Lelaki Tua Biadab

Lelaki Tua Biadab
Rencana Jahat Sandi Part2


__ADS_3

"mari pak diminum airnya." ucap Aminah lalu duduk di sofa sebelah kanan Muzaki tepat dihadapan sandi. merekapun berhadapan dan saling pandang. aku merasa ada yg aneh dari wajah bapak ini. entah apa ya, aku merasa ada sesuatu yg menyelimuti wajah tersebut. seperti ada cahaya namun gelap. gumam Aminah sambil menyelidiki wajah sandi dengan raut wajah yg penasaran.


sandi membalas tatapan Aminah dengan menundukkan kepalanya sopan.


"jadi gimana pak sandi? apa ada yg bisa kami bantu?" tanya Muzaki memulai pembicaraan.


"jadi gini pak, saya mau minta tolong."


------------------------------------------------------------------------


Di klinik


zifa sedang mengantri untuk mengambil obat, sambil memainkan ponselnya.


tling.. tanda pesan masuk di ponsel zifa.


"kak Lo lagi dimana? ni di rumah ada bos Lo kak, dia lagi ngomongin Lo ni sama Ayah sama ibu." kata ayu dalam pesan nya.


zifa terkejut melihat pesan dari ayu adiknya.


"hah yg bener Lo dek! dari kapan dia disana? ngomongin kakak apaan aja?" balas zifa.


"bener kak zifa. dia udah sekitar 15 menit disini, gue sih gk tapi jelas denegerin nya. tapi gue tangkep sedikit kesimpulan kak, intinya dia minta tolong sama ibu dan ayah buat bujukin Lo, supaya Lo GK resign dari kerja," ayu mengirim voice note dari WhatsApp.


zifa pun segera mengambil obat yg memang sudah giliran ia yg mendapat antrian. lalu melunasi administrasi dan kembali ke Dimas. dimana laki-laki itu sedang menunggu di ruang tunggu.


"Dimas ayo kita harus cepet pulang ke rumah gue. tadi Ade gue bilang bang sandi lagi ada dirumah gue." ucap zifa agak panik dan tergesa-gesa. belum sempat Dimas menjawab zifa sudah menarik lengan Dimas untuk segera pergi dari klinik.


"e..e..e.. ia zifa, tunggu dulu dong. pelan-pelan jalannya nanti jatuh." ucap Dimas lalu menahan tangan zifa untuk berjalan santai dan tidak berlari.


setelah keluar dari gerbang klinik mereka menghentikan taksi lalu pergi berlalu dengan taksi tersebut menuju rumah zifa.


sesampainya dirumah. zifa menatap kesal di depan halaman rumahnya. ia melihat sebuah sepeda motor terparkir disana dan ia tahu siapa pemiliknya.


apa lagi yg dia lakukan sekarang. apa dia mau menghasut ayah dan ibu. gumam zifa kesal sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"sabar zifa, ayo masuk. aku akan bantu kamu bicara nanti." ucap Dimas menenangkan lalu mereka melangkah masuk.


"assalamualaikum." ucap zifa yg melangkah masuk lebih dulu dan disusul oleh Dimas di belakangnya.


"wa'alaikumsalam" jawab ibu aminah dan ayah zifa bersamaan.


"zifa sini nak duduk." ibu meminta zifa duduk di sampingnya.


"ia Bu." zifa mendekat kearah ibunya lalu mencium punggung tangan ibunya dan juga kepada ayahnya.


"Bu kenalin ini Dimas temen zifa, yah ini Dimas temen zifa." ucap zifa memperkenalkan Dimas pada kedua orang tuanya.


"oh... jadi ini yg namanya Dimas." kata ayah zifa.


Dimas hanya mengangguk kan kepalanya dengan sopan dan tersenyum lalu mendekati ayah zifa dan mengulurkan tangannya untuk meminta salam pada Muzaki. namun Muzaki tidak membalasnya dan malah memalingkan wajah ke arah yg lain.


"ayah.. ko ayah gitu sih, ini Dimas mau cium tangan ayah." kata zifa protes.


Muzaki hanya diam tak menjawab protesan putrinya itu. sedangkan Aminah hanya diam dan terus memandangi wajah sandi yg terlihat aneh dan mengganjal di matanya.


waduhh masa emaknya duluan sih yg terpikat sama wajah gua. tadi adiknya zifa juga manis tuh. mana ya dia, apa dia sempet liat muka gue juga. wah lumayan nih menang banyak ni gue. sandi tersenyum jahat yg tidak disadari oleh orang-orang disekitarnya.


ia terus membaca mantra dalam hatinya agar orang-orang di hadapannya ini semakin tertarik padanya. termasuk zifa sasaran utamanya.


"ayah mengizinkan kamu untuk kerja. tapi bukan berarti kamu bisa bebas diluaran sana zifa." suara ayah mulai terdengar marah.


"maksud ayah apa? zifa gak ngerti." jawab zifa dengan polos.


"kamu pacaran kan sama laki-laki itu." ayah menunjuk ke arah dimas dengan matanya.


"ayah.. zifa ini cuma.." belum selesai zifa bicara.


"zifa... ayah kamu benar, kamu jangan pacaran sama dia zifa. dia bukan orang baik. lagi pula kamu juga baru beberapa hari mengenalnya masa udah mau jadi pacarnya." ucap sandi memotong pembicaraan zifa yg belum ia selesaikan.


gue ko ngeliat ada yg aneh ya dari mukanya si sandi. ya Allah lindungilah aku dari tipuan syaitan yg terkutuk. gumam zifa dalam hati sambil mengerutkan dahinya ketika ia melihat sandi.

__ADS_1


kena kamu zifa kena. kamu pasti udah merasa terpikat setelah melihat wajahku. ucap sandi yg masih terus menatap mata zifa dengan senyum tipisnya.


"yah.. dengerin zifa. zifa gak pacaran sama Dimas. kita cuma sahabatan aja. dan zifa mau cerita kalau hari ini zifa mendapatkan perlakuan yg tidak baik dari seseorang, dimana ayah dan ibu aja gak pernah melakukan itu sama zifa." ucap zifa yg mulai membuat sandi kikuk dan seketika senyumnya itu hilang.


loh ko dia malah mau aduin gua si ke bapaknya. gua kira dia udah kepikat sama gua. duh gimana si ini. sandi berdecak kesal dalam hatinya.


"maksud kamu apa zifa? perlakuan buruk apa? siapa orangnya?" tanya Muzaki pada putrinya. sambil memberikan sorot mata kesal pada Dimas.


"ayah.. bukan Dimas orangnya." ucap zifa


"ayah.. liat ni pipi zifa." ucap zifa lalu mendekatkan pipinya pada sang ayah. ayah pun memegangi pipi zifa sambil menelitinya.


"astaghfirullah ini pipi kamu abis kena tampar ya, ko merah dan ada lebam birunya begini si. siapa yg nampar kamu zifa bilang sama ayah." ucap ayah yg mulai marah.


tanpa mereka sadari sandi sedang mengawasi mereka dan membacakan mantra-mantra nya.


dan ibu aminah yg masih terus memandangi wajah sandi tiba-tiba saja pingsan.


"Bu ibu.... ibu kenapa Bu." teriak zifa histeris disambut pula dengan ayu yg sedari tadi menguping pembicaraan mereka dari balik pintu kamarnya sambil sesekali ia mengintip keluar.


"ayah.. ibu kenapa yah." tanya ayu pada ayah nya.


"ayah gak tau nak, yaudah ayah mau bawa ibu kamu ke kamar dulu ya. zifa tolong siapkan tempat tidurnya untuk ibu di kamar nak. dan ayu tolong bawakan minyak angin ke kamar ya nak." Muzaki segera menggendong tubuh Aminah dengan hati-hati ia membawanya.


"Dimas tunggu ya, gue mau urusin ibu gue dulu." ucap zifa pada Dimas lalu berlalu meninggalkan nya.


Dimas hanya mengangguk kan kepalanya.


tinggallah dua orang laki-laki di ruang tamu tersebut. mereka saling pandang dan menatap dengan penuh kebencian di mata mereka masing-masing.


"apa yg lo lakuin ke mereka hah? apa yg lo rencanain?" ucap Dimas agak berbisik namun tetap dengan penekanan pada setiap katanya.


"gue gak ngelakuin apa-apa dan gue gak ngerencanain apa-apa." ucap sandi dengan santai.


**BERSAMBUNG....

__ADS_1


Thanks ya buat kalian yg udah baca novelku. terus pantengin ya cerita ini sampai tamat. aku akan update lagi besok. jangan lupa tinggalkan like, komentar, dan vote kalian ya buat aku. biar tambah semangat ni update nya. makasih😘😊😊😊😊🙏**


__ADS_2