Lelaki Tua Biadab

Lelaki Tua Biadab
Kejutan


__ADS_3

drrrttttttt ponsel Dimas bergetar panjang tanda ada panggilan masuk. ia sempat tersenyum namun seketika kembali cemberut karna di layar ponselnya tertera Nomor yg tidak dikenal namun tak asing baginya.


"halo sayang apa kabar." suara lembut dari sebrang telpon.


"ada apa?"


"sayang jangan jutek gitu dong. aku kangen sama kamu."


"aku lelah mau istirahat."


"yaudah kamu istirahat ya. tidur yg nyenyak dan mimpi indah. supaya besok kamu bisa bangun dengan ceria karna akan ada kejutan buat kamu."


"kejutan apa." Dimas masih dengan suaranya yg datar.


"yah sayang kejutan mah gak boleh di kasih tahu dong... kalo di kasih tahu gak mengejutkan lagi dong hahah." ia tertawa kecil.


"yasudah aku matikan ya. sudah malam aku mau tidur."


"iya sayang. good night mmmmmuuuuaaaachh"


segera Dimas mematikan ponselnya. dan menyimpannya di laci. ia membaringkan tubuhnya di atas kasur lantainya yg tipis. dan mencoba untuk tidur. namun ia masih terus terbayang wajah zifa. dan ia merasa sangat merindukannya.


"zifa.... semoga besok kamu bisa kasih penjelasan ke aku." akhirnya Dimas tertidur pulas.


hari sudah cerah dan jam weker zifa sudah berdering berkali-kali. juga suara ketukan pintu di balik kamar zifa yg tiada hentinya hingga membangunkan zifa dari alam mimpinya.


ceklek... zifa membuka pintu masih dengan lesu dan mata yg belum terbuka sempurna. sesekali ia mengucek matanya dan menguap.


"zifa kamu baru bangun?" ucap Aminah mengagetkan zifa yg masih mengantuk.


"eh ia Bu. zifa kecapean. emang ini jam berapa?"


"ya ampun zifa... kamu gak denger itu jam weker kamu berdering dari tadi. ini sekarang tuh udah jam 9 pagi. jangan bilang kamu gak sholat subuh ya."


zifa mebelalakan matanya.


"hah jam 9 Bu." ia segera melihat ke arah jendela dan benar saja mata hari sudah masuk menembus jendela kamarnya yg masih tertutup oleh tirai jendela.


"zifa kamu sholat subuh gak tadi?" tanya ibu mengulangi.


"zifa lagi datang bulan Bu. udah dua hari."


"ohhh yaudah kalo gitu mah. trus sekarang kamu mau pergi kerja apa enggak? udah siang ini."


"emmm kayaknya enggak dulu Bu. soalnya zifa lagi gak enak badan. nanti zifa hubungi Bu Sofi dan ka Pricilla aja buat minta izin."


"kamu sakit nak?" Aminah menempelkan tangannya ke dahi zifa.


"tapi gak panas. tapi yaudahlah kalau kamu mau istirahat dulu." Aminah tersenyum dan meninggalkan zifa.


zifa menutup pintu kamarnya dan mencari ponselnya yg ia lempar ke lantai semalam.


"ya ampun ponselku.... maaf ya kamu harus jadi korbannya semalam." dia bergumam sendiri sambil mengelus-elus ponselnya yg sedikit retak.


"haduhh mati lagi. jangan rusak dulu dong aku kan. belum gajihan. belum bisa beli ponsel yg baru."


zifa duduk di atas ranjang sambil mencoba menghidupkan ponselnya. dan layar ponselnya pun bercahaya dan bergetar.


"Alhamdulillah.... masih bisa nyala."


sambil menunggu ponselnya benar-benar nyala dan kembali berfungsi. zifa ke kamar mandi untuk mencuci muka.


ia kembali duduk di atas ranjangnya. kini ia bersandar pada bantal dan memeluk guling di pangkuannya.


ia melihat ada beberapa pesan masuk di WhatsApp dari nomor yg tidak di kenal.


"halo zifa."

__ADS_1


"masih inget saya gak?"


zifa mengerutkan dahinya. lalu ia mengecek foto profil dari si pemilik nomor WhatsApp tersebut. ia melihat seorang pemuda tampan berdiri tegak dengan mengenakan seragam dokter. ia juga melihat profil WhatsApp nya. dan tertera nama. Dr. Kevin Darmansyah Putra.



"tunggu deh gue kaya pernah liat ni orang. tapi dimana ya?" zifa mencoba mengingat-ingat tapi percuma ia sama sekali tidak mengingat apapun.


"maaf ini siapa ya? apa sebelumnya kita pernah ketemu?"


"kalau memang pernah ketemu dimana ya? dan kapan? maaf sebelumnya saya lupa."


zifa meletakan ponselnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


di toko.


Pricilla dan Sofi sudah selesai merapihkan toko.


"Cilla zifa kemana ya. ko tumben jam segini belum datang? biasanya kan dia yg paling rajin."


"gak tahu Bu. mungkin dia kecapean kali. soalnya kemarin kan toko lumayan rame. dan siangnya sila juga kelelahn sampe ketiduran di lantai atas."


"kemarin kamu ketiduran?"


"iya Bu."


"trus zifa kamu biarin jaga toko sendiri? padahal kamu tahu lagi rame! emang kamu gak kasihan apa sama zifa." Sofi terlihat marah.


"maaf Bu, tapi Cilla juga capek Bu. lagian pas udah malemnya juga gantian kok zifa yg istirahat di atas."


Sofi mendesah kesal.


"huh.. ya sudahlah. semoga aja hari ini zifa bisa masuk kerja. ibu cuma takut dia sakit gara-gara kelelahan kemarin."


"tumben ibu perhatian sama zifa."


tiba-tiba ada seseorang yg datang mengagetkan Pricilla.


"mbak."


"eh kamu kan pacarnya zifa. ngapain kesini? zifanya gak ada." ucap Pricilla jutek pada Dimas. entah kenapa dia jutek seperti itu.


"kemana?"


"gak tahu. sakit kayaknya."


"apa? sakit? sakit apa?"


"gak tahu. dia belum kasih kabar. dan aku juga gak tahu dia beneran sakit apa enggak. udah sana. jangan ganggu aku mau kerja."


"oke makasih buat infonya. maaf sudah mengganggu." Dimas berlalu meninggalkan Pricilla.


"huh dasar laki-laki bod** memangnya dia gak tahu semalem mamanya datang kesini nemuin zifa. dan minta zifa buat lupain dia."


semalam Pricilla tidak sengaja mendengar percakapan Indri dan zifa. saat ia hendak memanggil zifa karna sudah banyak pembeli yg datang. ia kaget dengan apa yg di katakan Indri sampai-sampai ia merasa ingin sekali menghajar Dimas karna perlakuan ibunya pada zifa.


"halo"


(....)


"ohh jadi kamu beneran sakit ya zif. yaudah kamu istirahat aja. nanti aku yg bilangin ke ibu. kalo kamu mau izin dulu gak masuk kerja."


(....)


"iya sama-sama. eh ia zifa tadi si Dimas kesini cariin kamu."


(....)

__ADS_1


"ia udah aku usir tadi. habisnya aku kesel liat muka dia."


(...)


"hahah enggak. gak ada apa-apa. yaudah kamu istirahat ya. semoga cepet sembuh."


dasar laki-laki playboy. gak akan gue biarin Lo nyakitin zifa. dia itu udah kayak adik gue sendiri. jadi gak ada yg boleh nyakitin zifa. Pricilla bergumam sambil mengepalkan tangannya.


"Dimas ..." Indri datang ke toko tempat Dimas bekerja lalu memeluk putranya.


"eh mama ada apa mah?"


"mamah mau kasih kabar gembira buat kamu."


"kabar gembira? apa itu?"


tiba-tiba ada beberapa orang yg datang menghampiri Dimas.


" Om.. Tante .. kok bisa ada disini?"


"apa kabar Dimas." ucap seorang pria yg berusia 43 tahun itu lalu memeluk Dimas.


"baik om."


"Dimas Tante kangen deh sama kamu." kali ini seorang wanita berusia 38 tahun memeluk Dimas.


"iya Tante." Dimas masih menjawabnya singkat.


"Dimas bisa tidak kamu izin sebentar sama bos kamu. kita ke kosan kamu kasian ini tamu kita kalo di ajak ngobrolnya di toko."


"eh tapi mah."


"gak papa dim. Lo pergi aja, biar toko gue yg jaga." ucap Bagas menyambar.


"oke deh kalo gitu. gue pergi dulu ya gas. sebentar aja ko."


"iya iya."


mereka pun tiba di kosan Dimas yg letaknya tidak jauh dari toko.


"mari Om Tante masuk. maaf ya kosan Dimas kecil dan sempit."


"iya nak Dimas gak papa kok." ucap si Tante.


"jadi ada apa gerangan om dan Tante bisa datang kesini?" tanya Dimas.


"kami mau menyampaikan kabar kembira buat kamu." ucap si lelaki paruh baya itu.


"apa itu om?"


"kami akan segera menikahkan kamu dengan Shila. kami tahu kalian sudah lama berpacaran


dan Shila juga sudah lulus SMA jadi sudah bisa untuk kamu nikahi."


sontak Dimas kaget dan membelalakkan matanya.


"apa?"


lalu tiba-tiba ada seseorang gadis cantik yg datang menghampiri mereka semua.


"Hay Dimas sayang.. apa kabar?"


"Shila." ucap Dimas kaget.


SHILA NABILA


__ADS_1


BERSAMBUNG.........


__ADS_2