
"Cheese egg toast." Zaki memamerkan bekal yang ia bawa.
"Tapi ditambahin alpukat sama tomat juga sama Zian." Tambah Zaki.
"Buatan Zian?" Tanyaku dengan mata berbinar.
"Ya."
"Kamu bilang apa ke Zain?"
"Seperti yang kamu bilang kemarin."
"Beneran? Terus dia bilang apa?"
"Lain kali jangan suruh dia masak lagi, takut nanti kamu berpaling ke dia katanya."
Aku tertawa mendengar pengakuan Zian dari bibir Zaki, sambil membayangkan bagaimana ekspresi Zian ketika mengatakan kalimat itu. Sikap sombongnya pasti ia tonjolkan seperti biasanya.
"Tapi ya, katanya ini makanan spesial buat kamu."
"Seriusan?"
"Kamu bisa tanya ke dia kalau nggak percaya." Balas Zaki dengan mengangkat bahu.
"Bukan itu maksud aku. Bukannya nggak percaya sama kamu, aku justru kurang percaya sama omongan Zian si pemain wanita yang berkedok pecinta wanita."
Kemudian kami tertawa bersama.
"Parah sih kalau cewek yang ngomong gitu, haha.."
Kami masih terus tertawa. Tapi akhirnya aku yang berhenti tertawa lebih dulu.
Aku mengambil toast yang dibawa Zaki, aku membukanya karena penasaran dengan isi didalam roti itu. Agak aneh karena ada irisan alpukat dan tomat disana.
"Emm..."
"Kamu nggak suka ya?" Tanya Zaki cepat.
"Enggak, bukan. Kelihatannya aneh tapi aku akan coba makan." Aku menggigit pinggir toast tersebut, pas menggigit yang ada tomatnya.
"Zian emang suka kreasi makanan yang ke barat-baratan, tapi rasanya nggak kalah enak dari yang biasa aku masak kok." Zaki ikut menggigit bagiannya.
"Hu'hm. Ini enak meskipun lidahku mengatakan ini aneh. Aku ini anak kampung, nggak terbiasa makan makanan barat."
"Jangan merendah, Ayri. Selain tempat, teman, dan suasana, kamu juga harus beradaptasi dengan makanan pada lingkungan baru."
"Yes, I know."
"Ini minumnya. Kata Zian makanan ini cocoknya sama susu. Kamu nggak alergi susu kan?"
"Enggak." Jawabku singkat, karena aku sedang mengunyah makanan di dalam mulutku.
"Oke bagus."
Setelahnya, kami makan dengan tenang tanpa perbincangan.
"Oh ya, nanti kalau jadi aku akan keluar, nggak ada di pabrik." Celetuk Zaki setelah beberapa menit keheningan.
__ADS_1
"Ada tugas di luar? Tugas lapangan?"
"Hmm... Anggap aja begitu."
Aku manggut-manggut tak mau terlalu mencampuri urusannya.
"Kalau ada apa-apa ingat utamakan keselamatan, itu nomor satu. Jangan lakukan hal-hal yang nggak mampu kamu lakukan, apalagi membahayakan." Zaki memberikan petuah.
Aku terkekeh. "Kamu masih menghawatirkan lukaku, atau mengkhawatirkan aku?"
"Ya, tentu saja keduanya."
"Terimakasih atas perhatiannya, aku bisa jaga diri. Jadi kamu bisa pergi dengan tenang." Balasku terselip humor didalamnya.
"Sial! Kedengarannya aku bakal pergi berpindah dunia. Nggak sekalian aja ditambah kata-kata "semoga amal ibadahnya diterima disisinya."" Tukas Zaki.
"Hahaha..."
*****
Aku pergi ke lemari peralatan kerja untuk mengambil tape yang habis ku gunakan. Aku berjalan kembali ke tempatku setelah aku mendapatkan yang aku cari.
Dari jauh aku melihat sosok berpakaian putih kebesaran, terbang rendah dan semakin rendah.
"Zaki awas!" Pekikku tertahan. Aku tak mau mengganggu pekerjaan yang lain karena suara teriakan dariku. Aku menutup mulut setelahnya, namun mataku membulat penuh.
Zaki berjalan menghampiriku dan,
"Ayri?" Tanyanya.
Aku mengerutkan kening. Dari suaranya terdengar itu bukan Zaki. Aku mengamati sebentar dan dia memang bukan Zaki, tapi Zian. Mengapa Zian bisa ada disini?
Zian mengangguk seperti anak kucing yang lucu.
"Pantesan kamu nggak sadar ada mba Kunti terbang mengenai kepala kamu, ternyata kamu bukan Zaki."
"Apa? Ada kuntilanak di kepalaku?" Zian membulatkan matanya, suaranya cukup keras namun untungnya dibarengi suara keras dari mesin-mesin pemotong, jadi sedikit kemungkinannya mereka bisa mendengar suara Zian.
Aku menempelkan telunjukku pada bibir. "Sstttt..."
"Jangan keras-keras, Zi. Mereka bisa ketakutan."
Zian menepuk jidat, "Aku lupa tempat, hehe." Cengir Zian tak berdosa.
"Tapi tadi serius?" Tanya Zian mendesak.
"Iya. Cuma lewat doang kok, sekarang udah nggak ada." Balasku.
"Kamu kenapa bisa ada disini? Nggak kerja?" Tanyaku.
"Kerja. Lagi ada tugas di luar." Balas Zian santai.
"Tadi pagi Zaki juga bilang gitu. Kok samaan?"
"Iya sama lah. Orang aku tukeran tempat sama dia." Balas Zian enteng.
"Tukeran tempat, maksudnya?" Aku menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Aku ada evaluasi, dan aku malas banget untuk ikut evaluasi. Nah karena kami kembar, aku minta Zaki gantiin posisi aku dan aku gantiin posisi dia, gitu."
"Emangnya nggak akan ketahuan? Kalian kan beda tempat kerja emangnya Zaki mampu?"
"Tentu saja dia mampu."
"Berarti kamu yang nggak mampu?" Kataku sengaja menyindir.
Zian menggaruk keningnya. "Bukan gitu juga maksudnya, Maimunah. Kami itu kan bekerja pada beda anak perusahaan tapi satu bapak perusahaan. Kami melamar job yang sama, training yang sama, materi yang sama, produksi yang sama. Jadi nggak ada alasan untuk menuding dengan kata mampu dan nggak mampu." Jelas Zian sabar.
"Jadi kenapa dia yang harus datang evaluasi?"
"Udah aku bilang aku malas, Ayri." Balas Zian mulai geregetan.
"Oh. Aku pikir karena kamu bodoh." Kataku sengaja menggodanya.
"Kalau aku bodoh udah pasti di tolak dari pertama aku melamar pekerjaan ini kali, Ay." Gerutu Zian kesal namun terlihat lucu.
Aku tertawa kecil, tak mau mengundang perhatian banyak orang.
"Btw, thanks for the breakfast. Terasa aneh karena aku nggak pernah makan, tapi itu enak." Pujiku.
Seketika Zian bertingkah layaknya seorang gadis yang tengah tersanjung. Matanya mengerjap-ngerjap dan bibirnya terangkat membentuk senyum lebar.
"Jadi lebih enak masakan ku apa masakan Zaki?"
"Nggak cuma fisik kalian yang kembar, kepribadian kalian, sifat kalian, semuanya sama, Zi. Soal makanan juga sama, jadi susah bedainnya." Jelasku apa adanya.
"Yaelah sama lagi. Kapan menangnya dari dia aku?" Gerutu Zian lagi.
"Emang nggak pernah menang apa?" Tanyaku.
Zian cengengesan. "Bukan apa-apa. Cuma persaingan secara sehat antara saudara kembar."
Aku kembali terkekeh. "Apaan sih kalian tuh! Ada-ada aja. Udah ah sana pergi, Zaki nggak pernah lama-lama disini kayak kamu gitu. Nanti yang lain pada mikir yang nggak-nggak."
"Masa? Padahal menurut aku ini baru sebentar banget loh. Ah sok profesional tuh si Zaki, padahal mah nggak papa kalau mau berlama-lama sama pacar sendiri." Cibir Zian, mengumpati Zaki dibelakang.
"Siapa yang pacar?" Aku mengerutkan kening. Aku cukup penasaran dengan perkataan Zian sebelumnya di rumah mereka dan aku belum sempat bertanya. Mungkin ini saat yang tepat untuk membahas.
"Emm..." Zian menjentikkan jari telunjuknya di dagunya.
"Zaki sama sekali nggak pernah bawa cewek ke rumah sebelumnya. Jadi aku pikir... Meskipun belum jadi pacarnya tapi bisa dipastikan kamu itu something special baginya." Tutur Zian.
Belum jadi pacarnya? Belum? Belum berarti bisa jadi akan, benar? Ah memikirkannya saja sudah berhasil membuat pipiku memanas.
Sungguh, apa kalian akan berpikir aku terlalu muda jatuh dalam pesona seorang pria yang baru saja ku kenal? Ya terserah apa pendapat kalian, tapi perasaan ini sama seperti saat dulu aku pernah menaruh hati pada seseorang di masa lampau.
Zian sedikit menunduk untuk menyamakan tinggi kami, kemudian mendekatkan bibirnya pada telingaku, berbisik "Nanti aku bantu pancing dia untuk mengakui perasaannya."
Mendengarnya semakin membuat pipiku memanas. Bakan sangat panas. Dan juga detak jantungku berdegup sangat kencang. Aku hanya bisa berharap agar Zian tak mendengar detak jantungku yang begitu kencang bagai benderang.
"Aku pergi dulu, ketemu lagi lain waktu." Kata Zian dan kemudian pergi tanpa menunggu balasan dariku. Ternyata Zian dan Zaki memang sama. Sama-sama suka datang dan pergi tanpa permisi.
Oh aku baru sadar. Meskipun sering terdengar perdebatan antara dua bersaudara kembar itu, namun mereka tetap saling mendukung satu sama lain. Meskipun mereka seakan saling menjatuhkan namun nyatanya mereka tetap saling membantu satu sama lain pada situasi tertentu. Mereka sangat manis. Aku masih saja mengagumi rasa persaudaraan mereka dan juga mengagumi orang tua yang mendidik mereka dengan sangat baik hingga mendekati sempurna.
Ngomong-ngomong aku jadi kangen adikku di kampung halaman. Nanti kalau sempat aku luangkan waktu untuk menelpon ke rumah sekedar bertukar sapa dan menanyakan kabar. Semoga mereka selalu dalam lindungan Tuhan.
__ADS_1
*****