Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 31 - ELSA


__ADS_3

"Ayri, tolong bertahan."


"Elsa?"


Dia benar-benar Elsa kah? Dia juga ada di sini? mengapa bisa?


Ah benar, waktu itu Elsa pernah mau mengatakan sesuatu padaku ketika tiba-tiba Zaki datang, dan dia menghilang tanpa jejak sebelum sempat mengatakannya.


"Apa yang kamu lakukan disini, Elsa?"


"Aku dan teman-temanku memang berada disini. Ayri kamu harus bertahan, temanku disana sedang mencoba bangunkan Zaki."


Sraat!


Makhluk yang tadi memukuliku kini melempar bola api kearah Elsa, entah ia dapat bola api itu dari mana aku tak paham.


"Elsaaa!" Pekikku karena bola api itu mengenai Elsa. Namun sepertinya Elsa tidak terluka parah karena ia kembali melayang dengan cepat.


"Tak usah pedulikan aku." Balas Elsa.


Benar yang Elsa katakan. Saat aku melihat ke arah Zaki disana juga ada gadis seperti Elsa yang mondar-mandir di depan Zaki. Ya, mau bagaimana lagi, gadis itu tak akan bisa menyentuh Zaki karena mereka berbeda. Jadi usaha apa yang akan gadis itu lakukan untuk membangunkan Zaki.


Dan ternyata gadis itu mampu membuat Zaki tersadar. Perlahan Zaki mengangkat kepalanya. Zaki mendongak menyadari ada gadis itu disana. Mereka seperti sedang berinteraksi, tapi aku tak bisa mendengar percakapan mereka karena aku berada cukup jauh dari tempat Zaki diikat. Tak lama kemudian Zaki mengarahkan pandangannya padaku.


"Ayri!" Samar-samar aku mendengar Zaki menyerukan namaku. Syukurlah Zaki sudah sadar.


Makhluk-makhluk aneh itu kembali menyerang Elsa. Elsa terlihat kewalahan menghadapi serangan dari beberapa makhluk-makhluk itu sekaligus. Mereka mungkin marah karena Elsa membantuku.


"Elsa kamu pergi saja. Aku akan berusaha sekuat tenaga." Teriakku.


Lalu makhluk-makhluk itu serentak kembali mendekatiku setelah membuat Elsa terpental. Mereka menyeretku lagi lebih menjauh.


"Jangan bawa pergi Ayri." Kata Elsa lantang. Dia ketakutan kah? Apa hantu juga bisa merasa takut dan tertekan?


"Ayri, kamu nggak boleh pergi. Kamu harus berada di dekat Zaki." Kata Elsa lagi.


"Hei, cepat lepaskan Zaki." Pinta Elsa pada temannya. Dengan sigap teman Elsa menjalankan perintah Elsa. Tak butuh waktu lama untuk Zaki dapat mengejarku.


Elsa melempar sebuah tombak dan Zaki tangkas menerimanya. Kemudian Zaki maju dan menyerang makhluk-makhluk itu dengan tombak ditangannya. Elsa dan temannya juga membantu. Namun makhluk-makhluk itu semakin murka. Dengan sekali serangan bisa membuat Zaki, Elsa dan temannya terhempas. Dengan begitu aku ditarik paksa menjauhi teman-temanku.


"Kalian nggak boleh pisah! Zak, kamu harus kejar Ayri." Aku mendengar Elsa terus berteriak di belakang. Tapi aku tak bisa melakukan apapun. Aku tak memiliki tenaga walau sekedar untuk menolehkan kepalaku saja.


Wuzzz! Wuzzz!


Tiba-tiba angin kencang datang, menghantam kami semua. Cekalan ditanganku terlepas. Kemudian aku melayang seperti sebuah kapas. Aku menghantam dinding-dinding kesana-kemari dengan bertubi-tubi. Angin iiu tak kunjung reda, memporak-porandakan tempat ini. Dan begitu angin itu berhenti secara tiba-tiba, aku terjatuh ke tanah dari ketinggian.

__ADS_1


Buk!


Bukan tanah. Ternyata aku terjatuh diatas batu.


"Uhuk-uhuk-uhuk." Aku terbatuk-batuk. Darah segar keluar dari mulutku. Sekujur tubuhku mati rasa. Kepalaku terasa berat. Hampir seluruh wajahku terasa perih mungkin karena luka-luka yang kudapat dari menghantam dinding bebatuan tadi.


Aku merangkak berusaha bangkit. Lalu aku mendengar suara batuk dari arah samping. Aku menengok dan disana Zaki sedang berusaha menyingkirkan batu yang menindih kakinya. Cepat-cepat aku berlari kesana. Entah mendapat kekuatan dari mana tapi aku langsung dapat bangkit ketika melihat Zaki dengan keadaan seperti itu. Aku mendorong batu itu kuat-kuat bersamaan dengan Zaki yang juga mendorong batu itu. Sebenarnya batu itu tidak sebegitu besarnya, tapi karena tenaga kami yang telah terkuras maka batu ini terasa sangat berat.


Akhirnya usaha kami tak sia-sia. Batu itu menggelinding membebaskan kaki Zaki yang mengeluarkan banyak darah.


"Zakii." Lirihku. Aku menangis merasakan sakit di dadaku. Apa sebenarnya salah kami, mengapa kami harus mengalami siksaan seperti ini?


Aku ambruk dan Zaki sigap meraih tubuhku. Zaki memelukku, dan aku membalas memeluknya lebih erat.


"Kenapa ini semua terjadi, Zak? Kenapa harus kita yang menjalani ini semua?" Aku terisak dalam dekapan Zaki.


Sesuatu yang hangat mendarat pada puncak kepalaku, yang aku yakini Zaki sedang menciumku disana.


"Kalian istirahatlah, mereka nggak akan bisa menyentuh kalian kalau kalian tetap bersama." Kata Elsa. Aku tak menyadari keberadaan Elsa sebelumnya.


"Apa maksudmu, Elsa?" Tanyaku.


"Elsa?" Tanya Zaki yang mungkin belum tahu nama hantu gadis itu. Aku mengangguk dan Zaki langsung paham.


"Apa maksudmu? Tolong bicara yang benar." Seru Zaki.


"Aku nggak tahu caranya, aku nggak tahu detailnya, tapi aku tahu kalian harus bersama agar mereka terkubur. Agar kami terbebas." Kata Elsa yang semakin membuatku bingung.


"Aku nggak ngerti apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan. Kalian ingin terbebas dari apa? Dan tempat apa ini sebenarnya?"


Elsa memandang temannya yang berada disebelah tepat. Kemudian ia kembali memandangku.


"Sudahlah, kalian istirahatlah. Aku akan cari tahu detailnya dan mencari tahu jalan kembali untuk kalian. Kalian harus kembali karena hanya di dunia nyata kalian bisa menyelamatkan kami." Kata Elsa kemudian terbang menjauhi kami.


"Ayo, Sekar, manusia butuh waktu yang lama untuk mengembalikan energi mereka." Kata Elsa lagi. Tak menunggu lama dia yang disebut Sekar langsung menyusul Elsa.


Zaki membenarkan duduknya, mencari posisi yang nyaman, kemudian ia menarikku agar bersandar didadanya.


"Apa kamu takut, Ayri?" Tanya Zaki. Ia terus mengusap rambutku, memperlakukan aku layaknya anak kecil.


"Sangat." Kataku jujur.


"Disini ada aku."


"Aku juga takut melihatmu terluka." Kataku pedih.

__ADS_1


"Tak apa. Selalu ada cinta di setiap luka."


Aku menangis sejadi-jadinya walau aku tak tahu persis apa arti kalimat Zaki. Yang jelas aku menangis karena kesakitan. Seluruh tubuhku terasa sakit. Selain itu hatiku juga merasakan sakit karena melihat orang yang aku cintai terluka tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.


Tunggu, apakan benar aku sudah jatuh cinta?


Aku terus menangis, dan Zaki tak lelah mengusap rambutku hingga ke punggungku. Zaki adalah pria hebat. Tak peduli seberapa ia terluka ia tetap berusaha menjadi sandaran terbaik untukku. Tak tahu seberapa putus-asanya dia dalam kondisi ini tapi dia tetap berusaha membuatku lebih tenang.


Aku masih menangis. Aku hanya tahu aku masih menangis sampai akhirnya aku tak ingat apa-apa.


*****


Sesuatu yang hangat bergerak menyapu pipiku. Itu membuatku nyaman tapi aku penasaran sesuatu apa itu. Aku membuka mata dan pertama yang aku lihat adalah mata Zaki yang didalamnya ada aku.


"Apa yang kamu lihat?" Tanya Zaki tanpa mengalihkan pandangan.


"Mata kamu." Balasku yang juga tak memutus tatapan kami.


"Ada apa didalam sana?"


"Memangnya ada apa?"


"Ada kamu." Balas Zaki tanpa ragu.


Aku gugup mendengar perkataan Zaki. Tanpa sadar aku mengulas senyum dibarengi degup jantungku yang sangat kencang.


"Aku suka saat kamu tersipu malu." Kata Zaki lagi. Aku mengalihkan pandanganku tanpa kata.


"Aku bangunin kamu ya?" Kata Zaki sangat pintar memegang kendali percakapan.


"Nggak papa. Aku udah cukup istirahatnya." Aku masih tak berani melihat Zaki.


"Dalam kesulitan ini aku senang kamu ada disisiku. Aku janji akan penuhi semua keinginan kamu ketika kita kembali nanti."


"Jangan mengucapkan janji apapun. Aku takut kamu tak akan memenuhi janji itu." Kataku sambil merasakan sakit di hatiku yang teramat sangat.


Aku bukan tak percaya dia akan memenuhi janjinya. Aku hanya takut kami tak akan pernah kembali ke dunia nyata lagi.


Krak! Klutak!


Sebuah benda terlempar kearah kami dan tak lama kemudian kami terjebak didalam lingkaran api.


"Api! Tolong!"


*****

__ADS_1


__ADS_2