Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 38 - BLUSHING


__ADS_3

Aku sudah sampai di ruang Sugimoto. Disini tak ada seminar atau apapun. Yang ada mereka semua sibuk dengan gadget masing-masing.


Waktu aku masuk tadi, Eva melambaikan tangan lalu aku menghampiri Eva yang tentu bersama Uci dan Risa. Jadilah sekarang aku duduk bersama mereka.


Ting!


Aku menerima sebuah pesan dan aku segera membukanya.


Baru melihat nama pengirimnya saja aku sudah sangat senang dan salah tingkah.


Hari ini aku agak sibuk urusin Line baru. Belum bisa temui kamu.


Aku segera membalas pesan dari Zaki. Dan unik beberapa menit kami saling berbalas pesan singkat.


Iya nggak papa.


**Nanti malam aku jemput kamu jam tujuh.


Ngapain**?


**Kita ngobrol diluar sambil dinner.


Oke kalau gitu**.


Aku tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Bibirku terangkat begitu saja dan membentuk senyum simpul.


Zaki mengajakku dinner? Kira-kira dia akan mengajakku kemana ya? Biasanya kami selalu makan dirumah Zaki. Apakah kali ini akan berbeda?


"Ciee... senyum-senyum. Pasti lagi chatting sama pacar ya?" Goda Eva. Aku tak membalas karena malu, aku hanya bisa senyum-senyum saja.


"Diam aja berarti benar nih lagi chatting sama pacar." Imbuh Risa.


"Btw, pacar kamu bakal cemburu nggak ya kalau tahu kamu dekat sama cowok lain di tempat kerja? Kamu kan dekat banget sama Pak Zaki, Ay." Lanjut Uci. Itulah yang aku suka dari Uci, walau begitu mengagumi Zaki tapi Uci tidak berpikir pendek seperti kak Febi dan kak Sari yang malah menyerangku.


Jujur aku sangat ingin tertawa mendengar pertanyaan Uci. Justru aku tidak bisa membayangkan kalau mereka tahu bahwa pacarku adalah Zaki. Untuk saat ini lebih baik aku merahasiakannya dulu.


"Dia nggak akan cemburu kok. Lagian aku juga cukup bisa profesional." Balasku.


"Pacar kamu keren, Ay. Dia nggak cemburu kamu dekat-dekat sama cowok mapan. Itu berarti tingkat kepercayaan diri pacar kamu tinggi, dia yakin dia bisa jadi yang terbaik buat kamu jadi dia merasa nggak perlu repot-repot cemburuin yang nggak pasti." Papar Risa.


"Ya, begitulah." Balasku seadanya. Aku masih saja ingin tertawa tapi aku tahan mati-matian.


"Oh ya, aku minta nomor kamu dong, Ay, boleh?" Tanya Eva. Risa dan Uci ikut mengangguk.


"Boleh dong." Balasku. Aku mengetikkan nomorku pada ponselku lalu mereka bertiga menulis ulang pada ponsel masing-masing.


"Punya sosial media kan, Ay? Ayo kita saling mengikuti."


"Punya beberapa. Oke ayo."


Jadilah waktu di ruangan Sugimoto itu kami habiskan dengan saling mengikuti pada sosial media kami lalu kami berbincang ringan. Mengobrolkan yang ringan-ringan sambil saling lebih mengenal satu sama lain. Beberapa kali mereka melempar pertanyaan padaku seputar biografiku, dan aku juga kembali menanyakan tentang mereka agar aku lebih tahu tentang mereka.


Hingga pada pukul dua belas tepat jam istirahat tiba dan kami pun bubar untuk menuju ke kantin untuk mengisi energi.

__ADS_1


*****


Zaki bilang dia sudah dalam perjalanan kesini untuk menjemputku, jadi aku harus bersiap-siap.


Aku mengambil tas kecil sebagai pelengkap penampilanku malam ini.


"Mau kemana, Ay?" Tanya Fara.


Ah iya, aku lupa memberi tahu mereka kalau aku akan pergi keluar bersama Zaki.


"Zaki mengajakku dinner. Kalian jangan nungguin aku pulang takutnya aku agak terlambat nanti. Aku akan bawa kunci cadangan jadi aku nggak perlu bangunin kalian kalau aku pulang."


"Kencan nih?" Tanya Sasi sambil menaik-turunkan alisnya, sengaja menggodaku.


Aku mengulum senyum. "Ya terserah kalian menyebutnya apa."


Tok tok tok!


Pintu sudah diketuk. Itu pasti Zaki.


Aku hendak menemui Zaki namun aku menghentikan langkahku ketika melihat jepit rambut pemberian Zaki yang tergeletak di meja, seakan sedang melambai-lambai ingin aku kenakan. Maka aku meraih jepit rambut itu dan memasangnya di rambutku. Namun ternyata aku kesulitan karena aku tak biasa memakai aksesoris di rambutku. Fara mendekatiku dan mengambil alih jepit rambut itu.


"Sini aku batu pakaikan."


Tak sampai satu detik Fara sudah menyelesaikan pekerjaannya.


"Terimakasih." Kataku.


Setelah itu aku menatap pantulan diriku pada cermin. Karena kurasa cukup jadi aku segera keluar.


"Hati-hati." Kata Sasi dan Fara kompak.


"Siap!"


Aku membuka pintu depan. Kali ini Sasi dan Fara tak mengekoriku sampai ke depan.


"Hai, maaf membuatmu menunggu lama." Kataku pada Zaki.


"Nggak papa." Balas Zaki santai.


Zaki menjulurkan tangannya. "Kita berangkat sekarang?"


Aku ikut menjulurkan tangan dan Zaki menerimanya. Ia menggenggam tanganku lembut. "Iya." Balasku malu-malu. Aku tertunduk.


Zaki menuntunku menuju mobilnya dan seperti biasa dia membukakan pintu untukku.


Setelah aku masuk dan duduk disebelah kursi kemudi, Zaki menunduk dan berbisik pelan. "Kamu sangat cantik malam ini." Kemudian Zaki menutup pintu disebelahku lalu ia mengitari depan mobil dan ikut masuk kedalam mobil.


Ah, Zaki ini sangat pandai membuatku tersipu. Aku jadi semakin malu dan tak berani mengangkat kepalaku. Zaki memang selalu membuatku menggila.


Zaki meraih tanganku untuk ia genggam, lalu ia melajukan mobilnya pelan.


*****

__ADS_1


"Reservasi atas nama Zaki." Kata Zaki pada petugas resepsionis restoran yang cukup elit.


Petugas itu mengecek data sebentar lalu mengarahkan aku dan Zaki pada suatu ruangan yang ternyata sudah Zaki pesan sebelumnya.


Zaki menarik satu kursi untukku, setelah itu Zaki duduk di depanku. Kami berhadap-hadapan.


"Apa makanannya mau diantar sekarang?" Tanya pelayan restoran.


"Iya sekarang, mba. Tolong ya." Balas Zaki ramah.


"Baik, tolong tunggu sebentar." Kemudian pelayan itu pergi.


"Restoran ini terlalu mewah, Zak. Kayaknya aku salah kostum." Kataku menyadari aku yang hanya mengenakan celana denim dan kemeja flanel.


"Pakaian nggak jadi masalah asalkan kita kesini bayar, nggak hutang."


Kemudian kami tertawa karena humor receh Zaki.


"Aku senang kamu pakai jepit rambut itu." Kata Zaki membuatku kembali menunduk. Ah, aku malu sekarang.


"Em, ngomong-ngomong kamu biarin mereka tahu hubungan kita secepat ini?" Tanyaku sedikit ragu. Aku berharap pertanyaanku tidak membuat Zaki salah paham lagi dan menudingku dengan kata-kata 'apa yang salah sama hubungan kita?' seperti waktu itu.


"Mereka? Siapa?" Tanya Zaki mengerutkan dahi.


"Itu tadi, Tommy." Balasku.


Zaki tiba-tiba seperti memahat tawa.


"Pfftt.."


Aku menatap pada Zaki yang tengah melebarkan bibirnya sehingga gigi-gigi rapinya terekspos.


"Aku nggak se-childish itu, Ayri. Kamu mau tahu gimana ceritanya dia bisa tahu?" Tanya Zaki memajukan dirinya supaya lebih dekat denganku.


"Apa?" Balasku cuek untuk menutupi kegugupanku. Aku sengaja mengalihkan pandanganku.


"Tommy itu temanku sejak kuliah. Dia teman baikku, jadi dia hampir tahu semua tentangku. Dia tahu aku sering nyamperin yang namanya Ayri di line, meskipun dia nggak pernah kepo dengan kamu. Dia cuma pernah lihat kamu di HP ku dan ya, makanannya tadi dia pinjam HP ku buat pastiin kamu orang yang sama dengan yang ada di HP ku apa enggak." Jelas Zaki perlahan, aku cukup terkesan mendengar Zaki berbicara sepanjang ini hanya untuk menjelaskan hal ini.


"Tommy bukan orang yang suka bergosip apalagi membocorkan rahasia kan?" Tanyaku.


"Tentu saja dia bukan orang seperti itu. Kamu tenang aja."


Aku mengangguk. "Maaf, bukannya aku nggak mau mengakui kamu, tapi aku_"


Deg!


Aku tak melanjutkan kata-kataku ketika Zaki berhasil menyentuh pipiku dan mengusapnya pelan.


"Jangan khawatir, aku ngerti. Biar saja mereka tahu dengan sendirinya." Kata Zaki sambil tersenyum hangat. Ah, senyuman itu sungguh membuatku meleleh.


Oh, tunggu! Apakah dia sedang memberitahuku bahwa dia tidak berniat memamerkan hubungan kami pada siapapun dan bermaksud agar aku tak perlu khawatir tentang itu? Ah, pipiku semakin memanas. Zaki memang selalu seperti itu, selalu bisa membuatku mengandalkannya.


"Lupakan! Bisakah kita membahas itu sekarang?" Kataku teringat pada tujuan awal kami datang kesini.

__ADS_1


Zaki manggut-manggut. "Lebih cepat lebih baik, bukan?"


*****


__ADS_2