Kunci Gaib

Kunci Gaib
PART 32 - AIR TERJUN


__ADS_3

Kobaran api semakin membesar dan menyebar, hingga kami terhimpit ditengah-tengah. Api besar tersebut nyaris mengenai aku dan Zaki.


Pletak!


Api mulai meletik.


"Ayri, kamu nggak papa?" Tanya Zaki panik karena aku hampir terkena cipratan api.


"Aku baik, kamu?"


"Ya, aku nggak papa." Balas Zaki semakin memperkuat cengkeraman pada pergelangan tanganku.


"Ayri!" Aku mendengar suara Elsa, namun aku tak bisa melihatnya karena terhalang kobaran api yang mengitari kami.


"Elsa!"


"Ya, ini aku. Kalian harus kembali. Apapun yang terjadi kalian harus kembali ketempat asal kalian." Teriak Elsa.


"Bagaimana caranya?" Tanyaku.


"Apa kamu punya cara, Elsa?" Tambah Zaki.


Lalu Elsa dan Sekar terbang diatas kami dan menjatuhkan sebuah benda persegi yang cukup besar. Zaki menangkapnya.


"Gunakan itu." Kata Elsa.


"Bagaimana caranya?"


"Kalian tinggal sentuh kacanya di lingkaran tengah. Kami hanya bisa bantu kalian sampai disini. Segera pergi sebelum kalian terbakar." Kini Sekar yang menjelaskan. Aku melihat ada garis lingkaran yang dimaksud Sekar.


"Setelah masuk kedalam sana kalian harus mengikuti petunjuk air. Jangan melawan arah." Tamba Elsa.


"Jadi maksudnya kami masih harus_"


"Jangan banyak bertanya. Waktu kalian tak banyak." Kata Elsa kemudian dia menghilang tanpa jejak bersama Sekar.


"Ada aku. Apapun yang ada di depan aku akan ada bersamamu. Kita hadapi bersama." Kata Zaki cepat.


"Ayo." Zaki menarik tanganku dan kami menyentuh lingkaran itu bersamaan. Kami tersedot lingkaran misterius itu lalu setelah itu aku tak ingat apapun.


*****


Aku bersandar pada pohon besar ketika aku terbangun. Pohonnya rimbun membuat sejuk. Tak jauh di depan aku melihat ada air terjun yang indah. Apakah itu yang dimaksud oleh Elsa dan Sekar? Tapi dimana Zaki?


Aku mengedarkan pandangan, tak jauh dariku Zaki sedang berusaha bangun, kemudian ia menghampiriku.


Aku merinding melihat keadaan Zaki dimana wajahnya penuh lebam, bahkan darah kering menempel pada wajah dan beberapa bagian tubuh Zaki yang terluka. Aku meringis menyadari Zaki yang bisa dikatakan terluka parah.


Oh tunggu, sepertinya aku tak jauh berbeda dengan Zaki. Bukankah aku juga mendapatkan serangan itu? Aku melirik tanganku yang juga banyak terdapat darah yang sudah mengering.


"Apa aku sangat jelek sekarang?" Tanyaku pada Zaki.


Zaki menggeleng. "Kamu tetap yang paling cantik."

__ADS_1


"Ck, gombal!" Kataku sambil berjalan menjauhi Zaki.


Melihat air terjun disana aku jadi tak sabar ingin membasuh wajahku dan mengusir bekas-bekas darah ini sejauh-jauhnya.


Ah benar. Waktu itu aku dan Zaki pernah membahas tentang air. Lebih tepatnya Zaki yang menanyakan hal itu. Dan saat itu kami mengatakan kami menyukai air yang mengalir, seperti air terjun ini.


"Kamu mau kemana, Ayri?" Teriak Zaki dari belakang.


"Aku mau mencuci muka."


"Jangan!"


"Air disana terlihat sangat menyegarkan."


"Kita nggak tahu ini tempat apa. Jangan sentuh sedikitpun."


Aku langsung berhenti. Benar apa yang Zaki katakan. Aku tidak boleh ceroboh. Aku tidak boleh tertarik dengan hal-hal yang terlihat menggiurkan, siapa tahu itu adalah jebakan.


Zaki sudah tiba di sampingku dan dia langsung meraih tanganku.


"Ayo, kita harus cepat cari jalan keluarnya." Zaki menarikku pelan, berjalan mengikuti arah air mengalir. Aku mengikutinya tanpa ragu.


"Aku akan bocorkan rahasia besarku padamu ketika kita kembali." Kata Zaki sambil menyusuri rerumputan yang mulai meninggi.


"Apa itu?"


"Rahasia. Aku akan katakan nanti."


"Ya, terserah kamu."


"Ay,"


"Ya?"


"Apa yang buat kamu bertekad ingin tetap hidup?"


Aku diam beberapa saat, memikirkan jawaban yang pas.


"Masih ada keluargaku disana. Mama, Papa, dan adikku."


"Cuma itu?"


"Memangnya apa lagi?"


"Alasanku ingin tetap hidup karena ada kamu. Aku ingin mewujudkan semua keinginanmu." Kata Zaki.


"Gimana kalau seandainya aku nggak bisa kembali?"


"Maka nggak ada alasan lagi untukku kembali."


"Kenapa? Bukankah kamu masih punya Zian disana?"


"Aku lebih sayang kamu dibanding Zian." Kata Zaki terdengar tulus.

__ADS_1


Ah, aku tiba-tiba merasa malu sendiri. Selain aku deg-degan aku juga merasakan panas di pipiku.


"Bagaimana dengan orang tuamu?" Tanyaku yang tiba-tiba teringat dengan orang tua Zaki. Mengapa hanya aku yang dia jadikan alsan untuk bertahan? bagaimana dengan orang tuanya?


Zaki terdiam, berhenti melangkah. Aku hampir menabrak punggungnya kalau aku tak menghentikan langkahku telat waktu.


"Orang tuaku_"


Zaki belum sempat menyelesaikan kalimatnya dan dia lebih dulu masuk ke dalam lubang. Lubang ini seperti sengaja dibuat sebagai jebakan disana. Aku ikut terseret karena kami masih berpegang tangan sejak tadi.


Ketika terjatuh, aku hanya merasakan sebuah tarikan yang kuat seperti sedang menyedot kami. Kami tak bisa menahan kekuatan besar itu hingga akhirnya aku sampai pada dunia putih yang sepertinya aku pernah berada disini sebelumnya.


Aku duduk kemudian menyapu pandangan mencoba menemukan kebenaran Zaki, namun aku tak melihat apapun disini, hanya putih yang bisa kulihat disini.


Lalu tiba-tiba ada sebuah cahaya yang begitu menyilaukan datang semakin mendekatiku. Aku menggunakan tanganku untuk menutup mata karena itu sangat menyilaukan. Namun tak lama kemudian cahaya itu hilang, yang tertinggal hanya gelap.


*****


Sekujur tubuhku terasa kaku, bahkan untuk menggerakkan jari saja terasa begitu berat. Begitu pula dengan mataku. Aku ingin membuka mata namun kelopak mataku menempel sangat erat. Aku membutuhkan usaha keras hingga akhirnya aku dapat membuka mata.


Aku melihat sekeliling. Atap putih, ruangan serba putih, selang infus, tabung oksigen dan sebuah tabung mesin medis. Aku tahu bahwa aku sedang berada dirumah sakit lagi.


Aku mendudukkan diriku, melepas alat pembantu oksigen yang terpasang pada hidungku, dan betapa kagetnya ketika aku melihat Mama tertidur di pinggiran ranjang yang aku gunakan.


Aku menangis melihat wajah lelah seorang ibu yang tergambar jelas pada wajah Mama. Kantung matanya tak bisa membohongi kalau dia kurang tidur. Mama pasti sangat mengkhawatirkan aku? Apakah Mama selalu menjagaku disini? Dan dimana aku sekarang?


Aku menggerakkan tanganku untuk membelai wajah Mama yang tetap cantik walau sudah mulai menua. Aku sedih melihat Mama kelelahan seperti ini. Dan itu karena aku. Seberapa banyak aku menyusahkan Mama?


Mata mama bergerak, sepertinya aku telah membangunkan istirahat Mama.


Mama membuka matanya, kemudian matanya melebar sempurna begitu melihatku.


"Ayri."


"Iya, ini Ayri, Ma." Aku tak bisa menahan air mataku. Mama memelukku erat, saat itu pula tangis Mama pecah bersamaan dengan dadaku yang semakin sesak.


"Syukurlah kamu udah bangun, sayang." Mama mengelus punggungku hangat.


"Mama takut kamu kenapa-napa, Ayri. Mama takut kamu nggak akan bangun lagi. Mama takut Mama akhirnya menyerah dan membiarkan Dokter mencabut semua alat medis disini." Mama terus meracau dalam pelukan ini. Aku semakin teriris.


Jadi, apa mungkin para Dokter sudah menyarankan Mama untuk mencabut alat-alat ini?


"Ayri baik-baik aja, Ma. Ayri sangat sehat sekarang. Ayri janji nggak akan buat Mama khawatir lagi. Ayri akan minta dokter untuk izinkan Ayri pulang sekarang juga."


"Kamu masih harus istirahat, sayang. Kamu baru aja sembuh."


Aku melepas selang infus. "Ayri udah sangat sehat, Ma. Mama nggak perlu khawatir."


"Nggak-nggak, Mama tetap nggak setuju."


"Ma_"


"Ayri!"

__ADS_1


"Kak Ayri!"


*****


__ADS_2