Lelaki Tua Biadab

Lelaki Tua Biadab
Episode 21


__ADS_3

setelah hampir setengah jam zifa dan Muzaki menunggu. seorang dokter tampan keluar dari ruangan dimana Dimas berada. dengan cepat zifa menghampiri dokter itu.


"dok bagaimana keadaan teman saya di dalam? apa dia baik-baik saja? boleh saya melihatnya sekarang." zifa memborong semua pertanyaannya yg sedari tadi ia tahan.


"zifa kamu kalo nanya satu-satu dong kasian dokternya jadi bingung." kata Muzaki menasehati putrinya.


zifa hanya tersenyum kecil dan kembali fokus pada sang dokter yg belum menjawab pertanyaan nya.


"keadaan Dimas tadi sangat memprihatinkan. Untung kalian segera membawa nya kerumah sakit. Karan kalau tidak... ehmm tapi sekarang ia sudah membaik. dan butuh banyak istirahat, kamu boleh melihatnya tapi jangan membangunkannya ya." ucap dokter dengan senyuman.


"tunggu dok, tadi dokter belum selesai bicara, Dimas kenapa dok kalo tidak segera di bawa kerumah sakit?" zifa menghentikan langkah dokter dan masih penasaran dengan ucaoan dokter yg terpotong tadi.


"emm jadi Dimas itu tadi sempat mengalami penyumbatan paru-paru. dan itu yg membuat dadanya sesak hingga sulit bernafas. dan kalau tidak segera di tangani oleh tim medis. akan berakibat fatal. dan akan menyebabkan meninggal dunia."


"astaghfirullah.." gumam Muzaki pelan tapi tetap terdengar.


"ya Allah. tapi sekarang Dimas benar-benar udah gak papa kan dok. dia baik-baik aja kan." ucap zifa dengan penuh kekhawatiran.


"ia dek alhamdulillah ia masih dapat perlindungan dari yg maha kuasa. ia sudah membaik sekarang dan hanya perlu istirahat untuk memulihkan nya kembali."


"yaudah makasih ya dok. ayah aku mau lihat dimas. apa ayah mau ikut?" ucap zifa


"nanti ayah menyusul, ayah mau ke toilet dulu." ucap Muzaki.


gadis itu menggemaskan sekali. manis dan sangat cantik. apa laki-laki yg ia khawatirkan itu kekasihnya. sang dokter tampan bergumam dalam hatinya sambil mengingat kembali wajah zifa.


zifa membuka pintu perlahan dan hati-hati agar tidak membuat suara. ia tidak mau mengganggu Dimas yg sedang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.

__ADS_1


"Dimas maafin gue, gara-gara ngebelain gue lo jadi celaka kaya gini." zifa duduk di kursi sebelah ranjang Dimas. ia menggenggam tangan dimas.


"Dimas makasih karna Lo udah ngelindungin gue dan menyelamatkan gue dari tindakan sandi yg kurang ajar." zifa kembali mengingat bagaimana jika Dimas tidak datang saat itu, entah apa yg akan sandi lakukan padanya. yg menyeretnya kedalam kamar mandi.


ia bergidik ngeri dan jijik mengingat tragedi itu. "Dimas apa Lo bener-bener sayang sama gue? kenapa Lo rela terluka buat gue?" zifa masih bertanya pada Dimas yg belum sadar dari tidurnya.


dan tanpa zifa sadari sang ayah sudah lama berdiri di belakangnya.


"apa dia benar-benar melindungi kamu dari kejahatan sandi?" suara Muzaki mengagetkan zifa. padahal Muzaki berbicara dengan nada yg pelan.


"Ayah... sejak kapan ayah disitu? kenapa gak ngucapin salam dulu pas mau masuk?" zifa tak menjawab pertanyaan sang ayah dan malah balik bertanya.


"ayah udah bilang salam dari tadi tapi kamu gak jawab, jadi ayah masuk aja."


"sebenarnya apa yg terjadi antara kamu Dimas dan sandi, ayah masih belum paham."


zifa menceritakannya dengan detil dan jelas, sambil sesekali ia menenangkan sang ayah yg emosi mendengar pengakuan sang putri kesayangannya.


"kurang ajar... ayah akan buat perhitungan sama dia. ayah gak terima putri ayah di perlakukan seperti itu." Muzaki menggeram kesal sambil mengepalkan tangannya.


"ayah sabar yah, istighfar.. jangan sampai amarah membuat ayah jadi lupa diri. zifa gak mau ayah zifa yg baik bersikap kriminal pada seseorang. sekarang lebih baik ayah bantu zifa untuk membatalkan kontrak kerja yg sudah zifa tanda tangani pada pak sandi. zifa mau berhenti kerja dari sana yah, zifa takut." zifa mengusap bahu sang ayah untuk menenangkan emosinya.


"itu pasti nak, ayah akan bantu kamu. ayah juga gk Sudi kamu bekerja dengan orang breng**k seperti sandi." baru kali ini Muzaki memaki seseorang dengan ucapan yg kasar.


"ayah jangan bilang gitu. zifa gak mau mulut ayah kotor gara-gara laki-laki tua gak penting seperti pak sandi. ayah sabar ya, kita selesaikan semua ini dengan kepala dingin." ucap zifa menasehati sang ayah.


Di toko.

__ADS_1


Syahnaz menyusul Sofi ke lantai atas, dan duduk di ranjang bersebelahan dengan posisi Sofi yg sedang terbaring miring ke kanan.


"Bu maafin kata-kata Syahnaz barusan. Syahnaz gak bermaksud untuk meminta ibu bercerai dengan bapak. Syahnaz cuma gak mau liat ibu terus-terusan disakiti sama bapak. Syahnaz sayang sama ibu." Syahnaz memeluk tubuh Sofi dan berbaring di sebelahnya.


"gak papa Syahnaz kamu gak salah. ibu mau istirahat dulu, bolehkan ibu titip toko sebentar. takut ada pembeli datang." ucap Sofi yg sudah berbalik ke arah Syahnaz.


"ia Bu. tapi ibu janji ya jangan marah. Syahnaz sayang ibu." ucap Syahnaz dengan manja.


"iya sayang ibu gak marah. yaudah kamu bisa kan menjadi karyawan pengganti untuk sementara. soalnya zifa karyawan baru ibu sedang izin pulang karna tidak enak badan." ucap Sofi berbohong. karna tidak mau Syahnaz tahu apa yg baru saja terjadi di toko ini.


Syahnaz dan Sofi memang cukup dekat karna sejak sandi dan Nia bercerai Syahnaz jarang sekali bertemu Nia Karena di karang oleh sandi. dan setelah menikah dengan Sofi.


ia baru merasakan kembali kasih sayang dari seorang ibu, karna Sofi bukanlah ibu tiri yg jahat seperti apa yg ia lihat di dalam dongeng. Syahnaz sangat bahagia memiliki ibu tiri seperti Sofi.


karena ia sangat lembut dan penyayang. dan Sofi juga sudah menjadi teman setia bagi Syahnaz karena pada Sofi lah ia berkeluh kesah. dan menumpahkan curahan hatinya.


Syahnaz sudah lama mengetahui sikap sang ayah. ia menyadarinya saat ia sudah berumur 15 tahun. ia baru sadar kalau semua wanita-wanita cantik yg pernah ia temui saat bersama sandi itu adalah selingkuhannya. ia sangat marah dan kecewa atas kelakuan sandi.


ia malu dan benci pada sandi. namun sandi tidak menghiraukannya. yg membuat ia berfikir tidak berguna membenci sandi terus menerus karena yg di benci tidak merespon sedikitpun.


ia lelah memaki dan menangis di hadapan ayahnya yg hanya di balas dengan senyuman sok imut sang ayah. ia mulai membiasakan diri dengan kelakuan ayahnya yg biadab. karna pernah sekali ia menemukan sandi sedang mandi bersama seorang gadis yg masih di bawah umur.


ingin sekali saat itu ia berteriak dan mengadukan semuanya pada RT setempat atau pihak yg berwajib, tapi ia urungkan karna nanti ia juga yg akan menanggung malu atas perbuatan sang ayah. jika ia melakukannya.


BERSAMBUNG....


LANJUT LAGI BESOK YAH.... JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTAR KALIAN DI BAWAH. JUGA DUKUN NOVEL INI AGAR MENDAPAT KESEMPATAN UNTUK MENANG DI YOU ARE A WRITER 3. MAKASIH 😊🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2