
Malam ini aku, Fara, dan Sasi berencana tidur lebih awal. Untuk bercerita tidak seantusias ketika awal-awal bekerja. Lama-lama juga bosan setiap hari bercerita tentang itu- saja, bukan?
Sasi dan Fara cekikikan memainkan ponsel mereka. Mungkin mereka sedang berkabar dengan teman dikampung halamannya, atau sama pacar, mungkin.
Sedangkan aku menatap ponselku yang tak ada notifikasi pesan atau semacamnya. Hanya ada satu pesan yang entah sejak kapan belum aku buka. Aku malah tak berniat membukanya.
Adalah pesan dari seorang teman masa kecilku, yang tiba-tiba membicarakan hal-hal aneh yang membuatku tak berselera untuk menanggapinya. Akan aku ceritakan di lain waktu. Jika waktunya tepat.
"Aku tidur dulu ya, mba-mba." Kata Sasi.
"Aku juga udah mau tidur, nih." Kataku menambahi.
"Iya kalian duluan aja, deh. Aku nggak lama lagi nyusul kalian di mimpi, oke."
"Iya deh." Kataku dan Sasi bersamaan.
Aku memandang langit-langit kamar. Lampu sudah dimatikan, namun Fara masih bersuara. Dia sedang menelpon.
*****
Mataku dipaksa agar terbuka, telapak kakiku terasa ditiup-tiup, atau semacam diterpa angin.
Aku membuka mata dengan sedikit tersentak. Didepan jendela kamarku ada seorang gadis cilik terus menatapku. Dari tatapannya aku dapat merasakan kesedihan yang ia pendam.
Jika kuperkirakan, gadis itu masih berusia sembilan atau sepuluh tahun. Dia memakai gaun model China, bercorak batik, berwarna pink muda. Rambutnya diikat dua khas anak kecil, dan dipercantik dengan pita warna senada dengan gaunnya. Ditangannya memegang sebuah kaca besar. Kaca itu pecah-pecah. Ah tidak. Kaca itu retak-retak.
Melihat kaca yang dibawa gadis kecil itu, tergambar jelas bagaiman wajah rumah kost ini, rumah kost sebelum direnovasi.
Oh, ternyata rumah kost ini adalah rumah lama yang direnovasi.
Rumah ini dulunya juga adalah kost-kostan. Namun yang dapat aku lihat adalah, rumah ini sudah tak berpenghuni. Kemungkinan sudah sangat lama tak dihuni, melihat bagaiman berantakannya keadaan disana.
Tak ada kamar mandi di masing-masing kamar. Kamar mandi untuk bersama terletak di sebelah pos penjagaan.
Lumut-lumut hijau tumbuh di dinding-dinding teras. Sekat antar satu kamar dan kamar sebelahnya hanya sebatas pinggang, tidak seperti sekarang yang hampir setinggi diriku. Pohon-pohon rimbun tak beraturan, menampilkan sisi seram. Dan ya, kaca jendela kamar yang aku tempati telah retak.
Ya Tuhan! Apa aku sedang diperlihatkan pada masa lalu? Apakah aku akan terus dihantui seperti ini?
Ini terlihat nyata!
Gadis itu masih menatapku tanpa berkedip.
__ADS_1
Yang awalnya aku melihat kasihan padanya, kini aku justru merasa tertekan hanya karena tatapannya. Apa yang dia mau dariku?
Pergerakanku terkunci. Aku tak tau sejak kapan aku tak bisa bergerak, tapi kenyataannya sekarang aku tak bisa menggerakkan bagian tubuhku.
Aku takut. Keringat dingin mengalir. Aku tak bisa menahan diriku sendiri. Aku sudah tidak kuat. Aku merasa hampir tumbang. Tubuhku gemetar hebat. Nafasku memburu.
Aku ketakutan dan tidak bisa melarikan diri. Bagaimana nasibku setelah ini? Apakah aku akan mati disini, dalam keadaan seperti ini?
Ya Tuhan. Selamatkan diriku.
Ketika aku masih ketakutan dan tak tau lagi bagaiman aku akan berakhir, tiba-tiba muncul seorang berjubah dengan warna, corak, dan model yang sama dengan gadis itu. Namun kepalanya tertutup tudung jubahnya. Jika aku bisa melihat wajah cantik sang gadis kecil, namun aku tidak bisa melihat bagaimana rupa seorang dewasa yang muncul dibelakang gadis itu. Dari postur tubuhnya aku meyakini dia juga perempuan. Perkiraanku dia ibu atau kakak perempuan gadis kecil itu.
Gadis kecil itu berpaling memandang gadis dewasa yang berdiri dibelakangnya. Selanjutnya dia ditarik menjauh dariku. Sepeti anak kecil yang tidak mau diajak pulang ketika sedang bermain, gadis kecil itu terus menatapku seolah dia mengajakku untuk ikut bersamanya.
Air mataku mengalir. Aku menggeleng sekuat tenaga, tapi kenyataannya aku tak dapat bergerak sama sekali.
Nafasku berubah semakin sesak, sangat sesak.
Dadaku naik turun tak beraturan. Mataku memanas seiring air mata yang terus membanjiri pipiku.
Aku menangis tersedu. Dalam hati aku memanggil mama, sembari aku terus memohon pertolongan-Nya.
Dua makhluk itu terus berjalan menjauh dariku. Dan ketika mereka menghilang dari pandanganku, aku tersentak seperti nyawaku yang berkelana entah kemana tiba-tiba kembali menyatu dengan ragaku.
Tidak! Itu bukan mimpi. Aku ingat aku sama sekali belum tidur. Aku bahkan masih mendengar Fara yang sedang mengobrol lewat sambungan telepon.
Jadi apa yang sebenarnya terjadi?
Apakah aku yang salah ingat? Apakah itu hanya sebuah mimpi?
Tidak! Aku tidak yakin jika itu mimpi.
Aku bergegas mendekati jendela kamarku. Dengan mengumpulkan keberanian, aku menyentuh kaca tersebut. Dan gambaran mimpi tadi langsung terlintas di pikiranku.
Itu benar. Itu nyata. Itu bukan mimpi. Aku memang diperlihatkan pada masa lalu.
Aku mengatur nafas dalam berkali-kali. Membuang semua kecemasan.
Tak masalah aku diperlihatkan tentang masa lalu. Permintaanku, jangan ada masalah apapun kedepannya. Jangan pernah ada lagi gangguan. Tak masalah mereka ingin aku mengetahui keberadaan mereka. Asal mereka jangan membuatku terganggu, apalagi membuatku takut.
Aku akan tanyakan pada mas Andi bagaiman asal-usul kost-kostan ini sebelum direnovasi, besok.
__ADS_1
Tak lama kemudian aku mendengar suara adzan subuh. Aku bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Tak butuh waktu lama untuk mandi. Dan setelah mengambil air wudhu, aku segera melaksanakan kewajibanku.
*****
Pukul setengah enam aku sudah berjalan menuju tempatku bekerja.
Aku terus berjalan dengan cepat tanpa fokus pada jalanku. Yang ada dipikiranku saat ini adalah menemui Zaki.
Sial! Ternyata mereka benar-benar ada didepan kamarku. Mereka ada disana ketika aku membuka pintu tadi, namun aku sudah memutuskan untuk menemui Zaki secepatnya. Jadi aku tak menghiraukan keberadaan mereka, walaupun sebenarnya aku sendiri gemetaran.
Aku memasuki gerbang perusahaan. Security yang kebetulan bertugas jaga malam pun melihat heran kearahku. Namun aku memilih mengangguk sopan dan tersenyum.
Samar-samar aku mendengar seorang menyerukan namaku. Tapi aku belum menemukan pemilik suara itu, jadi aku melanjutkan berjalan menuju bawah tangga, tempat yang dijanjikan Zaki untuk bertemu pagi ini.
"Ayri!" Tanganku menghantam sesuatu.
Oh, bukan! Tepatnya tanganku ditangkap oleh Zaki.
Apakah dia benar-benar Zaki?
"Kamu bukan hantu kan, Zak?"
Zaki menaikkan satu alisnya.
Zaki menggenggam tanganku. "Apa tanganku sedingin itu? Apa kakiku nggak menginjak tanah? Apa ada lubang di punggungku?" Zaki melihat mataku intim. Dari sana aku sadar bahwa sesuatu ada yang berbeda. Darahku mengalir lebih kencang. Jantungku bekerja lebih keras. Dan...
Yang bisa kulakukan saat ini adalah menghambur memeluk Zaki erat. Aku mencari ketenangan dengan menghirup aroma memabukkan dari diri Zaki. Aku tidak peduli jika ada yang melihat. Aku tidak peduli tentang apa yang akan dipikirkan Zaki terhadapku. Aku tidak peduli semua itu. Aku hanya butuh Zaki.
Dan beruntungnya Zaki membalas pelukanku. Zaki mendekapku lebih erat. Dia merengkuhku dan menyalurkan kekuatannya padaku. Aku menangis. Aku membasahi bahunya. Aku mengotori bajunya, namun Zaki seolah tak peduli. Dia terus mengelus punggungku, terus berusaha agar aku tenang.
"Aku takut, Zaaakkk. Aku takuuut."
*****
Udah lah segini dulu aja 😁✌️
Btw, apa pendapat kalian tentang Zaki dan Ayri? Kenapa Zaki bisa selalu ada kapanpun Ayri butuh? Ada yang bisa nebak nggak?
Oke tuk main tebak-tebakan. Tulis jawaban kamu di kolom komentar ya gaiisss.. jangan lupa klik suka. Terimakasih banyak sebelumnya.
Jaga kesehatan kalian selalu. Sering-seribg cuci tangan pake sabun. Dan jangan lupa berjemur.
__ADS_1
😉😉
See yaaa...