
Selepas subuh aku pulang ke kost-kostan. Setidaknya aku harus mandi karena sudah tiga hari aku tidak mandi dikarenakan pingsan. Lagi pula aku harus memberi kabar pada Sasi dan Fara.
"Ayri, kamu udah pulang?"
"Gimana Zaki? Apa terjadi sesuatu sama dia?"
Sasi dan Fara langsung menyerangku dengan pertanyaan bertubi-tubi sesampainya aku di kost.
Aku mengambil segelas air putih untuk membasahi kerongkonganku. Aku duduk di sofa ruang tamu, menegak habis segelas air itu.
Aku meletakkan gelas diatas meja, kemudian aku menyandarkan punggungku pada sofa.
Aku menghela napas. "Zaki masih belum sadar." Kataku pelan.
"Ma-maksudnya?" Tanya Sasi.
"Ada apa sebenarnya? Apa Zaki juga tiba-tiba pingsan kayak kamu?" Fara kembali bertanya pula.
"Mungkin iya."
"Tunggu-tunggu. Kalau dipikir-pikir, setelah sadar kamu langsung ngotot mau ke rumah Zaki dan bilang Zaki dalam bahaya, sebenarnya ada apa?" Tanya Fara cerdik.
Aku menggigit bibir, apa yang harus aku katakan untuk menjawab pertanyaan Fara? Sedangkan aku tidak mungkin menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Fara berbeda dengan Zian. Aku bisa begitu saja menceritakaya pada Zian namun dengan Fara aku tak bisa. Fara mungkin tak tahu apa-apa mengenai dunia gaib. Aku tidak membuat mau mereka ketakutan.
"Sebenarnya aku cuma menebak. Karena waktu aku pingsan aku mimpi aku dan Zaki sedang tersesat di hutan. Dalam mimpiku Zaki terjatuh ke jurang lalu aku bangun. Jadi aku punya firasat nggak bagus akan itu." Jelasku tak berbohong namun tak sepenuhnya jujur. Nyatanya memang kami tersesat dalam hutan dan Zaki jatuh ke jurang. Tapi aku tak mengatakan hutan itu adalah hutan gaib.
"Dan ternyata benar Zaki nggak bangun selama tiga hari? Sama sepertimu?"
Aku mengangguk.
"Pantas aku nggak pernah lihat Zaki di pabrik beberapa hari ini. Biasanya dia selalu keliling, kan?" Timpal Sasi.
"Kok bisa? Kalian ini kayak..." Fara menggantung kalimatnya.
"Kayak apa?" Aku menautkan alis.
"Nggak, bukan apa-apa." Gelang Fara cepat.
"Habis ini kamu mau kesana lagi, Ay?" Tanya Sasi.
"Iya. Mungkin aku akan pulang agak malaman. Tapi tergantung gimana kondisi Zaki sih. Semoga dia cepat bangun." Balasku lirih. Tiba-tiba aku merasa sedih membayangkan kondisi Zaki yang masih terbaring lemah.
"Ay," panggil Fara. Dia mengusap pundakku.
"Ya?" Balasku hampir tak bersuara.
"Kamu sayang Zaki?" Tanya Fara mengagetkanku. Aku langsung menegakkan posisi dudukku.
"Ma-maksudnya?"
"Kamu jatuh cinta pada Zaki, kan?" Tanya Fara lagi memperjelas maksud yang ia inginkan.
"Ak-aku... Aku nggak tahu." Balasku tergagap.
__ADS_1
"Kalau kamu adalah orang yang dia cintai juga, maka kamu sebaiknya disisinya pada saat seperti ini. Mungkin dia akan lebih memperjuangkan hidupnya ketika tahu orang yang di cintainya mengharapkan dirinya kembali." Ucap Fara bak seorang ibu yang sedang menasehati anaknya. Perasaan hangat menjalar pada sekujur tubuhku. Fara memang selalu bersikap dewasa dan berpikiran luas.
Apa benar yang dikatakan Fara? Apa mungkin aku ini jatuh cinta pada Zaki? Lalu apakah mungkin Zaki jatuh cinta pada gadis desa sepertiku?
"Em..apa anak-anak tahu aku dirawat di rumah sakit?" Tanyaku sengaja mengalihkan topik pembahasan.
"Iya. Mereka belum tahu kalau kamu udah sadar." Balas Sasi.
"Mas Andi?"
"Nggak usah ditanya gimana khawatirnya dia pas tahu kamu pingsan. Emangnya siapa yang antar kamu ke rumah sakit kalau bukan mas Andi?" Jelas Fara.
"Jadi mas Andi yang bawa aku ke rumah sakit? Memangnya aku pingsan dimana?"
"Kamu sama sekali nggak ingat?" Kaget Sasi.
Aku menggeleng sebagai jawaban.
"Kamu pingsan di depan pintu sini, Ay. Mas Andi yang tahu pertama kali, makanya dia cepat-cepat bawa kamu ke rumah sakit."
Aku mengangguk saja. Nyatanya aku memang tak ingat apapun.
"Ya udah kalian siap-siap kerja, gih. Aku ke rumah Zaki dulu." Aku bangkit mengambil tas kecilku kemudian memasukkan dompet, ponsel dan satu set baju ke dalamnya.
"Kamu nggak mau istirahat aja, Ay?" Tanya Sasi.
"Dirumah Zaki juga aku bisa istirahat, Sas. Aku mau memastikan keadaan dia setiap waktu."
Sasi menghela napas. "Ya udah kalau gitu. Kalau kamu butuh apa-apa harus kabari kami ya. HP jangan sampai mati biar kami bisa hubungi kamu."
"Hati-hati, Ay."
"Oke, bye."
*****
"Kamu udah makan?" Tanyaku pada Zian yang ku yakini dia belum mengisi perutnya. Siapa yang akan memikirkan makan ketika keluarga kita sedang dalam musibah.
Zian menggeleng. "Belum, Ay."
Aku baru sadar bahwa Zian yang seperti ini sangat mirip dengan Zaki. Ya, ternyata mereka persis, hanya saja biasanya Zian dibalut sikap yang suka becanda. Namun ketika sedang serius seperti ini mereka benar-benar hampir tak ada perbedaan.
"Kamu harus makan, Zian. Zaki butuh kamu. Siapa yang akan membuat dia lebih semangat memperjuangkan hidupnya kalau kamu sendiri nggak mau menjaga kesehatan."
"Aku nggak nafsu makan, Ay."
Aku mengerti perasaan Zian. Aku sangat paham. Tapi aku tetap harus membujuk Zian untuk menjaga kesehatannya.
"Zian." Panggilku.
Zian hanya membalas "Hm." Dengan nada tak semangat.
"Aku pengin makan makanan buatan kami, kamu mau masakin buat aku, kan?" Pintaku. Aku sengaja berbuat seperti ini, semoga Zian menuruti permintaanku. Setelah dia masak aku pastikan dia harus makan nanti.
__ADS_1
Zian mengangkat alisnya, manatapku cukup lama.
"Mau ya, please." Aku menyatukan kedua tanganku membentuk permohonan.
Zian terkekeh, kemudian berdiri dari sofa. Zian mendekatiku lalu mengacak rambutku sambil tersenyum. "Oke, kamu memang."
Deg!
Aku rindu Zaki, sungguh. Perlakuan Zian barusan, dan senyumannya itu, persis seperti yang pernah Zaki berikan padaku. Seketika aku merasa aku merindukan Zaki, merindukan perlakuan lembutnya. Merindukan perdebatan kami yang kadang membuatnya marah tanpa alasan yang jelas.
"Ayri, kamu kenapa nangis?" Tanya Zian. Oh aku tak sadar sudah meneteskan air mata.
Aku menggeleng, mengusap air mataku cepat.
"Nggak papa, Zi."
"Kamu yakin?"
"Aku cuma kangen Zaki."
Zian menepuk pundakku dua kali. Mungkin ia bermaksud menyuruhku untuk bersabar.
"Aku tinggal masak dulu ya."
Aku mengangguk. "Tolong masak sesuatu yang Zaki juga menyukainya ya, Zi." Pintaku.
Zian mengangguk kemudian melenggang keluar ruangan.
Aku mengontrol pernapasanku. Berdua dengan Zaki yang masih tertidur membuatku semakin sesak.
Aku mendongak agar air mataku berhenti mengalir. Kemudian aku mengalihkan pandangan dan menemukan bingkai foto yang dipajang diatas meja, bingkai itu berhasil menarik perhatianku. Aku meraih bingkai tersebut, memperhatikan wanita cantik yang terpotret dengan senyuman lebar dengan seorang lelaki tampan. Menurutku mereka adalah orang tua Zaki dan Zian.
Jika benar mereka orang tua Zaki maka Zaki dan Zian mewarisi hidung yang mancung dari sang ayah. Sedangkan mata mereka yang teduh mirip dengan sang ibu. Mereka terlihat sangat bahagia pada bingkai ini. Ah aku jadi ingat Zaki yang ingin mengajakku bertemu dengan orang tuanya.
"Ini foto orang tuamu kan, Zak? Kamu janji mau bawa aku ketemu mereka, Zak. Jadi cepat bangun ya, bawa aku ketemu orang tuamu."
Aku menghela napas. Biar aku dianggap gila karena aku mengobrol dengan orang tidur.
Tiba-tiba aku terpikirkan ucapan Fara, apa benar aku bisa membuat Zaki bangun?
Aku memeluk lengan Zaki, meletakkan kepalaku pada tepi kasur. Entahlah perasaanku kini tak menentu. Air mataku pun tak bisa berhenti mengalir.
"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu bisa cepat bangun, Zak."
"Andai aku masih ada disana mungkin aku akan ikut kamu terjun ke jurang itu.
"Aku nggak akan biarin kamu jatuh." Aku mendengar suara Zaki. Apakah aku sedang bermimpi?
"Apalagi jatuh ke jurang itu, Ayri." Ini benar-benar suara Zaki, atau aku sedang berhalusinasi?
Aku sangat takut untuk mengangkat kepalaku. Aku takut kalau ini tidak nyata.
Namun perlahan aku memberanikan diri mengangkat kepalaku. Aku langsung berdiri lalu mundur dengan cepat.
__ADS_1
"Za-Zaki?"
*****