Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 20 - KESEPAKATAN


__ADS_3

Aku berjalan memasuki gerbang pabrik bersama Sasi dan Fara. Tiba-tiba Sasi dan Fara berpamitan lebih dulu tanpa alasan yang jelas. Tak lama kemudian seorang menepuk pundak ku dari belakang dan menyapa.


"Selamat pagi, Ay." Sapanya.


"Aw." Ringisku karena tepukan itu tepat mengenai luka di pundak ku semalam.


Tanpa menoleh pun aku tahu bahwa dia Zaki. Jadi ini alasan Sasi dan Fara meninggalkan aku lebih dulu.


"Kenapa? Apa tepukan ku terlalu keras?" Tanya Zaki.


"Enggak bukan itu. Cuma kamu mengenai luka di pundak ku." Kataku jujur.


"Kamu terluka? Siapa yang melukaimu?" Raut kekhawatiran nampak jelas dibarengi perubahan sikapnya yang kentara.


"Nanti aku ceritakan. Aku harus ke klinik dulu sekarang."


"Bair aku antar."


Kemudian aku melangkah ke arah klinik yang terdapat di bangunan paling depan di area pabrik. Zaki menyusulku cepat.


*****


"Kapan kamu mendapat luka ini?" Tanya dokter yang menangani ku.


"Semalam, Dok. Tengah malam. Saya nggak berani keluar mencari Dokter tengah malam, jadi teman saya memberikan pertolongan pertama dan membalut luka ini dengan perban seadanya." Balasku apa adanya.


"Temanmu cukup kompeten memberikan pertolongan pertama. Hanya saja lukamu belum terlalu bersih saat dibersihkan. Kalau kamu nggak segera kemari mungkin lukamu akan terinfeksi." Jelas Dokter.


"Saya akan membersihkan lukamu kembali, mungkin ini agak sedikit sakit karena bekas darah dan kotoran terlanjur menempel pada lukamu." Tambah Dokter lagi.


"Baik, Dok."


Dokter mengambil alat yang aku tidak tahu apa namanya, yang jelas itu untuk membersihkan lukaku.


"Apa yang terjadi, kenapa tengah malam kamu bisa terkena benda tajam dan melukaimu sampai seperti ini?" Tanya dokter itu, kurasa ia berusaha mengalihkan rasa sakit yang aku terima, namun pertanyaan itu bukan hanya berhasil mengalihkan aku dari rasa sakit, juga membuat ku kehilangan kata.


Aku sama sekali tak berpikir dokter akan menanyakan hal ini. Terlebih dia tahu bahwa aku terkena benda tajam.


Aku mengalihkan pandangan, berusaha mencari jawaban yang pas. Bisa saja aku membohongi Sasi dan Fara dengan mengatakan ini adalah luka lama. Tapi aku tidak akan mungkin bisa membohongi seorang dokter.


"Ini... sebuah pisau tiba-tiba jatuh dari tempatnya saat saya mengambil segelas air."


"Harusnya jangan meletakkan pisau di tempat yang tinggi."


"Iya saya mengerti, Dok."


Dokter itu sepertinya tak mempermasalahkan jawabanku, namun begitu aku menatap Zaki, Zaki menatapku dengan tatapan tajam. Apakah ia tak percaya dengan alasan yang aku ucapkan?


"Selesai. Jangan terlalu banyak gerakan yang berlebihan. Jangan mengangkat yang berat-berat untuk sementara." Pesan Dokter setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Atau kamu mau istirahat dulu, Dokter bisa berikan surat izin untukmu." Tanya Zaki tiba-tiba.


"Nggak perlu, Zak. Jangan berlebihan." Balasku.


Dokter itu tiba-tiba menatap padaku intens, kemudian beralih menatap Zaki.


"Apa ini pacarmu, Pak Zaki?" Tanya dokter itu sambil tersenyum miring.


"Apa? Bu-bukan. Saya bukan pacarnya." Sanggahku cepat.


Bukannya menjawab Zaki malah mengulum senyum pada Dokter.


"Saya buatkan surat untuk meminta keringanan untuk pekerjaanmu. Siapa namamu?" Tanya dokter yang sudah meraih selembar kertas dan siap menulis.


"Ayri Annisa. Tapi itu nggak perlu, Dok, saya bisa melakukan pekerjaan seperti biasa."


"Dia pekerja keras." Dokter berkata pada Zaki sambil menunjuk padaku. Zaki membalasnya dengan kekehan.


Dokter itu mengangkat satu alisnya. "Kamu mendapat job di bagian mana?"


"Pre-easy Fortuner, Dok."


Dokter itu terus menulis diatas kertasnya.


"Ini." Kertas itu diserahkan padaku.


"Kamu bisa gunakan itu kalau diperlukan. Untuk bahan yang berat kamu minta tolong saja pada teman satu tim kamu. Jangan dipaksakan. Mengerti?"


"Saya mengerti, Dok."

__ADS_1


"Dan ini obat pereda nyeri. Minum jika dibutuhkan saja, lukamu tidak terlalu serius."


"Terimakasih, Dok. Kalau begitu saya permisi."


*****


"Aku nggak percaya itu kejatuhan pisau. Bilang sama aku kenapa bisa terluka?" Zaki langsung menyerangku dengan pertanyaan begitu kami keluar melewati pintu klinik.


Aku menghentikan langkahku setelah menjauh dari klinik sekitar sepuluh meter.


Aku menghela napas kemudian membakikkan badan untuk berhadapan dengan Zaki. Benar kan, Zaki tak percaya dengan alasanku.


"Aku diserang raksasa gorila, Zak. Dia bawa celurit, dan, dan, dan dia mengincar aku, Zak." Kataku tak beraturan.


"Ap-apa? Siapa dia?" Zaki tampak begitu terkejut.


"Aku nggak tahu, Zak. Dia sering banget ganggu tidurku. Aku bahkan pernah nggak tidur semalaman karena aku takut kalau aku tidur dia bakal datang lagi." Tuturku dengan napas tak teratur.


"Dia datangi kamu, atau mimpi kamu?"


"Aku juga nggak bisa jelasin, Zak. Dia seperti datang dalam mimpi tapi itu nyata. Contohnya luka ini."


Zaki menatapku intens. Sepeti sedang menyelam melalui kornea mataku.


"Kamu harus pindah kost, Ay." Kata Zaki serius, namun gerakannya terkesan gelisah.


"Apa? Kenapa?"


"Tempat itu nggak beres, Ayri! Apa kamu mau menempatkan diri kamu dalam bahaya terus menerus? Gimana kalau kamu terluka lagi?" Perkataan Zaki terdengar tegas. Aku sedikit tersentak, namun aku tidak bisa mengiyakan permintaan Zaki.


"Enggak, Zak. Biar aku aja. Aku nggak mau yang lain mengalami hal sama seperti yang aku alami. Biar aku aja yang terluka, jangan ada lagi."


Zaki ternganga, mungkin dia tak menyangka aku akan berkata demikian.


"Lagi pula aku nggak yakin kalau aku pindah tempat, makhluk itu akan berhenti mengejarku. Aku nggak tahu apakah aku mengancam keberadaannya, tapi aku yakin cuma aku yang dia incar." Kataku lagi, berusaha mengubah pola pikir Zaki agar tak memaksa ku pindah dari sana.


"Udah berapa kali dia ganggu kamu?"


"Aku nggak yakin berapa kali, tapi dia datangi aku sejak pertama aku menginap disana."


Zaki membuang napas kasar. "Lupakan. Kamu boleh tetap tinggal disana, tapi kamu harus janji satu hal."


"Apa?"


Aku tersenyum lega mendengar perkataan Zaki. Dia bukan tipe orang kolot yang memaksakan kehendaknya sendiri dengan berbagai macam cara. Dia tipe orang yang menghargai pendapat orang lain. Aku lega.


"Nggak masalah. Kalau gitu sekarang kita pergi sarapan?"


"Oke, ayo."


Kemudian kami melangkah menuju bawah tangga, tempat biasa kita sarapan.


"Kamu masak apa pagi ini?" Tanyaku pada Zaki, sambil menarik satu kursi untuk aku duduki.


"Aku cuma bikin omelette. Ini bagianmu." Zaki menyerahkan satu kotak sarapan untukku.


Aku menerimanya, "Terimakasih."


"Kamu yang masak?" Tanyaku seraya membuka tutup kotak makan.


"Iya, siapa lagi?"


Aku memasukkan sendok pertama ke dalam mulutku. Enak, seperti setiap harinya.


"Lebih enak mana masakan kamu atau masakan Zian?" Tiba-tiba aku penasaran bagaimana masakan Zian.


Zaki mengerutkan alis. "Mungkin lebih enak masakan Zian. Dia juga lebih banyak ide untuk memasak dibanding aku yang cuma bisa masak itu-itu aja." Kemudian Zaki memasukkan satu sendok nasi omelette ke dalam mulutnya.


"Oh ya?"


"Ya. Kalau kamu mau, besok aku suruh dia yang masak untuk sarapan. Biar kamu coba masakan Zian juga."


"Boleh?" Tanyaku berbinar.


"Kenapa enggak?"


"Nggak papa?"


"Ya nggak papa."

__ADS_1


"Kalau gitu tolong bilangan ke Zian aku mau makan makanan yang dia buat. Siapa tahu dia akan memasak masakan spesial kalau aku yang minta." Kataku sengaja terdengar percaya diri.


"Hahaha.. oke kalau gitu. Aku sampaikan sesuai kemauan kamu."


"Terimakasih."


Kami melanjutkan makan tanpa perbincangan setelahnya.


Aku mengelap mulutku dengan tissue yang selalu aku sediakan didalam tasku. Aku sudah selesai.


Begitupun dengan Zaki. Dia sudah mengemasi tempat makan yang ia bawa.


"Ngomong-ngomong Zian udah punya pacar belum?" Tanyaku iseng.


"Kenapa? Kamu berniat mendaftar jadi pacarnya?"


Aku terkekeh. "Kalau bisa." Balasku masih iseng. Kemudian aku tertawa, Zaki ikut tertawa.


"Setahuku untuk saat ini dia single."


"Untuk saat ini aja, atau dia belum pernah pacaran sebelumnya?"


"Pernah. Tapi sekarang sedang sendiri."


Aku manggut-manggut. "Pernah nggak pacar Zian keliru menganggap kamu Zian, atau sebaliknya gitu?"


"Pernah beberapa kali. Pacar Zian dulu sering nggak bisa ngenalin mana yang Zian mana yang Zaki. Kurasa dia punya penyakit sulit mengenali wajah orang."


"Iyakah? Emang ada penyakit semacam itu?" Tanyaku serius ingin tahu.


"Mungkin." Zaki mengangkat bahu.


"Jangan salahkah dia karena kalian memang hampir tak ada perbedaan." Kataku.


"Kalau kamu bisa bedain aku sama Zian dari mana?"


"Tahi lalat." Kataku sambil menunjuk-nunjuk wajahku sebagai umpama tempat dimana tahi lalat itu menempel di wajah Zian.


Kemudian kami kembali tertawa.


"Kalau pacar kamu, pernah salah kayak pacar Zian juga nggak?"


"Aku nggak punya pacar."


"Sama sekali nggak pernah punya pacar?" Tanyaku tak percaya.


"Iya." Balas Zaki singkat.


"Serius?" Aku kembali memastikan.


"Iya."


Tiba-tiba dadaku mengembangkan. Entahlah, tapi aku merasa lega dan senang. Jadi kalau aku bisa menjadi pacar Zaki maka aku adalah pacar pertama Zaki, atau bahkan cinta pertama Zaki juga?


Ahhh Ayri! Mikir apa kamu ini! Jangan membiarkan dirimu melayang jika tidak mau merasakan sakitnya terjatuh.


"Kalau kamu?" Tanya Zaki tiba-tiba.


"Apa?"


"Pernah atau sedang punya pacar?"


Aku menggeleng. "Nggak ada. Nggak pernah."


"Masa sih? Jaman sekarang masih adakah yang belum pernah pacaran padahal udah seumuran kamu?" Pertanyaan Zaki berhasil menyentil hati.


"Bukannya kamu juga anak jaman sekarang, kenapa belum pernah pacaran? Kalau aku sih wajar aja karena aku baru aja lulus sekolah dan baru berumur 18 tahun. Biasanya di masa-masa kuliah banyak yang sering terjerat cinta dengan teman satu kelas. Masa kamu enggak?" Tanyaku membalikkan pertanyaan darinya.


Zaki mengangkat bahu santai. "Nggak tuh."


"Atau kamu tipe orang yang sukanya baperin cewek-cewek terus abis itu ditinggal gitu aja? Cuma PHP-in cewek-cewek, gitu?"


Zaki terkekeh, tangannya ia gunakan untuk mengacak rambutku. "Anak kecil ngomongin cinta-cintaan. Udah, aku ke kantor dulu." Zaki beranjak, mungkin dia mau masuk ke ruangannya.


Aku ikut berdiri dan meraih tasku. "Terimakasih sarapannya."


"Asalkan kamu suka aku juga senang."


*****

__ADS_1


__ADS_2