Lelaki Tua Biadab

Lelaki Tua Biadab
Kekecewaan


__ADS_3

"pak Hasbi kemana sih kok udah 6 bulan ini dia gak pernah kesini lagi? sebenarnya dia tuh pergi kemana sih?" tanya Syahnaz pada ayah nya.


"kenapa kamu tanya-tanya Hasbi? kamu kangen! atau jangan-jangan kamu beneran naksir ya sama dia."


"ih apaan si pak orang Syahnaz cuma tanya aja kok. siapa juga lagi yg naksir sama Hasbi."


"ia sih cuma nanya. tapi kamu nanyain Hasbi nya setiap hari. bapak udah jawab, Hasbi itu lagi ke luar kota ada kerjaan. masih aja nanya lagi." sandi mencubit pipi membelai rambut putrinya.


"Syahnaz.... kalo kamu suka sama Hasbi bapak bisa bantu kamu kok buat dapetin dia."


Syahnaz terkejut dengan ucapan ayahnya. ia segera bangkit dari duduknya.


"apa sih bapak. aku gak suka sama Hasbi. lagi pula Hasbi cuma anggap aku seperti adiknya, berarti dia kakak buat aku." Syahnaz melipat kedua tangannya di dadanya.


"yakin kamu anggap dia kakak." sandi masih menggoda Syahnaz.


"ah udah lah bapak mah gak asik." Syahnaz pergi meninggalkan sandi dan ia berjalan mendekati Melisa yg sedang duduk sendiri.


sandi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Mel lagi apa? kok kamu aku perhatikan dari tadi melamun aja sih. lagi mikirin apa?" Syahnaz duduk di sebelah Melisa.


"eh kak Syahnaz. gak ada kak, aku gak mikirin apa-apa." Melisa tersenyum menunjukkan jajaran giginya yg besar-besar.


"lalu kamu kenapa melamun kalo gak ada yg dipikirin?"


"ya gak mikirin apa-apa si. cuma lagi mandangin jalan aja."


"jalanan kok di pandangin mending kamu mandangin muka bapak tuh hahah."


Melisa hanya tersenyum dan tidak menjawab.


"Mel kamu udah punya pacar belum?"


"belum, kenapa kak ko nanyain itu?"


"gak papa cuma tanya aja. emm aku mau tanya lagi boleh gak?"


"boleh tanya aja kak."


"kamu pernah jatuh cinta gak?"


"emmm pernah kayaknya."


"kok kayaknya? itu kamu gak yakin kalo kayaknya."


"iya pernah kak, tapi aku lupa kapan dan sama siapa."

__ADS_1


"hahah kamu lucu deh mel. kok bisa sampe lupa gitu. apa jangan-jangan cinta kamu bertepuk sebelah tangan?"


belum sempat Melisa menjawab. sandi sudah berdiri di belakang mereka.


"hey lagi ngomongin papa sih kalian asik banget. udah dulu ngobrolnya. ayo tuh ada yg beli."


Syahnaz berdiri dan menghampiri pembeli yg datang.


"awas ya kalo sampe kamu cerita yg macem-macem sama Syahnaz. saya pastikan kamu akan hidup menderita." sandi berbisik di telinga Melisa.


MELISA ANGGRAENI



------------------------------------------------------------------------


"Dimas jadi kamu mau sama siapa?" ucap wanita paruh baya yg sedang duduk di hadapan dimas.


"Dimas mau sama zifa mah."


"tapi gimana dengan Shila. kita bahkan sudah sangat dekat dengan keluarga nya."


"mah aku sudah bilang sama shila tentang semua ini. aku sudah bilang kalau aku mencintai wanita lain. aku mencintai zifa. dan aku minta shila untuk meninggalkan aku dan mencari lelaki lain."


"sayang kamu gak boleh kayak gitu. kamu nyakitin Shila namanya. pasti gak akan mudah buat Shila melupakan kamu dan mencari pengganti nya. mamah tau persis bagaimana Shila sangat mencintai kamu."


Indri diam tidak menjawab perkataan anaknya.ia sangat menginginkan Dimas bersanding dengan shilla. karna Indri sudah sangat menyayangi shilla begitupun dengan keluarga nya mereka sudah sangat dekat dan akrab. sudah seperti keluarga sesungguh nya.


Indri pergi meninggalkan Dimas yg masih menatapnya menunggu jawaban.


"mah... mamah mau kemana? jawab Dimas dulu mah."


Indri sama sekali tidak menghiraukan panggilan anaknya. ia tetap pergi meninggalkan Dimas dan keluar dari toko tempat Dimas bekerja. ia menghentikan langkahnya dan memandangi toko di sebrang jalan tempat zifa bekerja. ia melihat zifa yg sedang sibuk melayani beberapa pembeli.


"Dimas ayo bantu gue. bawa ini semua ke lantai atas." ucap Bagas


Dimas menurut dan membantu Bagas membawa beberapa kardus besar ke lantai atas. lumayan banyak hingga membutuhkan waktu lama.


Indri berjalan menyebrangi jalan dan menuju ke toko tempat zifa bekerja.


zifa menyadari kedatangan Indri dari jauh. ia segera menghampirinya.


"Tante." sapa zifa pada Indri yg sudah berada di hadapannya. ia menunduk dan hendak mencium tangan Indri namun Indri menepis tangan zifa.


zifa tersentak dengan perlakuan indri barusan. setahunya Indri selalu bersikap baik padanya saat mereka bertemu beberapa waktu lalu.


"Tante mau bicara sebentar bisa?"

__ADS_1


"bisa Tante mari kita ke lantai atas aja."


"kak aku ke atas dulu yah. ada tamu sebentar aja." ucap zifa pada Pricilla yg masih merapikan beberapa barang.


"ia zifa silahkan."


mereka pun Sampai di lantai atas dan duduk di sofa.


"Tante mau minum apa? nanti zifa beliin di warung sebelah."


"tidak usah. tante tidak lama."


"kamu udah berapa lama pacaran sama Dimas?" tanya Indri tiba-tiba.


"sudah 6 bulan Tante."


Indri menatap zifa. lalu mengalihkan pandangannya lagi ke depan.


"dan apa kamu tahu Dimas sebenarnya sudah tunangan?"


zifa terkejut dan membelalakkan matanya. lalu ia kembali tersenyum.


"tidak Tante. Dimas gak pernah cerita tentang itu."


"jelas dia gak akan cerita ke kamu. karna dia masih belum puas berhubungan sama kamu. jadi dia takut kehilangan kamu."


"maksud nya belum puas apa ya Tante. zifa gak ngerti."


"dia masih mau dekat sama kamu. selagi dia jauh dari tunangannya. itu hanya untuk menghibur hatinya yg sedikit kesepian karna jauh dari tunangannya. setelah dia kembali ke kampung dan menikah dengan tunangannya dia pasti akan ninggalin kamu."


"tapi Tante gak mau nanti kamu kaget dan sakit hati. jadi Tante kasih tau kamu sekarang. Tante merasa kasihan sama kamu. dan bersalah atas apa yg di lakukan Dimas anak Tante. jadi Tante harap kamu mengerti dan segera memutuskan hubungan kalian juga lupakan Dimas."


zifa masih tetap tersenyum dan mencoba menahan air matanya. ia mencoba untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan rasa kesal dan marahnya di hadapan ibunya Dimas.


"ohh seperti itu ya Tante. saya sangat berterimakasih karna tante perduli sama saya."


"saya akan memutuskan hubungan saya dengan Dimas secepatnya."


"dan melupakannya. terima kasih atas infonya Tante."


"bagus kalo gitu. tante harap kamu tidak marah apalagi menyimpan dendam pada Tante dan Dimas. kalo gitu Tante pamit. Tante harus pulang karna sudah cukup itu saja yg mau Tante sampaikan sama kamu. maaf mengganggu waktu kerja kamu ya zifa."


"iya Tante."


Indri pergi dengan perasaan yg puas dan bahagia karena ternyata zifa dengan mudahnya percaya semua kata-katanya. dan menuruti permintaannya untuk menjauhi anaknya.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2