Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 7 - PERCAKAPAN DIBAWAH TANGGA


__ADS_3

"Apa ada yang berusaha membuka mata batin kamu sebelumnya?" Tanya mas Andi serius. Menatapku menyelidik.


"Maksudnya, mas?" Tanyaku tak mengerti.


"Iya. Aku pernah denger kalau kita bukan asli anak indigo, ketika mata batinnya dibuka, maka bisa melihat makhluk astral." Jelas mas Andi.


"Emang gitu? Tapi aku juga nggak pernah berusaha membuka mata batinku. Malah aku nggak paham mengenai ini. Aku juga nggak pernah nyuruh siapapun untuk buka mata batinku."


Mas Andi mengangguk berulangkali.


Melihat respon mas Andi, aku bisa tau kalau mas Andi sendiri tidak bisa membantu.


"Aku masuk dulu, mas. Mau istirahat."


"Iya, silakan. Selamat malam."


"Selamat malam."


*****


Pagi ini aku sengaja berangkat lebih awal, bahkan sangat awal.


Aku mengatakan pada teman-temanku bahwa ada pekerjaan yang harus aku kerjaan pagi ini. Jadi aku harus datang lebih awal. Dan untungnya mereka percaya.


Padahal kenyataannya aku ingin menemui Zaki. Aku ingin bertanya ratusan pertanyaan mungkin, kalau sempat. Aku tidak bisa lebih lama menanggung rasa penasaranku.


Aku berjalan dilorong yang masih sangat sepi. Memang masih jarang yang datang. Akunya saja yang terlalu rajin.


Dari kejauhan aku seperti melihat Zaki yang tengah berdiri dibalik pilar. Maka untuk memastikan bahwa itu benar Zaki atau bukan, aku berjalan lebih mendekat.


Benar saja itu adalah Zaki. Dia sedang memainkan ponselnya dengan cukup serius.


Aku diam beberapa saat disampingnya, tanpa menyapanya, tanpa suara. Karena aku tidak mau mengganggu orang yang sedang fokus bermain game online.


"Selamat pagi, Ay." Aku tersentak karena suaranya yang tiba-tiba.


Bukankah seharusnya aku yang membuatnya kaget, mengapa aku yang kaget setengah mati sekarang?


Aku mengatur napas perlahan.


"Pagi." Balasku sedikit ketus.


"Ternyata kita memang sehati." Kata Zaki.


"Apa?"


"Iya. Aku sengaja berangkat pagi dan ternyata kamu juga berangkat pagi banget. Atau kamu udah kangen sama aku?"


Aku hanya memutar bola mata menanggapi pertanyaan sekaligus pernyataan dari Zaki. Kemudian aku berjalan menjauh darinya.


"Ay, mau sarapan?" Tanyanya lagi, namun aku tak menghiraukan. Aku tetap berjalan.


Tak sulit bagi Zaki untuk mengejar langkahku dengan kakinya yang panjang.


"Aku nggak mau sarapan di tempat kemarin." Rengekku pada Zaki.


"Enggak. Kita sarapan dibawah tangga aja." Zaki memimpin langkahku. Dia benar-benar membawaku ke bawah tangga dibawah Mushola.


Disana ada satu meja dan beberapa kursi. Tempat untuk berjualan lauk dan jajanan pada jam istirahat. Dan pada pagi hari seperti ini meja masih tak terpakai.


Aku mengambil duduk disalah satu kursi, sedangkan Zaki mengelap meja yang sebenarnya tidak kotor. Hanya ada sedikit debu memang.


"Kamu udah berapa tahun, sih? Kenapa masih nggak bisa hati-hati?" Kata Zaki yang tiba-tiba berjongkok di bawahku.


Zaki berjongkok untukku. Rupanya dia mengikatkan tali sepatuku yang terlepas.


Aku tersipu. Jantungku terpompa terlalu cepat.


Aku tak menyangka bahwa adegan seperti didalam film Korea yang banyak disukai para gadis, kini tengah aku alami. Ya Tuhan. Aku kini melayang diterbangkan oleh sikap manisnya.


"Kalau talinya lepas bisa terinjak dan kamu bisa jatuh." Kata Zaki lagi sambil menepuk telapak tangannya, seolah puas dengan pekerjaannya.


"Aku cuci tangan sebentar." Pamit Zaki.


Dia pun berjalan mendekati wastafel yang tidak jauh dari tempat kami. Merasa butuh cuci tangan juga, maka aku menyusul Zaki kesana.


"Berapa umur kamu, Zak?" Tanyaku sambil menyalakan keran disebelah keran tempat Zaki cuci tangan mengalir.


"Kamu delapan belas tahun?" Tanya Zaki balik. Aku mengangguk saja sebagai jawaban.

__ADS_1


"Kalau gitu aku empat tahun diatasmu." Jawabnya sambil menyudahi cuci tangannya.


Aku mengangguk paham.


"Apa umur jadi maslah besar bagi pertemanan kamu?" Tanya Zaki yang sembari duduk dikursi seberangku.


"Enggak sama sekali. Aku cuma lagi nyari sapaan yang pas buat kamu. Mungkin sebutan kakak akan cocok."


"Kakak?" Zaki mengernyitkan dahi.


Aku tertawa kecil. "Aku nggak pernah tau rasanya punya kakak. Kalau kamu jadi kakakku mungkin nggak buruk."


Zaki tak membalas. Raut wajahnya terlihat berubah. Tak sesantai saat pertama kita bertemu dilorong tadi. Rautnya kini menunjukkan rasa ketidak sukaan.


Beberapa detik kami habiskan dengan keheningan. Aku tak tau apa ada yang salah dari kata-kataku, tapi perasaanku mengatakan aku harus mengalah untuk mengajaknya bicara terlebih dahulu.


"Zak." Panggil ku.


"Hmm."


"Kenapa gadis itu nggak suka ada yang ngomongin aku atau gosipin aku?" Tanyaku tanpa membuang-buang waktu lagi.


"Maksud kamu gadis yang pengen temenan sama kamu?" Balas Zaki terselip nada menggoda.


Aku melotot dan mencubit pinggangnya hingga membuatnya meng-aduh kesakitan.


Lagi pula, cepat sekali ekspresinya berubah? Bukankan tadi dia masih tak mau bicara? Kenapa sekarang sudah menggodaku?


"Sakit sakit sakit, Ay, ampun."


"Jangan bercanda, aku serius!" Kataku kesal.


"Iya-iya serius. Lepasin dulu."


Aku menarik tanganku cepat.


"Maksud kamu gadis yang berniat baik sama kamu?"


"Iya, gadis yang tersenyum padaku."


"Dia tersenyum padamu?" Zaki mengernyitkan dahi lagi.


"Aku juga nggak tau persis. Tapi dia bilang dia pengin berteman sama kamu." Kata Zaki serius.


Awalnya memang serius, bahkan membuat bulu kudukku berdiri. Namun setelahnya Zaki tertawa. Sial! Dia berhasil menggodaku lagi.


Aku mencubit perut Zaki lagi. Kali ini lebih kencang.


"Ah, aduh aduh, sakit sakit, Ay. Lepasin." Rengek Zaki.


"Bodo amat! Siapa suruh bercanda masalah beginian."


"Serius dong, Zaaakkk."


"Iya iya ini serius. Lepasin dulu."


Aku menarik tanganku kembali.


"Dia bilang, dia nggak suka sama mereka. Terlebih mereka ngomongin kamu yang nggak-nggak." Jelas Zaki.


"Beneran dia bisa ngomong? Ah, maksudnya beneran dia ngomong gitu ke kamu? Alasannya apa?"


"Kurang lebihnya ya gitu." Kata Zaki.


"Kalau alasannya, coba kamu tanya dia aja langsung."


Aku mencubit perut Zaki lagi, tapi sekarang hanya sedikit.


"Dibilangin suruh serius juga!"


"Iya aku juga serius, Ay. Salah mulu aku perasan."


Aku terkikik. Entah kenapa aku merasa gemas pada Zaki yang menggerutu. Padahal biasanya pembawaannya selalu tenang dan tegas.


"Iya iya maaf." Kataku akhirnya.


"Nih minum." Zaki menyodorkan botol yang kemarin kugunakan juga. Isinya masih sama seperti kemarin. Coklat hangat.


"Kamu aja."

__ADS_1


"Ini banyak. Aku nggak bakal habis. Kita minum berdua ya."


Aku menimang kata-kata Zaki. Bagaimana caranya membagi menjadi dua? Sedangkan botol minumku saja sudah penuh terisi air putih. Apa dia mau berbagi botol denganku?


"Kenapa sih? Aku nggak penyakitan, minum satu botol berdua nggak papa, kan?" Kata Zaki melihat aku yang masih terdiam.


Aku memandang Zaki tak percaya.


"Aku sih nggak papa. Takutnya kamu yang kenapa-napa."


Zaki menggeleng. "Ini minum dulu."


"Iya. Makasih."


Selagi aku meminum coklat hangatnya, Zaki melahap roti isi yang dibawanya dari rumah.


"Tadinya aku malas sarapan di pabrik. Tapi setelah ada kamu aku mending sarapan disini aja, sama kamu." Celetuk Zaki sambil mengunyah.


"Oh." Kaku menimpali.


Jujur, sajauh ini aku menilai Zaki anak yang baik. Dia perhatian dan pengertian. Dia selalu bisa membaca pikiranku. Dia selalu bersikap hangat.


Wajahnya tirus, tatanan rambutnya memang cenderung berantakan, tapi terlihat mempesona. Warna rambut yang legam. Mata birunya. Pipinya yang tirus ditambah satu lesung di pipi kanannya, membuat manis ketika tersenyum.


Ternyata tanpa sadar aku telah memujanya. Memuja seorang yang banyak dipuja oleh gadis-gadis disini.


Namun apa yang tidak pernah mereka ketahui dari Zaki mungkin adalah sisi ketika Zaki merengek. Atau ketika Zaki yang memasang wajah kesal. Itu yang membuat Zaki terlihat seperti manusia kebanyakan. Punya ekspresi. Tidak selalu datar seperti ketika berada didalam ruang produksi.


Dan aku bertaruh, ekspresi itu tidak pernah ia tunjukkan didalam ruang produksi.


Aku berusaha mengusir lamunan, dan membuka plastik yang membungkus roti yang aku beli di minimarket dekat pabrik.


"Apa setiap hari kamu sarapan seperti ini?" Tanya Zaki menunjuk roti yang aku pegang.


"Enggak. Kadang nasi juga. Tapi pagi ini lagi pengin sarapan roti aja."


Zaki meraih rotiku perlahan, dan menggantinya dengan roti isi miliknya.


"Kamu makan ini aja. Kita tukeran." Kata Zaki yang sudah menggigit rotiku.


"Kenapa emang?"


"Nggak kenapa-napa. Aku udah makan roti itu, pengin rasa yang lain aja."


Lagi-lagi aku menggeleng untuk keanehan tingkah Zaki.


Ya sudah. Dari pada aku tidak mengisi perutku. Lebih baik aku memakan roti yang diberikan Zaki saja. Toh roti yang kubeli sudah hampir habis dimakan olehnya.


"Besok nggak usah beli sarapan, Ay."


"Kenapa? Aku kan juga harus sarapan."


"Aku cuma nyuruh kamu nggak usah beli sarapan. Bukan nyuruh kamu untuk nggak makan."


"Kalau nggak beli aku bisa makan apa?"


"Nanti aku yang bawa sarapan untuk kita berdua." Kata Zaki setelah meminum cokelatnya. Kemudian memberikannya padaku.


Aku terkekeh. "Kenapa aku harus makan bekal dari kamu?" Aku meminum cokelatnya juga.


"Karena adik dan kakak harus akur. Harus makan makanan yang sama biar nggak rebutan." Kata Zaki sarkas.


Mendengar itu, aku merasa kalau Zaki kesal. Nada bicaranya menusuk. Aku tidak tau sebenarnya apa yang salah, tapi aku merasa Zaki mungkin sedang marah, kesal, atau malah kecewa. Tapi aku tak berani mengajukan pertanyaan padanya.


Zaki membereskan kotak bekalnya.


"Kamu sukanya makan apa?"


"Aku sih nggak pilih-pilih makanan, Zak."


"Jadi apapun yang aku bawa kamu janji bakal makan?" Zaki melipat tangannya diatas meja. Pandangannya menatapku, mengintimidasiku. Menunggu jawabanku.


"Iya." Kataku akhirnya setelah beberapa saat kebingungan harus menjawab 'iya' atau 'tidak'.


*****


Hai teman-teman semuanya. Apa kabar hari ini? Semoga selalu dalam lindungan-Nya ya, aamiin.


Oke, gimana part ini menurut kalian? Kira-kira feel-nya dapet nggak? Tulis di kolom komentar ya teman-teman. Jangan lupa klik suka. Mau kasih tip juga boleh banget. Terimakasih.. see yaa...

__ADS_1


__ADS_2