Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 29 - BUTUH KEPASTIAN


__ADS_3

"Ayri kamu udah masuk, udah sehat?" Tanya Eva peduli, ketika jam kerja berlangsung. Disampingnya juga ada Uci dan Risa.


"Terimakasih atas perhatian kalian, aku baik-baik aja."


"Syukurlah. Kami akan bantu kerjakan job kamu kalau kamu nggak keberatan." Kata Risa.


"Terimakasih, kalian baik banget. Aku akan coba kerjakan sendiri dulu ya, teman-teman."


"Oke kalau gitu. Jangan sungkan kalau butuh bantuan ya."


"Baik."


Setelah itu mereka kembali ke meja masing-masing untuk mengerjakan job mereka sendiri.


Aku memperhatikan mereka dan senyum tipis terbit begitu saja. Untunglah masih ada orang-orang yang peduli denganku walaupun disini bukan tempatku.


Aku berbalik, hendak mengerjakan pekerjaanku juga namun betapa terkejutnya aku ketika tiba-tiba seorang muncul di depanku tanpa aba-aba. Oh bukan, lebih tepatnya makhluk gaib. Dia adalah hantu gadis yang baik itu.


Setelah mengontrol jantungku yang tadi sempat bergerak kencang, kini aku menatap gadis itu. Mengapa dia tiba-tiba datang?


"Hai."


Ha? Apa dia sedang menyapaku?


"Kamu baik-baik saja?"


"Ka-kam-kamu tanya aku?" Kataku gugup dan cukup keras. Mendadak semua mata tertuju padaku, mungkin mereka merasa heran.


"Ada apa, Ay?" Tanya Uci.


"Ha? Oh nggak kok. Tadi aku cuma salah dengar." Kataku kaku. Ah aku sedang belajar berbohong sekarang.


"Oh, oke." Untungnya Uci tak mempermasalahkan.


Gadis hantu itu cekikikan, apa dia menertawakan aku?


"Kamu cukup berkata dalam hati agar mereka tak menganggapmu gila."


Apa hantu gadis itu sedang mengejekku? Bukankah ini semua juga gara-gara dia?


Aku mengerucutkan bibir. "Ini juga gara-gara kamu." Kemudian aku kembali bekerja.


"Oke aku minta maaf. Apa kamu baik-baik saja?"


"Ya aku baik." Balasku. Aku tetap sibuk bekerja. Bukankah mengobrol dengannya tidak harus bertatap muka? Bicara dalam hati saja dia sudah bisa mendengar.


"Itu yang diharapkan. Karena kamu masih harus menyelamatkan kami."


Aku mengangkat kepalaku, memperhatikan gadis itu. "Menyelamatkan kalian siapa? Apa maksudnya?"


"Aku akan kasih tahu tapi bukan sekarang."


Aku mengangkat bahu, bodo amat!


"Kata orang tak kenal maka tak sayang, jadi biar kuperkenalkan diriku, namaku Elsa."


"Siapa pula yang mau menyayangi makhluk astral sepertimu." Entah dapat keberanian dari mana tiba-tiba aku berkata sarkas demikian.

__ADS_1


Gadis itu tertawa. "Benar katamu. Tidak diusir saja aku sudah beruntung."


"Apa maumu?"


"Bukan mauku, tapi kemauan kami."


"Kalian siapa?"


"Aku dan teman-temanku."


"Sesama hantu?"


"Anggap saja begitu."


"Oke terserah. Jadi apa yang kalian inginkan?"


"Kami butuh bantuanmu untuk_"


Gadis itu tidak melanjutkan bicaranya, aku mengerutkan kening.


"Aku akan kembali lagi nanti. Aku tak mau mengganggu kalian." Katanya kemudian langsung menghilang.


Aku menggeleng kecil. Apa lagi sekarang? Mengganggu apa?


"Hai." Sapa seorang, aku kembali terpelonjat.


Aku mengelus dada, mengatur pernapasanku.


"Sekaget itu?" Tanya Zaki.


"Kalian terlihat akrab." Kata Zaki mengarah pada aku dan hantu gadis itu. Aku tahu dia sedang mengejekku.


"Dia yang sok akrab!" Balasku.


Zaki terkekeh.


"Aku kangen." Kata Zaki tiba-tiba.


"Ha?" Aku melongo. Apa-apaan Zaki ini. Pintar sekali membuatku merona.


"Emm... Zak, tolong jangan terlalu sering begin, aku bisa salah paham." Kataku. Tiba-tiba aku terpikir mengenai pembicaraan ketika makan siang dirumah Zaki, ketika Zian berkata pada Zaki agar jangan PHP-in cewek-cewek.


"Begini gimana?"


"Jangan terus-terusan bersikap manis, nanti aku bisa berharap lebih." Kataku. Untuk masalah ini aku sependapat dengan Zian. Aku juga butuh kepastian. Aku tahu ini terlalu cepat tapi bukankah cinta pada pandangan pertama juga ada, jadi cinta itu bukan urusan waktu karena dia datang tanpa mengenal waktu.


"Kalau kamu berharap lebih pun aku bisa berikan." Balas Zaki tetap tenang.


"Contohnya?"


"Coba saja kamu sebutkan apa yang kamu mau." Tatapan Zaki begitu menusuk.


Aku ingin sekali mengutarakan perasaanku, tapi aku pikir itu akan percuma mengingat perbincangan terakhir kami ketiak dia mengantarku pulang kala itu.


"Apa yang kamu maksud meminta lebih?" Tanya Zaki.


Aku masih diam. Jujur aku masih bingung dengan Zaki yabg sehari begini kemudian besok begitu. Sikapnya yang sering berubah membuat aku sedikit ragu.

__ADS_1


"Kamu terpengaruh dengan perkataan Zian?" Tanya Zaki lagi.


"Bagaimana kalau iya?" Balasku menantang.


"Kamu mau minta apa dari aku, Ayri?" Kata Zaki lembut.


Ah, nada bicara Zaki yang begitu lembut selalu membuatku lemah.


"Apa yang kamu ragukan? Apa salah kalau aku bersikap manis pada seorang gadis yang sedang ku kejar?"


Deg!


Untuk beberapa saat jantungku seperti berhenti bekerja, namun detik berikutnya jantungku terpompa begitu cepat. Lebih cepat berkali-kali lipat dari sebelumnya. Apakah benar yang Zaki katakan? Apakah dia memang sedang mengejarku? Atau itu hanya upaya yang dia lakukan untuk menghiburku?


"Aku hanya butuh kepastian." Kataku.


"Kepastiannya adalah aku sedang mengejarmu."


"Bagaiman kalau aku sudah menyerahkan hatiku padamu?"


"Apakah bisa secepat ini?" Tanya Zaki.


Secepat ini katanya? Bukankah cinta datang tak peduli cepat atau lambat? Apa sebenarnya yang ingin dia lakukan? Dia bilang sedang mengejarku. Bukankah tujuan mengejar adalah untuk mendapatkan? Padahal sudah kukatakan aku sudah menyerahkan hatiku tapi dia malah bersikap demikian, apa yang dia pikirkan sebenarnya?


Ah aku pusing. Aku terlalu kesulitan untuk mengerti Zaki. Kupikir pemikiran kita sama, ternyata mungkin tidak.


"Tolong pergi dari sini, ini masih jam kerja dan aku harus kerja. Aku nggak mau makan gaji buta." Kataku sarkas.


"Kamu mengusirku?" Zaki terlihat tercengang.


"Ya, silakan pergi." Kataku lagi.


"Ayri,"


"Zaki, please."


Zaki menghela napas. Mungkin dia kecewa dengan sikapku tapi aku tak peduli.


"Aku akan temui kamu lagi kalau kamu udah lebih tenang." Katanya. Aku tak membalasnya. Kemudian dia pergi.


Aku membuang napas panjang.


Entahlah, entah karena apa dan entah sejak kapan pula aku jadi lebih emosional, apalagi ketika berhadapan dengan Zaki. Apa aku salah jika aku ingin sebuah kepastian?


*****


Sudah beberapa hari ini kepalaku sering pusing. Padahal sebelumnya aku tak pernah mengalami pusing sebegini hebatnya.


Aku mengesampingkan rasa sakit di kepalaku untuk beberapa hari, dan terus berangkat bekerja. Zaki tak sesering biasanya datang menghampiriku, tapi aku tak mempermasalahkan itu. walau begitu setiap pagi kami masih pergi sarapan bersama.


Tiba di weekend ini aku ambruk. Aku tidak kuat, tidak bisa lagi menahan sakit luar biasa yang menyerang kepalaku. Pada awalnya aku bersikeras tidak mau pergi ke rumah sakit, tapi Sasi dan Fara terus memaksaku. Terlebih mereka mengancam akan memberitahukan kondisi ku pada mas Andi jika aku tetap tak pergi ke rumah sakit. Jadi terpaksa aku pergi ke rumah sakit.


Bukan apa-apa, aku juga tak membenci mas Andi, hanya saja aku tak ada feel dengannya. Jadi aku tak mau lebih dekat dengannya.


Aku diantar oleh Sasi dan Fara, mereka sangat mengkhawatirkan aku. Sepanjang jalan mereka terus berusaha mengajakku mengobrol katanya supaya aku tidak tertidur. Untuk beberapa saat aku ikut mengobrol dengan mereka, namun tak bertahan lama. Kepalaku menjadi lebih berat dan bertambah sakit. Aku tak kuat lagi dan akhirnya yang kutahu hanya hitam. Aku tak bisa melihat apapun yang ku lihat hanya gelap.


*****

__ADS_1


__ADS_2