol senter disana sebagai penerang untukku.


"Ahh!!" Aku terpelonjat. Aku menjerit tertahan, menutup mulutku rapat-rapat. Seketika aku menangis tanpa sadar.


Hutan!


Itulah satu kata yang bisa menggambarkan tempat ini.


Iya ini benar-benar hutan. Hutan belantara yang sangat menyeramkan.


Aku membuka layar kunci, kemudian mencari nomor Fara untuk menelponnya untuk meminta bantuannya. Namun sialnya tidak ada signal disini.


Aku meremas ponselku dengan perasaaan yang tak bisa aku jelaskan sama sekali.


Aku berjalan berbalik arah, berharap aku akan menemukan jalan keluar dengan menyusuri jalan yang sudah aku lewati tadi.


Lama aku berjalan sendirian, namun tak kunjung menemukan jalan keluar.


Bodohnya aku! Bahkan aku tak ingat dari sisi mana aku datang tadi, lagi pula disini sangat gelap, sangat susah untuk mencari-cari jalan hanya bermodalkan penerangan dari ponsel yang aku pegang.


Aku duduk memeluk kaki, terus menangis tanpa suara, dadaku sesak karena terus menangis. Aku terlalu ketakutan berada di tempat seperti ini sendirian. Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya berharap tak akan ada binatang buas yang menemukanku disini. Mungkin aku hanya bisa menunggu hingga pagi agar lebih mudah melihat dan mencari jalan atau meminta pertolongan.


Saat ini hanya ponsel ini satu-satunya temanku. Aku berharap ponsel ini tak kehabisan daya agar tetap dapat aku gunakan setidaknya hingga pagi menjelang.


Aku mendongak, aku tidak bisa berada disini. Kalau tidak bisa keluar sekarang setidaknya aku harus mencari tempat yang bisa aku gunakan untuk istirahat. Mungkin sebuah pohon bisa menjadi sandaran untuk aku istirahat.


Aku berjalan pelan, mencari-cari dimana ada pohon. Ketika aku mengarahkan senter pada kejauhan aku menemukan anak kecil berkepala plontos berlarian riang sendirian. Mungkinkah dia tuyul seperti yang pernah aku lihat di film horor?


Refleks aku memundurkan langkah, aku tidak mau terlihat olehnya entah siapapun dia.


Aku kembali berjalan ke arah lain, aku sedikit merasa lega karena aku menemukan sebuah pohon besar tak jauh dari tempatku berdiri. Tanpa pikir panjang aku langsung berjalan menuju pohon disana.


Sampai di dekat pohon itu aku melihat pada sekitar, memastikan bahwa tida ada binatang buas disekitar.


Setelah memastikan aman, aku duduk bersandar pada pohon sambil memeluk kaki.


"Hahh.." aku menghela napas berat. Berusaha menghentikan tangisku.


"Kapankah pagi akan datang? Aku ingin cepat pergi dari sini." Air mataku tak bisa berhenti mengalir. Aku sangat takut dan tertekan.


Aku menengadah memejamkan mata. "Tolong lindungi aku, Ya Allah."


Ketika aku membuka mata aku melihat sepasang kaki terayun kedepan-kebelakang diatas ranting pohon besar tempat aku bersandar. Seketika aku bangun berdiri, namun pandanganku tak lepas dari sosok itu. Kuntilanak kah itu?

__ADS_1


"Disini nggak aman." Lirihku.


Aku kembali berjalan menyusuri hutan gelap yang semakin terasa mencekam.


Beberapa meter berjalan, aku melihat seorang gadis menggunakan dress panjang berwarna putih dan sarung tangan dengan warna senada. Dikepalanya terpasang mahkota membuatnya semakin terlihat anggun. Apakah dia seorang putri. Dari style yang ia kenakan dapat kutebak mungkin dia putri dari kerajaan Belanda kuno.


Aku tersenyum kecil. Mungkin aku tidak sendiri disini. Aku hendak berlari kearahnya namun tiba-tiba terlintas dipikiran ku sebuah pertanyaan.


"Apa dia seorang manusia? Ataukah dia juga makhluk astral?"


Perlahan gadis itu menoleh dan memergokiku. Aku terpelonjat kemudian mundur dua langkah. Gadis itu menatapku dengan tatapan penuh harap. Aku merasa familiar dengan tatapan itu, seperti pernah melihatnya.


Ah ya, tatapan sepasang ibu dan anak berbaju merah muda. Mereka juga menatapku dengan tatapan itu.


Aku sedikit mengalihkan pandanganku ke kanan, dan ternyata aku menemukan dua sosok yang baru saja aku pikirkan, ibu dan anak itu.


Ini semakin tidak beres. Tempat ini bukan hutan biasa. Aku tak mau tahu hutan apa ini tapi aku tak ingin terjebak disini.


Aku kembali memutar arah, melangkah cepat menjauh dari sana.


Lagi. Aku kembali menemukan seorang gadis. Namun gadis ini wajahnya hancur. Aku mengamati gadis itu dan,


"Ah!" Aku membulatkan mata. Gadis itu adalah gadis yang berada di pojok belakang pintu kamar kost ku kemarin malam. Dia juga disini?


Apa jangan-jangan ini adalah tempat para makhluk astral berkumpul? Atau mungkin para makhluk astral itu terjebak disini dan tak bisa keluar dari sini?


Aku menepis pikiran-pikiran aneh yang seharusnya tak aku pikirkan. Yang paling penting sekarang adalah menyelamatkan diriku sendiri. Aku tak mau menunggu hingga pagi, atau mungkin aku akan tamat.


Aku terus berjalan lurus. Menurutku aku berjalan lurus, tidak tahu apakah sebenarnya berbelok-belok.


Aku menyipitkan mata ketika melihat sebuah batu besar dengan lubang kecil di bawahnya. Apakah itu sebuah...gua?


Merasa penasaran aku berjalan mendekat. Ternyata disana cukup terang, jadi aku semakin mendekat. Semoga saja disana aman.


Aku sampai di depan lorong batu yang menurutku itu memang gua. Aku menimang apakah aku akan masuk atau tidak. Kalau aku masuk, bagaimana jika disana ternyata adalah jebakan dan aku tak bisa keluar lagi? Tapi kalau aku tak masuk disini sangat gelap.


Aku memperhatikan sekeliling. Sepertinya aku akan lebih aman jika aku masuk. Maka aku mengangkat satu kakiku dan melangkah melewati batas bayangan gelap dan terang. Begitu semua anggota tubuhku masuk, aku langsung tersentak.


Brak!


Lorong itu tertutup. Aku sama sekali tak menyangka gua ini memiliki pintu.


Aku mendekat pada pintu, menggedornya dengan keras agar bisa kembali terbuka, namun pintu itu tak bergetar sedikitpun. Pintu batu itu sungguh sangat kuat.


"Sial! Ini benar jebakan!" Umpatku.


Tak ada pilihan lain. Aku hanya bisa masuk menyusuri lorong sempit dengan obor-obor yang terpasang rapi pada dinding gua ini. Sejujurnya aku cukup penasaran apa isi didalam gua ini.


Dengan perasaan takut dan penasaran yang sama-sama kuat, aku terus berjalan lebih kedalam area gua.


Glup!


Aku menelan ludah dengan susah payah.

__ADS_1


Banyak sekali makhluk dengan bentuk yang aneh-aneh di dalam sana. Didalam sangat ramai, apakah para makhluk astral ini sedang berpesta? Mungkin jika ditambah musik dari DJ tempat remang-remang ini sudah bisa dikatakan sebuah club malam. Lebih tepatnya club malam makhluk astral.


Ada seorang pria bertelinga panjang dan runcing. Ada seorang anak kecil yang terlihat imut namun tangan dan kuku-kukunya mengerikan. Ada yang memiliki mulut lebar. Dan masih banyak bentuk mereka yang aku merasa jijik lljika lama-lama menatap mereka. Mereka terlihat sedang bersenang-senang.


Tapi tunggu dulu! Aku sudah cukup lama berdiri disini, aku pikir aku akan ketahuan oleh mereka, namun sejauh ini aku tak merasakan bahaya dari mereka. Apa mereka tak melihatku? Atau mungkin mereka tak bisa melihatku?


Jujur aku takut, namun aku penasaran apakah mereka bisa melihatku atau tidak. Jadi aku mendekat dan menyusup ditengah-tengah mereka.


Aku merasa ada yang menyenggol bahuku, tapi orang itu tak beraksi aneh. Apakah benar mereka tak bisa melihatku?


Aku belum yakin akan hal ini, jadi aku dengan hati-hati mencolek salah seorang yang berada tak jauh dariku. Dia tak bereaksi apapun juga.


"Hei, apa kalian bisa melihatku?" Tanyaku cukup keras namun tak ada yang merespon.


Jadi benar aku tak bisa terlihat oleh mereka? Syukurlah, sementara ini aku merasa aman. Tapi untuk apa aku dibawa kesini sedangkan mereka tak bisa melihatku?


Semakin lama bau busuk semakin tercium dari berbagai sudut. Aku yakin ini bau makhluk-makhluk aneh itu. Aku segera menjauh dari sana sebelum aku muntah karenanya.


Samar-samar aku melihat sebuah tangga yang terbuat dari batu sepenuhnya. Batu yang dipahat, menampilkan kesan kokoh. Aku tahu mungkin aku lancang, tapi aku sangat penasaran sekarang.


Aku yakin aku berada disini sekarang bukan tanpa alasan. Aku akan mencari tahu.


Ketika aku hendak menaiki anak tangga, tiba-tiba tanah tempat ku berpijak bergetar, semakin lama semakin kencang. Aku mengurungkan niatku menaiki tangga, aku memilih bersembunyi dibawah tangga dan mengamati diam-diam.


"Raksasa gorila?" Aku sangat terkejut begitu melihatnya. Jadi aku terjebak didalam kandangnya sekarang?


Raksasa itu membawa sesuatu di tangan besarnya. Aku menyipitkan mataku menajamkan pandanganku, mencari tahu apa yang dibawa gorila besar itu.


Gorila itu semakin mendekat kearahku.


"Ya Tuhan, lindungi aku. Jangan sampai dia melihatku." Batinku berdoa.


Ternyata gorila itu menuju ke arah tangga. Aku terkejut bahwa yang ia bawa adalah seorang manusia. Ya, firasatku mengatakan bahwa itu adalah manusia sama sepertiku.


Aku menunduk agar tak terlihat oleh gorila itu. Si gorila menaiki dua anak tangga, dan ketika aku mendongak aku dapat melihat seorang yang di jinjing raksasa itu bagaikan menjinjing karung berisi beras. Tidak berperasaan.


Aku membulatkan mata lebar sangat tak menyangka dengan apa yang ku lihat.


"Zaki!"


*****


A.N


Hallo selamat malam. Aku ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya untuk kalian yang sudah setia disini. Sayang kalian.


Nah disini aku mau sedikit mengingatkan. Cerita ini mengambil Ayri POV. Disini lebih banyak narasi karena itu Ayri yang lagi cerita sama kalian. Atau anggap aja itu kalian yang lagi menceritakan pengalaman kalian, gitu. Tahu kan maksud aku? Hehehe...


Ya udah cuma mau ngomong itu. Jadi jangan skip-skip pas baca yang bukan percakapan. Justru narasi-narasi itu yang lebih penting.


Oke sekali lagi terimakasih banyak dan sampai jumpa.


Selamat membaca, jangan lupa like, komen, dan kasih rate ya. terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2