
"Kekuatan cinta itu ya, aku cinta kamu." Kata Zaki.
Sungguh aku terkejut, tapi aku tak menampakkannya, aku hanya terdiam.
Apa sebenarnya yang sedang Zaki bicarakan? Aku menebak-nebak apakah ucapan Zaki barusan serius? Atau ada maksud lain? Jika benar seperti yang Fara katakan, apa mungkin aku mencintai Zaki? Atau sebaliknya Zaki mencintaiku?
Keadaan semakin canggung karena Zian yang biasanya banyak bicara dan pandai mencairkan suasana, kini ia juga diam. Mengapa Zian tak se-berisik biasanya saja agar suasana tidak secanggung ini?
"Wahahaha.."
Baru saja aku membicarakan Zian dalam hatiku dan kini dia tertawa keras.
"Payah! Masa nyatain cinta begitu. Romantis dikit dong." Kata Zian masih dengan tawanya.
"Diam!" Zaki melotot tajam pada Zian.
Untuk beberapa saat Zian masih terus tertawa, namun perlahan Zian menghentikan suara tawa itu.
"Kamu ikut nggak masuk kerja?" Tanya Zaki pada Zian. Zaki mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
"Masih perlu ditanya kah?" Balas Zian.
"Memangnya siapa yang akan jaga kamu kalau bukan aku? Atau kamu pengin banget ketemu Mama sama Papa?" Tambah Zian. Kali ini nadanya terdengar sinis.
"Nggak." Balas Zaki singkat.
Kenapa mereka tiba-tiba saling bersikap sinis seperti ini? Memangnya ada sesuatu yang salah kah?
Aku masih tak bersuara. Aku masih merasa sedikit canggung karena pernyataan Zaki tadi. Lalu tiba-tiba ponselku berdering, untunglah, ini bisa mengurangi kecanggungan.
Drtt drtt!
Aku mengambil ponselku dari saku celanaku, lalu melihat siapa yang menelpon. Tertera nama Fara disana.
"Telpon dari Fara, aku angkat sebentar, ya." Pintaku, kemudian mereka berdua mengangguk seirama.
Aku sedikit menjauh dari mereka, aku berdiri didekat pintu ruang makan.
"Hallo, Ayri."
Fara langsung menyambar ketika aku menerima panggilannya. Bahkan aku belum sempat menyapa.
"Iya, Fa, ada apa?"
"Kamu baik-baik aja, kan? Kamu jangan sampai nggak makan. Aku sama Sasi masih khawatir kalau kamu tiba-tiba pingsan lagi."
Mereka pasti sangat mengkhawatirkan aku, disela waktu istirahatnya yang singkat mereka menyisihkan waktu untuk menghubungiku.
"Aku baik-baik aja kok, ini juga aku lagi makan siang sama mereka."
"Mereka siapa? Kamu dimana sekarang?"
"Zaki dan saudaranya. Aku masih dirumah Zaki."
"Jadi Zaki udah sadar?" Aku tahu jelas ini suara Sasi. Mungkin Fara menggunakan mode loud speaker agar mereka bisa sama-sama mendengar.
Aku menoleh ke tempat dimana Zaki dan Zian sedang menyantap makan siangnya. Mereka sesekali juga memperhatikan aku yang masih menelpon.
__ADS_1
"Iya udah, belum lama ini."
"Syukurlah disana ada saudaranya Zaki juga, jadi kalian nggak cuma berdua."
"Iya."
"Ya udah kami harus kerja lagi, jam istirahat hampir habis. Kamu hati-hati ya, kalau kondisinya udah aman lebih baik kamu segera pulang." Kata Fara mengingatkan aku.
"Iya, Fara. Aku paham."
"Oke kalau gitu kami tutup dulu telponnya." Kata Fara
"Bye, Ayri." Tambah Sasi.
"Bye."
Aku tersenyum kecil menatap layar ponselku. Tak henti-hentinya aku bersyukur karena memiliki teman-teman yang baik seperti Fara dan Sasi.
Aku memasukkan ponselku lagi, lalu kembali ke tempat dudukku.
"Mereka kelihatannya seru, kalau kamu mau kamu boleh ajak mereka main kesini kalau kamu mau." Kata Zaki.
"Sasi dan Fara?" Tanyaku dan Zaki mengangguk.
"Teman-temanmu?" Tanya Zian dan kini aku mengangguk.
"Ya kapan-kapan mungkin. Lagian mereka mungkin lebih memilih ngabisin waktu liburannya sama pacar masing-masing sih."
"Mereka udah pada punya pacar?" Tanya Zaki. Aku mengangguk saja.
"Kalau kamu udah punya pacar belum, Ay?" Tanya Zian.
Zian menggerakkan matanya untuk menatapku dan Zaki bergantian.
"Belum. Kenapa? Kamu mau mengejekku?" Balasku akhirnya.
"Tentu saja enggak. Karena kamu belum punya pacar, gimana kalau aku minta kamu jadi pacarku, mau?" Tanya Zian sambil tersenyum lebar.
Aku terdiam. Dari caranya aku tahu Zian sedang memancing reaksi Zaki. Oh aku ingat Zian pernah bilang akan membantu membuat Zaki mengungkapkan perasaannya. Apakah ini termasuk tak-tik Zian. Kebetulan aku penasaran bagaimana perasaan Zaki terhadapku. Jadi apakah aku harus berakting sekarang? Atau aku harus menjawab apa?
Zian tersenyum miring. "Kamu nggak keberatan kan, Zak?" Zian memainkan alisnya.
Zaki melirik pada Zian. Dari ekor matanya terlihat bahwa ia sedang merasa tak senang. Detik berikutnya ia memutar bola matanya. "Whatever." Sambil mengangkat bahu.
Zian kemudian mengedipkan satu matanya ke arahku. Apakah dia sedang memberikan sebuah kode untukku? Aku mengulum senyum, tak mau kelihatan mencolok.
"Hahahaha.." Zian kembali melepas tawa.
"Sorry. Aku nggak biasa mengambil milik orang lain, apalagi milik saudaraku sendiri." Kata Zian setelah tawanya sedikit reda.
Zaki terlihat menggertakkan gigi, apakah dia kesal?
"Jangan sering-sering bikin cewek-cewek baper, nggak baik. Apalagi kalau ujung-ujungnya ditinggalin, bukan cuma cewek itu yang ditinggalin, tapi ada bekas luka juga yang tertinggal disana." Kata Zian bijak. Nada bicaranya serius.
Serius? Ini benar-benar Zian yang mengatakan kata-kata bijak itu? Jadi dia juga bisa bersikap seperti itu?
"Jangan lama-lama gantungin perasaan cewek. Jemuran aja pagi digantung paling lambat sore diangkat, masa kalah sama jemuran." Tambah Zian kembali dengan nada humornya.
__ADS_1
Zian tetap saja Zian. Baru tadi aku memuji sekarang dia sudah bercanda lagi.
"Semua itu butuh proses. Jangan langsung mengambil kesimpulan di awal cerita. Kadang cerita yang terlihat selalu bahagia bisa saja berakhir menyedihkan. Sebaliknya, cerita yang sejak awal menampakkan banyak lika-liku tapi akhirnya bisa jadi akan happy ending." Kata Zaki.
Benar apa yang dikatakan oleh Zaki. Kita memang tidak ada yang tahu bagaimana sebuah kisah akan berakhir.
Zian terdiam tak lagi memberikan komentar.
Zaki menatapku lekat. Entah kenapa aku merasa tatapan itu tak biasa. Tiba-tiba jantungku berdegup sangat kencang. Aku menundukkan kepalaku karena aku yakin saat ini pipiku sudah memerah.
Dari sudut mataku aku bisa tahu Zaki sudah mengalihkan pandangannya. Ia beralih menatap Zian lalu membuka mulut.
"Dan yang paling penting, jangan merasa paling mengerti perasaan orang lain."
*****
Mobil Zaki berhenti di depan gerbang kost.
"Aku antar sampai sini aja ya." Kata Zaki. Setelah makan tadi aku meminta Zaki untuk mengantarku pulang. Karena aku yakin Zaki sudah baik-baik saja. Bukankah mimpi itu sudah berakhir?
"Iya." Balasku singkat. Aku masih tak berani mengangkat kepalaku, aku justru sibuk mengontrol degup jantungku agar tak terdengar olehnya.
Aku meraih pintu hendak membukanya, namun Zaki menahan satu tanganku.
"Ayri." Panggil Zaki pelan.
"Ya?" Balasku masih sambil tertunduk.
Zaki meraih daguku, memaksaku untuk mendongak dan kemudian mata kami bertemu. Kami saling bertatapan cukup lama. Zaki pun tak kunjung berkata-kata. Jadi untuk apa dia menahanku sekarang?
Aku lebih dulu memutus tatapan kami. Aku mengalihkan pandanganku kurus ke depan.
Zaki terdengar menghela napas setelahnya.
"Jangan terlalu pedulikan ucapan Zian. Dia terlalu sering mengambil kesimpulan diawal, itu juga alasan kenapa hubungannya dengan pacarnya cepat selesai." Kata Zaki.
Aku mendengar saja, tak menimpali. karena menurutku Zaki hanya ingin bicara tanpa balasan.
"Cinta itu sesuatu yang sakral, nggak bisa dibuat main-main. Makanya kita harus benar-benar memastikannya sebelum menyesalinya." Kata Zaki lagi. Aku masih tak berniat menimpali.
"Aku tahu Zian sengaja memancing aku mengungkapkan perasaanku tadi."
Zaki kembali menghela napas. "Apa kamu senang bersamaku? Apa kamu bahagian denganku? Atau aku hanya salah satu alat untuk meraih satu hal yang berbeda dari yang sebelumnya, Ayri?" Tanya Zaki serius.
Apa maksudnya berkata bahwa aku menganggapnya sebagai alat untuk meraih satu hal yang berbeda? Apakah itu yang dia pikirkan tentangku selama ini?
"Itulah kenapa aku bilang jangan buru-buru ambil kesimpulan. Begitu juga dengan cinta, kita nggak bisa asal-asalan bilang itu cinta. Waktu kita masih panjang jadi kita bisa memikirkannya matang-matang."
Aku menoleh kembali menghadap Zaki. Kemudian Zaki mengacak rambutku seraya tersenyum.
"Jangan terlalu dipikirkan. Yang penting kita jalani hari seperti semestinya dan berusaha memperjuangkan apa yang kita inginkan."
Aku terhipnotis dengan tatapan lembutnya hingga aku mengangguk dan berkata "Ya."
"Ya udah kamu masuk gih."
Aku mengangguk. "Terimakasih udah antar aku pulang."
__ADS_1
"Dengan senang hati."
*****