Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 15 - DUA TEMAN GILAKU


__ADS_3

"Sas, Fa, makasih ya udah bantuin beresin barangku. Makasih untuk hari ini." Kataku ketika malam hari kami tengah berbaring bersama. Kedua temanku memeluk aku yang kebetulan ada ditengah mereka.


"Nggak perlu sungkan, Ay. Kita teman, menolong adalah kewajiban kita." Balas Sasi.


"Lagian itu sama sekali nggak ngerepotin kok." Tambah Fara.


Aku mengangguk dan tersenyum. Syukurlah mereka memang sebaik yang aku pikirkan. Aku beruntung.


"Oh ya, tadi kamu dicariin mas Andi, Ay." Kata Fara lagi. Sasi mengangguk mengiyakan.


"Ngapain nyariin aku?"


"Nggak tau, cuma nanya kamu dimana, gitu doang."


"Terus kalian jawab apa?"


"Kami jawab kamu sedang kencan." Jawab mereka kompak, dan setelahnya mereka tertawa. Mereka menggodaku.


Aku bangun dan menggelitik mereka. Mereka semakin tertawa tak henti.


"Sshhhh, jangan berisik." Kataku setelah aku puas dengan pekerjaanku menggelitik mereka.


Mereka mengontrol nafas, kelelahan akibat tertawa-tawa.


"Lagian kamu sebenernya pergi sama temen kamu yang biasa ngobrol di dekat pos satpam itu, kan?" Sasi membulatkan mata menyelidik.


Gotcha!! Tepat sasaran! Ternyata mereka selama ini telah mempehatikan aku?


"Apa kalian akan berpikir macam-macam tentang itu?" Tanyaku hati-hati.


Aku was-was menunggu jawaban mereka, namun mereka lama tak bersuara. Jangan-jangan mereka sedang mengumpulkan semua umpatan untuk menyerangku? Aku terus tidak tenang hingga Sasi bertanya,


"Siapa nama cowok itu?"


"Kami juga belum pernah ketemu langsung sama cowok itu, iya nggak?" Tambah Fara ikut bertanya.


"Emmm.... Dia Zaki."


"Zaki? Jadi kapan kita bisa ketemu dia?" Tanya Sasi antusias.


"Emm.. besok, mungkin?"


"Ha? Besok? Aduh aku harus dandan seperti apa dong untuk besok? Aduh aku gugup."


Ctak! Sebuah sentilan mendarat di kening Sasi.


"Itu kan pacarnya Ayri, kenapa kamu yang heboh!" Kata Fara yang geregetan.


"Hah?" Aku terbengong mendengar ucapan Fara.


"Hehe..iya ya. Maaf aku terlalu semangat." Kata Sasi cengengesan.


"Jadi, beneran besok?" Tanya Sasi lagi.


"Iya, besok dia mau jemput aku kesini."


"Astaga astaga astaga! Beneran?" Tanya Sasi masih heboh.


"Iya beneran. Udah dong jangan bahas itu lagi."


"Kenapa emang? Malu?" Tanya Fara sambil memainkan alis.


Sial! Teman-temanku terus menggodaku.


"Kalau nggak mau diam besok nggak akan aku kenalin!" Ancamku. Namun kelihatannya tidak mempan.


"Dia juga karyawan baru kan? Bajunya juga masih sama seperti kita." Tanya Fara lagi.


"Eh tapi mulai besok kita udah berseragam dooong. Duh senangnyaaa aku udah pake seragam jadi nggak dicengin anak ingusan lagi." Tambah Sasi heboh seperti biasanya.


"Iya ya bener, Senin besok kita udah pake seragam." Timpalku.


Aku penasaran bagaimana kak Sari dan kak Febi kedepannya. Bukannya mau mengerjai mereka, tapi mulai Senin besok status kita sama, jadi hak kita juga sama. Maka aku akan menyanggah setiap ucapan mereka yang tidak benar. Maaf, aku buka tipe orang yang hanya bisa tinggal diam jika ada yang mengusik. Namun jika orang itu baik, aku akan dua kali lebih baik padanya.


Malam ini Sasi dan Fara terus saja bertanya hal-hal tentang Zaki. Pengenalan awal katanya. Supaya besok tidak terlihat seperti orang bingung.


Yaa terserah lah. Mereka tanya aku jawab. Tapi yang ringan-ringan. Kalau sekiranya mendalam, aku tinggal tidur saja.


*****


Entah kenapa aku jadi gugup. Aku deg-degan. Padahal sudah setiap hari aku bertemu Zaki, bukan? Atau karena dia akan menjemput aku? Bukankah kemarin Zaki juga menjemputku? Atau karena teman-temanku yang membuat aku jadi gugup?


Fara dan Sasi sudah bangun dari subuh tadi. Mereka terlihat lebih bersemangat daripada aku. Mereka sibuk mendandani aku sejak tadi. Biarkan saja mereka lelah mendandani aku, ujung-ujungnya aku menolak semuanya. Aku tidak suka berdandan hanya untuk satu orang lain. Aku lebih suka menjadi siapa diriku.

__ADS_1


Aku bukan penjilat. Aku suka yang apa adanya. Aku begini adanya, kalau mereka suka padaku yang seperti ini maka rasa suka itu akan awet. Tapi kalau aku melakukan permainan kebaikan didepan, jika seterusnya mereka menemukan sifat asliku yang berbeda dengan yang di awal, maka mereka akan kabur, benar?


Aku mendengar Sasi dan Fara yang masih terus mengomel karena aku merusak hasil karya dandanan mereka, aku hanya bisa tersenyum dan meminta maaf.


Aku membuka pintu karena ingin menghindari ocehan-ocehan dua teman gilaku yang tiada hentinya, dan ternyata dia sudah didepan pintu entah sejak kapan.


"Zaki?"


Mendengar nama itu keluar dari mulutku, Sasi dan Fara langsung buru-buru menimbulkan kepala dari balik pintu.


"Beneran Zaki, Ay?"


"Mana Zaki mana?"


Mereka berdua heboh dibelakangku. Aduh mereka ini! Membuat aku malu saja.


Aku tersenyum kaku karena malu. Kira-kira apa ya yang sedang dipikirkan Zaki setelah melihat Sasi dan Fara yang kentara begitu tak sabaran.


"Hai." Sapa Zaki ramah dengan senyuman tercetak dibibinya. Ini tak sesuai dugaanku.


Tanpa sungkan mereka segera membalas menyapa,


"Hai."


"Hallo."


Zaki terkekeh pelan entah karena apa? Apakah karena menertawakan tingkah dua temanku yang konyol? Atau dia malah sedang menertawakan aku yang tidak bisa berkutik dengan senyum kaku yang terus aku pertahankan?


"Aku Zaki, temannya Ayri." Katanya dengan nada hangat.


"Aku Fara teman Ayri juga."


"Kalau aku Sasi. Tadinya aku bukan teman satu kamar Ayri dan Fara, tapi sekarang kita teman satu kamar. Hehe..." Kata Sasi kental dengan kebiasaannya yang heboh dan cengengesan.


"Makasih udah jadi temannya Ayri." Kata Zaki.


"Iya kami berteman dengan Ayri. Jadi teman Ayri adalah teman kami juga, kan?" Seloroh Sasi tanpa rem.


Ctak! Lagi. Fara menjentikkan jari pada kening Sasi.


"Jaim dikit dong jadi cewek! Udah tahu dia milik teman sendiri masih mau digodain?" Omel Fara pada Sasi.


Kenapa Fara harus bilang tentang dia milik siapa? Mereka ini kapan berhenti mempermalukan aku? Jangan-jangan setelah ini Zaki akan beranggapan bahwa aku sudah cerita macam-macam tentang dirinya pada dua temanku ini.


"Iya. Teman Ayri temanku juga. Jadi kita juga teman." Kata Zaki renyah. Sontak Sasi ingin berjingkrak jika saja tak mendapat pelototan dari Fara.


"Aku boleh ajak Ayri pergi sekarang?" Tanya Zaki. Akhirnya sebentar lagi aku akan terbebas dari dua teman gilaku ini.


"Ah iya iya boleh, silakan." Kata Sasi lagi.


"Udah bisa pergi sekarang?" Tanya Zaki yang ditujukan padaku.


Aku mengangguk. "Iya."


Zaki menangkap pergelangan tanganku dan menggenggamnya lembut. Aku terkejut dan malu.


Ini didepan kedua temanku tetapi Zaki tanpa ragu menggandengku? Ah, mungkin pipiku memerah sekarang, seiring degup jantungku yang menggila.


"Kami pergi dulu ya." Pamit Zaki. Aku masih diam tak bersuara. Aku sibuk mengondisikan perasaanku sendiri.


"Iya. Tolong jagain Ayri baik-baik ya." Kata Sasi. Zaki hanya mengangguk untuk menjawab.


"Ay, hati-hati. Jangan pulang terlalu larut." Pesan Fara. Ah ini yang aku suka dari Fara, dia dewasa, dia tetap perhatian padaku meskipun sebelumnya menggodaku habis-habisan. Tidak seperti Sasi yang malah seperti ingin menjerumuskan aku.


Haha..tapi aku sayang mereka berdua. Mereka teman pertama yang aku dapat setelah tinggal di desa Angin ini. Semoga pertemanan kami langgeng.


*****


"Kok bisa tahu nomor kamar ku?" Tanyaku pada Zaki yang sedang menyalakan mesin.


"Aku nggak tahu." Balas Zaki.


"Lah itu tadi kamu didepan pintu?"


"Aku cuma ngikutin feeling-ku aja. Ternyata bener. Benar-benar kita terhubung."


"Terhubung?" Balasku tak mengerti.


Lagi-lagi Zaki menggeleng, memilih tak menjawab.


"Kita cari sarapan dulu, oke?"


"Iya."

__ADS_1


"Kamu nggak alergi sama makanan yang dijual dipinggir jalan, kan?" Tanya Zaki terdengar khawatir.


Aku menggeleng. "Aku juga cuma mampu beli jajanan dipinggir jalan selama ini. Aku cuma nggak bisa makan lada, udah." Kataku menjelaskan.


"Oke kalau gitu. Kita kesana sekarang."


*****


Zaki memberhentikan mobilnya agak jauh dari penjual-penjual itu berjualan, kemudian dia turun dan membukakan pintu untukku. Sebenarnya aku bisa saja membuka pintu itu sendiri, aku sama sekali tidak memaksa dia melakukan hal ini. Tapi justru Zaki yang memaksa agar dia yang membukakan pintu untukku.


Zaki memimpin jalan dan aku hanya mengekor.


Zaki berhenti, kemudian menghadapku.


"Makan disini mau?" Tanya Zaki menunjuk salah satu pedagang yang di depannya tertulis tulisan bubur ayam lengkap dengan gambar semangkuk bubur ayam yang dibuat semenarik mungkin.


"Bubur ayam?"


"Iya, nggak mau?"


"Kamu mau?" Aku kembali bertanya.


"Kalau kamu keberatan kita bisa cari yang lain."


"Maaf, tapi sebenarnya aku nggak suka bubur ayam."


"Kalau bubur kacang hijau mau?" Tanya Zaki lagi.


Aku mempertimbangkan saran Zaki.


"Kalau mau, disana ada yang jualan bubur kacang hijau." Zaki menunjuk salah satu kedai yang agak jauh dari tempat kita berdiri.


Aku mengikuti arah pandang Zaki dan aku menemukan kedai itu. Tapi aku malah tertarik pada penjualan lesehan yang disebelahnya.


"Zak, kamu nggak doyan ketoprak, ya?" Tanyaku yang tak lama kemudian mendapati Zaki malah tertawa.


"Kamu suka ketoprak?"


Aku ragu untuk mengangguk atau menggeleng. Aku takut jawabanku akan menghambat sarapan pagi ini dan menguras kesabaran Zaki.


"Ayo kesana." Zaki menarikku menuju penjual ketoprak yang tadi aku maksud.


"Pak, saya pesan dua ya." Zaki memesan pada penjualannya.


"Baik mas. Komplit semua?"


"Yang satu nggak pakai tahu" kata Zaki. Dan tak selang berapa detik aku langsung menambahi.


"Nggak pakai tahu semua ya, pak."


Zaki menatapku dengan senyum miring.


"Sama teh manis hangat dua, pak." Zaki menambah pesanan.


"Baik mba, mas, silakan duduk dulu dan tunggu,"


"Terimakasih, pak." Kemudian Zaki mengajakku duduk disalah satu meja yang agak jah dari kebanyakan orang yang juga sedang makan ketoprak.


"Kok sama?" Tanya Zaki.


"Apanya?"


"Nggak pakai tahu." Kata Zaki. Aku membalasnya dengan mengangkat bahu, kemudian kami tertawa bersama.


"Aku sama Zian lumayan sering makan disini. Aku pikir kamu nggak bakalan suka sama makanan semacam ini. Makanya aku nggak kepikiran ngajak kamu kesini."


"Aku lebih suka ketoprak daripada harus makan bubur ayam. Aku kalau sakit aja nggak mau makan bubur apalagi yang masih sehat gini. Aku nggak suka makan makanan orang sakit." Jelasku.


Zaki terkekeh. "Bukan makanan orang sakit, tapi biasanya orang sakit memang susah untuk makan jadi dikasih bubur supaya bisa langsung telan."


"Iya iya." Balasku menyudahi pembicaraan tentang bubur.


"Aku suka banyakin kerupuknya kalau makan ketoprak." Kata Zaki.


"Kalau aku sih sesuai porsi aja, tapi sukanya dikremes, biar nggak repot gigit." Aku ikut berpendapat.


Tak lama pesanan kami datang. Aku sudah tak sabar untuk mencicipinya, karena aku bahkan lupa kapan terakhir kali makan ketoprak. Aku sudah membayangkan rasa sambal kacangnya yang menggugah selera.


Aku mengambil satu gelas berisi teh hangat pesanan kami tadi, namun Zaki menahan satu tanganku ketika aku hendak minum.


"Untuk hari ini, tolong jangan bahas masalah yang nggak kelihatan, oke?"


*****

__ADS_1


__ADS_2