
"Untuk hari ini, tolong jangan bahas masalah yang nggak kelihatan, oke?"
*****
Setelah sarapan ketoprak pagi ini Zaki membawaku ke sebuah danau yang katanya belum lama ini baru dibuka.
"Ngapain diam disini?" Tanyaku.
Aku masih bingung karena Zaki terus menggandeng tanganku padahal sudah sejak beberapa menit lalu kita sampai di tepi danau.
"Aku suka air." Kata Zaki yang setelah beberapa saat.
"Pffttt.." aku berusaha menahan tawaku namun tak mampu.
"Siapa yang nggak suka air, coba? Semua orang kan butuh air."
"Iya. Tapi maksud aku tuh ini sukanya beda. Rasanya tenang kalau lihat air."
"Oke aku ngerti. Tapi kalau aku lebih suka air yang mengalir. Ada suara gemericik. Terasa lebih hidup." Kataku.
Zaki berpaling padaku dan tersenyum, ekspresinya lucu.
"Iya itu juga aku suka." Zaki membalas. Aku mengangguk beberapa kali.
"Tapi aku lebih suka kamu." Kata Zaki lagi.
Aku membulatkan mulut karena terkejut. Mataku mengerjap-ngerjap seolah dengan begitu aku bisa tau apa maksud Zaki tadi.
"Apa?" Akhirnya aku bersuara.
Zaki menggeleng sambil memalingkan pandangannya.
"Mas Andi masih gangguin kamu?" Tanya Zaki tiba-tiba.
Aku mengerutkan keningku sambil menatap Zaki yang tengah menatap lurus pada danau didepannya.
"Dia nggak pernah ganggu aku."
"Maksudnya, dia masih deketin kamu nggak?"
Dadaku mengembang seketika. Bunga-bunga didalamnya mekar dan dikelilingi kupu-kupu. Hampir meledak hanya karena kalimat Zaki baru saja.
Oke, ini mungkin hanya perasaanku saja. Aku merasa Zaki sedang menunjukkan kecemburuannya disini. Apalagi ditambah nada bicaranya yang ketus memperkuat perspektif ku.
"Kemarin sih enggak. Kita nggak ketemu karena aku didalam kamar terus."
"Jadi berharap ketemuan?" Tanya Zaki dingin.
"Yaaa...nggak berharap pun juga pasti ketemu. Kan kita satu tempat."
"Kok kesannya kamu kayak pengin banget ya ketemu sama dia?" Zaki menolehkan kepalanya padaku, memincingkan matanya.
"Ya nggak gitu juga. Tapi kan bener yang aku bilang. Kemungkinannya besar kita bisa ketemu meskipun nggak tiap hari."
"Terserah! Mau ketemu setiap hari juga bukan urusanku." Zaki berubah menjadi lebih ketus lagi.
Kenapa? Kenapa Zaki jadi semarah ini? Bukankah beberapa detik lalu kita masih baik-baik saja?
Dan tiba-tiba bunga-bunga didalam hatiku yang tadi bermekaran kini berubah layu akibat ucapan Zaki yang mengatakan bahwa ini bukan urusannya.
"Iya memang bukan urusanmu." Balasku sedikit meninggikan nada suaraku.
"Lagian ngapain sih kamu belain dia?"
"Siapa yang belain dia sih, Zak. Kan aku ngomong kenyataannya."
"Ya terus kenapa kayaknya asik banget kalau ngomongin soal dia? Kenapa nggak kamu cari aja topik lain?" Zaki makin tidak masuk akal.
"Loh? Bukannya kamu yang nanya duluan tadi? Aku cuma jawab pertanyaan kamu, kok." Aku mulai tersulut emosi. Aku membentak Zaki tanpa sadar.
Ah, kenapa juga aku harus membentak Zaki dan ikut marah? Tiba-tiba aku merasa bersalah padanya.
Aku mundur dua langkah, membuat sedikit jarak antara aku dan Zaki.
Aku melihat Zaki mengusap wajahnya kasar. Ekspresinya tak terbaca. Jemari yang sejak memegang pagar danau kini tak berhenti bergerak.
"Ay." Panggilnya sangat pelan. Aku tak langsung menyahuti.
Zaki menangkup wajahku, mengangkat sedikit kepalaku yang tadi menunduk.
"Maaf, Ay. Aku nggak bermaksud marah-marah sama kamu."
Aku melepaskan tangan Zaki dari wajahku dengan perlahan tanpa mengeluarkan suara.
"Oke aku tahu kamu pasti marah sama aku karena tadi aku marah tanpa alasan seperti itu. Aku ngerti." Nafas Zaki terdengar memburu padahal ia tidak habis lari.
"Kita nggak bisa lanjut jalan dengan kondisi kita sekarang. Jadi, mau aku antar pulang atau.."
"Zak!" Panggilku, menghentikan langkah Zaki yang terlihat bergerak tak tenang.
Kemudian Zaki menatapku menunggu aku bicara.
"Lupain. Aku juga salah karena ikut terbawa amarah tadi."
__ADS_1
Zaki tersenyum tipis, hampir tak terlihat jika tak diperhatikan secara teliti.
"Jadi, masih mau jalan?"
Aku mengangguk saja. Dan setelahnya kami berdua tertawa bersama.
"Mau aku fotoin? Pemandangan disini bagus, kan? Kebetulan matahari belum naik terlalu tinggi. Masih bisa foto ala sunrise gitu." Kata Zaki. Aku dan dia kembali tertawa.
Zaki mengeluarkan kamera yang sejak tadi tergantung pada satu lengannya.
"Oke boleh. Foto yang bagus ya."
"Siap komandan!"
*****
"Bagus nggak foto-fotonya?" Tanyaku setelah Zaki menyusulku masuk kedalam mobil.
"Bagus. Siapa dulu yang fotoin." Kata Zaki membanggakan diri.
Aku memutar bola mataku, berpura-pura tak senang. Kemudian kami tertawa.
"Nih kalau mau lihat." Zaki menyerahkan kameranya padaku. Tak segan aku menerimanya.
Aku tersenyum melihat beberapa hasil foto yang Zaki ambil tadi. Ternyata kemampuan fotografinya cukup menawan.
"Nanti kirim ya." Pintaku sambil mengembalikan kamera itu padanya.
"Iya, siap!"
"Ada rencana mau kemana nggak?" Tanya Zaki.
Aku menggeleng. "Nggak ada."
"Terus mau kemana kita sekarang?"
"Aku kan nggak tau daerah sini. Aku disini aja baru satu minggu."
Zaki terkekeh. "Oh iya lupa. Masa mau main dirumah lagi?"
"Mau-mau aja."
Zaki tersenyum padaku namun tersirat raut terkejut.
"Oke kita pulang."
Zaki memakai sabuk pengamannya kemudian menyalakan mesin. Setelah itu mobil melaju.
*****
"Suka."
"Mau mampir ke toko buku? Kebetulan didepan sana ada toko buku."
"Ngapain?" Tanyaku ragu.
"Ya beli buku lah masa beli genting di toko buku." Jawab Zaki humor.
"Ada buku yang pengin kamu beli nggak?" Tanya Zaki lagi.
"Ada sih."
"Kalau gitu kita mampir."
Dengan begitu Zaki membelokkan mobilnya ke pelataran toko buku yang cukup besar yang letaknya memang sangat strategis.
"Yuk." Ajak Zaki. Dia sudah melepaskan sabuk pengamannya.
"Emm.. kayaknya nggak usah deh, Zak. Kapan-kapan aja."
"Kenapa? Kita udah disini loh." Zaki mengernyitkan dahi.
"Y-yaa nggak papa. Ya kapan-kapan aja." Balasku terbata.
"Udah ayo. Nanti aku yang beliin." Zaki seperti tau apa yang sedang aku pikirkan.
Memang itu yang aku pikirkan. Aku tida bisa membuang uangku dengan tidak bijak apalagi aku masih belum menerima gaji, jadi aku harus pandai-pandai menghemat.
"Ng-nggak nggak perlu nggak perlu."
"Nggak boleh nolak rezeki, Ay."
"Ta-tapi tapi_"
Tak mengindahkan ucapanku, Zaki sudah turun dari mobil lebih dulu dan membukakan pintu untukku.
"Ayo." Zaki mengulurkan tangannya dan suaranya terdengar sangat lembut. Ah, aku tak sanggup menolaknya.
Alhasil akupun menurut.
Kami memasuki toko buku. Dibagian depan tertata secara menarik novel yang launching baru-baru ini. Dan beberapa novel best seller terpajang secara menonjol di satu sudut. Ah aku hampir ingin membeli semua buku yang ada disini, terutama novel-novel yang sudah lama aku incar.
"Mau cari buku apa?" Tanya Zaki membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
"Novel."
"Oke. Apa judul novelnya? Atau siapa pengarangnya? Nanti aku bantu cari." Kata Zaki sedikit mengeraskan suaranya karena suasana sedikit agak ramai.
"Tentang kamu." Balasku.
"Ha? Ap-apa?" Tanya Zaki terdengar ambigu.
"Iya. Judulnya tentang kamu, novel terbarunya Tere Liye."
"O-oh. Iya-iya nanti aku bantu cari." Zaki terlihat salah tingkah. Apa ada yang salah?
"Sebenarnya banyak novel karya dia, tapi yang 'tentang kamu' ini yang terbaru." Jelasku tanpa diminta penjelasan.
Zaki mengangguk.
Aku bergerak menyusuri jajaran novel-novel untuk mencari buku yang aku inginkan. Zaki mengikuti.
"Suka banget sama Tere Liye?" Tanya Zaki disela kami mencari novel itu.
"Sebenarnya aku sukanya sama karyanya, sih. Karena aku belum pernah ketemu Tere Liye jadi aku nggak bisa bilang aku suka dia atau enggak." Balasku setengah bergurau. Zaki pun tertawa.
"Beberapa buku ciptaannya yang aku baca berhasil bikin aku jatuh cinta, jadi ekspektasiku semua karyanya akan luar biasa. Apalagi novel-novel yang terbit sebelum ini sudah pasti best seller, jadi nggak bisa diragukan."
"Oke. Jadi novel berjudul apa aja yang kamu udah punya?" Tanya Zaki dengan nada bersahabat.
Aku tidak menyangka bahwa Zaki akan se-menikmati ini berada di toko buku. Apa dia juga menyukai tempat seperti ini?
"Hmm.. Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin_"
"Itu judulnya?" Tanya Zaki menyela.
"Iya."
"Panjang banget. Susah diingat." Kata Zaki dibarengin cekikikan.
"Terus ada apa lagi?" Tanya Zaki lagi.
"Ada yang berjudul Hujan, Sunset bersama Rosie dan ada dua buku yang isinya kumpulan beberapa cerpen tapi aku lupa judul bukunya."
"Oke. Sunset bersama Rosie? Gimana isi ceritanya?"
"Aku suka membaca tapi nggak pandai berbicara apalagi bercerita. Saat ujian speaking di sekolah nilaiku hanya sebatas standar, nggak pernah lebih satu angkapun dari nilai KKM." Kataku diselingi gurauan.
Aku bergurau tapi aku tidak berbohong mengenai nilai speaking-ku yang tidak pernah bisa dikatakan bagus.
"Apa kamu juga suka baca buku?" Tanyaku pada Zaki.
"Bisa dibilang nggak suka."
"Lalu kenapa kamu ajak aku kesini?"
"Beberapa cewek yang aku kenal mereka suka diajak belanja buku."
"Oh gitu."
Kenapa aku tiba-tiba merasa tak nyaman mendengar penjelasan Zaki?
Beberapa cewek? Hm.
"Ay,"
"Ya?" Balasku datar dan tak menatapnya.
"Beberapa cewek yang aku bilang tadi cuma teman satu kelas. Nggak lebih."
Oh syukurlah. Aku merasa lega mendengarnya. Tapi aku harus berpura-pura bahwa itu sama sekali bukan masalah untukku.
"Kenapa harus jelasin ke aku?" Tanyaku berusaha tenang. Padahal didalam hatiku aku sungguh ingin berjingkrak.
"Aku ingin terbuka sama kamu. Dan aku nggak pengin kamu salah paham."
"Oh, oke." Kataku berusaha biasa saja walau kenyataannya hatiku berdebar-debar tak menentu.
"Ah, ketemu." Kataku girang menemukan buku dengan sampul warna cokelat dengan gambar sepasang sepatu yang aku cari-cari sejak tadi.
"Ini juga karya Tere Liye?" Tanya Zaki mengangkat satu buku bersampul putih dengan tulisan RINDU.
"Iya. Kamu mau beli itu?"
"Iya aku mau beli ini." Jawab Zaki dengan wajah lucunya. Ya ampun! Itu menggemaskan.
"Mau baca?"
"Kamu lah yang baca."
"Aku?"
"Ini bonus. Kan promo beli satu gratis satu."
"Hahaha... Oke terimakasih mas, kebetulan saya belum punya yang itu. Sering-sering ya adakan diskon supaya pelanggan senang."
Zaki ikut tertawa.
__ADS_1
"Udah ayo ke kasir."
*****