Lelaki Tua Biadab

Lelaki Tua Biadab
Kekerasan Dalam Kecemburuan


__ADS_3

disebrang jalan Dimas sudah melihat semuanya. bahkan ia juga mendengar bentakan sandi pada Sofi yg menyuruhnya pulang. Dimas terus memperhatikan gerak gerik mereka. hingga akhirnya ia terkejut dengan perlakukan sandi pada zifa. tak tunggu lama Dimas pun segera menyebrangi jalan dan berlari menuju toko zifa.


"bang sandi lepas. bang sakit tangan zifa. bang sandi kenapa marah sama zifa? zifa salah apa.?" zifa mulai merintih dan meneteskan air matanya. sandi tidak menjawab dan terus menyeret zifa hingga kelantai atas.


"diam zifa. ini akibatnya kalau kamu bertingkah dibelakang aku." ucap sandi setelah mengentikan langkahnya didepan pintu kamar mandi di lantai atas.


zifa bingung dan menggelengkan kepalanya sambil mengerutkan dahinya. "maksudnya apa bang bertingkah di belakang Abang? zifa gak ngerti." ucap zifa yg masih berusaha melepaskan lengannya yg di cengkram sandi dengan kuat.


namun sandi tidak menjawabnya dan segera menyeret zifa kedalam kamar mandi. namun baru ia hendak menutup pintu kamar mandi dengan kakinya tiba-tiba saja ada seseorang yg menendang pintu itu dengan kuat dan keras hingga ada retakan di bagian pinggir pintu yg terbuat dari plastik itu.


sandi terjepit di belakang pintu hampir menindih zifa. dan zifa segera loncat ke atas kloset agar ia tidak tertindih sandi yg ambruk terdorong pintu.


"zifa ayo cepet keluar." Dimas meraih tangan zifa dan segera menariknya keluar dari ruang sempit dan kotor itu. sebenarnya tidak kotor hanya saja itu kamar mandi kecil yg jarang di gunakan hingga terlihat tidak terurus.


zifa turun kelantai bawah atas perintah Dimas. lalu dimas menatap sandi dengan tatapan membunuh. sandi yg sudah bangkit dari jatuhnya langsung segera menyambar Dimas dengan tinjunya. namun sayang sekali tinjunya meleset dan malah sandi yg terkena tendangan Dimas tepat di perutnya.


"dasar laki-laki Gi*a maksud lu apaan perlakuan zifa kaya tadi ha. lu kalo punya masalah sama istri lu gak usah bawa-bawa zifa yg hanya karyawan lu yg gak tau apa-apa." ucap Dimas dengan keras hingga urat-urat dilehernya bermunculan keluar.


dan sekali lagi Dimas meninju wajah sandi dan menginjak perutnya. namun saat ia hendak menginjakkan kaki ke perut sandi. dengan cepat sandi menahan telapak kaki Dimas yg mengenakan sepatu dengan telapak tangannya lalu mendorongnya dengan kuat hingga Dimas terjungkal kebelakang. sandi segera bangkit dan memanfaatkan momen tersebut untuk menghabisi Dimas.

__ADS_1


sandi meninju Dimas yg masih terbaring di lantai dengan tiada ampun hingga menyisakan luka di bibir dengan darah segar mengalir, dan juga lebam di bagian mata kiri dan kanannya. lalu sandi mengangkat kerah baju Dimas hingga ia terangkat mengapung dari lantai.


"beraninya lu maki-maki gua tadi. lu yg gak tau apa-apa bang***... bisa-bisanya lu deketin zifa gua. zifa itu milik gua dia punya gua lu gak berhak ngedeketin dia. dasar bocah ingusan." sandi berteriak di wajah Dimas. dan tangannya masih mengangkat kerah Dimas lalu menjatuhkannya hingga Dimas terlempar kelantai dan kepalanya membentur kaki meja di dekatnya. darah segar pun mengalir di dahi kanan Dimas.


------------------------------------------------------------------------


saat zifa turun dari lantai atas. zifa langsung menelpon Bu Sofi dan ia mondar mandir mencari seseorang yg bisa membantunya untuk menghentikan keributan dilantai atas yg ia dengar semakin memanas. ia bahkan tidak berani untuk melihatnya ke atas. walaupun ia sangat khawatir dengan dimas. tapi alangkah lebih baiknya ia mencari pertolongan di luar.


ia mulai berjalan menuju toko Aif. berharap ada bantuan darinya. namun ia tidak menemukan keberadaan laki-laki itu padahal tokonya terbuka dan memperlihatkan banyaknya perabotan rumah tangga yg ia jual.


zifa semakin gelisah saat ia mendengar sebuah benturan keras dan erangan seseorang yg kesakitan dari lantai atas. ia baru saja ingin naik ke lantai atas namun terhenti ketika ia mendengar ada suara motor yg datang.


lalu Bu Sofi segera naik ke lantai atas disusul zifa di belakangnya. ketika Sofi baru memunculkan kepalanya dari tangga ia sudah mendengar jelas kata-kata sandi yg mengatakan bahwa zifa miliknya dan Dimas tidak berhak untuk memilikinya.


betapa hancur dan sakitnya hati Sofi ketika mendengar perkataan itu keluar dari mulut suaminya yg ia cintai, ia hormati dan ia sanjung sanjung keberadaannya disampingnya. dia tidak perduli tentang masa lalu suaminya. dia tidak perduli akan sikap kasar suaminya kepadanya. ia tetap mencintai laki-laki itu.


air mata mengalir deras dengan sendirinya dari sudut mata Sofi. sedangkan zifa sangat kesal menunggu Sofi yg belum juga melangkah masuk ke lantai atas untuk menghentikan pertengkaran hebat kedua laki-laki tersebut.


akhirnya zifa menerobos Sofi untuk masuk. Sofi tidak berkutik sedikitpun saat zifa menerobos badannya serasa lemas dan merasa sudah tak memiliki raganya lagi hingga ia hanya diam dan tak sanggup untuk melangkah.

__ADS_1


"Dimas..." zifa segera menghampiri Dimas yg tergeletak di lantai dengan darah yg bercucuran dari dahinya. zifa mengangkat kepala Dimas meletakkan nya di pangkuannya. dan tanpa zifa sadari air mata sudah mengalir membasahi pipinya yg putih bersih.


sandi semakin frustasi melihat pemandangan di depan matanya, ia hendak melangkahkan kakinya namun terhenti ketika ia melihat Sofi yg sedang berdiri kaku di tangga pertama dari lantai atas. sandi melihat Sofi dengan kesal.


"bang.. Abang kenapa ngelakuin ini semua bang? kenapa Abang tega ngehianatin cinta aku? dan kenapa Abang harus jatuh cintanya sama zifa? zifa masih kecil bang dia gak pantas buat Abang cintai dan Abang cemburui. dan kenapa karna kecemburuan Abang sama zifa Abang sampai melukai laki-laki yg GK tau apa-apa." Sofi berkata sambil menangis tersedu-sedu.


lalu sandi menarik lengan Sofi hingga ia melangkah masuk. dan melemparkan Sofi diantara zifa dan dimas.


sandi menarik nafas panjang. lalu ia mengepalkan tangannya. " kenapa gua mengkhianati lu Sofi, lu mau tau kenapa?" sandi meraih dagu Sofi sambil menunduk dengan kaki yg masih tegak berdiri. Sofi masih terus menangis dan menganggukkan kepalanya ingin tau.


"pertama gua udah capek hidup sama lu, gua udah sabar dan memberikan lu waktu yg cukup lama. gua bahkan udah ngeluarin tenaga, waktu dan uang gua untuk membantu lu supaya lu bisa kasih gua keturunan. itu yg pertama." sandi berjalan kesana dan kemari sambil melihat ke langit-langit dan mengepalkan kedua tangannya kebelakang. seperti seorang dosen yg sedang mengajar.


"yg kedua... lu bahkan tidak memberi kepuasan dalam diri lu buat gua. lu tau kan bahwa dandanan yg cantik itu bisa menyenangkan hati suami. bahkan lu gak ngatur pola makan lu, sampe sekarang lu liat tuh.. badan lu.." sandi menunjuk Sofi dengan telunjuknya. dan melihat Sofi dengan tatapan j*j*k "bengkak udah kaya sapi gelonggongan. lu juga gak mencoba mengibur gua dengan sedikit tampilan lu yg manis gitu. dari dulu Sofi. dari jaman lu masih muda. jaman lu masih cantik dan sexi, lu gak pernah berpakaian menarik didepan gua. padahal gua kasih lu banyak duit buat bersolek diri didepan gua."


Sofi menundukkan kepala merasa malu dengan pengakuan suaminya tentang dirinya. zifa masih memangku Dimas yg terbaring lemas. zifa sudah membalut kening Dimas yg terluka dengan merobek sehelai kain dari kerudung pashmina yg ia pakai. ingin rasanya zifa segera mengakhiri perbincangan sandi pada istrinya. ia ingin segera mengobati luka Dimas. ia sangat khawatir dengan keadaan Dimas sekarang.


namun Dimas memberi isyarat agar zifa tenang dan tidak mengkhawatirkan dirinya. biarkan saja sandi berkoar-koar pada Sofi hingga ia puas.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2