
Aku senang Zaki mau jujur padaku tentang perasaannya. Itu berarti Zian benar, Zaki memang menyukaiku. Untuk itu aku harus berterimakasih pada Zian juga. Berkat dia, aku jadi tahu perasaan Zaki yang sebenarnya.
Zaki bilang dia menyukaiku sejak pertama kita bertemu. Apakah itu termasuk cinta pada pandangan pertama? Kalau dipikir-pikir ini lucu jika memang Zaki mengalami cinta pada pandangan pertama. Aku pikir Zaki pasti memiliki banyak teman perempuan. Apalagi teman-temannya sudah pasti lebih baik dariku. Seperti teman kantor misalnya, mereka lebih berpendidikan dibandingkan aku, bukan?
Ah, aku sangat bahagia sampai aku tak bisa berkata apapun tadi. Karena melihatku hanya diam saja Zaki mengajakku melanjutkan perjalanan.
Zaki mengira aku diam karena aku masih marah padanya, padahal sebenarnya aku terlalu gugup, makanya aku tak berani mengeluarkan suara. Takut belepotan kalau aku bicara.
Drrtt. Drrtt. Drrtt.
Ponsel Zaki bergetar. Zaki meraih ponselnya dsri saku mantera lalu memberikannya padaku.
"Tolong angkat telponnya." Kata Zaki.
Aku pun menurut, mengangkat panggilan masuk dari Zian.
"Kenapa nggak mati aja sekalian sih, daripada bangun langsung kabur. Nggak tahu yang nungguin orang tidur sampai berakar, tahu-tahu ditinggalin tanpa kabar." Zian langsung mengomel ketika telepon tersambung.
"Pfft..." Aku tertawa. Zian sangat lucu.
"Halo, Zak. Kok suaramu mirip cewek?"
"Ini aku Ayri, Zian."
"Ayri? Kamu nggak papa?"
"Aku nggak papa."
"Tadi Zaki begitu bangun langsung cari kamu, kupikir kamu juga hibernasi kayak dia."
Aku tertawa mendengar kata-kata perumpamaan dari Zian.
"Iya aku juga tidur kayak Zaki, Zi. Tapi sekarang aku udah nggak papa kok."
"Syukurlah kalau gitu. Oh ya, Zaki dimana kok kamu yang angkat telpon?"
Aku melirik pada Zaki. "Disini. Dia lagi nyetir makanya aku yang angkat telpon."
"Oke baik. Kalian pergi jalan-jalan kah? Tadi aku ke kost mu dan kalian nggak ada disana."
Aku menjauhkan ponsel Zaki dari telingaku lalu menekan tombol loud speaker.
"Aku dibawa pulang orang tuaku waktu masih pingsan, jadi Zaki menyusulku ke kampung halamanku."
"Ha? Pantas seharian nggak kasih kabar itu anak."
"Aku baru pergi sehari dan kamu udah kalang kabut kayak ibu kehilangan anak gadisnya." Zaki menjawab tanpa mendekatkan ponselnya, ia hanya lebih mengeraskan suaranya.
"Sial! Gara-gara kamu aku diserang banyak pertanyaan sama teman-teman Ayri waktu aku kesana. Dia kira aku ini kamu." Umpat Zian tak santai.
"Bagus dong. Kalau mereka tahu kamu bukan aku mereka pasti akan lebih banyak tanya lagi, tau mungkin mereka akan minta nomor handphone kamu, id line kamu, sosial media kamu."
"Iya juga." Balas Zian singkat.
"Serius kamu datang ke kost, Zi?"
"Serius lah, Ayri. Aku mencemaskan kalian. Tapi yang kutemui cuma teman-teman kamu yang cerewet banget, aku pusing dengarnya."
"Hahaha... I know, dan aku bisa bayangin sih."
"Tapi syukurlah kalian baik-baik aja. Tapi kalian masih normal kan walaupun lama berkeliaran di dunia hantu?"
"Kami masih normal, Zian. Kami nggak jadi gila tiba-tiba." Balasku.
"Hahaha... Oke-oke. Kalian masih dimana? Masih jauh?"
"Nggak terlalu jauh. Kami sebentar lagi sampai."
"Baiklah, kalau gitu kalian hati-hati dijalan. Aku tutup dulu."
__ADS_1
"Iya, terimakasih."
Dengan begitu telepon terputus.
"Waktu itu Zian bilang akan cari aku kalau kamu tidur lagi, tapi ternyata aku juga tidur sama kayak kamu, pasti dia panik banget sih." Kataku.
"Ya, pasti. Begitupun orang tua kamu. Lihat Mama kamu aku sebenarnya nggak tega bawa kamu pergi lagi, tapi mau gimana lagi, kita nggak punya pilihan."
"Ya. Sebenarnya aku juga sedih tapi semoga ini yang terbaik. Aku nggak mau menyeret mereka dalam bahaya walau sekecil apapun."
"Semoga kita cepat dapat petunjuk supaya kita bisa cepat selesaikan ini semua."
"Semoga. Aku juga akan coba tanya ke Elsa kalau ketemu."
"Ya. Tapi untuk saat ini kita harus lebih hati-hati kalau kita nggak lagi bareng."
"Baik."
*****
Sekitar satu jam kemudian akhirnya kami sampai di kota tujuan. Zaki langsung mengantarku ke kost.
Sampai disana kami tidak langsung turun. Lebih tepatnya Zaki menahan ku untuk tidak turun.
"Aku kerepotan karena nggak punya nomor handphone kamu, boleh aku minta nomor handphone kamu?" Tanya Zaki.
Oh akhirnya Zaki membutuhkan alat komunikasi lain selain hubungan yang selalu ia banggakan.
"Kenapa nggak boleh?" Balasku.
"Ini." Zaki meyerahkan ponselnya. Aku menerimanya.
Aku membuka kunci layar dan aku baru tahu kalau wallpaper layar utama ponsel Zaki adalah fotoku saat kami pergi ke danau. Waktu pertama kali kami jalan berdua. Aku mengulum senyum.
Setelah mengetikkan nomorku aku mengembalikan ponsel itu. Zaki lalu mengotak-atik ponselnya sebentar mungkin sedang memberi nama pada nomorku tadi.
"Sejak kapan?" Tanyaku random.
"Wallpaper itu." Tanyaku malu-malu. Aku menunduk tak berani melihat Zaki atau Zaki akan melihat rona di pipiku.
"Sejak hari dimana foto itu diambil." Kata Zaki santai.
Zaki bersikap terlalu santai, apakah ia tak tahu betapa gugupnya aku sekarang?
Kemudian Zaki menyentuh puncak kepalaku dan mengacak rambutku pelan.
"Ayo turun. Aku antar kamu sampai depan kamarmu." Kata Zaki. Aku pun segera turun, begitu juga dengan Zaki.
"Kalau malam gini disini kayak hutan ya." Celetuk Zaki.
"Memang. Apalagi kalau mati lampu, sangat menyeramkan."
"Bisa dibayangkan. Apalagi disini isinya cewek-cewek semua, pasti pada berisik banget kan tuh."
"Ya begitulah." Kataku sambil melangkah masuk ke teras kamarku. Aku berbalik badan untuk berhadap-hadapan dengan Zaki.
"Terimakasih untuk semuanya." Kataku.
"Ya." Zaki tersenyum hangat, aku pun membalas senyumannya.
"Ay," Panggil Zaki.
"Ya?"
"Soal rahasia berasku tadi, gimana pendapat kamu?" Tanya Zaki.
"Ha? Pe-pendapat apa?"
Zaki maju selangkah dan mencubit hidungku.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, apa kamu juga memiliki perasaan yang sama?" Tanya Zaki sedikit menunduk agar dapat menyetarakan wajah kami.
"I-iya." Kataku gugup.
"Iya apa?"
"Ya tadi kamu tanya apa, ya iya." Aku semakin gugup.
"Iya kamu mencintaiku, Ayri?"
Sial! Aku sudah sangat gugup tapi Zaki terus menanyakan pertanyaan yang sama berkali-kali.
"Iya aku juga mencintaimu, Zaki." Kataku sangat cepat.
Zaki mengacak rambutku lagi lalu berkata sangat lembut. "Terimakasih sudah bersedia mencintaiku."
Aku tak membalas. Aku semakin menenggelamkan wajahku karena aku sudah sangat gugup dan malu bercampur bahagia.
"Ay." Panggil Zaki lagi.
"Apa lagi?"
"Tadi aku cium kamu dan kamu marah karena kita belum jelas. Kalau sekarang kita udah jelas mengenai hubungan kita. Sekarang aku boleh cium kamu nggak?" Kata Zaki sama sekali tak mempedulikan aku yang sudah sangat gugup.
Apa dia gila? Kenapa harus menanyakan hal itu padahal sebelum kami resmi berpacaran dia justru tak meminta izin lebih dulu.
"B-bo-boleh."
"Beneran boleh?" Lagi-lagi Zaki bertanya hal yang sama berkali-kali.
"Jangan tanya lagi atau aku akan berubah piki_"
Cup!
Belum sampai aku menyelesaikan kalimatku Zaki lebih dulu menyerang bibirku.
Zaki melakukannya dengan sangat lembut hingga tanpa sadar aku bukan hanya menikmatinya namun aku juga membalas ciumannya tanpa paksaan sedikitpun. Aku membuka mulutku, membiarkan Zaki menelusupkan lidahnya kedalam rongga mulutku. Sesekali Zaki menggigit bibirku pelan, entah mengapa aku menyukainya.
Ciuman pertamaku aku melakukannya dengan Zaki. Ya, ciuman pertamaku adalah dengan Zaki di rest area tadi. Namun ciuman pertama setelah kami berpacaran adalah saat ini. Semoga aku tak salah memilih orang untuk mengambil ciuman pertamaku.
Sungguh, meskipun napasku sudah mulai habis tapi aku enggan melepaskan pugatan kami. Ah, Zaki membuatku gila. Aku semakin hanyut dalam ciuman kami. Hingga tiba-tiba muncul suara
Ceklek.
Kamipun sama-sama mundur saling menjauh. Tak lama kemudian pintu kamar kost ku terbuka.
"Ayri!" Fara dan Sasi keluar dan langsung memelukku sangat erat. Untungnya aku dan Zaki bergerak cepat tadi. Semoga mereka tak melihat adegan kami tadi.
Aku pikir pada sepertiga malam seperti ini mereka sudah tidur, sama sekali tak menyangka mereka akan keluar.
"Kami merindukan kamu, Ayri."
"Kamu baik-baik aja, kan?"
Ah, mereka pasti orang yang paling mencemaskan aku diantara teman-temanku disini.
"Terimakasih untuk perhatian kalian. Aku baik-baik aja sekarang."
"Syukurlah."
"Em..kalau gitu aku pulang dulu ya." Pamit Zaki. Kupikir dia tak mau mengganggu moment para gadis.
"Terimakasih udah antar Ayri kesini." Kata Sasi.
"Iya, nggak masalah."
"Ay, aku pulang dulu."
"Hati-hati."
__ADS_1
*****