
Setelah sehari semalam tidak sadarkan diri, Chu Feng akhirnya sadar, ia merasakan dirinya telah pulih sepenuhnya bahkan merasa lebih kuat lagi.
"Chu'er akhirnya kau sadar kakek tua ini begitu mengkhawatirkan mu" kakek Li langsung bergegas menemui Chu Feng, begitu ia menderita kabar Chu Feng sudah sadarkan diri.
"Kakek jaga dirimu baik-baik tidak usah terburu-buru begitu, aku baik-baik saja".
"Kakek tua ini tidak bisa apabila itu menyangkut dirimu Chu'er".
"Kakek Chu'er sangat berterima kasih dan bersyukur karena memiliki kakek di dalam hidup Chu'er, maafkan Chu'er karena telah membuat kakek kuatir" ujar Chu'er Feng lirih, ia merasa selalu menjadi beban kakek Li selamat ini.
"Apa yang kau katakan Chu'er, kita semua adalah keluarga tidak perlu begitu".
"Baiklah kakek Li"
"Setelah kau sudah cukup beristirahat nanti datanglah ke rumah kakek, tetua Duan Mu ingin bertemu denganmu" pesan kakek Li.
"Baiklah kakek terimakasih".
"Kalau begitu jaga dirimu baik-baik, kakek akan segera menemui tetua Duan Mu, untuk memberitahukannya bahwa kau sudah sadar" ujar kakek Li pamit keluar.
"Baiklah kakek hati-hati di jalan!".
"Hmhm makanlah makanan mu agar kau cepat pulih".
Chu Feng segara makan makanan yang disediakan untuknya, ia baru merasakan kenyang setelah beberapa hari ini berpuasa, kada Chu Feng hanya memakan buah hutan untuk mengisi perutnya.
"Baiklah dunia bela diri aku datang!!, Ayahanda Ibunda tunggulah Chu'er menjadi kuat, Chu'er akan mencari keberadaan kalian yang sebenarnya".
***
Tetua Duan Mu saat ini sedang berbincang dengan kakek Li entah membahas apa, tepat pada saat itu Chu Feng sampai di rumah kakek Li untuk menemui tetua Duan Mu.
"Salam tetua Luar, salam kakek kepala desa, Junior Chu Feng datang menghadap" salam Chu Feng penuh hormat.
"Bagus anak yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, Chu Feng tanpa berbasa-basi lagi, hari ini juga kita akan segera berangkat ke Sekte" ujar tetua Duan kepada Chu Feng.
"Ini..." Chu Feng menatap kakek Li sejenak.
"Tidak perlu kuatir semua barang bawaan mu sudah kakek atur, masalah memberitahukan kedua orang tua angkat mu serahkan kepada kakek" ujar kakek Li seolah-olah mengerti pikiran Chu Feng.
"Ba... baiklah kalau begitu kakek kepala desa" Chu Feng sebenarnya belum mau meninggalkan desa secepat ini, terlalu banyak kenangan baginya di desa ini yang membuat nya engan pergi.
"Bagus mari ikuti tetua ini".
__ADS_1
"Baik tetua".
Tetua Duan Mu mengeluarkan sebuah pedang dan melemparkannya ke udara, lalu pedang itu melesat bak petir lalu terbang merendah di hadapan tetua Duan Mu, tetua Duan mu menaiki pedang itu dengan santai, dan segera menuju ke Chu Feng.
"Chu Feng mari kita segera kembali ke sekte" ajak tetua Duan Mu.
"Kakek Chu'er pamit dulu, jaga diri kakek baik" ujar Chu Feng menahan air matanya.
"Lelaki sejati tidak boleh menangis, Chu'er dengarkan kata para tetua dan tumbuhlah dengan baik di sekte" pesan kakek Li.
"Baik kek Chu'er berjanji, kakek juga harus merawat diri dengan baik ya" Chu Feng langsung bersujud di kaki kakek Li tanda penghormatan terakhirnya.
"Kakek tunggulah Chu'er kembali, Chu'er pasti akan lebih kuat sehingga bisa melindungi kakek dan desa" janji Chu Feng.
"Anak baik, anak baik kakek akan selalu menunggu kamu kembali" ujar kakek Li sembari mengelus lembut punggung Chu Feng.
"Chu Feng saatnya kita berangkat" ingat tetua Duan Mu.
"Baik tetua" Chu Feng bangkit berdiri lalu melompat ke pedang terbang milik tetua Duan Mu, Ia lalu melihat ke arah kakek Li, ia nanti akan merindukan wajah keriput tua kakek Li dan senyumannya yang begitu tulus.
"Kepala desa Li kami berangkat dulu".
"Baiklah tetua semoga selamat di jalan" ujar kakek Li memberikan hormat.
Tetua Duan Mu mengerahkan sedikit jarinya lalu pedang terbang langung melayang ke langit, Chu Feng memandang kakek Li sebentar untuk terakhir kalinya. bagaimana pun setelah memasuki sekte hidup dan mati murid adalah milik sekte, para murid tidak dibebaskan untuk kembali kapan pun mereka mau, kecuali memiliki pangkat serta latar belakang keluarga yang luar biasa.
"Pedang Awan Putih, kembali ke sekte dengan kecepatan penuh" tetua Duan Mu menunjuk ke depan, lalu dengan sangat cepat pedang yang dipanggilnya sebagai pedang Awan Putih itu, melesat membawa keduanya ke sekte pedang sejati.
"Kakek sampaikan salam ku pada ayah dan ibu!!!!" teriak Chu Feng yang langsung menghilang ke langit, bagaikan kilat pedang Awan Putih membawa keduanya kembali ke sekte.
"Chu'er selamat jalan" Kepala desa Li masih menatap langit dengan tatapan sendu.
***
Chu Feng dan tetua Duan Mu telah melakukan perjalanan hampir 5 hari, selama itu keduanya hanya berhenti ketika akan beristirahat makan dan minum saja. Ketua Duan Mu banyak bercerita tentang sekte pedang sejati pada Chu Feng, bagaimana peraturan dan tata tertib di sana, tingkatan para murid dan ada berapa banyak tetua luar, intinya informasi yang sangat amat penting untuk diketahui oleh murid baru.
Sekte pedang sejati memiliki Sword Soul Hall (Aula Jiwa Pedang), Aula ini untuk menguji Peringkat Sword soul (Jiwa Pedang) seseorang, semakin tinggi peringkat jiwa pedang yang dimiliki maka bakatnya dalam berpedang tidak terbatas.
Selain itu juga terdapat Holy Sword Monument (Tugu Pedang Suci), yang mana ketika ketinggian serta kemapuan seseorang dalam berpedang telah mencapai tahap tertentu, ia bisa mengukir namanya di tugu tersebut, itu menandakan ia adalah sosok yang luar biasa dalam pencapaian ilmu pedang.
Lalu terdapat suatu objek purba bernama Sword Intent Pool (Kolam Niat Pedang), kolam ini adalah salah satu harta sekte pedang sejati. ketika memasuki kolam itu maka keuntungan yang didapatkan sangat luar biasa, kemampuan berpedang seseorang pasti akan sangat berkembang pesat. Tetapi untuk memasuki Kolam Niat Pedang seorang murid harus menjadi murid Token Ungu.
Di sekte pedang sejati peringkat murid dibedakan melalui warna token pengenal mereka, dari yang terlemah sampai terkuat yaitu. Murid Token Merah, murid Token Kuning, murid Token Hitam, dan murid Token Ungu.
__ADS_1
semakin tinggi peringkat token mu maka sumber daya yang kau dapatkan akan semakin berlimpah, selain itu sekte tidak melarang perkelahian antara murid, tetapi tetap dibatasi jangan sampai membunuh lawan atau akan dihukum berat oleh sekte, tetapi apabila ingin melakukan pertarungan hidup dan mati, maka akan menggunakan arena hidup dan mati milik sekte. setelah kedua pihak menyetujuinya barulah bisa dilakukan.
"............... "
***
"Chu Feng inilah sekte pedang sejati".
"Luar biasa inikah sekte nomor 1 provinsi Wuan?" Chu Feng sangat takjub dengan sekte pedang sejati yang begitu luas, selain itu juga dikelilingi oleh bukit serta lembah yang sangat indah.
Di sekeliling sekte terdapat gunung raksasa yang berjejer bak pasukan raksasa sedang berjalan beriringan, lembah yang begitu luas disertai air terjun yang tinggi, menambah kesan keindahan sekte pedang sejati.
Yang membuat Chu Feng lebih takjub lagi, adalah sebuah batu raksasa yang sangat besar yang melayang di udara, batu tersebut menyerupai sebuah bilah pedang, dan itu dirantai oleh rantai besar kanan kiri seolah-olah akan terbang pergi, sebenarnya batu itu tidak benar-benar mirip sebuah pedang, tetapi apabila melihat bentuk dan dari batu itu dengan lebih teliti, maka kita akan mengira itu adalah pedang raksasa yang sudah dilapisi bebatuan karena termakan zaman.
Mata Chu Feng tidak pernah berhenti berbinar, ini pertama kalinya ia pergi keluar dari desa Gunung Yan. Betapa luas dan indahnya dunia yang diluar desa Gunung Yan pikir Chu Feng, Chu Feng semakin ingin tahu akan dunia luar ia bertekad akan segera menjadi kuat.
Keduanya mendarat tepat di alun-alun yang sangat luas bagian murid luar, di sana banjir manusia yang tak terhitung jumlahnya memadati tempat itu. Chu Feng turun dari pedang terbang milik tetua Duan Mu, lalu memberikan penghormatan kepada tetua Murid luar ini.
"Tetua Chu Feng sangat berterima kasih kepada tetua karena sudah mengantar saya kemari" ujar Chu Feng.
"Hahaha kau tenang saja itu sudah kewajiban ku" jawab tetua Duan Mu. "Bagaimana kau bisa merepotkan ku setelah kau sah menjadi murid luar, aku akan melaporkan bakat mu ke sekte sehingga aku akan mendapatkan bonus dari ketua hahaha" batik ketua Duan Mu bahagia.
"Terima kasih tetua murid ini akan selalu mengingat kebaikan tetua".
"Sudahlah jangan dipikirkan lagi, keliatannya kau sangat beruntung hari ini Chu Feng, Aula Jiwa Pedang akan dibuka hari ini untuk melakukan pengujian Jiwa Pedang, hari ini kau sebaiknya ke sana untuk mengikuti pengujian. lalu besoknya kau temui aku di Swords Spirit Pavilion (Paviliun Roh Pedang), di sana kau mengambil Token pengenal mu dan juga memilih pedang yang cocok untukmu, Sekaligus aku akan memberikan mu hadiah sebagai pemenang seleksi beberapa hari yang lalu" pesan tetua Duan Mu.
"Baik tetua" ujar Chua Feng sambil memberi hormat.
"Ingat pesanku dan jaga dirimu baik-baik, tetua ini pergi dulu" tetua Duan mu pun langsung terbang melesat ke langit lagi, ia akan melaporkan ke ketua tetua murid luar tentang perjalanannya, dan tentunya tentang bakat Chu Feng, yang mana itu akan memberikannya bonus tambahan dari ketua tetua murid luar.
"Tetua Duan Mu benar-benar orang baik" ujar Chu Feng sambil tersenyum menatap kepergian tetua Duan Mu.
"Baiklah mari kita ke Aula Jiwa Pedang".
Baru saja berbalik badan Chu Feng tiba-tiba ditabrak oleh seseorang dengan sangat keras.
Bruuukkkk...
Untuknya fisik Chu Feng sangat kuat, sehingga ia tidak terjatuh dan masih bisa menjaga keseimbangan badannya. tetapi orang yang menabraknya jatuh dengan keras, dan malah mengomeli Chu Feng.
"Aduh... Hei kalau jalan lihat-lihat!!!" bentak orang itu.
Chu Feng hanya terdiam jelas-jelas yang menabraknya duluan kan bukan Chu Feng, di sini sebenarnya Chu Feng yang menjadi korban, tetapi ia yang dituduh menabrak duluan.
__ADS_1
"Aisshhh maafkan aku saya...."