
"Aku udah memastikannya."
"Memastikan?" Zaki menuntut penjelasan.
"Waktu aku berangkat pagi-pagi banget itu, malamnya aku didatangi mereka. Iya gadis itu bawa kaca retak. Waktu aku melihat mereka, aku juga sekaligus bisa melihat masa lalu." Aku ingin bangun dari dada Zaki namun dia mencegahnya.
"Rumah kost-ku yang dulu sangat berantakan, seperti rumah kosong. Tapi sudah berbentuk kost-kostan seperti sekarang. Ternyata rumah kost yang aku tempati adalah hasil renovasi. Dan sedikit dibuat ada perubahan dari yang lama, seperti sekat teras, dan kamar mandi yang dulu hanya satu, sekarang dibuat ada per-kamar."
"Lalu apa yang sudah dipastikan?" Tanya Zaki tak sabaran.
"Malam berikutnya waktu kami kumpul-kumpul di pelataran kost, aku sengaja ngajak ngobrol mas Andi dan dari sana_"
"Siapa mas Andi?" Tanya Zaki menyela kalimatku.
"Yang jaga kost."
"Oh." Kata Zaki ber-oh namun terdengar dingin.
"Apa ada masalah?" Tanyaku dengan mengerjap-ngerjapkan mata.
"Terusin ceritanya."
"Tadi sampai mana ceritanya?" Tanyaku karena aku lupa.
"Kamu ngobrol sama mas Andi." Ada penekan diakhir kalimat yang dikatakan Zaki.
Aku menghela nafas. Apa lagi salahku kali ini?
"Iya aku tanya seputar kost-kostan itu ke mas Andi. Dari situ aku kepikiran kalau dua orang yang berbaju sama itu ada hubungannya dengan pemilik kost sebelumnya."
Zaki menatapku serius.
"Aku nggak tau gimana tapi pas aku dengar cerita dari mas Andi itu aku langsung kepikiran dua orang berbaju pink itu."
"Oke, tolong ceritain yang lengkap." Pinta Zaki sambil membenahi posisi duduknya.
"Jadi, dulu yang punya kost-kostan itu adiknya pak haji yang rumahnya deket pangkalan ojek, sekitar kost-ku lah pokoknya rumahnya. Nah dia meninggal."
"Siapa yang meninggal?" Tanya Zaki menyela.
"Adiknya pak haji, Zaki. Yang punya kost itu dulu." Kataku geregetan.
"Ohh, iya-iya."
"Nah setelah dia meninggal kost-kostan itu nggak ada yang ngerawat. Jadi kosong selama sekitar lima tahunan deh kayaknya."
"Emang nggak ada sanak saudaranya yang bisa nerusin atau bertanggung jawab untuk kost-kostan itu?"
"Nah itu dia pertanyaanku. Mas Andi bilang pemilik kost itu sebenarnya udah punya istri dan satu anak perempuan. Tapi setelah dia meninggal, istri dan anaknya nggak bisa ditemukan. Nggak ada kabar sampai sekarang."
"Maksud kamu mereka yang berbaju sama adalah istri dan anak pemilik rumah kost kamu sebelumnya?" Tanya Zaki menimang.
"Apa kamu nggak punya firasat itu?" Aku duduk tegak, bangun dari dada Zaki.
Zaki diam. Rautnya mengatakan dia sedang berpikir.
"Tapi, kenapa kamu juga datengin ya, Zak?"
"Kenapa mereka nggak boleh datengin aku?" Zaki malah bergurau disaat serius begini.
"Ih Zakiiii...aku serius!!!!"
"Iya-iya ini serius."
"Ya kenapa mereka juga datengin kamu, kan kalau dipikir-pikir kamu nggak tinggal di rumah kost itu, jadi nggak ada hubungannya."
"Aku emang nggak ada hubungannya sama rumah kost itu, tapi aku mungkin ada hubungannya dengan kamu." Kata Zaki tersenyum miring.
"Bercanda muluuuu... Uhuk uhuk uhuk." Aku terus terbatuk-batuk.
"Ay, kamu kenapa?" Zaki menepuk-nepuk tengkukku.
"To-long minta a-ir ha-ngat." Kataku terbata.
"Ziaaan!" Zaki berteriak tergesa.
Aku mendengar suara derap langkah cepat.
"Apaan?"
"Ambilin air hangat, buruan!"
Aku mendengar derap langkah itu menjauh, dan kemudian mendekat lagi tak selang berapa lama.
"Ini, Ay, minum dulu." Zaki menyerahkan segelas air hangat yang diambilkan Zian tadi.
Aku meminum setengah gelas air hangatnya, memberi jeda beberapa detik sebelum akhirnya aku menghabiskannya.
Batukku yang tadi tak terhenti, kini hanya satu dua. Dan setelah beberapa saat aku berhenti terbatuk. Berhenti total.
Aku melihat Zaki dan Zian melongo dan saling berpandangan.
"Udah gitu doang?" Tanya Zaki.
"Kemana bintik-bintik merah itu tadi?" Tambah Zian.
__ADS_1
Aku mengerti apa maksud mereka.
"Apa ada lada di nasi goreng yang untuk sarapan tadi, Zak?" Tanyaku.
"Iya." Jawab Zaki dengan bingung.
"Aku nggak bisa makan lada, maaf."
"Kamu alergi lada, Ay?"
Aku menggeleng. "Nggak tau. Pokoknya kalau habis makan lada aku pasti batuk-batuk dan muncul bintik-bintik merah kaya yang tadi Zian bilang."
"Itu sih namanya alergi."
"Itu sih namanya alergi, Ayri."
Kata Zian dan Zaki hampir bersamaan.
"Kalau alergi kedengarannya kok parah gitu ya. Kalau aku kan cuma gitu doang, minum air hangat juga udah sembuh." Kataku membela diri.
"Gemes juga aku lama-lama." Kata Zian dengan menunjukkan sikap gemas.
"Maaf aku nggak tanya dulu makanan apa yang biasa kamu makan." Kata Zaki merasa bersalah.
"Kamu udah pernah tanya kok waktu dibawah tangga, tapi aku yang bilang aku nggak pilih-pilih makanan. Aku lupa sama yang satu itu. Maaf."
"Aku pikir 'Ay' itu panggil ayang, ternyata namanya Ayri, to." Kata Zian.
"Pepatah bilang tak kenal maka tak sayang. Kenalin aku Zian." Zian mengulurkan tangan.
"Aku kan udah tahu nama kamu." Kataku. Namun Zian tetap mengulurkan tangannya.
"Ceritanya untuk formalitas aja."
Aku terkekeh sebelum akhirnya menyambut uluran tangannya. "Namaku Ayri."
Ternyata perkiraanku salah tentang mereka yang tidak peduli dengan siapa lawan bicaranya. Benar kata Zaki tadi, bairpun tengil Zian tetap punya prinsip.
"Sekarang kita udah kenal, jadi kamu boleh sayang sama aku." Kata Zian frontal dan mendapat delikan tajam dari Zaki.
"Jangan percaya sama dia sang pemain wanita yang berkedok pecinta wanita." Lagi, aku mendengar satu kalimat itu lagi dari mulut Zian.
"Pemain wanita yang berteriak pemain wanita." Caletuk Zaki menimpali.
"Ayri." Panggil Zian.
"Iya, Zi?
"Nggak papa manggil doang."
"Tadinya emang mau apa-apa, tapi takut sama bocah indigo yang satu ini, takut dipanggilin teman hantunya kesini. Kabooorrr.." Zian kemudian lari terbirit-birit. Aku tertawa hampir terpingkal jika saja Zaki tak bersuara.
"Lama-lama bisa ikutan sableng nih." Zaki memijat pelipisnya.
"Hahahah..." Aku masih belum bisa berhenti tertawa.
"Kamu beneran pernah panggil temen hantu kamu baut nakutin Zian"
"Jangan dengerin omongan dia." Tukas Zaki.
"Ngomong-ngomong, apa Zian nggak bisa liat mereka? Nggak kayak kamu?"
"Enggak. Untungnya dia normal."
Aku mengangguk paham.
"Zak," panggilku.
"Iya, Ayri." Jawabnya begitu lembut. Ah aku merinding mendengar suaranya yang sangat lembut.
"Jadi..." Aku menggantungkan kalimatku.
"Iya?"
"Apa pendapat kamu tentang yang aku ceritain tadi?"
Mendengar pertanyaanku Zaki seperti menerawang ke kejauhan.
"Aku belum bisa memastikan." Katanya pada akhirnya.
"Apa kamu punya feeling kenapa dia juga datengin kamu?"
"Aku nggak tau, Ay, karena setahu aku, aku nggak pernah kenal sama mereka."
Aku mengangguk.
"Zak." Panggilku lagi.
Zaki tersenyum. "Aku harap namaku yang akan paling sering kamu sebut, dibandingkan nama-nama yang lain, apalagi mas Andi."
Apa Zaki sedang cemburu? Kalau iya, ah aku akan sangat senang. Andai aku punya keberanian untuk bertanya mengenai ucapannya barusan. Tapi siapa aku? Bahkan kami baru saja kenal. Atas dasar apa dia cemburu pada hubunganku dan mas Andi?
"Zaki."
"Apa, Ayri?" Zaki menghadapkan dirinya lurus menghadap padaku. Tatapannya tajam namun lembut. Apalagi suaranya selembut kapas. Aku bisa melayang.
__ADS_1
"Jangan tatap aku seperti itu." Aku menunduk.
"Apa?"
"Jangan tatap aku dengan tatapan itu. Aku..."
"Aku apa?"
"Aku...."
"Iya?"
"Aku malu, Zakiiii!!!" Aku mencubit pipi Zaki keras-keras. Namun bukannya berontak, Zaki malah menggenggam kedua tanganku.
"Apa hari ini termasuk jalan-jalan?" Tanya Zaki.
"Aku nggak peduli. Sejujurnya aku cuma butuh ada kamu. Nggak penting dimana tempatnya."
"Kalau gitu, apa malam ini mau bermalam disini?"
Aku menggeleng kuat. "Aku nggak bisa menginap di rumah cowok, apalagi disini ada dua cowok."
"Bagus."
"Apanya?"
"Jawaban kamu." Kata Zaki.
"Jadi kamu cuma mau ngetes aku tadi?"
"Aku bukan ngetes kamu. Tapi aku sedang berusaha mencari tau siapa kamu."
"Terserah." Aku melipat kedua tanganku.
"Jangan abaikan aku." Zaki memohon.
"Jangan pernah abaikan aku lagi, Ayri."
Kenapa ada orang seperti dia? Kenapa aku tidak bisa marah padanya? Kenapa semenyebalkan apapun dia aku tetap selalu memujanya?
"Apa Zian juga kerja seperti kamu? Tadi pagi dia pakai pakaian formal waktu pulang."
"Iya. Dia juga kerja. Beda perusahaan dengan kita tapi masih satu naungan."
"Oh." Aku mengangguk.
"Apa kamu cuma tinggal berdua?"
"Iya."
"Dimana orang tua kalian? Atau kamu merantau sama sepertiku?"
"Ibu dan ayah tinggal nggak jauh dari sini. Kapan-kapan aku pasti ajak kamu menemui mereka."
"I-iya." Kataku gugup.
Apa dia bilang? Mengajakku menemui orang tuanya? Itu hanya sekedar silaturahmi, kan?
"Besok aku jemput kamu disana lagi." Kata Zaki.
Aku menggeleng. "Anterin aku pulang ke kost, besok kamu jemput aku di kost juga."
"Serius? Kamu nggak ada alasan_"
"Nggak ada. Sasi dan Fara sering lihat kita ngobrol didekat pos satpam. Aku bilang pada mereka kalau kamu temanku. Tapi mereka belum pernah liat kamu sebelumnya."
"Oke, deal!" Kata Zaki semangat.
Aku sudah bertekad tak akan menutupinya lagi. Dan aku tak akan membuat Zaki tersinggung lagi.
"Ayri." Kini giliran Zaki yang memanggilku.
"Iya?"
"Boleh aku minta satu permohonan?"
"Selama aku bisa kabulkan."
"Tolong jangan terlalu dekat dengan mas Andi, ya. Aku nggak suka ada cowok lain yang dekat-dekat sama kamu."
Hatiku menghangat mendengarnya. Apa benar dia sedang cemburu? Ah aku senang. Gadis batinku berjingkrak-jingkrak. Dadaku serasa mengembang tiga kali lipat. Terlalu banyak kandungan kebahagiaan didalamnya.
"Nggak kamu mintapun udah aku lakukan. Aku nggak bisa dekat sama dua cowok sekaligus."
Astaga aku keceplosan! Apa yang baru saja aku katakan? Apa setelah ini Zaki akan menganggapku terlalu percaya diri? Atau terlalu menjunjung tinggi diriku sendiri? Ah bagaimana ini?
"Gadisku memang yang terbaik!" Zaki mengusap puncak kepalaku.
"Hah?" Aku tidak bisa mencerna kalimat terakhir Zaki.
"Bukan apa-apa. Ayo aku antar kamu pulang sebelum petang."
"Baik."
*****
__ADS_1