
zifa menjatuhkan dirinya ke atas ranjangnya yg empuk dan lebar. ia membentangkan kedua tangannya. sebagian kakinya turun menyentuh lantai.
"sungguh hari yg lelah. sangat..... sangat melelahkan." ia menutup matanya perlahan lalu tanpa ia sadari ada air mata yg mengalir di pipinya.
"kenapa gue harus nangis." dia segera menghapus air matanya.
"gue udah duga kalau seandainya cinta pertama gak selalu indah pada akhirnya. gue gak boleh nangis." ia terus mengusap pipinya yg semakin basah di linangi air matanya.
"gue gak merasa kehilangan Dimas kok. gue cuma kecewa. kenapa Dimas bohongin gue kaya gini. dan kenapa Dimas cuma jadiin gue sebagai kekasih bayangannya aja." dia terus berbicara sendiri dengan air mata yg terus mengalir dengan sendirinya.
tling.... suara pesan masuk.
"zifa kenapa kamu blokir aku di WhatsApp? kamu kenapa? ada apa." pesan singkat yg dikirim Dimas.
zifa membacanya lalu ia melihat di layar ponselnya di log panggilan banyak sekali panggilan tak terjawab dari Dimas.
"zifa tolong jelasin sebenarnya apa yg terjadi sama kamu? kenapa kamu tiba-tiba kayak gini? aku gak ngerti."
"zifa kalo aku ada salah aku minta maaf. tapi tolong jelasin ke aku apa salah aku? tadi pagi kita ketemu kamu masih baik-baik aja sama aku. kenapa sekarang kamu malah cuekin aku kayak gini!"
"zifa tolong balas SMS aku! atau angkat telpon aku zifa. tolong kasih kesempatan aku buat jelasin semuanya. apa salah aku zifa."
baru saja zifa ingin membalas pesan dari Dimas. sebuah nomor tidak di kenal menelpon zifa.
zifa agak ragu untuk mengangkat nomor itu. ia membiarkan ponselnya terus berdering. hingga akhirnya berhenti. dan zifa kembali mengetik sebuah pesan untuk membalas SMS Dimas. namun lagi-lagi nomor tidak di kenal itu menelpon ke ponsel zifa.
akhirnya zifa mencoba untuk menekan tombol berwarna hijau di layar ponselnya dan menggesernya ke atas.
"halo." ucap zifa dengan suara yg sendu karna menahan air mata yg belum juga mau berhenti mengalir di pipinya.
"apa kamu zifa?" suara seorang perempuan dari sebrang telepon.
"ia saya sendiri. ini siapa ya? dan ada perlu apa?"
"aku Shila, aku tunangannya Dimas. maaf kalau sudah ganggu waktu kamu."
deg hati zifa tiba-tiba terasa perih sangat perih... lagi-lagi air mata mengalir dengan derasnya. namun zifa mencoba untuk tetap tenang dan mendengar kan apa yg Shila mau darinya.
"zifa"
"Iyah..."
__ADS_1
"apa benar kamu sudah berpacaran dengan Dimas?"
zifa diam tidak menjawab. Shila pun diam menunggu jawaban zifa. namun karna terlalu lama ia kembali melontarkan pertanyaan kedua.
"zifa aku dengar kamu sudah berpacaran dengan Dimas selama 6 bulan apa itu benar?"
zifa masih diam menahan rasa sakit yg kini tengah ia rasakan. Dimas adalah cinta pertamanya. namun ia tidak menyangka kalau ia juga akan merasakan sakit hati dan kecewa dari cinta pertamanya.
"zifa tolong jawab aku."
"iya aku sudah berpacaran sama Dimas selama 6 bulan."
"jadi kamu wanita yg di ceritakan dimas. Dimas meminta aku untuk meninggalkannya karna dia sudah jatuh cinta pada wanita lain. dan kamu orangnya?"
"Dimas tidak benar-benar mencintai aku Shila. dia hanya merasa kesepian karna jauh dari kamu. tunangannya Dimas. jadi dia menjadikan aku kekasih bayangannya yg hanya menemaninya disaat ia merasa sepi." kali ini suara zifa bergetar karna menahan tangisnya.
Shila tersenyum di balik telponnya.
"kamu benar zifa. kamu hanya kekasih bayangannya saja. lalu apa sampai sekarang kamu masih berhubungan sama Dimas?"
"tidak."
"bagus zifa. terimakasih karna kamu sudah menemani Dimas disaat ia merasa sepi karna harus jauh dari aku. tapi besok Dimas gak akan merasa kesepian lagi karna aku akan datang menjemput nya pulang ke kampung halaman. karna bulan depan kami akan segera melangsungkan pernikahan kami."
"amin... makasih zifa sudah mendoakan kami. kalau kamu mau datang boleh. tapi kami menikah di Padang. apa kamu bisa datang kesana?"
"seperti nya tidak Shila. maaf ya sebelumnya. tapi daerah itu lumayan jauh. dan aku gak berani buat pergi jauh-jauh."
"yaudah gak papa aku ngerti kok. makasih ya. kalau gitu selamat istirahat. sekali lagi maaf sudah mengganggu waktu istirahat kamu. dan menelpon malam-malam begini."
"iya gak papa kok Shila."
zifa melempar ponselnya hingga membentur lantai. ia pun menangis sejadi-jadinya dan membekap wajahnya dengan bantal agar suara tangisnya tidak terdengar ke luar kamar. dan membuat keluarganya khawatir.
"gue benci Lo Dimas... gue benci Lo!!!"
"Lo tega mempermainkan perasaan gue kayak gini."
"Lo bodoh zifa.. bodoh.. bodoh... kenapa Lo bisa memberikan cinta Lo Sama laki-laki kayak Dimas. dan kenapa Lo bisa dengan mudah dengan rayuan Dimas."
"gue benci Lo Dimas..."
__ADS_1
zifa menangis tanpa henti hingga akhirnya ia tertidur dengan air mata yg masih membasahi pipinya yg putih.
------------------------------------------------------------------------
"ada apa nak?" Indri akhirnya bertanya Karana ia sudah jengah melihat anaknya mondar-mandir sambil mencoba menghubungi seseorang.
"zifa mah... zifa." Dimas mendekati Indri dan bersandar di bahunya.
Dimas memang sangat manja kepada ibunya karna hanya kepadanya lah ia berkeluh kesah. setelah ayahnya meninggal saat usia Dimas 5 tahun.
"zifa kenapa? apa dia sakit?" Indri sok memasang wajah cemas. padahal di hati kecilnya ia tersenyum lebar karna sudah tau apa yg sedang terjadi.
"zifa ngeblokir aku di WhatsApp. trus dia juga gak bales SMS aku. trus tdi aku Coba telpon nomornya sibuk. setelah itu aku coba lagi malah gak aktif. aku bingung sebenarnya zifa itu kenapa."
"kamu sabar ya nak. sebenarnya mamah mau bilang sesuatu sama kamu. tapi kamu harus percaya dan jangan marah ya nak."
Dimas mengangkat kepalanya dari bahu Indri dan menatap Indri dengan serius.
"apa mah? ada apa?"
"tadi mamah liat zifa di toko sama laki-laki"
"cek.... ya ampun mah... itumah Dimas juga udah sering liat zifa sama laki-laki kan dia itu kerja di toko sama kaya Dimas pasti ada aja pelanggan laki-laki. sama kaya Dimas juga kadang-kadang suka ada aja pelanggan perempuan." Dimas mendengus kesal.
"Dimas... yg mamah maksud bukan pembeli. tapi ini laki-laki yg bersikap romantis sama dia nak. nih liat fotonya kalo kamu gak percaya." Indri menyerahkan ponselnya.
"maaf sebelumnya bukannya mamah mau ikut campur sama hubungan kamu dan zifa. tapi mamah cuma gak mau kamu disakitin sama zifa nak."
Dimas kaget tidak percaya dengan apa yg dia liat. zifa sedang duduk bersama laki-laki bahkan mereka tertawa bersama. dan di foto itu juga ada disaat laki-laki itu memberikan sebuah kotak kecil dan zifa menerimanya dengan wajah yg senang.
"gak mungkin kalau zifa kayak gini. yg Akau tahu zifa itu bukan tipe cewek yg gampang berbaur sama laki-laki."
"ia sih mamah juga berfikir begitu. tapi mungkin aja zifa tertarik sama laki-laki ini. coba kamu perhatikan penampilannya. dia sangat Soleh dengan peci di kepalanya. dan sarung yg ia kenakan."
Dimas kecewa dengan apa yg ia lihat. dan semakin kecewa karna yg di katakan Indri sangat meyakinkan dirinya.
Dimas pergi meninggalkan Indri ke kamarnya.
"gak mungkin zifa kayak gini. aku tau betul zifa gak mungkin khianati aku."
Dimas kembali mencoba menghubungi zifa tapi tetap tidak bisa. karna nomornya tidak aktif.
__ADS_1
drrrttttttt ponsel Dimas bergetar panjang tanda ada panggilan masuk. ia sempat tersenyum namun seketika kembali cemberut karna di layar ponselnya tertera Nomor yg tidak dikenal namun tak asing baginya.
BERSAMBUNG.......