Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 36 - BODO AMAT


__ADS_3

"Kami senang banget kamu baik-baik aja, Ay." Kata Fara setelah kami masuk kedalam kamar.


"Iya apalagi kamu udah balik kesini, syukurlah kita bisa berkumpul lagi, Ay." Imbuh Sasi.


"Ini juga berkat doa dari kalian. Terimakasih banyak Sasi, Fara, kalian terbaik." Aku merangkul mereka berdua dan mereka balas memelukku.


"Kemarin Zaki kesini loh cariin kamu, Ay. Dia kelihatan panik banget gitu. Duh aku jadi iri deh sama kamu." Cerita Sasi.


Aku tersenyum. Mungkin yang dimaksud Sasi itu Zian.


"Iya, tadi aku udah di kasih tahu kok. Zaki nyusulin aku ke kampung jadinya."


"Serius? Ketemu orang tua kamu dong?" Tanya Sasi heboh seperti biasanya.


"Ya iya lah. Dia yang minta aku balik kesini juga."


"Waaahhh so sweet banget sih. Orang tua kamu bolehin gitu aja?"


"Tadinya Mama nggak bolehin, tapi akhirnya aku disini sekarang."


"Orang tua kamu udah restuin kalian?" Tanya Fara.


"Ha? Re-restuin apa?"


"Ya restuin hubungan kalian lah, Zaki sampai datang jemput kamu dan menghadap orang tua kamu langsung loh."


"Apa sih? Hubungan apa?"


"Kok hubungan apa? Ya hubungan kamu sama Zaki lah." Kata Fara.


"Kami lihat kalian loh tadi." Tambah Sasi sambil memperagakan kedua tangannya saling mengatup.


Serius mereka melihat kami? Sial! Aku benar-benar sial.


Aku sangat malu. Mengapa mereka mengatakannya? Kalau mereka melihatnya mengapa mereka harus mengatakannya padaku? Membuatku semakin malu.


"Ayri," panggil Fara menggodaku.


"Ciee Ayri, malu-malu."


Sial sial sial! Tidak tahukah aku sedang malu sekarang? Sangat malu! Tapi mereka tak berhenti menggodaku. Aku tak mau menanggapi mereka. Aku lebih baik bersembunyi.


"Ayri..."


Aku tak mempedulikan mereka. Aku malas menanggapi mereka. Lebih baik aku menarik selimut untuk menutup diriku dan menyembunyikan pipiku yang sudah sangat merah karena panas.


"Bodo amat!"


*****


"Hai, Ayri." Sapa seorang yang baru saja mendekatiku dan berjalan di sebelahku. Aku sedang berjalan untuk berangkat ke pabrik. Hari ini aku sudah mulai bekerja lagi.


"Hai... Zian?" Kupikir itu Zaki ternyata itu Zian.


Disini mulai ramai oleh para karyawan yang tengah menuju pabrik m, sebagian ada yang mampir membeli sarapan lebih dulu. Jalanan cukup padat oleh pengendara kendaraan bermotor dan juga pejalan kaki.


Zian nyengir kuda ke arahku. "Aku senang kamu baik-baik saja. Kalian hampir membuatku gila."

__ADS_1


Aku tertawa. "Terimakasih perhatiannya. Tapi ngomong-ngomong kamu kenapa bisa ada disini?"


"Bisa dong. Aku kesini mau antar makanan ini buat kamu. Semoga kamu suka. Ini sebagai perayaan kembalinya kalian." Kata Zian riang.


"Hahaha... ada-ada aja kamu, Zi. Kalau gitu makasih banyak ya."


"You're welcome."


"Kalau gitu aku pergi dulu, Zaki ada di belakang." Zian menunjuk kebelakang menggunakan ibu jari, memberitahukan keberadaan Zaki. Dibelakang sana Zaki tersenyum tipis.


"Bye, Ayri."


"Bye, Zi." Kemudian Zian pergi. Detik berikutnya Zaki sudah ada di sebelahku.


"Kenapa nggak bareng-bareng? Malah sendiri-sendiri gitu kayak lagi musuhan." Tanyaku pada Zaki.


"Dia bilang mau ngobrol berdua sama kamu."


"Aneh-aneh aja si Zian tuh."


Kami masuk melewati pintu gerbang pabrik bersama. Ini pertama kalinya, karena biasanya kami selalu bertemu didalam bukan diluar gerbang.


"Pagi Pak Aan, pagi Pak Pur." Sapa Zaki ramah.


"Pagi Pak Zaki." Balas mereka kompak.


Aku baru tahu ternyata Zaki seramah ini. Aku jadi semakin memuji Zaki.


"Selamat pagi pacar." Bisik Zaki tepat di telingaku. Zaki membungkuk dan napasnya langsung menerpa kulitku. Itu membuatku geli dan... Entahlah tak bisa aku jelaskan.


"Pagi." Balasku malu. Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam.


"Aku suka." Kata Zaki random.


"Su-suka apa?"


"Suka lihat kamu malu-malu. Aku gemas." Kata Zaki lagi. Aku tak menjawab.


"Apalagi lihat pipi kamu yang memerah, aku jadi ingin menciumnya."


Aku mengangkat kakiku tinggi-tinggi dan menginjak kaki Zaki kuat-kuat.


"Aww." Aduh Zaki lalu mengibas-ngibaskan kakinya yang tadi aku injak.


"Kok tiba-tiba jahat? Sakit tau!" Gerutu Zaki.


"Itu balasan karena kamu sembarangan ngomong di tempat umum."


"Oke-oke aku minta maaf. Kalau gitu lain kali aku akan ajak kamu ke tempat yang sepi."


"Ngapain?"


"Biar bisa puas bermesraan, karena kemesraan kita bukan untuk konsumsi umum."


Sekali lagi aku menginjak kaki Zaki, kali ini lebih kuat dari yang sebelumnya.


"Aduh sakit sakit, Ay."

__ADS_1


"Bodo amat!" Kataku lalu berjalan lebih cepat dan meninggalkan Zaki yang masih mengurus kakinya yang sakit.


*****


"Aku baru tahu ternyata perusahaan juga mempekerjakan orang yang sakit-sakitan." Kata kak Sari tepat di sampingku. Aku sadar bahwa ia tengah menyindirku.


Saat ini kamu baru saja masuk kedalam ruang produksi setelah beberapa detik lalu lonceng tanda jam kerja disuarakan.


"Situ nggak kapok disamperin pak Zaki, masih mau bikin gara-gara lagi kah?" Ketus kak Mutya seraya tersenyum miring.


Kaka Sari seakan kehilangan kata-kata, ia pergi begitu saja tanpa menjawab sepatah katapun setelah kak Mutya selesai bicara. Kak Sari pergi sambil mendengus kesal. Kak Febi hanya mengikuti dari belakang tanpa bersuara.


"Lawan aja. Dia mah nggak perlu di takutin." Kata kak Mutya.


"Iya, Kak, makasih banyak."


"Iya, ya udah sana ke tempatmu. Kayaknya kamu harus bekerja lebih keras karena beberapa hari kamu nggak ada kami selalu keteteran. Kamu cepat kejar keterlambatan kamu ya." Kata kak Mutya menjelaskan.


"Pasti, Kak. Makasih udah mengingatkan."


Kak Mutya mengangguk kemudian pergi diikuti Kak Tata dibelakangnya.


"Ayri, kamu baik-baik aja kan?" Tanya Risa yang datang menghampiriku bersama Eva dan Uci. Ini sudah pertanyaan ke sekian setelah aku bangun dari mimpi burukku.


"Ya aku baik-baik aja."


"Syukurlah. Kami khawatir banget karena kamu nggak masuk-masuk kerja. Sampai kata temanmu kamu dibawa pulang orang tuamu."


"Iya, orang tuaku memang menjemputku untuk pulang. Tapi temanku siapa?"


"Dia bilang dia teman sekamarmu. Dia tinggi dan rambut lurus sebahu." Kata Uci. Mendengar ciri-ciri yang disebutkan aku langsung tahu bahwa itu pasti Fara.


"Oh, iya dia teman sekamarku."


"Syukurlah kamu baik-baik aja. Sekarang ayo kita bekerja keras."


"Oke."


*****


Benar kata kak Mutya. Store tempat pekerjaanku kosong melompong. Tak tersisa satupun. Kurasa mereka memang sangat keteteran. Jadi hari ini aku harus bekerja keras.


Aku mengambil alatku dan segera mengeksekusi pekerjaanku.


Aku harus memproduksi tiap jamnya dua kali lebih banyak dari biasanya supaya aku bisa memenuhi permintaan pada proses selanjutnya.


Aku sedang serius dengan pekerjaanku ketika seorang memanggilku.


"Ayri."


Itu suara Elsa. Beruntung dia datang, kebetulan ada yang ingin aku tanyakan.


Aku mendongak untuk melihat Elsa yang sedikit terbang. Aku terkejut melita melihat perubahan yang mengerikan dari seorang Elsa.


"Elsa, tanganmu..."


*****

__ADS_1


__ADS_2