
waktu terus berjalan, matahari sudah berada tepat di atas kepala, yg membuat kota ini terasa panas dan kering.
"huh panas banget kaya nya enak ni kalo minum segelas es jeruk dan tumpukan es batu diatasnya" ucap zifa membayangkan betapa segarnya es jeruk dibawah panasnya terik matahari.
"huwaaa... pas banget ada tukang es diseberang sana" zifa pun bergegas menghampiri tukang es di sebrang jalan, tepat berada didepan toko tempat Dimas bekerja.
Diseberang toko Dimas terus memperhatikan gerak gerik zifa, dan betapa senangnya dia saat melihat zifa yg berjalan ke arahnya dengan penuh kebahagiaan.
"gas, Bagas liat bidadari gue Dateng kesini, liat itu liat senyumannya, pasti dia mau ketemu gue kan." ucap Dimas dengan percaya diri sambil menggoyangkan bahu Bagas. Bagas teman seprofesi Dimas di toko.
"Gr lu dim, orang dia mau beli es hahahaha."
Bagas tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
Dimas menganga "what?" ucapnya pelan namun tetap terdengar.
"oke ini kesempatan gue untuk bisa Deket sama bidadari zifa ku..." kata Dimas sambil tersenyum lebar, lalu menghampiri zifa yg sedang membeli es jeruk didepan toko.
Bagas yg melihat kelakuan temannya yg sedang di mabuk cinta, hanya menggelengkan kepalanya.
"hai zifa, mau beli es ya. emng cuaca panas kaya gini tuh seger banget kalo minum es, mau aku traktir?" kata Dimas lalu memamerkan senyum semanis mungkin.
"ehmm gak usah makasih gue beli sendiri aja." kata zifa lalu pergi berlalu meninggalkan Dimas.
Dimas yg masih berdiri ditempatnya, lalu tersenyum dan mengikuti arah zifa berjalan.
"zifa disekitar sini ada tukang bakso yg enak banget tau, kamu mau coba gak? nanti aku yg beliin kita makan bareng yuk, pas udah jam makan siang nih." kata Dimass sambil berlari kecil mengejar langkah kaki zifa.
"gak usah makasih, gue gak laper." zifa masih cuek dan terus berjalan ke arah tokonya.
"zifa kenapa sih kamu jutek banget sama aku, akukan cuma mau berteman aja sama kamu, lagian aku ini bukan orang jahat ko."
ucap Dimas pasrah dan sok sedih.
"gue emang kaya gini, jadi kalo mau berteman ya berteman aja. tapi tolong maklumi sikap gue ini." jawab zifa lalu tersenyum pada Bagas walupun senyumannya sedikit kaku.
Dimasas yg mendengar itu langsung merasa senang dan membalas senyum zifa dengan lebih manis lagi dari sebelumnya. seakan habis mendengar balasan cinta.
"kalo gitu bolehkan kita makan siang bareng, bolehkan aku traktir kamu untuk sekedar merayakan hari pertemanan kita?" kata Dimasas masih tetap tersenyum manis.
__ADS_1
"lain kali aja ya mas, sumpah gue gk laper. gua cuma haus. tapi sekarang udah seger." zifa melanjutkan minumannya hingga habis.
"ehmm kalo gitu besok gimana? mau ya.. mau ya.. please." Dimas mengangkat kedua tangannya memohon.
"oke.. oke.. tapi gue gk janji ya." jawabnya santai sambil memainkan smartphone nya.
"oke makasih zifa, oh iya gue boleh minta no WhatsApp kamu ga zifa? biar kita bisa lebih akrab lagi" kata Dimas sambil memberikan ponselnya nya pada zifa.
zifa menerima ponsel itu tanpa menjawab, lalu ia mengtik tombol cepat dan memberikan kembali ponselnya pada Dimas.
"thanks zifa, aku save ya. semoga kedepannya kita bisa makin akrab dan bisa jadi teman dekat." ucap Dimas penuh harap sambil mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya, yg seakan habis memanjatkan doa.
"Hem" jawab zifa singkat masih menatap ponsel ditangannya, hanya untuk memalingkan pandangan dari Dimas.
"oh iya zif kamu tinggal dimana?" tanya Dimas.
"dirumah." jawab zifa tanpa memalingkan pandangan dari ponselnya. sebenernya gak ada apa-apa di ponselnya cuma memalingkan pandangan aja.
"iya dirumah, maksud aku rumah kamu dimana?" tanya Dimas sedikit gemas karna jawaban zifa yg singkat.
" rumah gue." zifa menunjukkan jari kediri nya.
Dimas hanya mengangguk penasaran.
"ya ampun kamu tuh ngegemesin juga ya, ntar aku cubit ni pipinya." kata Dimas sambil mendekatkan jarinya ingin mencubit zifa.
"hey.. mau apa Lo? macem-macem sama gue Lo! jangan sentuh gue." zifa menepis tangan Dimas lalu melototi Dimas dengan wajah marahnya yg terlihat menggemaskan.
"iya iya gue becanda doang kali, aku akan menjaga kamu dan melindungi kamu dari sentuhan tangan laki-laki manapun." ucap Dimas lalu tersenyum.
"ih lebay Lo, trus kalo Abang gue, bokap gue mau pegang gue, Lo mau halangin mereka juga hah?" zifa kembali menatap ponselnya dengan bibirnya yg cemberut.
"ih zifa jangan galak-galak dong, maksud aku bukan gitu. aku akan jadi teman yg melindungi kamu dari orang-orang jahat. gitu aja deh." Dimas mulai panik takut zifa marah, tapi sejujurnya dia sangat gemas dengan wajah zifanya kalo lagi ngambek gitu.
"Hem terserah Lo aja deh." zifa
"jadi zifa rumah kamu dimana? tadi kamu belum jawab loh pertanyaan aku." Dimas
" mau apa sih? eh tunggu Lo tuh kalo ngomong ntar aku ntar gue, hahah." zifa tertawa lalu segera kembali dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"hmm abisnya aku bingung sih, gimana supaya kamu nyaman nantinya kalo ngobrol sama aku." Dimas
'ih ni cowok ganteng-ganteng lebay banget si, gak ada gagah gagahnya, bikin gue ilfil aja. jangan-jangan dia banci lagi hahah.'
zifa bergumam dalam hati sambil memandangi Dimas dengan seksama lalu tertawa pelan menutup mulutnya.
"yaelah dim, santai aja ngomongnya gk usah kaku. biasa aja kaya Lo ngobrol sama temen Lo aja santai." jawab zifa yg mulai merelaks kan dirinya untuk ngobrol sama Dimas.
"oke oke gue coba. jadi rumah lo dimana zi." Dimas mengubah nada bicaranya dengan lebih santai.
zifa yg melihat itu tersenyum lalu menjawabnya.
"rumah gue di **** kenapa Lo dari tadi nanya nanya rumah gue terus mau ngelamar kerja Lo jadi tukang kebun nyokap gue." terlihat senyuman di bibir zifa terpancar.
'ya ampun manisnya gadis ini kalo lagi senyum' gumam Dimas.
"iya gue mau ngelamar." kata Dimas
"hahah lu mau jadi tukang kebun nyokap gue hahah" zifa tertawa.
" bukan jadi tukang kebun, gue mau ngelamar jadi menantu nyokap Lo." Dimas menjawab dengan penuh percaya diri.
seketika tawa zifa yg sudah mulai lepas terhenti dengan cepat.
" Lo mau ngelamar jadi mantu nyokap gue? ohhh iya ada tuh kakak perempuan gue, masih jomblo cantik pula namanya zakiah" zifa menjawab lalu memainkan smartphone nya lagi.
"oh Lo punya kakak perempuan juga. kayanya gua mau deh."
"Lo mau beneran, ntar gua kenalin deh."
" mau gue dikenalin, biar tambah Deket sama calon kakak ipar." Dimas tersenyum bangga.
zifa cemberut dan pergi meninggalkan Dimas yg masih tersenyum PD . zifa menyibukkan dirinya dengan bersih-bersih toko.
"dim sorry ya bukannya gue ngusir tapi gue masih banyak kerjaan, takut nanti bos gue Dateng marah lagi liat gue kerjanya ngobrol aja." kata zifa
"oke nanti kita lanjut di WhatsApp aja ya. bye zifa semangat kerjanya." Dimas pun pergi menyebrangi jalan menuju toko tempat ia bekerja.
DIMAS ANGGARA.
__ADS_1
BERSAMBUNG....