Lelaki Tua Biadab

Lelaki Tua Biadab
Takjub


__ADS_3

tanpa terasa sudah 6 bulan berlalu zifa bekerja di toko sandi dan Sofi. sejauh ini tidak ada masalah apapun yg terjadi. bahkan sandi sekalipun tidak pernah mengusik zifa. ia malah jarang berkunjung ke toko setelah kembalinya zifa ke toko mereka.


dan sudah 6 bulan juga zifa menjalin hubungan dengan Dimas. mereka terlihat semakin dekat dan bahkan Dimas sudah pernah membawa zifa bertemu dengan ibunya. terlihat raut wajah takjub yg di tunjukkan ibu Indri selaku ibunya Dimas. ketika melihat zifa. ia bahkan langsung memberikan pelukan hangat dan juga cipika cipiki pada zifa. Dimas merasa lega dan bahagia melihat perlakuan sang ibunda pada zifa.


selama 6 bulan zifa bekerja di temani oleh Pricilla. mereka semakin dekat dan akrab. sedangkan syahnaz dengan terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya pada zifa. di tambah Hasbi yg kini menghilang tanpa jejak.


---------------------------


ditengah-tengah keramaian kota di malam Minggu. zifa dan juga Pricilla sibuk melayani para pembeli yg tiada habisnya datang silih berganti. di bantu juga oleh Sofi sesekali jika mereka sedikit kewalahan.


sedangkan Syahnaz membantu sandi di pasar malam. termasuk cabang dari toko ini.


disana juga ada Melisa. asisten sandi yg sudah lebih lama bekerja dengan sandi ketimbang zifa.


"zifa.. ibu ke atas dulu ya mau ke toilet."


"iya Bu." jawab zifa yg masih merapikan beberapa susunan pakaian yg sudah berantakan.


"boleh ka... silahkan." ucap Pricilla menyambut kedua pemuda yg datang.


"zif kali ini kamu aja ya, aku capek mau ke atas dulu."


zifa mengangguk kan kepalanya sambil mengacungkan jempolnya.


"ada yg bisa saya bantu kak?" zifa menghampiri kedua pemuda itu.


tumben ada pemuda yg datang dengan setelan baju muslim. biasanya juga pemuda yg datang buat belanja kesini tampilannya gak jauh beda kayak anak band.


zifa diam-diam memperhatikan kedua pemuda yg datang itu. yg satu mengenakan sarung dan baju kaos lengan panjang dengan peci hitam yg menutupi rambutnya. yg satu lagi mengenakan celana oblong putih dengan baju Koko lengan panjang dan peci putih yg menutupi rambutnya. mereka sama-sama pemuda yg tampan dengan perawakan yg tinggi dan gagah. kulitnya putih bersih. dan wajahnya bersinar juga warna bibirnya yg merah alami.


tanpa sadar zifa semakin dalam memperhatikan mereka. sampai-sampai ia tidak mendengar panggilan salah satu pemuda tersebut.


"mbak... hey mbak" pemuda yg memakai sarung melambaikan tangannya di depan mata zifa yg menatap mereka sambil senyum-senyum.


"astaghfirullah... maaf kak, saya melamun. ada yg bisa saya bantu kak."


zifa melihat pemuda yg memakai celana oblong menutup mulutnya menahan tawa. wajah zifa seketika memerah karna menahan malu.


zifaa kamu kenapa sih, kok bisa-bisanya melamun dihadapan kedua pemuda ini.

__ADS_1


"jangan melamun mbak nanti kesambet lagi." ucap pemuda yg memakai sarung.


"mbak saya mau cari sweater." kata si pemuda yg memakai celana oblong. masih sedikit tertawa kecil.


"ah ia mari saya bantu cari."


tanpa zifa sadari kedua pemuda itu terus memandangi wajah zifa yg sedang sibuk mencari. sampai-sampai keduanya pun melamun dan mengkhayal karna takjub dengan wajah cantik zifa.


**subhanallah ternyata kalau di pandang seperti ini dia sangat manis.


Masha Allah aku salah tadi mentertawakan gadis cantik seperti dia. bahkan tadi dia terlihat malu Karana sikap ku. tapi wajahnya jadi merah karna malu. aku jadi gemas.


mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. tanpa mereka sadari zifa sudah selesai mencarikan apa yg mereka cari.


"hey mas... mas.. katanya jangan melamun nanti kesambet tapi kok sendirinya malah melamun." kini zifa sedikit jengkel.


mereka pun tersadar dan beristighfar dengan kompak. "Astaghfirullah"


"maaf mbak tadi saya kepikiran kompor dirumah mamah saya belum di matikan." kata si pemuda yg memakai sarung.


"aduh saya lupa tadi nyimpen dompet saya dimana."


"ini sweater yg kalian cari. cocok gak?"


mereka meletakkan sweater nya di tubuh mereka masing-masing. mereka meminta sweater yg hampir sama warna dan modelnya.


mereka mau kapelan gitu. zifa menggeleng lagi bingung dengan tingkah kedua pemuda ini.


"mbak ini berapa?" kata mereka barengan.


mereka berdua saling pandang. dan kembali bertanya dengan bergantian.


"itu 100 RB. gimana? kalian cocok? atau mau di Carikan yg lain?"


"ah enggak yg ini saja mbak sudah cocok." lalu pemuda yg memakai sarung memberikan sejumlah uang yg zifa sebutkan.


mereka baru saja hendak melangkah pergi. namun tiba-tiba langkah pemuda yg memakai celana oblong terhenti.


"saya Sobirin nama kamu siapa?"

__ADS_1


zifa terkejut mendengar apa yg dikatakan pemuda ini.


"hey ngapain kamu. ayo cepat kita pulang." pemuda yg memakai celana oblong berbalik dan menarik lengan Sobirin sampai ia berada di belakang pemuda itu.


"aku Fahri. kalo kamu." kali ini dia mengulurkan tangannya.


"heh.... kamu ngapain? tadi katanya mau pulang. yaudah ayo kita pulang." Sobirin menarik lengan Fahri yg masih terulur pada zifa.


zifa menahan tawa melihat tingkah mereka. lalu tak lama kemudian Sofi datang mengagetkan semuanya.


"Sobirin... Fahri... tumben kalian kesini lagi mau beli apa?" Sofi menghampiri kedua pemuda itu.


"eh ibu... ini Bu kita lagi cari sweater buat besok." Sobirin mencium punggung tangan Sofi di ikuti juga dengan Fahri yang melakukan hal yang sama.


"ohhh... trus gimana udah ada sweater nya?"


"udah Bu." Fahri menjawab sambil menunjukkan kantong plastik yg ia pegang.


"emmm lalu. ada yg mau di beli lagi? atau mau main dulu disini?"


mereka saling berpandangan seperti sedang melontarkan pertanyaan tanpa suara.


"kayaknya kita harus pulang sekarang Bu. masih ada tugas yg belum di selesaikan, lain kali insha'allah kita akan main lagi kesini." Sobirin sedikit melirik ke arah zifa yg ternyata juga sedang melihat ke arahnya. hingga kedua pasang mata itu saling bertemu dan bertatapan sejenak.


Sofi menyadari tatapan Sobirin yg berbeda pada zifa. Sofi sangat mengenal Sobirin selaku murid kesayangan nya di sekolah. lebih tepatnya alumni di sekolah tempatnya mengajar. ia tahu persis Sobirin tidak pernah memandang wanita sedalam itu.


"ekhem.." Fahri menyenggol lengan sobirin yg masih diam membisu menatap zifa.


"astaghfirullah." lagi-lagi ia melamun melihat zifa.


"ini zifa.... karyawan baru ibu. dan zifa, itu Sobirin dan Fahri murid ibu. tapi sudah alumni karna mereka sudah lulus 2 tahun yg lalu."


zifa tersenyum pada keduanya sambil mengangkat kedua telapak tangannya yg ia satukan memberi salam.


"subhanallah." tanpa sadar mereka memuji zifa yg terlihat manis dengan senyum nya. bahkan mereka lagi-lagi kompak mengatakan itu.


"astaghfirullah." lagi-lagi mereka tersadar dengan rasa malu dan khilaf Karana telah memandangi lawan jenis terlalu berlebihan.


ini kali pertamanya bagi Sobirin merasa takjub pada seorang wanita. lain halnya dengan Fahri yg sudah pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2