Lelaki Tua Biadab

Lelaki Tua Biadab
Pricilla


__ADS_3

"halo"


(.....)


"apa Bu? ko mendadak gitu sih."


(.....)


"tapi bapak gak bilang apa-apa sama aku. dan gak nyuruh aku apapun."


(....)


"ck .... iya iya, yaudah aku kesana sekarang."


(....)


"iya ibu.... aku berangkat sekarang. bawel"


------------------------------------------------------------------------


"Hasbi Lo bisa pulang sekarang. gue gak papa kok." zifa mencoba membujuk Hasbi lagi. entah sudah berapa kali zifa meminta Hasbi untuk pulang.


"gak zifa. aku gak akan pulang sebelum anak nya Bu Sofi datang."


zifa cemberut dan pergi ke lantai atas. ia sangat risih dan marah karna sikap Hasbi yg membandel untuk tetap berada di toko.


"zifa kamu dimana?" pesan masuk dari Dimas.


"aku di toko dim."


"ko bisa? bukannya kamu bilang mulai hari ini gak akan ke toko lagi."


"ceritanya panjang dim. intinya aku kesini atas perintah Bu Sofi dan permohonan nya."


"dasar ya orang keras kepala."


tiba-tiba ada seseorang yg datang di lantai bawah. zifa segera turun untuk melihatnya.


"silahkan ka." ucap zifa menyambut seorang gadis yg ia kira itu pembeli.


"aku bukan pembeli. aku Pricilla anaknya pak sandi dan Bu Sofi." dia mengulurkan tangannya pada zifa.


zifa menerimanya dan menjabat tangannya sambil tersenyum manis.


"aku zifa."


"oh zifa. aku kesini atas perintah ibu. katanya suruh temenin kamu jaga toko disini."


"ia Bu Sofi udah bilang juga ke aku."


mereka pun duduk dengan kursi mereka masing-masing. duduk diam tanpa suara sambil memainkan ponselnya masing-masing.


zifa merasa suasananya semakin kaku dan semua terlihat canggung. entah kenapa dia merasa Pricilla tidak menyukainya. karna sejak tadi ia belum melihat Pricilla tersenyum padanya.


"ka Pricilla" zifa mencoba untuk memecahkan keheningan yg tercipta sejak hampir satu jam berlalu.


"ya." jawabnya singkat tanpa menoleh.


"Kaka kesini tadi sama siapa?" zifa bertanya sekenanya. karna ia bingung apa yg akan ia tanyakan.


"sendiri. kenapa?"

__ADS_1


"gak papa."


kembali hening. Hasbi yg mengerti akan kegelisahan zifa. dia mencoba untuk membuat Pricilla akrab dengan zifa.


"Cilla." sejak dulu Hasbi memang suka memanggilnya begitu.


"Hem." dia masih tetap sibuk dengan ponselnya.


"lagi apa sih? sibuk banget kayaknya. sampai-sampai kita disini di abaikan."


"trus maunya ka Hasbi Cilla ngapain sama kalian berdua." kali ini Pricilla memalingkan wajahnya dari ponsel dan menatap Hasbi juga zifa tanpa ekspresi.


"ya kita kan bisa ngobrol gitu. saling berbagi cerita atau apa. biar gak sepi-sepi amat kaya gini."


"yaudah oke. zifa umur kamu berapa?" tanya Pricilla tiba-tiba yg membuat zifa sedikit terkejut.


"umur saya 17 tahun ka."


"17?? aku kira kita seumuran hahah" Pricilla tertawa kecil. "kalo aku 20, eh ia kamu udah berapa lama kerja disini?"


"aku baru seminggu ka."


"ohh masih baru ya."


"ka pricil tinggal dimana?"


"aku tinggal di ****** sama nenek aku dan kakak aku."


"ohh... ka pricil gak tinggal bareng sama ibu Sofi dan pak sandi?"


"enggak."


kedua wanita itu pun terlibat pembicaraan yg cukup panjang dan sesekali mereka tertawa bersama. Hasbi yg melihat itu merasa ikut senang. karna ia berhasil membuat zifa tidak merasa bosan.


"Tin..Tin...."


langkah kakinya terhentak dan berjalan mendekati mereka.


"Cilla... kamu ngapain disini?"


"Cilla disuruh ibu buat bantuin zifa pak." ucapnya setelah mencium punggung tangan lelaki yg ia sebut bapak.


ngapain Sofi nyuruh Cilla buat bantuin zifa. tapi gak papa lah yg penting zifa sekarang ada disini.


sandi menatap zifa sambil tersenyum manis. ia pun berjalan kelantai atas tanpa berkata apapun lagi.


"itu bapak aku zifa. kamu udah kenal belum?" Cilla bertanya dengan polos.


"sudah." zifa sedikit merinding mengingat siapa itu sandi.


"zifa kamu unik banget si hahah" ucap Pricilla tiba-tiba sambil tertawa memandangi zifa dari atas sampai bawah.


"unik gimana maksudnya?" zifa ikut memandangi dirinya sendiri dengan bercermin.


"ya kamu unik zifa. kamu tomboy tapi berhijab. baru kali ini aku lihat cewek kayak kamu. tapi kamu manis banget kaya gini." kata Pricilla memuji zifa sambil menyentuh ujung kain jilbabnya.


tanpa mereka sadari sandi sudah berdiri di belakang mereka.


"keliatannya kamu seneng ya kenal sama zifa." ucap sandi sambil membelai rambut Pricilla yang panjang.


"eh bapak. ngagetin Cilla aja. iya pak seneng punya temen kaya zifa. dia lucu, manis, asik lagi anaknya gak ngebosenin. Cilla serasa kayak punya adik." ucap Cilla antusias.

__ADS_1


"bapak ikut seneng dengernya. semoga kamu dan zifa bisa makin Deket lagi ya. bapak seneng liat kamu akrab sama zifa, tapi kok kamu anggapnya adik sih, emang kamu sama zifa tua an kamu ya?"


"ohh bapak, zifa itu masih 17 tahun kalo Cilla kan udah 20 tahun. masa bapak gak tau sih umur anaknya sendiri."


"wahhh gak kerasa anak gadis bapak ini udah makin dewasa ya. bukannya gak tau sayang, tapi bapak lupa."


"sama aja."


"yaudah lanjutin deh ngobrol asik nya. jangan lupa jagain zifa ya nak, jangan biarin ada laki-laki yg genit sama zifa. siapapun itu." sandi berjalan menaiki motornya.


"bapak mau kemana?"


"bapak mau keluar dulu sebentar mau beli makan siang, kamu mau makan apa?"


"apa aja pak."


"kalo zifa mau makan apa?" kali ini dengan nada yg sangat lembut.


"apa aja." zifa ngeri melihat wajah sandi yg tersenyum padanya.


"uhhh kompak banget sih kalian. yaudah bapak pergi dulu ya."


setelah beberapa jam sandi pergi meninggalkan toko.


"Hay zifa, apa kabar?"


"Dimas." ucap zifa singkat


"siapa itu zifa?" Pricilla berbisik di telinga zifa.


"itu teman aku."


Dimas duduk di kursi sebelah Hasbi.


"hey bro apa kabar." Dimas menepuk bahu Hasbi.


"kenapa lo? sakit!" Hasbi heran dengan sikap Dimas yg tiba-tiba sok akrab padanya.


"enggak... gue sehat wal Afiat. dan rencananya hari ini gue mau traktir kalian semua termasuk Lo!"


"traktir? dalam rangka?" Hasbi sedikit menyunggingkan bibirnya.


"merayakan hari jadi gue sama zifa. gue sama zifa udah jadian kemaren." Dimas bicara dengan santainya.


sontak Hasbi dan zifa juga Pricilla kaget dan membelalakkan mata mereka bersamaan.


"zifa, kamu bilang dia teman kamu" kali ini Pricilla menunjukkan wajah penuh kekecewaan pada zifa. zifa tidak menjawab.


"trus Lo pikir gua bakalan percaya gitu sama khayalan Lo itu?" Hasbi terbahak.


"Lo gak percaya? nih liat." Dimas memberikan ponselnya dan memperlihatkan sebuah Vidio momen dia dan zifa.


Hasbi tidak memberikan respon lebih. dia hanya tersenyum. "oke selamat ya kalo gitu." ucapnya lalu pergi meninggalkan toko dengan menaiki motornya.


"ka Hasbi mau kemana?" Pricilla berdiri mengikuti langkah kaki Hasbi.


"mau ada perlu. Kaka titip zifa ya." Hasbi pun pergi berlalu dengan motornya.


ka Hasbi kenapa sih. ko tiba-tiba pergi gitu. jangan-jangan dia cemburu lagi sama zifa.


Pricilla Anastasya Kholiq

__ADS_1



__ADS_2