
"Zaki!" Pekikku lalu menutup mulutku rapat.
Napasku memburu, aku semakin ketakutan. Aku berjongkok dan menunduk, semoga si raksasa tak menyadari keberadaanku.
Namun naas, si gorila itu sudah ada didepan ku sekarang, aku bisa melihat kakinya yang besar dan panjang.
Perlahan aku mendongak dengan perasaan teramat takut. Tanpa sadar aku terisak, dadaku sesak susah untuk bernapas.
"Ayri!"
Ya, Zaki juga menyadari bahwa ini aku. Sungguh, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Zaki juga berada ditempat ini?
Hanya satu kata yang bisa aku gambarkan. Takut.
Aku sangat ketakutan. Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat ingin menyelamatkan Zaki, mengambil Zaki dari tangan gorila itu, tapi bagaimana aku bisa melakukan sedangkan aku sendiri merasa mustahil bisa menyelamatkan diriku sendiri.
"AYRI, PERGI! LARI AYRI, LARI!" Teriak Zaki sangat kencang, membuat aku terbangun dari lamunan. Aku sendiri tak sadar bagaimana aku bisa melamun dalam situasi darurat seperti ini.
Bug bug bug!
Gorila itu menghantamkan tubuh Zaki pada dinding batu.
Aku memberanikan diri untuk berteriak "Hentikan! Jangan sakiti dia!"
"Zakiiii!! Zaki tolong bertahan aku mohon, aku akan cari jalan keluar dari sini!"
"Jangan pedulikan aku, Ayri! Cepat lari, pergi dari sini cepat, akh..!"
Seperti meremaas sebuah kertas, gorila itu meremaas tubuh Zaki, membuat Zaki terbatuk-batuk dan otot-otot di wajahnya nampak jelas ia menahan kesakitan. Darah segar keluar begitu saja dari mulut Zaki.
Aku menggeleng kuat, menutup mulutku rapat, air mata terus berderai tak henti-hentinya.
Sakit! Hanya melihat Zaki seperti itu aku bisa merasa sesakit ini, bagaimana dengan Zaki yang mengalami sendiri? Separah apa sakit yang ia derita?
Aku tersentak ketika gorila itu semakin mendekat padaku dan hampir meraih tubuhku. Aku mengelak, berdiri kemudian berlari menjauh sejauh yang aku mampu.
Gorila itu terus mengejarku, tentu saja aku kalah karena satu langkahnya sebanding dengan puluhan langkah kakiku.
Aku tidak tahu tempat ini. Aku tidak tahu aku harus berlari kemana sekarang. Yang bisa aku lakukan hanya berlari dan berusaha menjauh agar tidak tergapai olehnya.
Tentu saja aku mengkhawatirkan Zaki, aku tak berani membayangkan bagaimana nasib Zaki jika terus berada ditangan raksasa itu.
Aku berlari ke arah yang lebih terang, jadi aku pikir disana aku bisa melihat jalan dengan jelas. Namun ternyata aku salah. Aku salah jalan dan ternyata aku sampai di tepi jurang.
Aku bergerak tak menentu, gelisah, cemas, ketakutan, semua aku rasakan. Aku sungguh tak tahu langkah apa yang harus aku ambil. Seakan otakku tak bisa berfungsi, aku tak bisa memikirkan apapun sekarang. Yang ada hanya ketakutan. Ketakutan yang teramat sangat.
Gorila itu terus mendekat padaku, sedangkan aku sudah tak bisa lagi kemana-mana. Selangkah lagi saja aku akan jatuh ke jurang yang terlihat sangat terjal dan suram.
Gorila itu berjongkok dan menunduk, mungkin ia ingin mensejajarkan tinggiku, namun tetap saja aku mendongak agar dapat melihat wajahnya.
Apa yang diinginkan oleh gorila sekarang?
Matanya merah menyala, kemudian ia mengangkat tubuh Zaki, menghadapkannya padaku. Aku dapat melihat jelas bagaimana Zaki yang terkulai lemas.
"Zaki." Lirihku terisak. Ingin sekali aku menariknya dan memeluknya. Sungguh, walaupun akhirnya aku mati disini aku ingin memeluknya sebelum aku benar-benar mati.
"Jangan pe uhuk-uhuk dulikan aku, A uhuk Ayri."
"Nggak, Zak. Aku harus pedulikan kamu. Apapun yang terjadi kamu harus janji untuk bertahan." Suaraku sudah parau karena terus menangis sepanjang waktu.
Zaki tersenyum.
Apa dia gila? Mengapa dia tersenyum? Apa dia pikir ini lelucon?
"Walaupun aku mati, aku akan terus mencarimu di kehidupanku selanjutnya, Zak."
"Dan kamu uhuk pasti menemukanku, Ayri." Balas Zaki sambil tersenyum.
Apa katanya? Apakah dia benar-benar berpikir akan berakhir disini? Seperti ini? Tidak bisakah dia mengucapkan kata-kata yang bisa membuatnya terus bertahan?
__ADS_1
Aku semakin menangis. Apa lagi yang bisa aku lakukan? Zaki pun terdengar pasrah atau bahkan menyerah. Apa jangan-jangan Zaki lebih dulu tersesat di tempat ini dan sekarang dia kelelahan dan tak bisa bertahan lagi?
Aku beranikan diri menatap mata merah api itu.
"Kumohon, lepaskan dia. Kamu bisa menyanderaku sebagai gantinya. Tolong biarkan dia pergi." Aku berusaha bernegosiasi dengan raksasa itu yang bahkan aku tak yakin dia bisa mengerti apa yang aku katakan. Aku tak yakin dia paham bahasa yang kugunakan.
"Ayri, jangan gila! Aku udah bilang jangan pedulikan aku. Apapun yang terjadi kamu harus menyelamatkan diri, itu yang paling penting." Kata Zaki cepat.
Seketika aku teringat ucapan Zaki yang sama persis dengan pagi itu ketika kami sarapan di bawah tangga. Apa ini? Apakah sebenarnya dia sudah memiliki firasat buruk sebelumnya? Kalau benar dia sudah memiliki firasat itu dan tak memberi tahuku, maka aku tak akan memaafkannya dengan mudah.
"Nggak, Zak. Kamu harus mengobati lukamu, kamu harus pulang, jangan biarkan Zian khawatir."
Sebelum Zaki membalas ucapanku, raksasa itu lebih dulu berdiri dan mengangkat tubuh Zaki lebih tinggi.
"Apa yang mau kamu lakukan? Jangan sakiti Zaki lagi." Teriakku pada raksasa yang sedang mengayunkan tubuh Zaki.
Detik berikutnya dia sudah melempar Zaki ke jurang dengan tragis.
"ZAKIIIIII!"
*****
"ZAKIIIIII!"
Aku terduduk seketika. Dan aku berada di sebuah brangkar pada ruangan serba putih.
"Ayri udah bangun."
"Ayri siuman."
"Cepat panggil dokter."
Aku mengamati sekitar, ada Fara dan Sasi di ruangan ini bersamaku. Mendengar mereka menyebut kata Dokter, apakah aku berada di rumah sakit sekarang?
Aku mengamati diriku sendiri. Ternyata aku memang mengenakan pakaian pasien. Jangan lupakan peluh membasahi sekujur tubuhku.
Aku menatap Sasi dan Fara bergantian sebelum bertanya pada mereka. "Sasi, Fara, apa yang terjadi? Dimana aku?"
"Ayri, kamu tiba-tiba pingsan dan kamu udah berada disini selama tiga hari." Jelas Fara.
"Ti-tiga hari? Disini? Dimana ini?"
"Rumah sakit. Selama tiga hari kamu koma, kami sangat khawatir." Sasi tiba-tiba menangis dan tak melepaskan pelukannya.
Aku tiba-tiba pingsan? Tiga hari koma? Lalu kejadian di hutan? Astaga, Zaki!
Aku turun dari brangkar, aku harus ke rumah Zaki. Aku harus memastikan keselamatan Zaki.
"Ayri, apa yang kamu lakukan?"
"Kamu mau kemana, Ayri?"
Sasi dan fara mencegah pergerakanku.
"Aku harus ke rumah Zaki, Zaki sedang dalam bahaya." Kataku gusar. Aku tetap menyingkap selimut dan turun dari tempat tidur.
"Gimana kamu bisa tahu? Kamu sendiri baru siuman, Ay."
"Nona Ayri, tolong kembali ke tempat. Saya akan melakukan pemeriksaan."
"Pemeriksaan apa, Dok? Saya sehat. Saya harus keluar sekarang."
"Nona Ayri, kamu seorang pasien. Kamu harus mantaati peraturan disini. Kamu mau cepat keluar dari sini? Biar saya periksa sebentar untuk mengetahui apakah kamu boleh keluar atau tidak." Kata dokter tersebut. Nadanya tegas. Aku tak bisa menolak.
Aku berbaring di tempat tidur, dokter itu langsung melakukan pemeriksaan seperti yang ia katakan.
Dokter itu mengerutkan kening. "Ini sebuah keajaiban. Nona Ayri sepenuhnya sembuh, semuanya normal."
"Syukurlah."
__ADS_1
Sasi dan Fara langsung menampakkan raut kelegaan. Aku merasa bersalah karena terus membuat mereka mengkhawatirkan aku setiap waktu.
"Saya sudah boleh keluar kan, Dok? Saya harus pergi ke suatu tempat."
"Boleh, tapi kamu tetap harus menyelesaikan_"
"Teman-teman saya yang akan urus itu untuk saya. Sas, Fa, tolong selesaikan masalah disini. Aku nggak bisa tunggu lebih lama lagi."
"Tapi Ay,"
"Fara, please."
"Oke. Tapi kamu yakin mau pergi sendiri?"
"Aku memang harus pergi sendiri, Fara."
Fara membuang napas berat. "Baiklah hati-hati. Kamu berhutang penjelasan."
"Aku mengerti. Terimakasih banyak untuk semuanya."
*****
Setelah mengganti pakaian pasien dengan pakaianku yang di berikan Fara, aku bergegas ke luar rumah sakit.
Aku menyetop taksi dan memintanya mengantarku ke rumah Zaki. Meskipun ini pukul dua dini hari, tapi di area rumah sakit ini cukup ramai, tak sulit untuk mendapatkan sebuah taksi.
Selama perjalanan aku tak bisa tenang, aku terus memikirkan keadaan Zaki. Aku terus berdoa untuk keselamatan Zaki. Tak hentinya aku meminta pak sopir untuk menjalankan mobilnya lebih cepat, tak peduli jika aku dibilang cerewet. Aku sungguh tak bisa tenang.
Akhirnya aku sampai di rumah Zaki. Aku turun dan merogoh saku mencari-cari keberadaan kertas bergambar pahlawan-pahlawan itu, namun tak ada sama sekali. Bodohnya aku tak membawa uang.
"Maaf pak, saya lupa bawa uang. Tolong tunggu sebentar, saya ambil uangnya dulu di dalam."
"Iya mba, nggak papa."
Aku berjalan mendekati pintu dan mengetuknya kencang. Tak lama kemudian seorang membukakan pintu. Aku sangat berharap bahwa seorang itu adalah Zaki, namun kenyataannya itu Zian.
"Ayri?" Kentara sekali Zian terkejut oleh kedatanganku.
"Zi, tolong pinjami aku uang buat bayar taksi. Aku lupa bawa uang." Kataku tanpa basa-basi.
"Ha?" Zian terlihat bingung.
"Sopir taksinya nungguin, Zi."
"Ah i-iya ini aku pinjami. Butuh berapa?" Zian mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku, dengan tak sabar aku langsung menyahut uang itu dan membawanya pada sopir taksi tadi.
"Ini pak ongkosnya, terimakasih banyak."
"Iya mba sama-sama."
Detik berikutnya aku kembali mendekati pintu dan langsung nyelonong masuk tak menghiraukan Zian yang menatapku penuh heran.
"Jam segini kesini sendirian dan asal nyelonong masuk ke rumah cowok, nggak takut kamu diapa-apain?" Tanya Zian bergurau pada waktu yang salah.
"Dimana Zaki?" Tanyaku, aku terus berjalan mengitari rumah Zaki. Dan Zian terus mengikuti dari belakang tanpa mengeluarkan suara lagi. Dia jadi pendiam, tak cerewet seperti biasanya.
Aku sampai di depan kamar Zaki, dengan lancangnya aku membuka pintu itu dan Zaki tak ada di kamarnya.
"Zaki dimana, Zi?" Tanyaku lagi. Zian tetap diam tak menjawab.
"Zaki dimana, Zian?" Tanyaku lagi setengah teriak.
"Dia..." Zian menggigit bibirnya. Rautnya berubah menyedihkan. Lingkungan hitam tercetak jelas di sekitar mata Zian. Apakah dia kurang tidur? Apa benar terjadi sesuatu pada Zaki?
"Bilang Zi, dimana Zaki?"
"Dia udah nggak ada, Ay."
*****
__ADS_1