Lelaki Tua Biadab

Lelaki Tua Biadab
Episode 20


__ADS_3

sepanjang perjalanan Dimas tidak bicara dan bahkan tidak menjawab ucapan-ucapan zifa padanya. nafasnya naik turun tidak teratur sambil sesekali terdengar erangan dari tenggorokannya menandakan ia sulit untuk bernafas.


sesampainya zifa, Dimas dan Muzaki dirumah sakit mereka segera membawa Dimas ke ruang IGD agar segera di tangani.


lalu beberapa perawat segera datang menghampiri mereka dan membantu Dimas membawanya keruang IGD. Dimas segera ditangani oleh dokter.


zifa dan Muzaki menunggu diluar sambil sesekali zifa mengintip ke pintu kamar dimana Dimas sedang di tangani oleh dokter disana.


"zifa tenang ya nak. kamu berdoa aja untuk dimas. semogaia tidak mengalami hal-hal yg tidak diinginkan. dan segera membaik." ucap Muzaki menenangkan putrinya.


"ia ayah." ucap zifa lalu duduk di kursi sebelah Muzaki.


Di toko.


"assalamualaikum." ucap seorang gadis yg datang memasuki toko.


"assalamualaikum Bu... ibu, apa ibu ada di dalam." ucap sang gadis mengulangi saat ia tidak mendapati jawaban. dan ia mulai mendongakkan kepalanya melihat ke lantai atas dari bawah tangga. mencari keberadaan seseorang.


"wa'alaikumsalam, sebentar saya lagi di kamar mandi." ucap Sofi dari lantai atas.


lalu gadis itupun Duduk di kursi depan sambil memainkan ponselnya. tak selang beberapa menit Sofi turun dan menghampiri gadis itu.


"Syahnaz... ibu pikir tadi ada pembeli eh ternyata kamu. kamu kesini sendiri aja?" ucap Sofi pada gadis itu lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling jalan seakan sedang mencari seseorang.


"Syahnaz sendiri Bu. tadi naik ojek online kesini nya. ibu sendirian aja, mana karyawan baru ibu?" syahnaz menarik lengan Sofi untuk duduk disampingnya.

__ADS_1


"emmm dia.." belum sempat Sofi meneruskan kalimatnya. Syahnaz sudah memotongnya.


"eh mata ibu kenapa bengkak kaya gini? ibu abis nangis ya?" ucap Syahnaz mulai mengusap-usap wajah Sofi.


"ibu... ada apa? ayo cerita sama Syahnaz, apa bapak yg bikin ibu jadi begini?"


"ibu ayo bicara. jawab Syahnaz Bu jangan diem aja." Syahnaz terus bertanya tanpa mendapat jawaban dari Sofi yg kembali menetes kan air matanya.


lalu Syahnaz memeluk Sofi dalam dekapannya dan mengusap-usap punggung dan kepala Sofi yg tertutup hijabnya.


"hiks..hiks... ibu gak sanggup Naz. ibu gak sanggup." ucap Sofi sambil tersedu-sedu dan bahunya terguncang karna tangisannya yg tumpah.


"ibu... maafin bapak yah. Syahnaz akan bantu ngomong ke bapak nanti. supaya gak nyakitin ibu terus. Syahnaz juga malu kalo bapak genit ke cewek-cewek muda Bu. bahkan kemarin Syahnaz liat bapak lagi jalan sama temen kuliah Syahnaz. Syahnaz malu Bu." tanpa sadar syahnaz membuat hati Sofi semakin hancur dan perih.


Sofi melepaskan pelukan Syahnaz dan mulai menghapus air matanya.


"kamu benar Naz ibu harus kuat. ibu pasti bisa merubah kebiasaan buruk bapak. tapi... kamu gak tau kalo bapak sekarang sedang serius mendekati seorang gadis untuk di jadikan istri keduanya." Sofi terkejut dengan apa yg ia katakan barusan. ia berusaha untuk selalu menutup semua yg terjadi antara ia dan sandi dari kedua putrinya.


"Apa?" Syahnaz terkejut mendengar pernyataan Sofi barusan.


"ibu mana mungkin ayah menikahi gadis yg biasanya hanya jadi mainannya Bu ayah itu hanya nakal dan iseng, dia gak mungkin sampai ingin menikahi gadis mainannya. aku tahu itu, dan aku sangat malu dengan kelakuannya itu." Syahnaz.


"kamu gak boleh ngomong gitu nak, bagaimanapun dia itu bapak mu." Sofi


"Bu Syahnaz berhak malu punya ayah seperti bapak. dia gak mikir apa, kalo dia juga punya anak perempuan. bagaiman nanti kalau anak perempuan nya merasakan apa yg dirasakan para gadis yg ia permainkan. Syahnaz gak mau Bu. Syahnaz gak mau merasakan karma yg bapak lakukan." Syahnaz mulai meneteskan air mata, namun dengan cepat ia mengusapnya dengan telapak tangannya.

__ADS_1


"ibu ngerti, tapi ibu juga bingung bagaimana caranya untuk menghentikan kebiasaan buruk bapak. masalahnya yg ibu liat semua gadis yg jadi mainannya bapak sangat menyukai semua perlakuan bapakmu pada mereka. bahkan ibu juga sering melihat bapak membawa pulang wanita kerumah. berbeda-beda pula." nada Sofi terdengar santai namun tetap sakit bila ia ingat kejadian itu.


"Astaghfirullah ibu bahkan melihat itu dan ibu diam aja! apa ibu ini gak cemburu? apa ibu gak sakit melihat itu? ibu cinta gak sih sama bapak? ibu sayang gak sih sama bapak?" Syahnaz bicara dengan nafas yg terengah-engah karna emosi.


"ibu sayang sama bapak. ibu cinta sama bapak Naz... ibu juga cemburu dan sakit melihat itu. ibu merasa hancur dan tidak berguna..." belum selesai Sofi bicara Syahnaz menyambar Sofi dengan penuh kesal dan geregetan akan sikap ibu sambungnya itu yg terbilang lemah.


"Buu... harusnya ibu Jambak tuh perempuan. ibu maki-maki dia ibu tunjukin rasa cemburu ibu di depan bapak. bapak itu paling suka di cemburui Bu. ibu jangan diem aja dan pasrah melihat suami ibu di gaet sama pelakor." Syahnaz semakin emosi bahkan ia bicara sambil memperhatikan tangannya seakan ia sedang mencabik-cabik seseorang.


"ibu gak diem aja Naz... ibu juga pernah marah dan bahkan melakukan apa yg kamu katakan tadi. ibu Jambak rambut wanita itu dari belakang saat mereka hendak masuk kedalam kamar. dan ibu tarik sekuat-kuatnya sampai wanita itu kesakitan trus ibu maki-maki dia. dan ibu juga marah-marah pada bang sandi ibu nangis dan menghancurkan semua barang-barang di sekitar ibu." Sofi mengikuti gaya bicara syahnaz dan memeragakan apa yg ia katakan seakan kejadian itu sedang terjadi saat ini. Syahnaz mengamatinya dengan serius sekan ia sedang menonton sebuah drama film. dan sesekali ia tersenyum melihat gaya bicara ibu sambungnya itu.


"lalu kenapa sekarang ibu gak melakukan hal itu lagi? menjambak, memaki-maki dan mengamuk. kenapa Bu?"


"karna bapak selalu membela wanitanya. dan bapak tidak suka melihat ibu cemburu. bapak juga mengancam akan tidak pulang kerumah kalau ibu bersikap seperti itu lagi. bapak juga mengancam akan meninggalkan ibu." ucap Sofi dengan wajah yg tertunduk sedih.


"lalu kenapa ibu gak biarin aja bapak ninggalin ibu. toh ibu juga gak bahagia hidup sama bapak."


Sofi agak kaget dengan ucapan Syahnaz barusan ia malah berpikir Syahnaz membela bapaknya.


"jadi kamu ingin ibu bercerai dengan bapak mu?. bukannya tadi kamu minta ibu untuk kuat dan bertahan. juga berusaha untuk mengubah kelakuan bapakmu? kenapa sekarang kamu malah membelanya?" Sofi beranjak dari duduknya lalu pergi kelantai atas meninggalkan Syahnaz.


"Bu maaf Bu, maksud syahnaz bukan begitu." Syahnaz menjambak rambut panjangnya yg ikal. aarrggh bodoh kamu Syahnaz bodoh... kenapa kamu ngomong gitu. ibu jadi marah kan sama kamu. Syahnaz mengutuki dirinya sendiri.


**BERSAMBUNG.....


tadi aku mau update pagi-pagi, udah nulis hampir 600 kata lebih tapi aku hapus lagi katana tiba-tiba aku blank dan bingung mau lanjutin nulis apa😁 maaf ya... ini pertama kalinya aku menulis novel. dan sejujurnya ini cerita sedikitnya aku ambil dari kisah nyata seorang gadis. tapi tidak semua aku tuangkan kesini, karna kisah nyata lebih menyakitkan ketimbang yg aku tulis sekarang ini**.

__ADS_1


__ADS_2