Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 21 - LEMBUR


__ADS_3

Aku melangkah pelan. Hari ini aku merasa lebih lelah dari biasanya, karena hari ini tim produksi bagianku diharuskan untuk lembur. Jadi kini aku pulang sendirian malam hari ini.


Setelah bekerja beberapa hari, akhirnya aku dan teman-temanku tahu ada jalan pintas untuk kita lewati agar tidak terlalu jauh untuk sampai ke pabrik, atau dari pabrik ke kost. Dan ya sekarang aku melewati jalan pintas ini sendirian.


Ketika aku melewati tempat pembuangan sampah akhir, penerangan tiba-tiba meredup, kemudian mati, kemudian nyala kembali, redup lagi, dan begitu seterusnya. Aku mengedarkan mataku ke sekeliling. Di dekat sana juga ada kost-kostan namun terlihat kumuh dan tak terawat. Aku berusaha berpikir positif, mungkin seorang iseng mengerjai, atau mungkin lampu itu hampir putus jadi nyala-mati nyala-mati begitu.


Tak mau berlama-lama disana aku melangkah sedikit lebih cepat daripada sebelumnya. Namun aku merasa ada orang lain yang mungkin melangkah di belakangku, jadi aku menoleh ke belakang, siapa tahu kita bisa jalan bersama untuk mengurangi rasa takut. Namun nihil, tak ada siapa-siapa disana. Tapi aku sangat yakin ada yang mengikutiku dari belakang sejak tadi. Atau aku yang terlalu paranoid?


Hingga aku melewati sebuah lapangan yang biasa digunakan untuk bermain sepak bola oleh remaja-remaja di sekitar pada sore hari. Lapangan itu sangat gelap tanpa penerangan satu pun. Juga lapangan itu cukup lebar jadi aku butuh keberanian berkali-kali lipat untuk melewati lapangan luas itu seorang diri, dengan perasaan takut karena dibuntuti entah oleh siapa.


Dari lapangan itu aku melihat ada sebuah warung pecel lele, warung yang hanya buka di sore hingga malam hari. Aku merasa sedikit lega karena sebentar lagi aku akan sampai pada warung itu, setidaknya disana pasti ada orang meskipun itu hanya penjualannya saja.


Aku melangkah cepat, dan syukurlah aku sampai dan hampir melewati warung tersebut.


Aku mengangguk menyapa ibu dan bapak yang menurutku mereka adalah penjual pecel lele disana.


Setelah tempat dimana warung itu berdiri, setelahnya merupakan jalanan padat rumah yang penuh penerangan. Aku bisa bernapas lega sekarang, karena meskipun tak banyak orang di jalan yang aku lewati, tapi lampu-lampu disana terlihat normal.


Aku mengamati sebuah rumah yang terlihat mencolok dibandingkan dengan rumah di sekitarnya. Rumah itu lebih besar dari yang lainnya, juga terlihat paling megah. Di depannya terparkir dua mobil mewah. Kurasa dia merupakan orang paling kaya di sekitar sini.


Namun anehnya, begitu aku melewati rumah itu, bau harum langsung masuk ke indera penciuman ku. Memang bau harum, tapi aku merasa ada yang aneh dengan bau itu. Sambil terus berjalan aku terus berpikir keras apa yang membuatnya aneh.


Dan ya, aku baru sadar kalau bau wangi yang kucium barusan adalah bau wangi bunga melati dan... Meskipun aku sendiri tak yakin tapi aku bisa pastikan bahwa itu adalah bau kemenyan.


Pikiranku tiba-tiba melayang, memikirkan hal-hal yang tak masuk akal. Sebisa mungkin aku melenyapkan pikiran-pikiran aneh itu dari otakku, agar tak menggangguku. Aku sudah cukup rumit dengan masalahku, tak mau bertambah pusing dengan hal yang aku sendiri tak bisa meyakininya.


Namun apalah dayaku, aku tak bisa melupakannya begitu saja, ditambah perasaan takut masih menyerangku karena aku rasa aku masih sedang dibuntuti. Tapi kini aku tak berani menoleh ke belakang. Aku terus berjalan dipenuhi rasa takut dan perasaan terancam.


Menyeberang melewati sebuah jembatan kecil, dan disana beberapa tukang ojek masih terjaga sambil bermain catur untuk menghalau rasa kantuk.


Aku mengangguk kecil ketika melewati mereka, menunjukkan rasa hormatku pada para bapak tukang ojek dan satu penjual bakso yang mangkal didekat pangkalan ojek.


Aku melewati rumah pak haji, kemudian belok kanan, lalu berjalan sekitar sepuluh meter dan aku sampai pada tempat tinggalku.


Duduk di teras, aku melepaskan sepatu yang aku kenakan kemudian meletakkannya pada rak sepatu yang tersedia.

__ADS_1


Aku merogoh tas kecilku untuk mencari kunci kamarku. Setiap kamar diberikan dua kunci agar mempermudah apabila satu kamar itu bekerja beda shift, atau salah satunya lembur, seperti aku sekarang.


Dengan masih ketakutan, aku mengorek isi tasku dan sialnya aku tak kunjung menemukan benda yang aku butuhkan.


Lebih dari dua menit aku berdiri di depan pintu sambil mencari kunci pintu di depanku. Meskipun hanya dua menit tentu terasa sangat lama ketika sedang berada dalam perasaan ketakutan. Namun tak lama kemudian yukurlah akhirnya aku menemukannya.


Aku memasukkan kunci pada lubang kunci kemudian memutarnya. Gerakan ku cepat. Perasaanku mengatakan sesuatu yang mengikutiku swjak tadi kini semakin dekat denganku. Bahkan aku merasa aku hampir tergapai olehnya.


Cepat-cepat aku membuka pintu, masuk dan menguncinya dari dalam. Aku bersandar pada pintu sambil mengelus dada, bernapas sedikit lega. Terlambat sedikit saja mungkin aku akan celaka, itulah yang terlintas di benakku sekarang.


Mendadak bulu kudukku berdiri. Kini aku merasa seperti sedang diperhatikan. Dan aku yakin ada sesuatu di pojok belakang pintu yang berada di sisi kananku. Aku melirik ke samping kanan, menyadari keberadaan sosok itu, tapi aku seakan mati rasa. Aku tak bisa menggerakkan anggota tubuhku.


Napasku mulai terengah, perlahan aku memutar kepala memberanikan diri menoleh kesamping kanan dan,


Klang!


Aku terpelonjat. Aku melompat cukup jauh dari pintu ketika aku menjatuhkan kunci kamar yang berhasil mengeluarkan bunyi nyaring pada malam hari yang sunyi ini.


Dadaku naik turun. Pikiranku kacau. Perasaanku campur aduk. Yang bisa aku lakukan hanya mundur menjauhi sosok perempuan dengan baju penuh bercak darah dan wajah hancur. Sosok yang membuatku ketakutan, yang berada di pojok pintu.


Aku meraih handle pintu ruang tidur yang terletak di ruangan tengah, menariknya kebawah dan aku berhasil membuka pintu itu.


Secepat kilat aku berbalik hendak segera masuk kedalam kamar, namun aku kembali dibuat kaget oleh sosok yang tiba-tiba muncul di hadapanku.


"Aaaaaaaa." Teriakku sangat histeris sambil menutup mata, aku tak berani membuka mataku.


Namun anehnya, kenapa sosok itu ikut berteriak?


Perlahan aku membuka mataku. Melihat jelas siapa yang ada di depanku sekarang. Dan ternyata itu adalah temanku. Aku sudah mengecek bahwa ia menapak tanah. Dia benar-benar Sasi.


"Ada apa sih?" Tanya Fara yang terganggu oleh teriakan ku dan Sasi.


"Sasi, kamu bikin aku kaget tahu nggak!" Kataku dengan nada cukup tinggi.


"Ya kamu tiba-tiba teriak, aku refleks ikut teriak." Kata Sasi tak mau kalah.

__ADS_1


"Kamu ngapain berdiri disitu menghalangi aku yang mau masuk!" Tudingku pada Sasi.


"Kamu juga ngapain datang-datang langsung teriak? Kamu yang bikin aku kaget. Aku cuma kebelet, mau ke kamar mandi tadi, bukan mau ngagetin kamu." Jelas Sasi panjang lebar.


Aku mengibaskan tanganku, menyerah.


"Aih, ngagetin aja. Aku pikir ada setan ternyata kalian yang paranoid berlebihan." Celetuk Fara santai.


Memang tadi ada setan, Fara. Batinku.


Tiba-tiba suara pintu di ketuk, kami bertiga langsung menoleh pada sumber suara.


"Fara, Sasi, apa terjadi sesuatu didalam?" Tanya seorang dari luar.


"Apa Ayri udah pulang? Tadi aku dengar suara teriakan dari dalam, aku cuma mau memastikan semuanya baik-baik aja." Tanya seoarang lain.


"Mereka korban kegaduhan yang kalian ciptakan. Aku bukain pintu dulu biar mereka nggak khawatir." Ucap Fara langsung menyelonong melewati aku dan Sasi.


Sasi langsung berlari kecil memasuki kamar mandi setelahnya.


"Fara tunggu." Cegah ku. Aku takut masih ada sosok tadi dan aku tidak mau Fara terluka.


"Ada apa?" Tanya Fara mengerutkan kening.


Aku celingukan, setelah memastikan sudah aman, aku membiarkan Fara pergi.


"Nggak papa Fa, ya udah kamu bukain pintu gih, aku bersih-bersih dulu."


Fara menaikkan satu alisnya, memperhatikan ku dengan lekat. Mungkin ia merasa aneh dengan sikap ku, namun aku tak peduli. Aku langsung berbalik dan menuju kamar mandi.


Dari dalam kamar mandi aku samar-samar mendengar Fara tengah menjelaskan pada orang diluar pintu bahwa semuanya baik-baik saja.


Baik-baik saja? Aku tak bisa lagi berkata semuanya baik-baik saja setelah aku dibuntuti selama perjalanan pulang, dan mendapati penampakan menyeramkan di dalam kost yang aku tinggali.


Ya Tuhan! Aku tidak tahu mengapa aku tiba-tiba bisa melihat bangsa mereka. Sekarang aku merasa lelah. Sangat lelah. Aku bahkan seperti ingin menghilang dari sini jika mampu.

__ADS_1


*****


__ADS_2