
"Za-Zaki?" Aku menutup mulutku, setengah tak percaya kalau Zaki sudah bangun.
"Ka-kam-kamu udah bangun? Kamu beneran udah bangun, Zak? A-aku-aku nggak lagi mimpi, kan?" Kataku belepotan.
Zaki turun dari kasur, dia mendekatiku.
Ctak!
Dia menyentil keningku.
"Www." Ringisku sambil mengusap-usap keningku yang sakit.
"Sakit?" Tanya Zaki tak merasa bersalah.
"Sakit lah, Zaki." Gerutuku.
"Itu artinya kamu nggak lagi mimpi." Kata Zaki lagi.
Benar juga. Aku bukan sedang bermimpi. Ini nyata. Kenyataannya Zaki sudah bangun dan sekarang dia berdiri di depanku.
Seketika aku menghambur memeluk Zaki. Zaki pun langsung membalas pelukanku. Kami saling memeluk erat, seakan tak ingin berpisah lagi.
Aku terisak dalam dekapan Zaki. Aku lega Zaki sudah bangun. Sungguh, aku teramat senang hingga dadaku begitu sesak karena bahagia dan air mataku mengalir begitu saja.
Zaki mengusap lembut punggungku, masih tak melepaskan pelukannya.
"Sial! Kayaknya aku bakal jadi orang yang terlupakan setelah ini." Umpat Zian yang entah sejak kapan sudah berada disini.
Kami sama-sama melepas pelukan, cepat-cepat aku mengusap air mataku.
"Zian." Gerutuku. Dia pasti sedang menyindir kami.
Zian segera mendekat pada Zaki, dan mereka langsung saling menarik jarak.
"Damn it! Aku hampir kehilangan setengah nyawaku." Umpat Zian dengan memeluk saudara kembarnya itu.
"Aku masih belum tenang ninggalin kamu yang bodoh sendirian." Balas Zaki.
"Shit! Kamu terlalu merendahkanku" Zian mendorong mundur tubuh Zaki, membuat mereka terlepas dari pelukan.
"Kamu belajar kata-kata umpatan itu selama aku tidur?" Zaki menaikkan satu alisnya.
"I'm sorry, okay?"
"Ngomong-ngomong, kamu lagi masak? Aku mencium bau gosong." Kata Zaki.
"Lasagna-kuu!" Zian kembali ke dapur dengan terbirit-birit. Setelah itu aku dan Zaki ikut menyusul Zian dengan tawa dari kami.
Kami sampai di dapur ketika Zian sudah mengeluarkan loyang lasagna dari dalam oven. Makanan yang dia buat berubah hitam kecoklatan karena gosong.
"Pfftt.." Aku tak berniat menertawakan Zian, tapi ini memang terlihat lucu.
"Jangan ketawa! Ini juga gara-gara kalian." Tukas Zian.
"Kenapa gara-gara kami?" Balasku bertanya.
"Iya! Tadi aku dengar kamu teriak nama Zaki, jadi aku buru-buru kesana."
"Terus salahku apa?" Tanya Zaki bingung.
"Tentu saja salah. Ngapain tidur nggak bangun-bangun, bikin susah orang aja." Cibir Zian.
__ADS_1
"Pokoknya gara-gara kalian mahakarya-ku jadi rusak." Kata Zian dramatis.
"Oke-oke aku minta maaf. Tapi makanannya udah gosong gini, kita mau makan apa dong?" Tanyaku.
"Pinjam handphone." Zaki menyadongkan tangannya pada Zian.
Zian memberikan ponsel miliknya tanpa bertanya apapun.
Zaki menerima ponsel itu, mengutak-atik sebentar lalu ia mengembalikan lagi pada Zian.
"Aku udah pesan makanan. Kita tunggu aja makanan itu diantar." Kata Zaki.
Ya, itulah Zaki. Tindakannya selalu tepat. Selain itu ia memiliki rasa optimisme tinggi. Aku sangat yakin bahwa dia akan bangun cepat atau lambat. Dan lihat, dia benar bangun sekarang.
Syukurlah, sekarang Zaki sudah hadir diantara kami lagi. Aku memiliki beberapa pertanyaan untuknya, tapi untuk saat ini lebih baik aku biarkan dia istirahat saja dulu. Bukankan kami masih memiliki banyak waktu lain untuk mengobrol?
*****
"Hei, Mate. Apa tidur begitu menyenangkan bagimu? Kenapa baru bangun sekarang?" Tanya Zian sarkas. Kami tengah menikmati lasagna yang Zaki pesan. Zaki sengaja memesan makanan yang sama seperti yang Zian buat.
"Aku sedang menguji."
"Menguji apa?"
"Menguji kepedulian kamu terhadapku." Balas Zaki dengan senyum miring.
Zian melongo untuk beberapa saat.
"Kamu gila!" Tukas Zian tak santai. Zaki hanya membalas dengan terkekeh.
"Zak, kamu baik-baik aja? Apa ada yang sakit?" Tanyaku menyela obrolan mereka.
Zaki menghentikan aktivitas sejenak. Ia menghela napas sebelum menjawab, "Ada beberapa bagian yang terasa sakit tapi nggak begitu serius. Aku masih bisa menanganinya."
"Aku takut dokter nggak bisa menemukan dimana letak sakitku." Kata Zaki lagi.
"Karena sepertinya sakit yang aku rasakan ini tanpa ada luka. Sakit tak berdarah, mungkin?"
"Se-serius ada hal semacam itu?" Tanyaku tak mengerti.
"Atau kamu harus mandi kembang tujuh rupa biar setan di tubuh kamu kabur?" Cibir Zian terlihat kesal.
"Kenapa harus ada hal-hal yang aku nggak bisa ngerti? Gimana aku bisa bantu kalau aku sendiri nggak ngerti?" Lanjut Zian.
Aku memperhatikan Zian. Zian terlihat tak tenang, terlihat dari gerak matanya yang tak menentu. Apa dia sedang gugup, atau sedang gelisah?
"Aku... Aku takut kamu tiba-tiba tidur dan nggak bangun-bangun lagi." Kata Zian lemah.
Oh, dia sedang mengungkap kepeduliannya pada Zaki, kah? Aku tersenyum tipis melihat interaksi mereka.
"Kalau kamu takut aku nggak akan bangun lagi, maka aku nggak akan tidur." Balas Zaki enteng.
"Kamu boleh tidur, tapi mungkin aku bakal bangunin kamu setiap jam sekali." Kata Zian.
"Ya-ya-ya, itu terserah kamu." Balas Zaki.
"Ngomong-ngomong, aku kaget waktu lihat kamu juga ada di tempat itu, Ay." Kata Zaki. Ia kembali menyendokkan makanannya. Kini aku yang berhenti melakukan aktivitas makanku.
"Apa makhluk itu yang sering ganggu tidurmu?" Tanya Zaki.
"Iya." Balasku seadanya.
__ADS_1
Zaki mengangguk mengerti. Sedangkan Zian tak banyak tanya karena sebelumnya aku sudah menceritakaya pada Zian mengenai makhluk itu.
"Aku merasa ada sesuatu hal yang ingin ditunjukkan ke kita, makanya kita bisa sampai disana, Zak. Apa menurutmu juga gitu?" Tanyaku.
Zaki terlihat sedang berpikir, tergambar dari kerutan di keningnya.
"Bisa jadi. Tapi apa?" Tanya Zaki.
"Aku juga belum tahu." Balasku.
"Ah ya, kamu bilang kamu mau ketemu orang tuaku, kan?" Tanya Zaki.
"I-iya." Balasku gugup. Entah mengapa aku selau gugup jika membahas orang tua mereka.
"Zak!" Tegas Zian namun segera dihadiahi tatapan tajam dari Zaki. Zian langsung mengunci mulutnya.
"Bingkai foto di kamar itu. Mereka orang tuaku."
"Aku tahu. Mereka cantik dan tampan. Mereka terlihat serasi."
"Mereka orang terhebat dalam hidupku." Kata Zaki.
"Aku percaya mereka orang yang hebat. Aku berpikir seperti itu sejak aku ketemu kalian." Balasku mengutarakan pendapatku.
Setelah itu Zian meletakkan alat makannya dan ia menyandarkan punggungnya pada kursi tak lupa helaan napas keluar dari mulutnya.
Ada apa? Apa yang salah? Kenapa Zian tiba-tiba terkesan aneh seperti ini?
"Nanti kalau waktunya tepat, aku ajak kamu ketemu mereka." Kata Zaki lagi.
"Iya."
"Kemungkinan nggak sekarang-sekarang. Kamu sabar ya."
"Iya."
Setelahnya terjadi keheningan.
"Teman-teman kamu pasti khawatir denganmu, kan? Apa komentar mereka setalah kamu bangun?" Tanya Zaki sudah mengalihkan topik lagi. Dia sangat pandai mengalihkan topik pembicaraan.
"Nggak ada. Mereka cuma bilang aku pingsan selama tiga hari. Dan ya, aku dirumah sakit selama tiga hari itu."
"Kamu nggak cerita yang sebenarnya, kan?"
"Nggak mungkin, mereka bisa langsung kabur dari sana."
"Semoga hal kayak gini nggak akan terjadi lagi. Aku udah kayak orang bodoh karena nggak bisa ngapa-ngapain buat bantu kamu bangun." Celetuk Zian.
"Ya. Aku sangat berharap hal ini nggak akan terulang lagi." Kata Zaki menimpali.
"Oh mungkin aku akan cari Ayri kalau kamu tidur kayak gitu lagi. Karena selama tiga hari aku bangunin kamu tapi nggak ada hasil. Sedangkan Ayri, belum sampai setengah hari udah bisa bikin kamu bangun.
"Itu namanya kekuatan cinta." Cetus Zaki.
"Kekutan cinta? Apa yang dibilang Fara itu benar?" Gumamku pelan.
"Apa apa, Ay?" Tanya Zian.
"Ah, nggak papa kok nggak papa." Balasku tak tenang.
"Emm.. maksudnya kekuatan cinta itu apa ya?" Tanpa sadar aku menanyakan pertanyaan itu. Seketika aku merutuki pertanyaan yang keluar dari mulutku.
__ADS_1
"Kekuatan cinta itu ya, aku cinta kamu."
*****